Kisah Hantu LESTARI

Kisah Hantu LESTARI
34. Tertangkapnya Damar


__ADS_3

Mang Dayat baru saja sampai di ujung jalan dekat kediaman Tuan Ageng Parta Prawira ketika ia melihat serombongan orang keluar dari rumah Tuan Ageng Parta Prawira.


Mereka sepertinya para algojo-algojo yang memang biasa dibayar oleh Tuan Ageng Parta Prawira untuk banyak kepentingan, bahkan sering juga ia berikan pada Belanda.


Mang Dayat bersembunyi di semak-semak, manakala serombongan orang itu bergerak seolah tergesa-gesa.


Tangan mereka membawa senjata-senjata tajam.


Mang Dayat mulai berpikir ngeri, kalau-kalau terjadi sesuatu yang buruk terhadap Ki Gedhe Tirtayasa.


Mang Dayat masih berada di balik semak-semak, saat terdengar salah satu Algojo yang berjalan paling belakang rombongan bicara.


"Kita langsung ke padepokan Ki Gedhe Tirtayasa, atau ke Losari?"


"Tugas kita ke Losari, padepokan paling-paling malam ini akan diratakan tentara Jepang. Tuan Ageng Parta Prawira sudah memberitahu pihak Jepang, jika Ki Gedhe Tirtayasa menyembunyikan orang-orang Belanda."


Mang Dayat di balik semak-semak terperangah tak percaya mendengar pembicaraan para algojo itu.


Lemas dan gemetaran tubuh Mang Dayat, apalagi ketika mereka kemudian membicarakan mayat Samsul dan Ki Gedhe Tirtayasa yang telah dibuang di kali yang sama.


Hancur lebur kini hati Mang Dayat. Tersayat-sayat rasanya mendengar semuanya.


Mang Dayat sesaat menunggu hingga serombongan orang-orang itu pergi jauh, begitu mereka telah tak terlihat, Mang Dayat dengan masih gemetaran meninggalkan semak-semak dan memutuskan untuk pergi ke rumah persembunyian Damar.


Apa boleh buat, ia harus memberitahu Damar atas apa yang terjadi.


Begitu banyak korban berjatuhan, bahkan orang-orang yang sebetulnya sama sekali tak bersalah.


Namun, belum lagi Mang Dayat benar-benar menjauhi jalan yang menuju kediaman Tuan Ageng Parta Prawira itu, tiba-tiba seorang abdi dari Tuan Ageng melihat Mang Dayat.


Sang abdi itupun lantas mengejar Mang Dayat sembari berteriak-teriak yang tentu saja teriakan itu membuat para abdi lain dari kediaman Tuan Ageng Parta Prawira sontak keluar dan ikut mengejar.


Mang Dayat yang usianya tak lagi muda tentu saja tak bisa berlari lebih cepat, dalam sekejap ia sudah bisa langsung tertangkap.


Mang Dayat dibawa ke hadapan Tuan Ageng Parta Prawira.


"Sungguh tak tahu diuntung, tak tahu balas budi, pengkhianat!!"


Tuan Ageng Parta Prawira menyabetkan sebilah rotan ke tubuh Mang Dayat yang bajunya langsung dilucuti.


Kulitnya yang sudah keriput membungkus tubuh tang kurus terlihat langsung membekas merah.


Mang Dayat merintih menahan sakit, ia memohon ampun, namun semua telah terlambat.


"Di mana Lestari dan Damar?!"


Bentak Tuan Ageng Parta Prawira.


Mang Dayat berusaha sekuat tenaga untuk tetap bungkam.


Namun cambukan rotan itu kembali mendera, berkali-kali, berulang-ulang.


Tubuh kurus Mang Dayat kini terkapar di atas lantai, kulitnya mulai mengelupas.


Perih, panas dan sakit menyatu di sekujur tubuhnya.


Mang Dayat merintih-rintih, namun selagi Mang Dayat tak mengatakan soal keberadaan Damar dan Lestari, maka Tuan Ageng Parta Prawira jelas tak akan memberi ampun.

__ADS_1


Sementara itu, di padepokan Ki Gedhe Tirtayasa, serombongan orang tentara Jepang dan juga algojo meringsek masuk.


Mereka membantai dengan luar biasa brutal. Meski mereka tak menemukan orang-orang Belanda di sana sebagaimana yang dikatakan oleh Tuan Ageng Parta Prawira, namun nyatanya ada saksi mata yang membenarkan melihat perempuan berambut pirang di padepokan.


Di Losari, kediaman anak bungsu Ki Gedhe Tirtayasa juga tak luput dari serangan. Begitupun juga dengan rumah-rumah anak Ki Gedhe Tirtayasa yang lain.


Dianggap kemungkinan mereka semua bersekongkol dengan Belanda, membuat warga juga jadi ikut marah.


Beruntung, anak bungsu Ki Gedhe Tirtayasa saat penyerangan terjadi ada di pasar, ia tengah berbelanja, maka ia langsung diselamatkan seorang abdi dalem, lari dan sembunyi ke Tegal.


Sementara pembantaian berlangsung di sana sini, seorang penduduk yang kebetulan dimintai tolong mengantar Damar ke tempat persembunyian tertangkap saat akan ke Padepokan.


Ia yang ketakutan di bunuh akhirnya memilih memberitahu lokasi di mana Damar dan Lestari bersembunyi.


Seorang abdi yang semalam sebelumnya menangkap Samsul akhirnya meminta pada pihak Jepang untuk mengurus Tuan mudanya sendiri.


Tentu saja dengan catatan nanti mereka akan memberikan banyak sekali bahan makanan untuk dibawa ke medan perang yang memang dibutuhkan para tentara Jepang.


Abdi Tuan Ageng Parta Prawira kembali ke kediaman sang Tuan ketika hari telah gelap.


Tuan Ageng Parta Prawira tentu saja langsung meminta mereka menjemput Damar untuk langsung dibawa pulang.


**------------**


"Lestari."


Panggil Damar pada Lestari yang baru saja selesai mandi.


Lestari tampak melihat Damar yang seperti akan pergi jadi heran.


Tanya Lestari.


Damar meraih Lestari dalam pelukannya.


"Kamu percaya kan padaku?"


Tanya Damar.


"Ya."


Lestari mengangguk.


Damar membelai lembut kepala Lestari.


"Perasaanku tak tenang, aku akan pulang sebentar untuk memastikan tak ada hal buruk menimpa Samsul, Mang Dayat dan Ki Gedhe Tirtayasa."


Ujar Damar.


Lestari mengendurkan pelukan Damar, ditatapnya kedua mata coklat Damar yang redup.


"Aku akan menunggu di sini."


Kata Lestari.


Damar menggeleng.


"Kita tinggalkan tempat ini, jika ada apa-apa, tempat ini pasti tak aman lagi."

__ADS_1


Ujar Damar.


"Lalu..."


Lestari menatap Damar dengan bingung.


Sejatinya gadis itu memang masih sangat polos, ia bahkan tak tahu sejatinya keadaan begitu kacau adalah karena dirinya.


Damar kemudian meraih tangan Lestari, lalu menggandengnya keluar dari rumah itu setelah memastikan tak ada siapapun di sana.


Damar mengajak Lestari menuju sebuah rumah Belanda yang tadi sempat ia bongkar dan di sana ada sebuah ruangan di atap, yang seperti loteng.


"Kamu tak takut hantu kan?"


Tanya Damar.


Lestari menggeleng.


"Jangan keluar sampai aku pulang, yah."


Kata Damar.


Lestari mengangguk.


Damar mencium bibir Lestari sambil menangis, rasanya teramat berat untuk Damar kali ini meninggalkan kekasihnya sendirian lagi.


"Kamu akan pulang kan Bang? Kamu akan kembali kan?"


Tanya Lestari begitu Damar melepas ciumannya.


Damar tampak lemah mengangguk.


"Aku akan kembali, tunggulah."


Kata Damar seraya kembali memeluk gadisnya.


Hingga akhirnya, Damar dengan berat hati benar-benar harus melepaskan Lestari.


Damar keluar dari loteng, menutupnya dengan rak buku.


Lalu membiarkan semuanya gelap agar tak ada yang terlihat mencurigakan.


Damar bergerak di tengah gelap keluar dari rumah bekas para pegawai Belanda yang mengurus pabrik gula.


Tampak Damar bersiap ke rumahnya di Kuningan, untuk meyakinkan diri bahwa Samsul, Mang Dayat dan Ki Gedhe Tirtayasa baik-baik saja.


Damar berjalan cepat menuju jalanan, terus berjalan mencari jalan pintas.


Hingga ia kemudian bertemu rombongan abdi Tuan Ageng Parta Prawira.


Ya, sebagaimana yang sudah Damar curigai, tempat persembunyian itu nyatanya tak aman lagi.


Damar demi melindungi Lestari akhirnya menyerahkan diri.


Dia dibawa ke rumah, dan langsung dihadapkan sang ayahanda.


💦💦💦💦💦

__ADS_1


__ADS_2