
Flashback 1942,
Euforia warga lokal menyambut datangnya tentara Nippon ke tanah Nusantara, terutama ke pulau Jawa hampir terjadi di setiap daerah.
Apalagi setelah jatuhnya Batavia ke tangan Jepang yang merupakan buah keberhasilan tentara Nippon memporak porandakan kekuasaan Belanda yang sekian ratus tahun berada di bumi Pertiwi.
Bagaikan pahlawan yang telah membebaskan Nusantara dari belenggu sekian ratus tahun, Jepang sangat dipuja kala itu.
Bendera merah putih dan bendera Jepang dikibarkan hampir di setiap jalan raya, terlebih begitu selebaran tentang pembebasan Ir. Soekarno tentu saja disambut dengan semakin banyak suka cita.
Rakyat begitu mencintai Jepang yang kala itu mengaku sebagai saudara tua, di mana mereka menjanjikan kemakmuran bersama di Asia.
Membantu Indonesia mendapatkan kemerdekaannya sebagai bangsa, menendang penjajah dari negeri-negeri barat.
"Semua orang kini sangat membenci Belanda, mungkin lebih baik Nona Lestari mulai saat ini jangan memakai gaun dan mengganti pakaian sebagaimana masyarakat lokal."
Kata Mang Dayat memberikan masukan saat Lestari akan diantar ke padepokan Ki Gedhe Tirtayasa di Cirebon.
Tuan Ageng Parta Prawira menghela nafas. Ia merasa jika saran dari Mang Dayat tentu saja benar adanya, situasi di luar sana sangat tidak aman untuk Lestari yang sangat mirip Ayahnya.
"Lalu bagaimana dengan rambutnya? Rambutnya jelas sangat berbeda dengan kita yang kebanyakan hitam legam."
Tuan Ageng Parta Prawira sungguh memikirkan nasib Lestari saat ini, ia yang telah jatuh hati sepenuhnya pada gadis itu tentu saja tak mau gadis kecintaannya itu akan terluka atau mendapatkan perlakuan tak baik nantinya dalam perjalanan.
Mang Dayat terdiam, berpikir keras.
Hingga akhirnya, diputuskanlah Lestari untuk berpura-pura saja menjadi laki-laki, karena jika menjadi laki-laki, ia bisa mengikat kepalanya dengan kain.
Tuan Ageng Parta Prawira pun akhirnya setuju.
Pemikiran Mang Dayat kemudian disampaikan pada Soemitri selaku ibunda Lestari.
Sebenarnya berat hati Soemitri melepas putri semata wayangnya, namun apa yang bisa ia lakukan selain menuruti saran Mang Dayat sebagai abdi Tuan Ageng Parta Prawira yang akan menjamin keselamatan Lestari.
"Kapan Lestari akan bisa bertemu Ibu lagi?"
Tanya Lestari, saat Ibunya menyiapkan pakaian yang harus digunakan Lestari untuk pergi ke Cirebon esok hari bersama Mang Dayat dan rombongan yang mengantarnya.
Berpura-pura membawa dagangan menuju Cirebon, agar tak sampai dicurigai.
Soemitri menangis tersedu, ia memeluk anak gadisnya penuh haru.
__ADS_1
Kesedihan begitu terasa jelas dari pelukannya, isak tangisnya bahkan terasa begitu berat dan dalam.
"Semoga dua tahun lagi Lestari."
Kata Soemitri.
Tampak kemudian Soemitri merenggangkan pelukannya pada Lestari pelahan, ditatapnya wajah cantik itu lekat-lekat.
Terngiang lagi saat Mang Dayat mengatakan jika kelak Tuan Ageng Parta Prawira akan menyunting Lestari menjadi isteri, jadi tak usah khawatir untuk Soemitri, akan keselamatan dan juga nasib keduanya di masa yang akan datang.
"Baik-baik saja kau belajar di sana Nak."
Kata Soemitri berpesan sambil mengusap lembut kepala Lestari.
Lestari mengangguk.
Soemitri memang sengaja tak mengatakan jika Lestari dibawa ke Cirebon selain untuk belajar dan bersembunyi di padepokan Ki Gedhe Tirtayasa, juga adalah untuk dipingit karena kelak akan dijadikan isteri Tuan Ageng Parta Prawira.
Soemitri belum sampai hati menyampaikan hal itu, pun juga karena itu merupakan amanah dari Tuan Ageng Parta Prawira sendiri, jika Lestari tak perlu diberitahu, ia ingin Lestari tetap tumbuh sebagaimana mestinya.
Merekah indah layaknya bunga yang dibiarkan tumbuh bersama alam dengan bebas.
Cukuplah ia akan memantau dari kejauhan lewat para abdi setianya, termasuk Ki Gedhe Tirtayasa yang akan menjadi penjaga dan pelindung utama Lestari untuk dua tahun ke depan.
💦💦💦💦💦
Sekitar dua kereta diberangkatkan, mereka membawa barang dagangan, termasuk juga gula.
Lestari duduk di antara barang yang di bawa, posisinya jadi tak begitu terlihat dan tak menarik perhatian.
Perjalanan yang cukup jauh pada masa itu, dan mengharuskan mereka beristirahat tiga hingga empat kali.
Membiarkan kuda mereka minum dan makan rumput di dekat kali, pun juga mereka sendiri.
Mereka yang berangkat dari Indramayu sejak pagi, akhirnya sampai di padepokan Ki Gedhe Tirtayasa setelah tengah hari di kala matahari sedang terik-teriknya.
Kedatangan mereka disambut dengan sukacita.
Sebetulnya, pada masa itu kereta api sudah ada, hanya saja tak sepesat saat ini.
Belum lagi, posisi padepokan yang jauh dari jalan raya dan pusat kota, mengharuskan mereka menggunakan transportasi lain jika naik kereta.
__ADS_1
Maka jadilah, kereta kuda adalah pilihan yang paling tepat.
Selain bisa mengangkut barang, kereta kuda juga bisa mengangkut manusia juga.
"Selamat datang Mang Dayat, lama sekali tak berkunjung ke padepokan kami."
Ki Gedhe Tirtayasa menyambut dengan ramah dan hangat.
Laki-laki tua yang sangat berwibawa itu kemudian mempersilahkan Mang Dayat dan juga para abdi yang lain untuk duduk di sebuah ruangan terbuka di depan padepokan miliknya.
Namun Mang Dayat meminta ijin agar bisa bicara berdua dengan Ki Gedhe di ruangan terpisah, ada amanah penting yang harus ia sampaikan dari Tuan Ageng Parta Prawira.
Ki Gedhe Tirtayasa akhirnya mengajak Mang Dayat masuk ke ruangan lain di dalam padepokannya.
Setelah keduanya berada jauh dari yang lain, maka Mang Dayat mengeluarkan surat dari Tuan Ageng Parta Prawira untuk Ki Gedhe Tirtayasa yang langsung diterima oleh Ki Gedhe Tirtayasa sendiri.
Ki Gedhe Tirtayasa tampak membuka surat yang ditujukan Tuan Ageng Parta Prawira kepadanya itu dengan hati-hati, lalu membacanya dengan seksama.
"Lestari?"
Ki Gedhe Tirtayasa menyebut nama Lestari.
Ya tentu saja, karena surat dari Tuan Ageng Parta Prawira adalah soal keinginannya menitipkan Lestari sebagai calon isterinya.
Selain agar Lestari bisa bersembunyi dengan aman di padepokan, ia juga bisa dipersiapkan menjadi isteri yang baik untuk Tuan Ageng Parta Prawira.
Sebagaimana dulu Tuang Ageng Parta Prawira juga menitipkan anak-anak gadisnya untuk dididik, kali ini ia juga menginginkan Lestari seperti itu pula.
Meskipun tentu saja, jika anak-anak perempuan Ki Ageng Parta Prawira kini menjadi isteri yang baik untuk para raden dan laki-laki terpandang lain, tapi untuk Lestari nantinya akan menjadi isteri Tuan Ageng Parta Prawira sendiri.
Ki Gedhe Tirtayasa mantuk-mantuk setelah membaca seluruh isi surat Tuan Ageng, ia tentu saja paham apa yang dimaksud dan yang diinginkan oleh sang Tuan besar tersebut.
Sementara Ki Gedhe Tirtayasa masih berada di ruangan khusus dengan Mang Dayat guna membicarakan sosok Lestari.
Di luar Lestari yang ingin ke belakang akhirnya meminta ijin kepada para abdi dan meminta diantar oleh seorang pembantu di padepokan Ki Gedhe Tirtayasa untuk ke tempat ia bisa buang air kecil.
Lestari yang kemudian setelah menyelesaikan hajatnya tertarik untuk mencuci muka, lupa membuka ikat pada kepalanya.
Membuat rambutnya tergerai indah, dan wajah cantiknya jadi terlihat.
Tepat saat itu seorang pemuda tampan dan gagah baru saja pulang dari hutan desa dekat padepokan membawa ranting-ranting kering untuk persiapan para perempuan memasak.
__ADS_1
Pemuda itu terkesiap manakala melihat Lestari, bagaikan melihat bidadari yang baru turun dari kahyangan.
💦💦💦💦💦