Kisah Hantu LESTARI

Kisah Hantu LESTARI
40. Bertemu Kelompok Aneh


__ADS_3

Lestari tampak melayang-layang di atas pohon Beringin tua, tempat baru di mana ia dipindahkan oleh Ki Marta.


Ia mencoba mencari jalan untuk kembali ke rumah lamanya namun ia tak juga bisa menemukan.


Sedih hati rasanya Lestari, ia memikirkan Damar.


Bagaimana jika Damar mencarinya? Bagaimana jika Damar nanti kehilangan dia? Bagaimana jika nanti Damar tak menemukannya?


Lestari melayang seraya berlinang air mata, tak kuasa hatinya menahan sedih dan sakit hati pada jin suruhan Ki Marta.


"Aku ingin pulang... Aku ingin pulang."


Lestari menangis melayang hingga ke ujung jalan dekat pertigaan.


Tepat saat itu, seorang pemuda dengan seragam sebuah minimarket terlihat berjalan tergesa.


Lestari menghampirinya.


"Akaaaaang... Akaaang..."


Lestari memanggil dengan suaranya yang lembut dan lirih.


Suara yang seperti terbawa angin itu kemudian membuat langkah si pemuda yang memakai seragam minimarket menghentikan langkahnya.


Ia tampak celingak-celinguk mencari sumber suara.


Hingga...


Lestari berdiri mengambang di dekat dinding pembatas kiri kanan jalan yang dilewati sang pemuda.


Pemuda itu melompat saking kagetnya.


Melihat Lestari berdiri mengambang dengan gaun putih dan wajah pucat pasi serta mata terbalik membuat pemuda tersebut sontak lari tunggang langgang berbalik arah.


"Han... Han... Hantuuuuuuuuu..."


Pemuda itu lari kocar-kacir.


Lestari tertunduk, air matanya yang bercampur darah menetes membasahi wajahnya yang putih pucat.


"Aku hanya ingin tanya arah jalan pulang Kang... Aku tersesat dalam lautan luka dalam."


Rintih Lestari.


"Jiaaah... malah butiran debu."


Tiba-tiba sebuah suara julid terdengar dari arah belakang Lestari.


Lestari tampak memutar kepalanya ke belakang, dan...


"Alamakjan..."


Lestari kaget luar biasa, terlihat di sana sesosok None Belanda sedang bergaya Tugu Poci Tegal di dekat Pohon Beringin tua.


"Si... Si... Siapa kamu? Kenapa kamu pakai wig nuri gayaku?"


Tanya Lestari.


"Apa? Niru gayamu? Sialan!"


None Belanda itu melempar tokek yang sedang merayap di dahan pohon Beringin tua di dekatnya ke arah Lestari.


Lestari yang sigap menghindar membuat tokek akhirnya jatuh ke jalan dan langsung ngibrit takut dijadikan senjata tawuran dua hantu VOC lagi.


None Belanda itu kemudian dengan cepat melesat ke arah Lestari, menariknya dengan kuat dan memutarnya sampai pusing.


Setelah pusing, hantu itu tiba-tiba memiting Lestari.


"Kamu gangguin manusia terus kan di sini? Mau mencemarkan nama baik hantu None Belanda kan? Iya kan?"


Hantu itu dengan semangat melakukan kekerasan pada Lestari yang tentu saja menjerit-jerit.


"Sakiit... Aduuuh sakiiit... Salahku apa... Kamu siapa tiba-tiba ngamuk tidak jelas. Siapa juga yang gangguin manusia? Aku ngga gangguin siapa-siapa, aku cuma ingin pulang kasihan Bang Damar."


Lestari yang merasa tidak pernah ada masalah dengan sesama hantu None Belanda tentu saja jadi keder.


"Lepas... Lepasiiin sakiiit..."


Lestari terus memohon-mohon, tapi hantu itu bukannya melepas malah makin memiting Lestari.


"Janji dulu tidak akan ganggu manusia lagi..."


Hantu itu terus memiting Lestari.


"Aku ngga pernah ganggu manusia, aku cuma mau pulang ke tempat Bang Damar."


Hingga...


"Aunty... Ada apa ini?"


Terdengar kemudian suara seseorang dari arah bawah pohon.


Kedua hantu None Belanda itu menoleh ke arah asal suara, dan tampak seorang gadis cantik berdiri sambil menatap keduanya.


"Siapa lagi itu? Hantu lagi atau manusia?"


Gumam Lestari.


Tapi bukannya menjelaskan siapa itu yang datang, hantu None Belanda yang sedang memiting Lestari malah makin menjadi-jadi pada Lestari sampai rasanya tubuh Lestari sakit semua.


"Aunty, kamu sedang apa?"


Gadis manusia itu terheran-heran melihat si None Belanda yang sedang memiting Lestari.


"Aduh sakit tahu!!"


Lestari terus meronta agar bisa melepaskan diri dari si hantu None Belanda, tapi si None Belanda itu tetap berusaha memiting Lestari.


"Aunty, kenapa sih dia?"


Tanya gadis manusia heran.


"Dia merusak citra None Belanda, penampakan seenak jidatnya, tadi itu ada anak muda lari terbirit-birit."


Kata si hantu None Belanda.


Gadis manusia itu nyengir.

__ADS_1


Gadis itu akhirnya memilih duduk di salah satu bangku dekat pohon.


"Bawa sini Aunty."


Ujar si gadis manusia yang wajahnya cantik dan imut itu.


Si hantu None Belanda menarik bagian belakang gaun Lestari.


"Aduh kasar amat sih..."


Jelas saja Lestari protes.


Bagaimana nanti kalau gaun itu sobek, nyari gantinya pasti susah.


Beli jaman sekarang gaunnya kalau bukan bagian dadanya tidak terbuka ya bagian bawahnya terlalu pendek, belum lagi ukurannya suka terlalu ketat.


Warnanya juga warna warni seperti permen. Ah Lestari tidak suka.


"Kamu yang katanya dipindahin sama Aki sapa tadi yang hantu kepalanya hampir putus."


Gadis itu bertanya.


Hantu kepala hampir putus? Lestari terdiam, mencoba mengingat, dan...


Ah hantu yang tadinya ada di Beringin juga.


"Mantra. Ki Mantra."


Sahut si hantu None Belanda.


"Haiiish... Ki Marta dodol."


Sahut Lestari.


Plak!!


Hantu None Belanda menabok kepala Lestari.


"Aw..."


Lestari mengusap kepalanya yang kena tabok.


"Tadinya kamu di mana? Pasti gangguin orang juga kan?"


Tanya gadis manusia.


"Enggak, dari dulu aku emang rumahnya di sana, rumahku bersama Bang Damar."


Kata Lestari.


"Damar siapa juga kagak penting."


Ujar hantu None Belanda.


Mendengarnya Lestari langsung emosi.


"Dia penting bagiku!!"


Tiba-tiba mata Lestari mendelik dan berubah jadi putih semua, wajahnya marah.


Plak!!


"Aduh."


Lestari mengusap kepalanya lagi.


"Aku musti beli helm ini."


Kesal Lestari.


"Ya beli helm trus ikut pulang Othor ke Saturnus."


Kata si gadis manusia.


"Hah jauh amat, nanti Bang Damar bingung mencariku."


Kata Lestari.


"Damar, Damar, Damar... dari tadi yang diomongin Damar terus, bosen banget."


Hantu None Belanda jadi kesal.


Si gadis manusia menatap Lestari.


"Kamu mati ditembak Nippon juga kayak Aunty?"


Tanya si gadis manusia itu.


Agak aneh untuk Lestari rasanya bisa bicara berdua dengan manusia.


Kenapa dia tidak takut?


Kenapa dia juga berteman dengan hantu None Belanda juga? Batin Lestari.


Lestari tampak kemudian menggeleng.


"Aku tidak ingat bagaimana kematianku, yang aku ingat hanyalah aku diminta menunggu Bang Damar kembali."


Kata Lestari.


Gadis manusia menghela nafas.


"Udah yuk Aunty kita balik ke alam lelembut, Raja Dalu pasti nunggu lama."


Kata si gadis manusia.


Hantu None Belanda menganggukkan kepalanya.


"Kamu jangan sembarangan ganggu orang lagi, nanti None Belanda yang lain juga jadi sasaran dikira kayak kamu semua."


Kata si hantu None Belanda mengingatkan Lestari.


"Orang sudah dibilangin, tadi aku juga nggak niat nakutin, aku lagi mau nanya ini di mana, kalau mau pulang ke tempatku harus lewat mana."


Lestari jadi kesal karena merasa dituduh terus.


Gadis manusia yang tak takut hantu itu berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Kamu sampai dibuang ke sini pasti karena bikin salah, kalau enggak mana mungkin dibuang ke sini, cari sendiri sono jalan pulangnya, Zizi mah ogah nolong lah."


Kata si gadis manusia itu tega.


Tak lama hantu lain datang melayang sambil muter-muter.


"Ngapa lagi ni hantu satu, kayak baling-baling bambu Doraemon."


Si gadis manusia melihat kedatangan hantu lain yang baru datang.


Lestari makin dibuat heran karena si gadis manusia ternyata bukan hanya berteman dengan satu hantu.


"Mana hantu penunggu kios tadi?"


Tanya si gadis manusia bernama Zizi itu.


"Sudah aku antar ke tempat yang aman, nyaman, tentram dan penuh keberkahan yang melimpah ruah."


Sahut si hantu yang baru datang.


Mendengarnya Lestari jadi merasa dibedakan.


"Lah itu kalian mau nolongin hantu yang dulu di sini kan? Kenapa aku enggak?"


Protes Lestari.


Hantu perempuan yang baru datang memandangi hantu None Belanda dari ujung kepala hingga ujung gaunnya yang berenda-renda.


"Apa lihat-lihat..."


Lestari jadi makin kesal karena tidak nyaman dipandangi sebegitunya oleh Mintul.


"Enggak apa, bener kata si sengleh, hantu None Belanda cantik banget."


Kata hantu yang baru datang itu.


Mendengarnya tentu saja Lestari jadi senang.


"Ya pastinya, siapa yang bisa ngalahin kecantikan Lestari sih? Dari masih hidup hingga sekarang, aku masih terlalu sulit dikalahkan kecantikannya."


Sombong Lestari.


Namun gadis manusia bernama Zizi dan hantu None Belanda itu malah langsung tertawa terpingkal-pingkal.


Haiiish... Lestari mendesis.


Tampak ia kesal karena merasa tersinggung.


"Udahlah, yuk kita buang waktu banget di sini, yuk Aunty, yuk Mintul, kita lanjutin misi kita."


Kata Zizi akhirnya.


"Misi apa sih? Kalian lagi ada misi apa?"


Tanya Lestari kepo.


"Yang jelas misi yang lebih berguna dari sekedar menunggu Damar. Lagian ini udah tahun 2021, kamu nunggu Damar itu dia juga pasti udah mati."


Kata Zizi.


Lestari menggeleng.


"Tapi nyatanya dia ada di rumahku, dia sudah kembali, titisan Damar sudah kembali untukku."


Zizi geleng-geleng kepala.


Hantu None Belanda akhirnya merangkul Lestari dan menyentil kening Lestari.


"Kayaknya memang ada yang belum kamu pahami betul dengan penyebab kematianmu, makanya kamu gentayangan."


Kata hantu None Belanda.


"Lah kamu juga gentayangan."


Ujar Lestari.


"Aku gentayangan karena aku betah di alam ini, lebih-lebih begitu ketemu Nona Zizi."


Kata si None Belanda.


"Ha aneh banget."


Batin Lestari.


"Kau sebaiknya cari tahu, kenapa kau bisa tak tenang, cari tahu juga penyebab kematianmu, pastikan kamu tidak menunggu orang yang salah."


Kata hantu None Belanda sambil melepas rangkulannya.


Lestari memandang si None Belanda, lalu memandang hantu satunya, baru kemudian memandang Zizi yang mantuk-mantuk.


"Aku lihat kamu punya masalah dengan masa lalu yang rumit."


Kata si None Belanda itu lagi.


Lestari terdiam, tiba-tiba ia ingat hari di mana Damar kembali, tapi ingatannya terpotong hanya sampai di sana.


Ya, hanya saat Damar berdiri di depan pintu dan menatap Lestari, menatap dengan tatapan sedih dan wajah yang pucat pasi.


Ada apa?


Ada apa sebetulnya dengan Damarku?


Lestari matanya meremang.


"Jiaaah dia malah mau nangis, udah ah, ayuk Aunty..."


Zizi yang seperti sudah ingin segera pergi tampak beranjak dari sana.


"Kau harus selesaikan secepatnya, jika tidak, kau akan berakhir menjadi lelembut jahat."


Kata si None Belanda sebelum benar-benar pergi meninggalkan Lestari yang membisu menatap mereka yang kemudian menjauh.


Penyebab kematianku?


Kenapa aku harus cari tahu?


Lestari bingung.

__ADS_1


**-------------**


__ADS_2