Kisah Hantu LESTARI

Kisah Hantu LESTARI
42. Ada Sebuah Rahasia


__ADS_3

Kemudian Iwan menangkap sesosok bayangan berkelebat di luar jendela. Bayangan hitam tapi tak jelas bentuknya.


Iwan berlari ke arah jendela ruangan kerja Tomi yang ukurannya cukup besar dan bisa dilewati untuk keluar.


"Iwan... Iwan..."


Panggil Ibu sambil mengejar Iwan dan melongok dari jendela.


Nilam yang mendengar kebisingan di ruang kerja sang suami, akhirnya memutuskan masuk ke dalam ruangan itu, didapatinya mertuanya sedang memanggil anak bungsunya.


"Ada apa Bu?"


Nilam menghampiri sang Ibu.


Ibunya Tomi menoleh ke arah Nilam yang berjalan ke arahnya.


"Itu si Iwan, tidak tahu kenapa tiba-tiba melompat keluar seperti melihat sesuatu."


Ujar Ibunya Tomi pada sang menantu.


Nilam berdiri di samping Ibunya Tomi, lalu ikut melongok keluar dari jendela.


Mencari sosok Iwan yang masih berusaha mengejar sekelebat bayangan hitam yang muncul tiba-tiba.


"Apa Iwan melihat sesuatu Bu?"


Tanya Nilam.


Ibu terlihat menggeleng pelan.


"Tiba-tiba dia melompat tanpa bicara apa-apa dulu, bagaimana Ibu akan tahu?"


Nilam akhirnya kembali melihat keluar rumah dari jendela ruang kerja Tomi.


Tampak Iwan, si pemuda yang rambutnya gondrong sebahu itu berjalan kembali ke arah jendela ruang kerja Tomi kakaknya.


Iwan kemudian melompat masuk.


"Kamu ini kenapa sih?"


Tanya Ibu pada Iwan sambil geleng-geleng heran.


Nilam menatap Iwan dengan tatapan curiga dan juga cemas.


Ia yakin Iwan melihat sesuatu lagi, apa mungkin Lestari sudah kembali lagi? Batin Nilam.


Padahal baru saja Ki Marta bilang jika Lestari sudah dipindahkan, tapi nyatanya...


Iwan yang menyadari kakak iparnya menatapnya jadi nyengir ke arah Nilam.


"Ngga ada apa-apa Kak, jangan khawatir."


Kata Iwan menenangkan Nilam.


Nilam tapi tak lantas lega, sudah jelas Iwan bereaksi aneh, mana mungkin tak ada apa-apa.


"Bang Tomi mengajak makan malam di luar, jam lima nanti driver akan jemput kita, jadi kita musti siap-siap dari sekarang."


Kata Nilam akhirnya.


Ibunya Tomi yang terlihat belum tenang menutup jendela ruang kerja anaknya.


Nilam dan Iwan memandang sang Ibu yang kini mengunci pula jendela itu.


"Masih jam segini ngapain ditutup Bu?"


Tanya Iwan heran.


"Sudahlah, Ibu lama-lama tidak suka dengan jendela ini."


Ujar Ibu.


Iwan dan Nilam saling berpandangan.

__ADS_1


"Apa tadi Nilam, Tomi mengajak kita apa?"


Tanya Ibu.


"Makan malam di luar Bu, nanti jam lima sore driver akan jemput kita, sebaiknya kita mulai siap-siap."


Nilam mengulangi kata-katanya.


Ibunya Tomi mengangguk.


"Ya Ibu dan Kak Nilam siap-siap dulu, nanti Iwan gampang belakangan."


Kata Iwan yang sebetulnya masih penasaran sosok siapa yang tadi lewat.


Bukan...


Bukan perempuan None Belanda yang katanya beberapa hari ini mengganggu Nilam dan Tomi.


Ibu akhirnya keluar dari ruang kerja tersebut, sementara Nilam mengikuti Ibu di belakangnya.


Perasaan Nilam jadi tak karuan memikirkan Iwan yang barusan mengejar sesuatu.


Ah jelas, pohon itu memang harus ditebang.


Nilam bergegas kembali ke kamarnya, berharap Bu Har menghubunginya untuk memberi kabar terkait orang yang akan dimintai tolong menebang pohon.


Ya, meskipun Nilam mendengar semua perdebatan Iwan dan Ibu, namun Nilam merasa keputusannya dengan Ibu adalah yang paling tepat.


Menyingkirkan pohon itu adalah sama dengan menyingkirkan tempat yang untuk menjadi alasan para mahluk astral itu tinggal.


Nilam duduk lagi di tepi tempat tidur, diraihnya hp nya, dan begitu hp itu menyala, tiba-tiba layar hp Nilam bukan memunculkan wallpaper yang biasa Nilam pasang, melainkan...


Nilam seketika berdiri dan melempar hp miliknya, ia menjerit keras seraya mencengkram rambutnya dengan kedua tangan.


Iwan yang masih ada di ruangan sebelah tentu saja yang langsung lebih dulu sampai di kamar kakak iparnya.


Nilam menatap Iwan dan langsung berlari ke arahnya, berdiri di belakang Iwan yang celingak-celinguk kebingungan.


"Ada apa Kak? Ada apa?"


Kata Nilam.


Iwan melihat ke lantai di mana hp Nilam tergeletak.


"Ada apa lagi ini?"


Ibu Tomi datang tergopoh-gopoh bersama Bik Surti.


Begitu melihat Ibu mertuanya, Nilam langsung menghambur dan memeluk Ibu.


"Wallpaper hp Nilam berubah Bu."


Kata Nilam gemetaran.


Bik Surti kemudian masuk ke dalam kamar, ia mendekati Iwan yang akan mengambil hp dari lantai.


Bik Surti menaburkan sesuatu ke arah lantai yang ada hp nya. Iwan yang kaget jadi menoleh ke arah Bik Surti.


"Apa ini Bik?"


Tanya Iwan.


Bik Surti menghela nafas.


"Ada energi jahat Bang."


Kata Bik Surti tanpa ekspresi.


Iwan terlihat mengerutkan kening, melihat Bik Surti yang kemudian mengambil hp di atas lantai.


Setelah mengambilnya, Bik Surti memberikannya pada Nilam, tapi Nilam terlihat ragu menerimanya.


Ia masih takut.

__ADS_1


Bayangan wajah laki-laki yang penuh darah di layar hp nya masih jelas terbayang di pelupuk mata.


"Apa Lestari lagi?"


Tanya Ibunya Tomi pada Nilam, yang kemudian mewakili Nilam menerima hp dari tangan Bik Surti.


Nilam menggeleng.


"Bukan Bu."


Nilam menatap Ibu mertuanya.


"Bukan None Belanda itu lagi, tapi wajah laki-laki, yang..."


Nilam tak sanggup mengatakannya, ia rasanya takut setengah mati.


"Ah sudah... Sudah, lebih baik tak usah dibahas lagi, kesenengan tampaknya hantu-hantu itu kita bahas terus."


Baru Ibu berkata begitu, tiba-tiba pintu ruang kerja sebelah kamar seolah dibanting dengan keras.


Brak!!


Semua jelas saja terkejut jadinya.


Iwan dan Bik Surti keluar dari kamar Nilam lebih dulu.


Pintu ruang kerja Tomi terlihat masih bergerak-gerak, Iwan masuk ke dalam dan mencium aroma anyir darah yang membuat perutnya langsung mual.


Ini benar-benar tidak beres, entah apa sebetulnya yang dulu terjadi di rumah ini.


None Belanda itu, laki-laki mirip Abangnya, dan sosok hitam yang berkelebat tadi...


Iwan yakin ada sesuatu.


Harus ada benang merahnya.


Ibu dan Nilam terlihat berdiri saja di ambang pintu, menatap Iwan dan Bik Surti yang seolah mencoba mencari tahu ada apa di sana.


"Kalian bisa mencium aroma darah?"


Tanya Iwan.


Nilam dan Ibu menggeleng, tapi tidak dengan Bik Surti.


"Ya, saya bisa menciumnya."


Kata Bik Surti.


Iwan menatap Bik Surti.


"Bukankah Bibik sudah lama tinggal di sini? Apa Bibik sebelumnya tidak pernah mengalami hal semacam ini?"


Tanya Iwan.


Bik Surti menggeleng.


"Sebelumnya hanya kejadian biasa saja, tidak pernah ada teror sekstreem sekarang, ini baru kali pertama ada yang semacam ini, saya juga tidak mengerti."


Kata Bik Surti yang seolah juga bingung.


Iwan menghela nafas.


Lalu...


"Aku akan cari tahu, dan aku pastikan semua pasti terungkap. Kak Nilam, jangan lemah, jangan mau diteror mereka. Saat Kak Nilam kuat, mereka akan lemah, dan jika Kak Nilam lemah, mereka akan kuat."


Kata Iwan.


"Hantu hanya bisa menguasai kita saat energi mereka lebih di atas kita, jadi pastikan jangan sampai kalah dari mereka, mengerti Kak?"


Iwan menatap Nilam yang hanya terdiam.


Bagaimana bisa ia tidak lemah, jika melihat dan mendengar semua hal yang menakutkan.

__ADS_1


Nilam rasanya ingin pergi dan lari yang jauh.


💦💦💦💦💦


__ADS_2