Kisah Hantu LESTARI

Kisah Hantu LESTARI
31. Kala Cinta Menggoda


__ADS_3

"Sebaiknya Mang Dayat malam ini menginap saja dan kembali ke Kuningan esok hari. Dengar-dengar, tentara Nippon sekarang mulai melakukan patroli malam di jalan utama."


Kata Ki Gedhe Tirtayasa.


"Benar Ki, makin hari sepertinya kita jadi lebih tidak bebas."


Timpal Mang Dayat.


Ki Gedhe Tirtayasa menganggukkan kepalanya.


"Masih sulit tampaknya bangsa ini bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri."


Ujar Ki Gedhe yang disetujui Mang Dayat.


Keduanya kemudian kembali membicarakan soal kedepannya mereka akan bagaimana menyikapi konflik antara Tuan Ageng Parta Prawira dengan Damar.


Saat tiba-tiba terdengar orang di luar padepokan teriak-teriak.


"Tolooong... Toloooong..."


Mendengar teriakan itu akhirnya Mang Dayat dan Ki Gedhe Tirtayasa bergegas bangun dari posisi duduk mereka, lalu melangkah cepat keluar ruangan dan langsung menuju keluar padepokan.


Seorang penduduk desa terlihat berdiri di sana, di halaman padepokan.


"Ada apa Mang?"


Tanya Ki Gedhe Tirtayasa begitu keluar.


Tampak isteri Ki Gedhe Tirtayasa dan para emban rumah mereka juga ikut keluar.


"Samsul, saya lihat Samsul dibawa dua orang seperti ninja."


Kata penduduk desa itu.


Rupanya, ada saksi yang melihat Samsul dibawa orang-orang suruhan Tuan Ageng Parta Prawira.


"Samsul? Di bawa ke mana?"


Isteri Ki Gedhe Tirtayasa tampak panik.


Ki Gedhe Tirtayasa juga begitu.


"Bukankah Samsul tadi pergi bersama Bang Damar..."


Nyi Esih nimbrung.


Mang Dayat yang mendengar penuturan Nyi Esih membenarkan.


"Ya, tadi Tuan muda Damar datang ke rumah bersama seorang temannya."


"Lihat Damar juga Mang?"


Tanya Ki Gedhe Tirtayasa.


Laki-laki paruh baya itu menggelengkan kepalanya.


"Saya hanya melihat Samsul Ki, saya mau tolong tapi tidak berani."


"Ke arah mana mereka membawa Samsul?"


Tanya Ki Gedhe Tirtayasa lagi.


"Sepertinya mereka menghindari jalan kota, mungkin ke Kuningan."

__ADS_1


Ki Gedhe Tirtayasa berpandangan dengan Mang Dayat.


"Apa kau merasa dibuntuti Mang?"


Tanya Ki Gedhe Tirtayasa.


Mang Dayat tiba-tiba gemetaran, jika benar ia dibuntuti, maka sudah jelas Tuan Ageng Parta Prawira secepatnya akan tahu jika kali ini Mang Dayat tak sepenuhnya berada di pihaknya.


"Bisa jadi saya diikuti, tapi saya tidak menyadari sepenuhnya. Ah bagaimana ini."


Mang Dayat begitu gusar.


Ki Gedhe Tirtayasa menatap langit malam yang sangat hitam malam ini. Mungkin karena mendung.


Besok, pulanglah ke Kuningan Mang, pastikan Samsul ada di sana, jika ada kemungkinan menyelematkan dia, saya minta tolong selamatkan dia.


"Ki."


Tiba-tiba penduduk yang memberikan kabar tentang dibawanya Samsul memanggil Ki Gedhe Tirtayasa.


"Ya Mang, ada apa?"


Tanya Ki Gedhe Tirtayasa.


"Tadi saya papasan dengan Samsul di dekat ujung jalan desa yang menuju kaki bukit, sepertinya dia baru saja dari rumahnya yang sudah lama tidak ditempati sejak kedua orangtuanya meninggal."


Kata laki-laki itu.


Ki Gedhe Tirtayasa mengerutkan kening. Tanda tanya besar muncul di dalam kepalanya, karena merasa aneh jika Samsul tiba-tiba dari sana.


"Saya mampir ke rumah Mang Rohim, karena ada kabar petinggi desa sudah diminta memberikan data orang laki-laki yang akan diminta bekerja pada Jepang untuk membangun benteng, penjara bagi orang Belanda dan sebagainya. Ada juga kabar di pasar sekarang tak ada pakaian, obat-obatan dan makanan juga sudah mulai menghilang."


"Jepang, sejak awal aku sudah curiga mereka datang bukan murni ingin membantu bangsa kita terlepas dari penjajahan Belanda. Ini bisa jadi akan berlangsung lebih buruk dari 3,5 abad yang berlalu dengan Belanda."


Kata Ki Gedhe Tirtayasa.


Tanya Ki Gedhe Tirtayasa.


"Tentu Ki, tentu saja."


Sahut penduduk tersebut dengan cepat.


Bagi mereka, dimintai tolong oleh orang seperti Ki Gedhe berada adalah sebuah kehormatan.


Penduduk itupun segera masuk permisi untuk pergi ke desa guna mengumpulkan beberapa warga sesuai keinginan Ki Gedhe Tirtayasa.


"Untuk apa ke rumah Samsul di jam selarut ini?"


Tanya Isteri Ki Gedhe Tirtayasa.


Wanita itu terlihat cemas.


"Aku yakin Damar ada di sana, aku harus segera memintanya kembali ke padepokan, terlalu berbahaya dia ada di sana sendirian."


Ujar Ki Gedhe Tirtayasa sambil masuk ke dalam padepokan untuk mengambil senjata untuk berjaga bertemu Babi hutan dan sebagainya.


"Saya ikut juga Ki."


Kata Mang Dayat begitu akhirnya Ki Gedhe Tirtayasa keluar lagi.


Tampak Ki Gedhe Tirtayasa mengangguk.


Tak lama para warga berkumpul di halaman padepokan, dan mereka segera pergi.

__ADS_1


"Kita bagi dua kelompok, yang satu ikut saya ke rumah Orangtua Samsul di kaki bukit, yang satu menyisir jalan pintas menuju Kuningan, barangkali bisa menemukan Samsul atau jejaknya di sana."


Perintah Ki Gedhe Tirtayasa.


**---------------**


Sementara itu, di gubuk reyot milik orangtua Samsul, Damar dan Lestari duduk bersebelahan di atas bale-bale kayu. Lestari menyandarkan kepalanya di lengan Damar dengan kedua tangan mereka saling berpegangan.


Degup jantung mereka kini sama-sama tak berirama karena saking cepatnya.


Semua sudah terjadi, cinta membuat mereka justeru menjadi sama-sama lupa menjaga diri. Entah apa yang harus mereka lakukan sekarang, begitu Akhirnya semua telah tersalurkan.


"Maaf."


Hanya itu yang bisa dikatakan Damar.


Lestari yang bersandar di lengannya hanya menitikkan air mata tanpa berkata apapun. Hanya lembut tangannya yang terus menggenggam tangan Damar seolah tak ingin tangan itu terlepas barang sedetik.


Kini ia sangat takut Damar pergi, atau mereka terpisah lagi. Bagaimanapun, semua diberikan Lestari hari ini tanpa dipaksa. Meski sesal tetap ada, tapi cintanya pada Damar jauh lebih besar.


"Aku akan menikahimu, bagaimanapun caranya."


Kata Damar lagi, lalu memeluk Lestari.


Tampak bahu Lestari berguncang, ia menangis dalam pelukan Damar.


"Aku mencintaimu Lestari, sangat mencintaimu, aku tak mau melepaskanmu untuk siapapun. Kamu milikku, dan aku yang akan menjagamu seumur hidup."


Lirih Damar sembari berlinang air mata juga.


Kini, sejatinya ia pelahan mulai sadar, bahwa lawannya adalah sang Ayah yang memiliki kekuatan dan kekuasaan tak biasa.


Apapun bisa ia lakukan, dan Damar terbayang semua hal buruk yang kapan saja bisa terjadi padanya.


"Lestari."


Panggil Damar lembut.


Dengan merenggangkan pelukannya, Damar menatap wajah Lestari dari dekat, diusapnya wajah Lestari yang basah oleh air mata.


"Berjanjilah padaku."


Kata Damar.


Lestari menatap mata Damar yang teduh, mata yang membuat Lestari selalu merasa begitu nyaman di dekat Damar.


"Jika terjadi sesuatu padaku, kamu..."


"Tidak, jangan... Jangan... Tidak."


Lestari menangis, ia tak mau mendengar Damar mengatakan apapun. Ia memeluk Damar.


"Tetaplah bersamaku Bang, jangan katakan hal buruk apapun, aku tidak mau dengar."


Rengek Lestari.


Damar tahu, jika hati Lestari kini sepenuhnya telah ia berikan pada Damar.


Damar mengeratkan pelukannya pada tubuh Lestari, mengusap lembut kepala Lestari.


Cinta dan kasihan pada Lestari bercampur menjadi satu, membuat dada Damar begitu sesak.


"Aku sangat mencintaimu Bang."

__ADS_1


Lirih Lestari membuat Damar berkali-kali mencium kepala Lestari dengan penuh kasih.


💦💦💦💦💦💦


__ADS_2