Kisah Hantu LESTARI

Kisah Hantu LESTARI
30. Penculikan


__ADS_3

Ki Gedhe Tirtayasa wajahnya terlihat pias, begitu mendengar penuturan Mang Dayat yang tiba-tiba datang.


Ia jelas tak menyangka, jika ternyata Damar dan sang Ayah akan sama keras kepala.


Ya, mungkin jika Damar keras kepala ingin memperjuangkan cintanya, Ki Gedhe Tirtayasa masih bisa memaklumi karena Damar jelas masih muda, darahnya adalah darah muda yang masih bergolak-golak, masih memuja cinta, masih mudah mabuk asmara.


Namun...


Ayahnya?


Tuan Ageng Parta Prawira, jelas usianya telah sangat matang. Telah banyak lika liku kehidupan yang pastinya ia lewati dan semestinya membentuknya sebagai seseorang yang bijak dan mudah berlapang dada.


Tapi...


Ki Gedhe Tirtayasa menghela nafas, jarinya diketuk-ketukkan di atas meja pendek yang ada di depannya.


Mang Dayat duduk tertunduk sama bingungnya. Sebagai abdi yang telah melayani Tuan Ageng Parta Prawira, jelas Mang Dayat adalah abdi kepercayaan yang tak pernah satu kalipun mengabaikan perintah.


Namun, kali ini, sejatinya ia tak terlalu ingin mengikuti perintah tersebut.


Ia merasa sangat konyol dengan keputusan Tuan Ageng Parta Prawira yang justeru menantang putranya sendiri demi seorang gadis kecil yang bahkan tak tahu akan ia nikahi.


"Jujur, saya bingung harus melakukan apa Ki, hati kecil saya ingin membiarkan saja Tuan muda Damar bersama Lestari. Bagaimanapun, jelas mereka adalah sepadan, sama-sama masih muda."


Kata Mang Dayat.


Ki Gedhe Tirtayasa mengangguk.


"Saya juga demikian Mang, sejujurnya saya ingin tidak menghalangi hubungan keduanya, keputusan saya memindahkan Lestari ke Losari juga karena sebetulnya saya belum menemukan jalan keluar terbaik untuk masalah ini. Semula saya mengatakan pada nak Damar, berharap ia mengerti, tapi nyatanya saya juga tak bisa menyalahkan dia jika tetap ingin bersama kekasihnya."


Tutur Ki Gedhe Tirtayasa panjang lebar.


Mang Dayat mantuk-mantuk.


"Jadi, apakah saya lebih baik kembali ke Kuningan dan bicara saja kalau Lestari dan Tuan Muda Damar telah pergi entah ke mana?"


Tanya Mang Dayat meminta petunjuk kepada Ki Gedhe Tirtayasa.


Ki Gedhe Tirtayasa terdiam, ia mencoba memikirkan apa yang seharusnya dilakukan abdi dalem Tuan Ageng Parta Prawira itu.

__ADS_1


Tentu saja, sebuah keputusan yang kelak tak akan membahayakan Mang Dayat, maupun juga Damar dan Lestari.


"Atau saya harus ke Losari saja, menjemput Lestari dan membawanya ke hadapan Tuan Ageng Parta Prawira, lalu mencari tempat lain untuk tinggal Lestari?"


Tanya Mang Dayat lagi.


Ki Gedhe Tirtayasa menatap sang abdi Tuan Ageng Parta Prawira dengan wajah yang sama gelisah.


Rasa khawatir atas anak bungsunya di losari yang bisa-bisa terkena imbas masalah ini mendadak memenuhi pikiran Ki Gedhe Tirtayasa.


Tentu saja, ia tak ingin anaknya nanti akan kenapa-kenapa, sementara anaknya itu sejatinya tak tahu menahu tentang keputusan Ki Gedhe Tirtayasa, maupun amanah Tuan Ageng Parta Prawira terhadap Ki Gedhe Tirtayasa tentang Lestari.


Belum lagi Ki Gedhe Tirtayasa menemukan jawaban yang tepat, di luar ruangan, tepatnya di luar padepokan, yang tepat di samping dinding kayu padepokan milik Ki Gedhe Tirtayasa, dua orang laki-laki berpakaian serba hitam terlihat mencuri dengar pembicaraan Ki Gedhe Tirtayasa bersama Mang Dayat di ruangan pribadi Ki Gedhe Tirtayasa.


Dua orang yang sejatinya mengikuti Mang Dayat sejak berangkat dari kediaman Tuan Ageng Parta Prawira atas suruhan junjungannya itu sengaja ingin melihat seberapa jauh Ki Gedhe Tirtayasa dan Mang Dayat bisa dipercaya kali ini.


Ki Gedhe Tirtayasa menghela nafas.


"Baiklah Mang Dayat, biarlah Mang Dayat pulang ke Kuningan dan bicara saja pada Tuan Ageng Parta Prawira jika Lestari tak ada di padepokan, jika ditanya, tak usah menjelaskan jika ia ada di Losari."


Ujar Ki Gedhe Tirtayasa.


Kata Mang Dayat dengan suaranya yang gemetar. Ia sungguh merasa takut dengan apa yang akan terjadi nanti.


Bagaimana jika ia diminta membunuh Lestari, gadis belia itu bahkan tidak tahu apapun, tak mengerti apa-apa.


"Cinta terkadang membutakan seseorang, dan kali ini sepertinya Tuan Ageng Parta Prawira telah dibutakan sepenuhnya oleh perasaannya."


Lirih Ki Gedhe Tirtayasa.


Mang Dayat mengangguk setuju.


Meski sudah biasa Tuannya bersikap arogan dan jika telah menginginkan sesuatu harus tercapai, tapi baru kali ini rasanya Mang Dayat merasa berada di titik tidak sanggup untuk mengikuti kemauan sang Tuan.


Dan di luar padepokan, di tengah gelap malam, dua sosok berpakaian hitam itu melesat cepat meninggalkan padepokan.


Keduanya merasa harus segera melaporkan apa yang mereka ketahui dari pembicaraan antara Mang Dayat dan Ki Gedhe Tirtayasa.


Aroma persekongkolan antara mang Dayat dan Ki Gedhe Tirtayasa tercium begitu kental.

__ADS_1


Posisi mereka jelas lebih condong kepada Damar.


Dalam gerakan mereka yang seperti ninja di tengah gelap malam, Samsul yang baru pulang ke padepokan setelah mengantar Damar, tanpa sengaja melihat dua orang berpakaian serba hitam yang mencurigakan keluar dari halaman padepokan Ki Gedhe Tirtayasa.


"Hey!! Siapa kalian!!"


Samsul cepat berlari ke arah mereka.


Dua sosok itu, yang terkejut karena tiba-tiba ada Samsul yang memergoki mereka langsung terlihat melarikan diri.


Samsul terus berusaha mengejar, namun gerakan mereka sangat lincah dan gesit. Dalam sekejap saja, mereka seolah menghilang dan bayangannya tak mampu tertangkap mata Samsul lagi.


Samsul terlihat berdiri di tengah jalanan desa yang sudah cukup jauh dari padepokan Ki Gedhe Tirtayasa.


"Siapa mereka?"


Gumam Samsul bertanya-tanya.


Samsul baru akan berbalik arah untuk kembali ke padepokan, manakala tiba-tiba sebuah pukulan keras menghantam wajahnya, dan kemudian disusul tendangan serta pukulan lain yang bertubi-tubi.


Samsul terkapar di jalanan, ia tak berdaya sama sekali. Matanya terpejam, namun telinganya sayup-sayup masih bisa mendengar.


"Bukankah dia yang tadi siang ke tempat Tuan Ageng Parta Prawira bersama Tuan muda Damar?"


"Ya, aku rasa kau benar."


"Tapi sekarang dia sendirian, Tuan muda Damar tak bersamanya. Bisa jadi ia bersama Lestari."


"Kalau begitu orang ini bisa menjadi kunci, kita bawa saja."


Dan, begitulah, tubuh Samsul di lempar ke atas kuda. Ia diikat dan kemudian dibawa salah satu sosok yang tadi harusnya akan ditangkap Samsul, namun sekarang malah berbalik keadaannya.


Samsul yang setengah sadar sebetulnya ingin melepaskan diri, namun posisinya jelas kini tak memungkinkan untuk melakukan perlawanan.


Tuan Ageng Parta Prawira, entah apa yang akan ia lakukan terhadap Samsul nanti. Apa yang harus Samsul lakukan agar bisa selamat?


Sungguh Samsul tak mampu membayangkan hal buruk yang sebentar lagi akan menimpanya.


💦💦💦💦💦💦

__ADS_1


__ADS_2