
Angin bertiup pelahan, bercampur gerimis tipis yang membuat dedaunan pada pohon-pohon yang tumbuh di sekitar rumah Koperasi meriap-riap.
Sesosok gadis cantik duduk di dadan pohon besar, menatap kosong bangunan rumah yang ada di depan sana.
Suara Bik Surti terngiang-ngiang di telinganya lagi.
Apa dia bilang?
Damar yang membunuhku?
Bagaimana bisa begitu?
Dia pasti sengaja mengolokku bukan?
Tidak mungkin laki-laki yang sangat mencintainya dan juga ia cintai itu tega membunuhnya.
Lestari seolah kini dadanya berkecamuk.
Beribu tanya mulai memenuhi kepalanya, dan setiap kali tanya itu muncul rasa sakit serta perih di dalam hatinya begitu mengganggu.
"Bagaimana jika ternyata memang begitu adanya Lestari?"
Tiba-tiba suara itu terdengar.
Lestari mengalihkan pandangannya dari arah rumah koperasi, dan kini tak jauh darinya muncul bayangan hitam yang pelahan mewujud seorang laki-laki paruh baya dengan setelan hitam dan ikat kepala.
Lestari dan laki-laki paruh baya itu saling berpandangan.
"Kau masih ingat aku Lestari?"
Tanya laki-laki dengan pakaian serba hitam itu.
Lestari turun dari dahan pohon tempat ia duduk.
Gadis cantik itu berdiri mengambang, gaunnya yang putih panjang berenda meriap-riap diterpa angin, begitupun juga rambutnya yang panjang dan pirang.
"Mang... Dayat."
Lestari menggumamkan nama Mang Dayat.
Laki-laki itu mengangguk seraya tersenyum.
"Damar... Bang Damar, di mana dia Mang?"
Tanya Lestari.
Mang Dayat melayang menghampiri Lestari, diraihnya kedua bahu kecil Lestari dan mencengkramnya.
"Sadarlah, kita sudah jauh meninggalkan masa itu, kau dan aku sama-sama berakhir di tanah ini."
Kata Mang Dayat.
Lestari matanya mulai meremang.
Air mata yang bercampur darah menetes setitik demi setitik.
"Aku ingin menemui Damar, dia ada di rumah itu, dia direbut seorang perempuan bernama Nilam."
Ujar Lestari.
Mang Dayat menggelengkan kepalanya.
"Dia bukan Damar, dia hanyalah cucu dari Damar yang kau kenal Lestari."
Ujar Mang Dayat.
Lestari menggelengkan kepalanya.
"Dia titisan Damar, dia datang untukku, dia milikku."
__ADS_1
"Lestari, sadarlah! Damar sudah pergi jauh dari tanah ini, sejak kematianmu dan dia melewati masa sekaratnya, ia menemukan cinta baru dan terlahirlah Nak Tomi yang kini tinggal di sana."
"Tidak!! Kau bohong!"
Lestari tak mau dengar, ia terlihat sangat marah, matanya terbalik dengan wajah yang kini basah oleh air mata darah.
"Surti membuatmu menggila, ini yang kutakutkan, dan akhirnya terjadi."
Gumam Mang Dayat.
"Surti sudah kuhabisi, ia perempuaj jahat, ia mengundang jin ke sini, aku membencinya."
Kata Lestari.
"Ya, dia juga mencoba mengundang para lelembut di sekitar sini, dia membuat kau bangun setelah sekian lama tertidur tenang."
Kesal Mang Dayat.
Lestari melayang seraya menengadah ke arah langit yang mencurahkan titik-titik gerimis tipis.
"Karena takdirku telah datang, karena Damarku telah datang."
Lirih Lestari mencoba menghalau apa yang ia sebetulnya telah gelisahkan sejak pagi.
Mang Dayat menggelengkan kepalanya.
"Nanti, saat kau ingat bagaimana kematianmu, pergilah yang jauh dan jangan kembali lagi Lestari, sudah cukup kau membuat keributan di alam manusia."
Mang Dayat memberi nasehat.
Tapi...
"Diam!! Aku hanya ingin bersama Damar!! Tak usah ikut mengatur hidupku!!"
Teriak Lestari.
Tomi baru selesai menelfon Iwan untuk minta dijemput, ia sudah sharelock tempatnya saat ini berada.
Tempatnya sebetulnya ternyata tak begitu jauh dari tempat tinggal Tomi di rumah milik Koperasi itu.
Gubuk Pak pemulung itu dekat dengan bekas pabrik gula dan juga satu jalur dengan pemakaman Belanda.
"Bagaimana Tuan, apa adiknya bisa menjemput?"
Tanya pak pemulung itu.
Tomi mengangguk.
"Bisa Pak."
Ujar Tomi.
"Memang banyak yang suka nyasar ke alam lelembut, beruntung Tuan bisa keluar tanpa gangguan jiwa dan lainnya."
Kata pak pemulung sembari menyuguhkan satu gelas kopi hitam dan satu piring ubi kukus buatan istrinya.
Tomi tersenyum menyambut suguhan sederhana dari pak pemulung.
"Hanya ada ini, kami tak punya banyak uang untuk beli biskuit atau roti sebagai teman ngeteh atau ngopi tamu terhormat seperti Tuan."
Ujar Pak pemulung.
Tomi menggeleng.
"Jangan bilang begitu Pak, manusia semuanya sama, jangan terlalu membedakan manusia hanya karena tingkatan sosial semu."
Ujar Tomi.
Pak pemulung tersenyum sambil mantuk-mantuk.
__ADS_1
"Silahkan Tuan Tomi, diminum dulu kopinya."
Kata Pak Pemulung.
Tomi pun demi menghormati akhirnya mengambil gelas berisi seduhan kopi hitam yang masih mengepulkan aroma kopinya yang khas.
Pak pemulung menyalakan rokok yang terbuat dari hasil menglinting sendiri.
Saat rokok itu terbakar dan mengepulkan asapnya, tercium aroma tembakau bercampur kemenyan memenuhi udara di sekitar Tomi dan pak pemulung duduk.
"Lestari itu sebetulnya sudah lama tidur, tidak pernah menggangu orang, jika dia sekarang terbangun pasti karena ada yang awalnya memicu keributan."
Kata pak Pemulung itu.
Tomi menyeruput kopinya lagi, makin lama makin nikmat rasa kopi hitam yang disuguhkan pak tua itu.
"Sejatinya dia bukan hantu yang jahat, dia hanya mati dalam keadaan masih sangat mencintai kekasihnya, ia belum sadar siapa yang membuatnya mati juga."
Kata Pak pemulung itu lalu kemudian terkekeh.
"Andai ia tahu, pasti ia enggan menunggu Damar kembali, dia pasti lebih baik pergi dengan tenang."
Lanjut Pak pemulung lagi.
Tomi lalu tanpa terasa akhirnya menghabiskan kopi hitamnya.
Pak pemulung masih bicara ngalor ngidul ngetan ngulon.
Hingga akhirnya Tomi mengantuk, dan tanpa terasa jadi tertidur.
Aneh memang, habis minum kopi bukannya melek malahan jadi mengangguk, itu benar-benar seperti Othor.
Angin berhembus pelahan, terdengar sayup suara sepatu bot berderap-derap. Tomi membuka matanya dan tampak ia berada di ruangan sebuah rumah Belanda yang pengap.
Tomi celingak-celinguk.
Dan saat ia belum bisa mencerna ia saat ini sebetulnya ada di mana, tiba-tiba pintu depan rumah itu berderit.
Pintu depan yang besar dan tinggi itu terbuka, dan muncul seorang pemuda yang berjalan gontai.
Pemuda yang berwajah sangat mirip dirinya itu meneteskan air mata yang cepat kemudian ia seka.
Tangannya dimasukkan ke saku celana, meraih satu benda tajam seperti belati.
Pemuda itu menaiki tangga kayu menuju loteng, ia seperti tak melihat keberadaan Tomi meskipun sebetulnya jelas-jelas Tomi dilewatinya.
Merasa penasaran meskipun takut, Tomi mengikuti pemuda persis dirinya itu.
Dan...
Pemuda itu membuka pintu loteng setelah menyingkap rak buku yang menutupi keberadaan loteng tersebut.
Pemuda itu masuk yang lantas begitu Tomi ikuti, terlihat seorang gadis cantik terbangun dan langsung menghambur ke arah sang pemuda.
Entah apa sebetulnya yang terjadi kemudian, karena Tomi tahu-tahu sudah melihat pemuda itu menusukkan belatinya ke perut sang gadis.
Darah mengalir deras dari perut gadis cantik itu, Tomi sampai merinding dan jantungnya nyaris lepas.
Gadis cantik yang tak lain adalah Lestari itu meregang nyawa di tangan pemuda yang persis dirinya.
Pemuda itu menusukkan belatinya terus menerus ke arah Lestari.
Tomi yang tak tahan berteriak...
"Heeeey, gila!! Hentikan!! Hentikan!"
💦💦💦💦💦
baiklah Tom, Othor hentikan, ngga usah teriak-teriak.
__ADS_1