
"Yakin saja Bang, semua akan segera selesai."
Kata Iwan akhirnya memenangkan kakaknya agar tak lagi gundah gulana.
Tomi menatap adiknya.
"Yang tadi dilihat Pak Dadang, siapa dia menurutmu?"
Tanya Tomi akhirnya.
"Aku melihatnya juga tadi."
Kata Iwan.
"Jadi?"
"Itu makanya aku ambil alih mobilnya, aku yakin Pak Dadang akan lebih kacau nyetirnya, dia mengejar mobil, aku melihatnya."
Tutur Iwan lagi.
Tomi seketika terlihat takut.
"Jadi... Dia...?"
"Dia beraroma bunga sedap malam."
Kata Iwan pula.
Mata Tomi terbelalak.
Bunga sedap malam, jelas itu adalah...
"Lestari, dia bukan? Teror bunga sedap malam, aku sudah mendengarnya dari Ibu."
Iwan menghela nafas.
"Dia katanya dipindahkan? Tapi dia akhirnya bisa menemukan kita, pasti kita lewat tempat dia tanpa sadar."
Ujar Iwan.
Tomi tercekat.
"Bisa jadi memang benar ada takdir yang menghubungkan kalian hingga akhirnya harus terus bertemu, tapi, yang memicu dia akhirnya terus mengganggu juga kita harus cari tahu Bang."
Kata Iwan.
"Ada yang sengaja menyuruhnya? Begitu maksudmu?"
"Aku belum yakin memang dia yang disuruh, atau bisa jadi memang ia disuruh tapi ternyata dia ada hubungan denganmu di masa lalu, ah bukan, tapi dengan laki-laki yang persis dirimu di masa lalu."
Kata Iwan.
Tomi sejenak terdiam, lalu...
"Wan."
"Ya Bang."
"Apa mungkin ini ada kaitan dengan kakek kita dahulu? Kakek dari Ibu atau Ayah kita?"
Tanya Tomi.
Iwan tiba-tiba menjentikkan jarinya.
"Ah ya kau benar, kenapa aku baru ingat."
Kata Iwan seolah tiba-tiba ingat sesuatu yang penting.
Tomi jelas saja langsung semakin antusias.
"Apa... Apa yang kau ingat Wan?"
"Bibi, aku pernah menginap di rumah Bibi di Kendal, kau ingat bukan aku pernah liburan di sana tahun kemarin?"
Tomi mencoba mengingat.
__ADS_1
"Yang aku minta tambahan uang ke Abang, satu juta."
Ujar Iwan.
"Aah ya, aku ingat."
Sahut Tomi.
"Aku melihat foto lama Kakek saat menggendong Bibi yang masih TK. Foto lama, Kakek wajahnya mirip kau Bang. Ja..."
Iwan dan Tomi saling berpandangan.
"Jangan-jangan Damar nama Kakek dulu?"
Iwan dan Tomi hampir bersamaan.
"Kita tanya Ibu."
Tomi langsung berdiri.
Iwan menggeleng.
"Mana mungkin Ibu tahu, dia kan hanya menantu."
"Kalau begitu kita telfon Ayah saja sekarang."
"Kita telfon Bibi dulu saja, Ayah jam segini sudah istirahat, kau mau dibunuh saat pulang ke Jakarta ganggu orangtua istirahat."
Kata Iwan.
Tomi yang paling penasaran jelas saja tak bisa berpikir jernih saat ini.
Iwan pun meraih hp nya, mencari nama Bibi Sundari, setelah menemukannya, ia segera menelfon.
Tuuuuuuut... tuuuuut...
Nada sambung terdengar, tapi tak diangkat.
Tomi menunggu dengan tak sabar. Ia benar-benar ingin segera memastikan, apa hubungan Lestari dengan masa lalu dirinya.
"Jadi bagaimana Bu, besok saja bisa kan? Langsung saja tebang pohonnya, saya sangat terganggu dengan pohon itu."
Kata Nilam dengan suara yang sengaja dipelankan volumenya.
"Ya nanti saya konfirmasi lagi, soalnya itu juga butuh beberapa orang yang bantu angkat-angkat kayunya segala, intinya butuh orang lebih banyak dari sekedar menebang pohon biasa Bu Nilam."
Nilam mengurut keningnya seraya bersandar pada tumpukan bantal di atas tempat tidur.
Ia benar-benar merasa harus segera merobohkan pohon Beringin besar di halaman depan rumahnya itu.
Nilam tidak mau nanti Lestari akan kembali dan pohon itu akan jadi rumah nya lagi. Nilam tak sudi, tidak!!
"Baiklah, besok saya ke tempat Ibu."
Kata Nilam akhirnya.
Kresek kresek kresek...
kresek kresek kresek...
Tak ada suara Bu Har, sambungan tiba-tiba memburuk.
"Halo... Halo Bu... Halo."
Nilam menatap hpnya.
Sinyal masih bagus, kenapa...
"Jangan rusak rumahkuuuu... Jangan rusak rumahkuuu... Jangan rusak rumahkuuuuuuu!!"
Tiba-tiba sebuah tangan keluar dari layar hp Nilam.
Tangan putih pucat yang hendak mencekiknya.
Nilam menjerit-jerit sambil melempar hp itu ke lantai.
__ADS_1
Dari hp tampak tangan kedua muncul dan keluar seorang gadis mengenakan gaun berenda putih.
Matanya menatap tajam Nilam yang terus menjerit-jerit.
"Perempuan jahat!!"
Suara itu sangat keras.
"Pergiiii... Pergi kauuuuu!!"
Nilam menutupi kedua telinganya dengan kedua tangan sambil menjerit lagi.
Bersamaan dengan itu pintu kamar dibuka, Tomi dan Iwan melompat masuk ke dalam kamar.
Di belakangnya Ibunya Tomi, Pak Dadang dan Bik Surti juga ikut datang ke kamar.
Seketika bayangan sosok gadis dengan gaun berenda putih itupun lenyap.
Nilam memeluk Tomi seerat-eratnya.
"Aku tidak sanggup lagi di sini, aku mau pulang saja... Aku mau pulang saja."
Nilam menangis dengan tubuh yang gemetaran luar biasa.
Pak Dadang yang bahkan juga masih takut dengan kejadian tadi di jalan kini bulu kuduknya terasa jadi ikut merinding lagi.
Iwan tampak celingak-celinguk mencari keberadaan hantu itu.
Ada aroma bunga Sedap Malam yang terendus lagi, namun kali ini bercampur dengan aroma anyir darah yang memuakkan.
Iwan menoleh ke belakangnya, di mana Ibu kini terlihat mulai semakin bingung juga.
Tapi...
Bukan Ibu yang membuat mata Iwan tak lagi bisa beralih ke tempat lain, namun Bik Surti.
Ya Bik Surti...
Perempuan yang menjadi asisten rumah tangga Abangnya itu kini tampak seperti komat-kamit.
Ia jelas sedang merapal sesuatu, Iwan yang benar-benar jadi curiga dengan tingkah nya akhirnya tak lagi bisa menahan diri.
Iwan segera menghampiri Bik Surti yang berdiri paling belakang, di luar pintu kamar.
Iwan menarik Bik Surti dan kemudian mendorong tubuh Bik Surti ke dinding.
"Apa yang kau lakukan barusan Bik!!"
Bentak Iwan.
Ibu yang melihat Iwan bersikap kasar pada Bik Surti yang jelas-jelas jauh lebih tua darinya langsung keluar dari kamar dan memarahi Iwan.
"Wan, kamu ini, kenapa sekasar itu pada Bik Surti!!"
"Dia komat-kamit membaca mantera Bu, setiap kali Kak Nilam histeris dia selalu komat-kamit, pasti dia yang melakukannya, dia yang memanggil hantu-hantu itu datang!!"
Iwan menunjuk wajah Bik Surti yang ketakutan melihat Iwan.
Pak Dadang menatap Bik Surti dengan tatapan yang seolah jadi ikut curiga.
Iwan mendelik ke arah Bik Surti.
"Siapa kau sebetulnya? Dan apa motifmu melakukan semua ini pada Bang Tomi dan Kak Nilam!!"
Bentak Iwan lagi seolah tak sabar.
Bik Surti gemetaran.
Bik Surti yang semula memandang wajah Iwan dengan takut, kini pandangannya beralih ke arah belakang Iwan, di mana di sana sosok Lestari berdiri mengambang seraya menyeringai.
"Ya... Kau yang meminta para hantu datang Bik, akui saja, hahahahaha..."
Lestari tertawa.
💦💦💦💦💦
__ADS_1