
Damar dibawa pulang oleh para abdi sang Ayah, dihadapkan langsung kepada Tuan Ageng Parta Prawira.
Damar yang semula menyangka Ayahnya akan berwajah angker saat menyambutnya, atau bakan bersiap dengan senjata di tangan untuk membunuhnya, ternyata justeru sebaliknya.
Tuan Ageng Parta Prawira begitu diberitahu Damar berhasil dibawa pulang terlihat berjalan dengan tenang dari ruangan istirahatnya.
Ia lalu duduk di depan sang putra, menatapnya lalu tersenyum.
Ya, tersenyum.
Setelah semua kegilaan yang ia lakukan dengan membuat begitu banyak orang terbunuh, kini ia duduk seolah tak terjadi apa-apa.
"Akhirnya Ayah bisa bertemu denganmu lagi."
Kata Tuan Ageng Parta Prawira dengan suara beratnya yang tenang.
Laki-laki itu benar-benar seperti memiliki kepribadian ganda.
Damar yang melihat Ayahnya begitu tenang akhirnya jadi berpikir bahwa semua berarti sudah baik-baik saja.
Berarti Ki Gedhe Tirtayasa berhasil membuat Ayahnya membuka hatinya dan berlapang dada atas apa yang sudah terjadi.
Dan itu berarti juga, hubungannya dengan Lestari akan berjalan sesuai yang ia harapkan, Samsul juga pasti sudah pulang dengan Ki Gedhe Tirtayasa dengan selamat, dan Mang Dayat pasti saat ini sedang istirahat karena lelah mengurusi Damar.
Damar sejenak menghela nafas.
Ia yang berbaik sangka merasa begitu lega.
"Kau sudah makan?"
Tiba-tiba Ayah bertanya.
Damar mengangguk.
Tentu saja, sebagai anak, diperhatikan orangtua, apalagi di saat setelah keduanya bersitegang membuat hati Damar begitu terenyuh.
Tuan Ageng Parta Prawira kembali tersenyum sambil mantuk-mantuk.
Lalu...
"Damar anakku."
Panggil Tuan Ageng Parta Prawira.
"Ya Ayah."
Jawab Damar.
"Apa boleh Ayah bertanya?"
Tanya Ayah.
Damar mengangguk.
Tuan Ageng Parta Prawira tersenyum.
"Sungguhkah kau telah jatuh cinta pada gadis bernama Lestari?"
Tanya Tuan Ageng Parta Prawira.
"Ya Ayah, aku sungguh mencintai Lestari."
Jawab Damar.
"Dan aku ingin menikahinya."
Lanjut Damar pula.
"Bagaimana dengan gadis itu? Apa dia juga mencintaimu?"
Tanya sang Ayah.
__ADS_1
Damar menatap Ayahnya.
"Ya Ayah, kami saling mencintai, itu sebabnya Damar meminta Ayah melepaskannya. Apalagi Ayah adalah seorang Tuan besar yang bisa mendapatkan Janda kembang di manapun Ayah inginkan, tentu melepaskan Lestari yang hanya gadis belia tak akan sulit untuk Ayah. Maaf jika Damar lancang Ayah, tapi sungguh Damar bicara sebagai anak juga, jika Ayah ingin menikah, Ayah lebih baik menikahi Janda yang usianya tak terlalu jauh beda dengan Ayah."
Ujar Damar.
Tuan Ageng Parta Prawira terlihat menghela nafas.
Entah karena dia sudah merasa lega, atau justeru tengah berusaha menenangkan diri.
Lalu...
"Ayah akan merestui kami bukan? Tolong nikahkan kami Ayah, aku sebagai laki-laki harus bertanggungjawab atas apa yang telah kami perbuat."
Mendengar kalimat Damar, terlihat raut wajah Tuan Ageng Parta Prawira sejenak berubah, namun kemudian ia kembali berusaha tenang.
Hening.
Sekian menit berlalu Tuan Ageng Parta Prawira memilih diam, sementara Damar di depannya juga terlihat diam menunggu sang Ayah bicara lebih dulu.
Jujur Damar tak bisa mengira-ngira, apa yang akan dikatakan Ayahnya nanti.
Hingga, tiba-tiba...
"Baiklah, Ayah akan menikahkanmu."
Dan jawaban itu akhirnya terdengar memecah keheningan.
Damar jelas nyaris tak percaya mendengar Ayahnya bukan hanya menerima tentang hubungannya dengan Lestari, namun bahkan juga akan menikahkannya.
"Ayah... Terimakasih."
Kata Damar.
"Tapi..."
Ayah kalimatnya menggantung.
Damar menatap Ayahnya.
Tanya Tuan Ageng Parta Prawira.
Damar tertunduk. Hatinya kembali menciut.
"Bukan masalah jika kau hanya jatuh cinta pada calon isteri Ayahmu, tapi yang kau lakukan adalah mendekatinya, membawanya pergi, dan bahkan kalian berzina."
Ujar Tuan Ageng Parta Prawira.
Damar terdiam, tak menyanggah ucapan sang Ayah.
"Ayah menitipkan gadis itu di Padepokan Ki Gedhe Tirtayasa agar kesuciannya terjaga hingga kelak bisa Ayah nikahi, Ayah menjaga martabat dan kehormatannya meski dia hanya seorang gadis kecil."
Suara Tuan Ageng Parta Prawira terdengar mulai bergetar.
"Kau mencintainya, Ayah juga sama, tapi kau merusak nya Damar."
Kata Tuan Ageng Parta Prawira lagi.
"Dan..."
Tuan Ageng Parta Prawira kemudian meminta abdi nya untuk membawa Mang Dayat masuk ke ruangan itu.
Damar tersentak.
Apa sebetulnya yang terjadi.
Dan Damar semakin terbelalak tak percaya begitu abdi sang Ayah menyeret tubuh tua kurus yang kulitnya mengelupas dan berdarah-darah.
Mata Damar meremang, ia menatap sang Ayah tak percaya.
"Kau yang membuat Ayah melakukan ini."
__ADS_1
Damar bergetar.
Dadanya serasa panas dan amarahnya bergolak-golak.
"Ayah! Kau..."
Tuan Ageng Parta Prawira tersenyum.
"Kau pilihlah, Dayat ku siksa lagi hingga mati menyusul Samsul temanmu dan Ki Gedhe Tirtayasa dan keluarganya lalu menikah dengan Lestari tanpa harus menjadi anak Ayah lagi, atau kau selamatkan Dayat dan biarkan Lestari menjadi tahanan orang Jepang."
Damar mengepalkan tangannya.
Tapi saat Damar mengepalkan tangannya, seorang abdi yang juga algojo milik Tuan Ageng Parta Prawira itu menginjak tubuh penuh luka Mang Dayat hingga Mang Dayat menjerit-jerit kesakitan.
"Ayah dengar tentara-tentara Nippon tengah mengumpulkan banyak gadis pribumi dan juga keturunan Belanda untuk dijadikan budak mereka, berikan saja Lestari untuk mereka, toh dia sudah tak suci lagi."
Tuan Ageng Parta Prawira tersenyum ke arah Damar penuh kemenangan.
"Ayah... Kau... Kenapa kau seperti Iblis!"
Damar marah luar biasa.
"Kau yang memulai semuanya Damar."
Tuan Ageng Parta Prawira berdiri.
"Kau ingin tetap menikahi Lestari, aku akan membunuh Dayat di hadapanmu. Kau selamatkan dia, kau berikan Lestari untuk para tentara Jepang. Pilihlah!!"
Dan di depan kediaman Tuan Ageng Parta Prawira terdengar suara orang berdatangan.
"Mereka sudah datang, mereka sudah tahu tempat Lestari kau sembunyikan. Kau pilihlah."
Kata Ayah.
Damar menatap Mang Dayat yang merintih-rintih di atas lantai dengan luka yang mengenaskan. Hati Damar sungguh hancur berkeping-keping sekarang.
"Jika kau memilih menyelamatkan Dayat, aku akan mengampuninya, aku akan membiarkan Dayat pergi."
Damar menangis karena begitu putus asa, semua rasa bercampur menjadi satu saat ini.
"Cepatlah, waktumu tak banyak. Kau tahu orang Jepang tak suka terlalu lama menunggu."
Ujar Tuan Ageng Parta Prawira.
Damar akhirnya dengan tubuh lemas luar biasa bicara.
"Baiklah, lepaskan Mang Dayat, berjanjilah tak akan melukainya Ayah, jika kau melanggar janji, aku akan ganti membantai semua abdimu."
Kata Damar.
Tuan Ageng Parta Prawira tertawa terbahak-bahak.
"Apa yang bisa kau lakukan? Saat ini saja kau tak bisa melakukan apapun."
Damar yang mendengar kata-kata sang Ayah rasanya begitu sakit.
Ia tak menyangka memiliki seorang Ayah yang begitu jahat.
"Aku akan menemui Lestari sekali lagi, biarkan aku sendiri yang menyerahkannya."
Ujar Damar.
Tuan Ageng Parta Prawira menyeringai.
"Lakukan saja, Ayah sudah tak peduli. Hahaha..."
Tuan Ageng Parta Prawira merasa telah benar-benar menang.
Melihat laki-laki yang merebut cintanya kini tak berdaya untuk memiliki cintanya sepenuhnya membuat hati Tuan Ageng Parta Prawira begitu bahagia.
Damar mendekati Mang Dayat, lalu membantunya berdiri dan kemudian membawa Mang Dayat pergi dari kediaman sang Ayah.
__ADS_1
Beberapa orang abdi dan juga perwakilan dari tentara Jepang kemudian meminta Damar segera ke tempat Lestari untuk menangkapnya.
💦💦💦💦💦