Kisah Hantu LESTARI

Kisah Hantu LESTARI
43. Makan Malam Keluarga


__ADS_3

Nilam masih berada di kamar bersiap-siap untuk pergi makan malam di luar bersama suami dan keluarga suaminya.


Ia tadi juga mengajak Bik Surti ikut tapi ia menolak dengan alasan banyak yang harus dikerjakan di rumah.


Hingga di luar terdengar mobil yang memasuki halaman lalu berhenti, tak lama Ibu mertuanya mengetuk pintu sambil memanggil nama Nilam.


"Ya Bu, sebentar lagi."


Kata Nilam seraya menyemprotkan parfum ke pergelangan tangan lalu menempelkannya ke sekitar leher.


Nilam Setelah dirasa cukup, perempuan cantik itu meraih hp dan tas tangannya lalu menentengnya keluar kamar.


Ibu mertuanya menunggu di sana, Nilam memasukkan hp ke dalam tas tangan, lalu kemudian menggamit lengan sang mertua.


Tampak di luar Iwan sudah lebih dulu berada di dekat mobil, ngobrol dengan Pak Dadang, driver kantor yang menjemput mereka.


"Biiik, Bik Surtiiii, kami pergi dulu Bik..."


Ibunya Tomi memanggil Bik Surti untuk pamit agar Bik Surti mengunci pintu rumah.


Bik Surti terlihat tergopoh-gopoh keluar dari ruang dalam.


Asisten Rumah Tangga itu mengiringi kedua Nyonya keluar dari rumah.


"Hati-hati ya Bik di rumah."


Kata Nilam.


Bik Surti mengangguk.


"Iya Nyonya."


Kata Bik Surti.


Nilam dan mertuanya kemudian menuju mobil, Iwan masuk ke dalam mobil dan langsung duduk di kursi depan menemani Pak Dadang, sedangkan Nilam dan Ibu ada di kursi tengah.


"Pak Tomi sudah lebih dulu di tempat, tadi dari Bank langsung ke rumah makan."


Kata Pak Dadang.


Semua mengangguk mengerti.


Pak Dadang menyalakan mesin mobilnya, lalu mobil itu pelahan menjauhi halaman rumah, Bik Surti memandang kepergian Nilam dan yang lain dengan mobil yang dikemudikan Pak Dadang.


Sepeninggal mobil yang dikemudikan Pak Dadang yang membawa majikannya, Bik Surti sejenak menatap ke arah pohon besar di halaman rumah itu.


Pohon tua besar yang merupakan saksi bisu untuk semua tragedi memilukan di masa lalu yang pernah terjadi di sana.


Bik Surti baru akan berbalik, manakala ia seolah melihat sosok hitam mengintip dari balik pohon besar tersebut.


Matanya seperti mengawasi gerak-gerik Bik Surti.


Bik Surti menghela nafas.


Ia tak mau terlibat dengan mahluk itu, maka ia cepat masuk ke dalam rumah. Menutup pintunya lalu menuju ruang dalam dan kembali meneruskan pekerjaannya.


Di mobil Nilam hanya terdiam saja sambil melihat jalanan yang mereka lewati melalui kaca mobil yang ia biarkan terbuka sedikit.

__ADS_1


Iwan dan Ibu mertuanya lebih memilih sibuk membicarakan rumah itu dengan Pak Dadang.


Terutama Iwan yang sangat penasaran dengan masa lalu rumah tersebut.


Ya...


Meskipun Bik Surti sudah menceritakannya, tapi buat Iwan ada sesuatu yang hilang di sana.


Sebuah part yang justeru menjadi kunci dari semuanya, yang harusnya bisa menjadi benang merah dari semua yang terjadi saat ini.


Jika menurut Pak Dadang sejak rumah itu diambil Koperasi lalu ditempati manager sebelumnya tak terjadi apa-apa, sudah jelas berarti ada yang memicu semuanya terjadi.


Begitulah pemikiran Iwan sebagai anak muda yang kritis.


Mobil meluncur cepat membelah senja hari di kota udang.


Hingga kemudian mereka akhirnya sampai di depan sebuah rumah makan dengan bangunan tempo dulu.


Rumah makan itu juga terdapat beberapa gazebo yang bisa di pilih sebagai tempat makan lesehan.


Gazebo-gazebo tersebut mengitari semacam tambak ikan dan juga taman-taman kecil yang bisa digunakan sebagai spot foto yang bagus.


Tomi memesan satu gazebo di sana, sementara Pak Dadang memilih duduk di bagian rumah makan yang lain, karena takut mengganggu obrolan keluarga atasannya tersebut.


Tomi terlihat tersenyum menyambut kedatangan Ibu, adik dan isterinya.


Iwan bersalaman dengan Tomi lalu mempersilahkan Ibu dan kakak iparnya lebih dulu untuk duduk, barulah Iwan menyusul duduk lesehan paling ke pinggir.


"Gimana? Tempatnya enak kan?"


Tomi kemudian memberikan dua daftar menu pada Ibu dan Nilam.


"Biar Ibu-ibu saja yang pilih menu."


Kata Tomi, tipe laki-laki yang mendahulukan perempuan.


Iwan mengangguk setuju.


"Tadinya cewekku minta ikut, kalau aku ajak pasti dia suka banget ini tempat kayak gini."


Ujar Iwan.


"Trus kenapa tidak diajak?"


Tanya Tomi.


Iwan melirik Ibunya yang lebih dulu meliriknya dengan kesal.


"Ibu kan nggak suka sama dia, katanya dandanannya menor kayak ibu-ibu."


Kata Iwan.


Tomi jadi tertawa mendengarnya.


"Memang benar, masa mahasiswa dandanan sudah macam orang punya suami."


Kata Ibu berkomentar.

__ADS_1


"Namanya masih gadis itu yang biasa saja lho, kayak Nilam ini, dulu waktu belum menikah kan polos saja, pakai make up ya biasa saja, setelah menikah juga biasa saja. Tidak usah terlalu mencolok, kalau artis tidak apa-apa, wong bukan artis kok dandanan macam artis."


Biasalah ya kan, emak-emak banyak komen.


Iwan menghela nafas.


Tomi jadi makin tertawa.


"Namanya orang kan beda-beda Bu."


"Iya nih Ibu mah jadul."


Kata Iwan membuat Ibunya jadi menabok lengannya.


Tomi dan Nilam akhirnya tertawa terus melihat keduanya.


Nilam dan Ibu kemudian memilih menu untuk makan malam mereka, setelah itu menyerahkan pada pelayan yang datang.


Ibu melihat tambak di sekitar gazebo.


Lampu-lampu mulai dinyalakan di sekitar tempat mereka makan, dan itu membuat suasana terlihat semakin indah.


Tomi menatap sekelilingnya, siluet senja kini tinggal sedikit di ujung barat langit.


Bulan pelahan telah muncul untuk menggantikan tugas sang Surya menemani Bumi.


Iwan sibuk mengambil gambar di sekitar sana, sementara Ibu terlihat sibuk dengan hp nya membalas pesan dari anak perempuannya di Jakarta yang menanyakan soal Iwan apakah sudah sampai karena anak itu susah di hubungi.


Ah dasar anak bandel, padahal pegang hp terus, tapi di hubungi kakaknya malah tidak direspon.


Tomi menatap Nilam yang terlihat asik melihat pendar lampu-lampu yang menambah cantik pemandangan di rumah makan itu jelang malam hari.


Diraihnya tangan Nilam di sebelahnya, lalu membawanya ke atas pangkuan Tomi dan kemudian menggenggamnya dengan erat.


"Sudah lebih baik sekarang?"


Tanya Tomi lembut.


Nilam menatap sang suami.


Tampak Nilam mengangguk.


Tomi tersenyum lega.


Ya bagaimanapun, ia memang ingin Nilam tak terlalu fokus dengan apa yang terjadi di rumah.


Meskipun Tomi sendiri terus memikirkan semuanya, tapi Tomi tak ingin Nilam merasakan dampak yang lebih buruk.


Ya, mungkin memang ada baiknya mereka pergi saja dan mencari tempat tinggal baru, makanya Tomi sedang mencoba mencari kontrakan di sekitar kantor.


Sambil menunggu ketemu kontrakan, Tomi juga akan berusaha menyelesaikan masalah hantu Lestari.


Sebagaimana kata Ki Marta, jika ada masa lalu yang menghubungkannya dengan Lestari, dan itu harus diputuskan.


Tomi ingin mencari tahu, agar tak sampai nantinya hantu itu mengganggunya meski sudah pindah rumah.


💦💦💦💦💦

__ADS_1


__ADS_2