
Hujan masih turun deras meski sudah mendekati tengah malam.
Tomi dan keluarga masih duduk di ruang depan rumah milik Koperasi yang ditempati Tomi, mereka tampak syok dengan apa yang baru saja terjadi.
Bik Surti tiba-tiba pergi ketakutan dengan Iwan, seolah mengakui ia bersalah, itu sungguh menjadi pukulan untuk Tomi dan Nilam yang selama ini begitu percaya padanya.
"Sayang, lebih baik kamu tidurlah."
Kata Tomi.
Nilam menggeleng.
"Aku tidak mau sendirian di kamar itu."
Kata Nilam.
Tomi menatap Ibunya, seolah memohon agar Ibunya bersedia menemani isterinya beristirahat.
Ibu yang paham keinginan Tomi akhirnya mengalah berdiri.
Namun, belum lagi Ibu mengajak Nilam beranjak dari sana dan pergi ke kamarnya untuk istirahat, tiba-tiba terdengar di luar ramai gaduh suara orang.
"Ada apa itu?"
Mereka semua saling berpandangan lalu Iwan segera yang pertama kali mendekati kaca jendela ruang depan.
Beberapa orang terlihat berjalan mendekati rumah.
"Ada orang datang Bang, keluarlah."
Ujar Iwan.
Tomi akhrnya berdiri.
Nilam yang duduk di samping Tomi sedari tadi ikut berdiri, mengikuti sang suami seolah tak mau jauh-jauh.
Tomi keluar dari rumah, Iwan juga menemani abangnya, begitupun Pak Dadang.
Nilam sendiri ditarik Ibu mertuanya agar jangan keluar, cukup di pintu saja, karena di sana terlalu banyak laki-laki.
Hujan yang masih turun deras membuat beberapa orang yang datang itu terlihat basah kuyup.
Tomi mempersilahkan mereka, namun mereka menolak dengan sopan.
"Kami hanya ingin menyampaikan kabar saja Tuan."
Kata salah satu dari mereka pada Tomi.
Tampak Tomi mengangguk.
"Ya Pak, silahkan..."
Kata Tomi.
Perwakilan dari mereka kemudian maju ke depan.
"Maaf Pak, barusan warga yang giliran ronda menemukan Bik Surti di jalan depan."
"Bik Surti? Ada apa dengan Bik Surti?"
Nilam langsung menyela, ia seolah tak peduli dengan mertuanya yang mencoba menahan Nilam agar tak perlu ikut campur urusan para laki-laki.
Tapi...
Nilam terlalu penasaran, ia belum yakin jika Bik Surti sungguh-sunguh jahat, ia masih merasa Bik Surti lari karena takut dituduh terus oleh Iwan, dan juga takut ikut diteror hantu.
"Sayang..."
Tomi meraih Nilam agar lebih tenang.
"Bik Surti meninggal di dekat parit, kepalanya pecah dihantam batu, kami sudah menghubungi polisi, mereka sedang dalam perjalanan."
Mendengarnya, Nilam seketika langsung pingsan.
Bagaimana bisa?
Bagaimana bisa Bik Surti meninggal dihantam batu?
Nilam langsung digotong oleh Tomi ke dalam, lalu Tomi meminta Iwan dan Pak Dadang untuk pergi lebih dulu melihat ke tempat di mana Bik Surti ditemukan warga.
Iwan pun segera masuk ke dalam rumah untuk mengambil jaket.
__ADS_1
"Pakai payung Wan."
Kata Ibu sambil mengikuti Iwan masuk ke dalam rumah, lalu berjalan ke belakang untuk mengambilkan payung.
Dan saat Ibu masuk ruang belakang itulah, ia melihat bayangan laki-laki berpakaian hitam-hitam seolah lewat.
Ia hanya lewat saja, namun tetap membuat Ibunya Tomi merinding.
Ini adalah kali pertama ia benar-benar bisa melihat mahluk beda alam itu dengan kedua mata sendiri.
Yang semula rasanya sulit sekali percaya jika mereka sungguh ada, nyatanya sekarang...
Ibunya Tomi yang merinding itupun berdiri tak bergerak seperti kedua kakinya lemas tak berenergi sama sekali.
Hingga kemudian...
"Damar... Dia harus minta maaf... Dia harus minta maaf."
Tiba-tiba terdengar suara tanpa rupa.
Suara laki-laki yang seperti terbawa angin dan disertai geraman.
Ibu Tomi yang tubuhnya gemetaran.
"Bu..."
Ibunya Tomi melonjak kaget.
Ia menoleh ke belakang, dan Iwan berdiri di sana menatapnya heran.
"Ibu kenapa?"
Tanya Iwan seraya menghampiri Ibunya.
"Ada laki-laki berpakaian hitam, Ibu tidak mengenalnya, ia bicara tadi, Damar... Damar dia harus minta maaf."
Kata Ibu.
Iwan mengerutkan kening.
"Damar lagi."
Gumam Iwan.
"Ibu ke kamar dengan kak Nilam saja, Iwan akan keluar melihat keadaan Bik Surti."
Ujar Iwan mendorong Ibunya kembali ke ruang depan dan kemudian memintanya masuk kamar Nilam saja.
Kakak Iparnya itu kini sudah siuman dan sedang meneguk air.
Entah berapa kali Nilam pingsan sejak pindah di rumah ini.
Ibu cepat mendekati tempat tidur Nilam dan naik juga ke sana, duduk di dekat menantunya.
"Ibu kenapa pucat sekali?"
Tanya Tomi yang pada Ibunya.
Ibunya terlihat menghela nafas seraya menatap Tomi dengan perasaan kacau.
"Damar... Siapa dia sebetulnya?"
Gumam Ibunya seraya menatap Tomi.
Nilam juga jadi ikut menatap Tomi.
Tomi yang ditatap kedua perempuan itu jadi gugup.
Iwan dan Pak Dadang sudah meninggalkan rumah bersama beberapa warga yang memberitahu soal kabar kematian Bik Surti.
"Sebentar."
Tiba-tiba Ibu seperti mengingat sesuatu.
Tomi juga jadi ingat pembicaraannya dengan Iwan sebelumnya.
"Kakek... Siapa nama asli Kakek?"
Tanya Tomi tiba-tiba.
Ibu terkesiap.
__ADS_1
"Bapak dari Ayah, siapa nama aslinya Bu?"
Cecar Tomi.
Ibu meraih hp nya dari saku dasternya dengan tangan gemetaran, mengingat hari telah larut dan ia tak mungkin berani mengganggu suaminya, maka Ibu memilih menelfon adik iparnya saja.
"Sun."
Panggil Ibu begitu panggilannya diangkat sang adik ipar.
"Ya Mbak Yu, ada apa?"
Terdengar suara di seberang sana seperti panik.
Ia pasti mengira akan ada kabar buruk atau semacamnya karena harus dihubungi tengah malam.
"Sun, maaf, ini aku menelfon hanya ingin menanyakan soal Bapak Sun..."
Kata Ibu.
"Bapak? Kenapa?"
Tanya Bibi Sundari yang heran malam-malam kakak iparnya menelfon hanya untuk membicarakan soal Bapaknya.
"Sun... Kamu, tahu nama asli Bapak?"
Tanya Ibunya Tomi.
Tomi dan Nilam menatap Ibu yang terlihat bicara begitu hati-hati.
"Bapak? Tentu aja Santoso Raharjo Mbak."
Jawab Bibi Sundari.
"Damar, kau pernah mendengar nama itu?"
Tanya Ibu lagi memastikan.
"Damar? Kenapa? Aku belum pernah dengar Mbak Yu."
Kata Bibi Sundari.
Ibu menghela nafas.
Tampak ia menatap Tomi dan Nilam bergantian sembari menggelengkan kepalanya.
"Iwan bilang, dia pernah melihat foto lama Kakek, dia sangat mirip denganku, kata Ki Marta, Lestari mengganggu karena ada hubungan masa lalu denganku. Pasti bukan aku Bu, tapi orang yang mirip denganku dan satu darah denganku."
Kata Tomi.
Tomi yang tak sabar akhirnya mengambil alih hp Ibu untuk bicara dengan Bibinya.
"Bi, ini Tomi."
"Ah ya Tom..."
Bibi Sundari menyahut.
"Bi, bisa Bibi kirimkan foto kakek saat masih muda dulu, foto kakek dan apapun yang berhubungan dengannya saat masih muda, Tomi mohon."
Pinta Tomi.
"Untuk apa?"
"Ceritanya panjang, tapi Tomi benar-benar membutuhkannya, atau jika perlu Kakek sendiri yang Bibi minta jelaskan tentang masa mudanya."
Kata Tomi.
Jegeeeerrr!!
Suara sambaran petir di luar sana terdengar menggelegar.
Tomi reflek mematikan hp nya.
Nilam dan Ibunya saling berpegangan tangan.
"Sudah... Aku mohon sudah."
Gumam Nilam lirih.
Namun...
__ADS_1
💦💦💦💦💦