Kisah Hantu LESTARI

Kisah Hantu LESTARI
45. Aroma Bunga Sedap Malam


__ADS_3

Mobil masih terlihat meluncur, Ibunya Tomi dan Nilam ngobrol soal rencana jalan-jalan ke kota besok atau lusa, sementara Iwan mengantuk di depan sana.


Tomi sendiri sibuk berbalas pesan dengan Pak Irfan soal rumah makan yang baru ia kunjungi bersama keluarga.


Ya, tentu saja, apalagi yang Tomi bicarakan dengan Pak Irfan terkait rumah makan itu bila bukan tentang Ki Gedhe Tirtayasa.


Tomi sedang mencoba mencari tahu, di mana kira-kira Tomi bisa menemui anak keturunan pemilik rumah makan itu, karena mereka tak ada satupun yang berada di rumah makan, semuanya hanya karyawan saja.


Hingga tiba-tiba, saat mobil melintas di jalan dekat sebuah pohon besar, jalan yang sebetulnya tak begitu sepi, Pak Dadang mendadak menghentikan mobilnya.


Posisi mobil yang mendadak berhenti itu membuat semua yang menumpang di dalam mobil menjadi terkejut, bahkan Tomi nyaris kejedot sandaran kursi di depannya.


"Ada apa Pak?"


Tanya Iwan yang sedang tidur terbangun karena kaget, begitupun yang lain.


"Ada yang seperti tertabrak, kucing atau apa."


Kata Pak Dadang terlihat panik.


Driver itu kemudian menepikan mobilnya ke bahu jalan yang ada bundaran di mana pohon Beringin tua besar tumbuh di sana.


Setelah menepi, Pak Dadang terlihat turun, begitupun akhirnya Iwan dan Tomi.


Nilam dan Ibu memilih tetap di dalam mobil, mereka jelas takut bila ternyata benar Pak Dadang menabrak kucing dan kucingnya sampai meninggal.


Selain mereka tidak akan tega, mereka juga toh tak akan bisa melakukan apa-apa. Jadi biarlah para laki-laki saja yang turun.


"Nggak ada kok Pak."


Ujar Iwan sambil celingak-celinguk menatap jalanan yang kosong tak ada kucing atau binatang lain yang tergeletak di jalan.


Pak Dadang terlihat bingung.


"Tadi jelas sekali ada yang lewat, seperti tertabrak."


Suara Pak Dadang seperti gumaman saja.


Tomi juga ikut mencari, namun memang tak ada apa-apa.


Tomi menghela nafas.


Lalu mengajak Pak Dadang dan Iwan untuk kembali masuk mobil lagi saja dan meneruskan perjalanan untuk pulang.


Akhirnya Pak Dadang mengangguk.


Ia kembali masuk ke dalam mobil, begitupun Iwan dan Tomi pula.


Mesin mobil kembali dinyalakan, Pak Dadang melajukan mobilnya lagi menuju jalanan dan meluncur pulang.


Hingga kemudian saat mobil melaju di jalanan yang sepi, di kejauhan Pak Dadang melihat ada seperti orang tergeletak di pinggir jalan.


Orang menggunakan baju putih hingga bisa terlihat cukup jelas meski hanya terkena sorotan lampu jalan yang tak begitu terang.


"Ada orang..."


Pak Dadang bersuara.


Mobil semakin mendekat, orang yang tergeletak di jalan itu tiba-tiba saja berdiri, dan...


Pak Dadang hilang kendali, mobilnya berjalan zigzag.


Iwan sigap membantu Pak Dadang menstabilkan kemudi, lalu membawa mobil berhenti ke tepi.


"Pak, saya saja yang nyetir."

__ADS_1


Kata Iwan.


"Ada Bu Nilam..."


Pak Dadang meski bicara begitu tapi melihat ke belakangnya di mana di sana jelas-jelas Nilam sedang duduk.


Nilam yang disebut Pak Dadang jelas saja wajahnya langsung ketakutan.


"Ada apa sebenarnya Pak?"


Pak Dadang gemetaran.


"Tadi ada saya lihat ada orang tergelatak di pinggir jalan, begitu mobil kita mendekat, orang itu tiba-tiba berdiri dan saya lihat wajahnya sekilas adalah wajah Bu..."


"Sudah... Sudaaaah, jangan diteruskan."


Nilam menutupi kedua telinganya tak mau dengar.


Ibunya Tomi memeluk Nilam agar menantunya tak sampai histeris.


Iwan turun dari mobil, ia mulai kesal dengan hantu di sekitar Kakaknya.


Tapi, lagi-lagi, tak ada siapapun di sana.


Hanya jalanan sepi dan kosong.


Iwan melongok ke dalam mobil, lalu meminta Pak Dadang turun.


"Saya saja yang bawa mobil Pak, kayaknya terlalu bahaya kalau Pak Dadang yang bawa."


Kata Iwan.


Tomi yang tadinya akan ikut turun di tahan Ibunya.


"Kamu tidak usah ikut turun."


Pak Dadang yang merasa apa yang dikatakan Iwan benar, akhirnya menurut keluar untuk berpindah tempat, bergantian dengan Iwan.


Iwan duduk di belakang kemudi dan kembali melajukan mobil yang mereka tumpangi.


Pak Dadang yang terlihat masih syok melihat ke arah spion mobil, dan...


Bayangan perempuan bergaun putih tadi terpantul di kaca spion.


Perempuan itu menyeringai sambil melambaikan tangannya.


Iwan yang kini juga melihatnya sebetulnya ingin sekali menghentikan mobilnya lagi dan sekalian saja ia temui hantu itu, kesal rasanya ia hampir mati jika saja mobil tadi oleng atau masuk ke tengah jalan pas ada bus atau truk lewat dari arah yang berlawanan.


Tapi...


Iwan memikirkan kondisi kakak Iparnya yang menangis ketakutan lagi.


Jelas saja ia takut karena hantu itu menyerupai dirinya.


"Santai saja Pak."


Iwan menepuk bahu Pak Dadang.


"Tapi..."


Pak Dadang suaranya gemetaran.


Wajah seorang perempuan kini menempel di kaca jendela mobil samping Pak Dadang duduk.


Pak Dadang memalingkan wajahnya ke arah belakang mobil menghindari melihat wajah hantu itu.

__ADS_1


Iwan yang juga melihat tampak mempercepat laju mobilnya, sedangkan yang lain, yang duduk di belakang meski tak melihat tetap terlihat ikut panik dan takut karena melihat Pak Dadang yang ketakutan.


Hingga akhirnya bayangan wajah itupun menghilang dengan sendirinya.


Mobil mulai memasuki jalanan dekat rumah milik Koperasi yang ditempati Tomi dan Nilam.


Begitu kemudian mobil dibawa Iwan memasuki halaman rumah, Ibu tampak bernafas lega.


Iwan menghentikan mobilnya, Tomi tampak segera turun dan membantu isterinya turun juga.


Tomi memapah Nilam yang terlihat lemas berjalan, Ibu turun menyusul, lalu Pak Dadang, baru kemudian yang terakhir Iwan.


Aroma bunga sedap malam tercium harum semerbak terbawa sepoi angin.


Iwan celingak-celinguk.


Tok tok tok...


"Biiik... Bik Surtiiii... Biiiik."


Ibu mengetuk pintu seraya memanggil Bik Surti.


Tak menunggu lama, pintu depan terbuka, Bik Surti berdiri di sana.


"Ini Bik, buat kamu."


Kata Ibu seraya menyerahkan satu kantong berisi bungkusan paket nasi dan bebek bakar.


Bik Surti menerima pemberian sang Nyonya besar.


Tomi memapah Nilam langsung ke kamar.


"Bik, saya mau minum."


Kata Pak Dadang yang langsung saja berjalan masuk ke ruang dalam.


"Ada apa Pak Dadang?"


Bik Surti mengekor Pak Dadang yang langsung ke ruang dalam.


"Bik, ambilkan minum juga untuk Bu Nilam."


Kata Ibu pada Bik Surti sebelum asisten rumah tangga itu benar-benar menghilang di balik gorden pintu pembatas ruang depan dan ruang tengah.


Sementara yang lain sudah masuk, Iwan memilih berdiri di teras rumah.


Aroma bunga Sedap Malam membuatnya sangat yakin ada yang sebetulnya berada di sekitarnya saat ini.


"Keluarlah, kalau kau punya pesan, aku akan sampaikan, tak perlu meneror kakak iparku dan yang lain."


Kata Iwan mencoba bernegosiasi dengan hantu, demit, lelembut atau entah apa sebetulnya yang tengah ia hadapi saat ini.


Tak ada respon, hanya sepoi angin yang lebih dingin saja berhembus menerpa wajah Iwan.


Iwan menghela nafas.


Aroma Bunga Sedap malam kini perlahan menghilang, dari yang semula samar-samar saja aromanya, kini mulai menghilang sama sekali.


Iwan mengurut keningnya.


Pusing dia memikirkan sebetulnya hantu apa yang meneror kakaknya.


Hantu yang memang ingin mengganggu?


Atau hantu yang memang sengaja diundang untuk mengganggu?

__ADS_1


**-------------**


__ADS_2