
Laki-laki tua itu tiba-tiba meraih tangan Tomi, memegangnya dengan sangat kuat, dan...
Kepala Tomi seolah berputar-putar, pusing luar biasa.
Angin seolah datang bergulung-gulung, bumi berguncang hebat.
Pak Dadang yang ketakutan berlari secepat yang ia mampu, hingga kemudian ia jatuh tersungkur, kepalanya terantuk aspal jalan, dan kemudian pingsan.
"Pak... Pak... Pak..."
Pak Dadang membuka matanya.
Terlihat matahari menyilaukan kedua matanya, ia mengerjapkan kedua matanya sejenak.
Kepalanya pening dan berat, banyak orang terlihat mengelilinginya.
"Dia siuman, dia siuman..."
Terdengar suara-suara orang ramai bicara, Pak Dadang matanya lamat-lamat mulai jelas melihat, di sana benar banyak orang mengelilingi dirinya yang tergeletak di jalan.
Pak Dadang yang kaget terbangun dan duduk.
Aneh.
Ia ada di mana ini?
Pak Dadang celingak-celinguk.
Bagaimana bisa?
Pak Dadang heran luar biasa.
Ia berada di jalan dekat pasar.
Ya pasar yang ada di dekat kantor Koperasi di mana ia bekerja.
Tak lama beberapa karyawan Koperasi terlihat datang.
Mereka sama bingungnya mendapati laporan dari beberapa penjual di pasar yang merupakan anggota Koperasi jika Pak Dadang ditemukan pingsan di dekat pasar.
"Apa yang terjadi Pak?"
Tanya salah satu staf kantor yang membantu Pak Dadang berdiri.
Pak Dadang yang seperti orang linglung masih belum bisa menjelaskan, yang ia ingat ia hanya kehilangan Tomi.
"Pak Tomi, ke mana beliau?"
Tanya Pak Dadang.
Staf kantor Koperasi menggeleng.
"Kami juga sedang berusaha menghubungi beliau, tapi tak ada respon."
Pak Dadang menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak, jangan... Tidak."
Kata Pak Dadang.
Staf kantor Koperasi itu jadi panik.
Apalagi begitu Pak Dadang meronta dan berteriak-teriak.
"Jangan! Tidak! Selamatkan Pak Tomi! Selamatkan Pak Tomi!!"
Teriak Pak Dadang.
Beberapa orang di pasar yang melihat staf kantor koperasi kewalahan menjaga Pak Dadang akhirnya membantu mengamankan Pak Dadang.
"Sepertinya dia ketempelan, bawa ke tempat Ki Marta..."
__ADS_1
Kata salah satu orang pasar.
Tampaknya Ki Marta memang paranormal yang cukup ternama.
Mereka pun segera membawa Pak Dadang menuju ke tempat Ki Marta.
Sementara itu, Tomi merasakan tubuhnya seolah dihempaskan begitu saja ke tanah.
Ia jatuh berguling, dan seluruh tubuhnya sakit luar biasa.
Tomi belum sempat bangun, manakala telinganya menangkap suara seperti derap langkah suara sepatu bot.
Langkah itu semakin mendekat, bersamaan dengan suara gaduh dan kemudian serentetan suara tembakan.
Tomi ketakutan setengah mati, ia bergegas bangun, hingga dilihatnya kemudian di depan matanya halaman depan rumah yang ia tempati, namun rumah yang ada di sana bukanlah rumah yang sama.
Rumah itu seperti bangunan rumah Belanda, rumah yang kini ditembaki sekelompok orang berbaju seperti orang militer jaman dulu.
Orang-orang itu berwajah seperti orang Jepang, dengan mata sipit dan juga kulit mereka yang putih-putih.
Tomi berjalan dan bersembunyi di dekat pohon Beringin tua besar yang ada di halaman.
Dilihatnya semua yang terjadi di rumah itu.
Ada dua orang di bantai di sana.
Ditembaki, lalu kemudian ditinggalkan.
Tomi merinding.
Tubuhnya gemetaran saking takutnya.
Ia sebetulnya ingin cepat lari dari sana, takut sekali dengan situasi yang aneh dan asing ini.
Tapi...
Ia kemudian melihat seorang laki-laki yang juga keluar dari persembunyiannya yang tak jauh dari posisinya.
Tak lama setelah laki-laki itu masuk, laki-laki itu kemudian berlari keluar lagi.
Ia berlari menuju ke suatu tempat, entah ke mana.
Tomi mendengar suara rintihan dari dalam rumah, ia merinding hingga tubuhnya lemas sempurna.
Rasanya tak sanggup bangun, apalagi bergerak meninggalkan tempat di mana dia bersembunyi.
Dan tak lama, laki-laki tadi yang Tomi kira telah melarikan diri juga, ternyata kembali dengan beberapa orang.
Laki-laki itu mengajak orang-orang itu masuk ke dalam rumah, lalu dikeluarkan oleh mereka dua orang laki-laki bersimbah darah.
"Beri mereka pertolongan secepatnya, mereka masih ada harapan."
Kata laki-laki tadi.
Setelah itu mereka pergi lagi membawa dua korban yang sepertinya sekarat.
Tomi mengelus dadanya yang rasanya jantungnya nyaris lepas melihat kengerian yang terjadi di depan matanya.
Tomi celingak-celinguk, ia harus ke mana? Batinnya.
Ia ingin pulang, tapi ia harus pulang ke mana?
Dan lagi, ia sebetulnya saat ini sedang di mana juga ia tidak mengerti, kenapa semuanya terlihat seperti di era 1940-an.
Tomi masih sibuk berpikir, manakala laki-laki yang tadi datang lagi.
Laki-laki itu terlihat masuk lagi ke dalam rumah.
Setelah laki-laki itu masuk, ada satu temannya juga menyusul.
"Bagaimana?"
__ADS_1
Terdengar suara temannya berteriak dari luar.
Sebuah jendela kecil di bagian atas bangunan rumah itu tiba-tiba terbuka, laki-laki tadi melongok.
"Ada, gadis itu mati."
Kata Laki-laki itu pada temannya dari posisinya di atas loteng.
Temannya buru-buru masuk ke dalam rumah menyusul laki-laki tadi.
Cukup lama hingga akhirnya kedua laki-laki itu keluar dari rumah menggotong mayat perempuan yang tubuhnya bersimbah darah.
Perempuan itu berambut sedikit pirang.
Mayatnya kemudian diletakkan di atas tanah dekat pohon Beringin besar di mana Tomi kini bersembunyi di baliknya dan tertutup sedikit semak.
"Kau ambil cangkul saja, kita kuburkan saja di sini."
Kata laki-laki yang tadi pertama masuk rumah.
Temannya mengangguk, lalu bergegas pergi untuk mengambil cangkul.
Laki-laki yang kini ditinggalkan sendiri bersama mayat perempuan itu tampak menatap rumah di depan sana.
"Rumah terkutuk, siapapun yang kelak menempatinya, pasti ia akan mengalami hal buruk."
Kata laki-laki itu.
Tomi yang mendengar merinding.
Sejenak Tomi menghela nafas, ia lalu mengalihkan pandangannya lagi ke arah mayat perempuan yang hanya berjarak sekitar lima meteran dari tempat Tomi sembunyi.
Mayat yang semula bagian wajahnya menghadap ke arah rumah itu tiba-tiba saja begitu Tomi menatapnya wajah itu pelahan menoleh.
Tomi terbelalak, saat wajah mayat perempuan itu tak asing untuknya.
"Les... Lestari..."
Tomi mengenali sosok perempuan itu.
Mayat itu menyeringai ke arah Tomi.
"Kau mengenaliku Bang... Kau mengenaliku... Hihihihi..."
Tomi mundur-mundur lalu jatuh berguling.
Langit di atas sana tiba-tiba saja menjadi gelap tertutup awan mendung yang pekat.
Tomi kakinya terkilir hingga sulit bangun.
Teman si laki-laki terlihat kembali datang membawa cangkul.
"Ayo lekas kita kuburkan."
Laki-laki tadi berkata.
Yang kemudian disambut oleh temannya.
"Ya, kita kuburkan di sini."
Mereka lalu sibuk mencangkul tanah dekat pohon beringin besar di halaman itu.
Hujan mulai mengguyur rintik-rintik.
"Kau benar, dua laki-laki tadi adalah abdi dan putra Tuan Ageng Parta Prawira."
Kata si teman laki-laki yang kini terlihat diam saja dan lebih memilih mempercepat tangannya mencangkul membuat lubang untuk mengubur mayat Lestari.
Dan...
💦💦💦💦💦
__ADS_1