Kisah Hantu LESTARI

Kisah Hantu LESTARI
24. Hubungan Masa Lalu


__ADS_3

Lestari tampak menatap marah ke arah rumah yang kini terlihat ada Ki Marta yang berdiri di depan pintu menunggu Tomi yang sedang berjalan menghampiri laki-laki berpakaian serba putih tersebut.


Lestari yang berdiri di bawah pohon besar di depan rumah Tomi itu mengepalkan kedua tangannya.


Dadanya bergemuruh saat Tomi dirangkul Ki Marta masuk ke dalam rumahnya.


Bik Surti dan Pak Dadang yang berjalan beriringan mengikuti Tomi juga kini masuk ke dalam rumah.


Sementara sesosok mahluk besar setinggi rumah terlihat berdiri di depan pintu seolah berjaga.


Ya tentu saja, manusia seperti Ki Marta akan melibatkan bangsa jin untuk melakukan pembersihan sebuah tempat yang dianggap berhantu.


Lestari melayang ke arah rumah Tomi yang kini dijaga jin. Tampak jin itu tertawa.


"Ternyata hanya hantu anak ingusan."


Ejek jin tersebut pada Lestari.


Lestari mengambang di depan jin.


"Kau tak usah ikut campur, apa kau tidak malu menjadi budak manusia?"


Lestari seolah balik mengejek.


Jin tersebut terbahak.


"Kami sejatinya saling memperbudak, lalu apa masalahmu hah?"


Lestari tersenyum sinis.


"Aku hanya ingin bersatu lagi dengan cintaku, cinta yang kutunggu lebih dari tujuh puluh tahun."


Kata Lestari.


Jin itu kembali terbahak.


"Cinta yang mana? Laki-laki yang baru saja masuk tadi?"


Tanya Jin penjaga.


Lestari mengangguk.


Wajahnya tiba-tiba menjadi sedih, matanya menatap ke arah dalam rumah, di mana Tomi kini terlihat berbincang dengan Ki Marta ditemani Ibunya dan juga Nilam.


Ah perempuan itu, selalu saja mengikuti. Manja. Cengeng. Lemah. Lestari marah lagi.


Jin tersebut melirik ke dalam rumah untuk melihat apa yang tengah Lestari lihat.


"Kau cemburu dengan perempuan itu hingga kau terus mengganggunya?"


Tanya Jin penjaga.


"Dia merebut Damar dariku, seharusnya Damar adalah milikku, tujuh puluh tahun lebih aku menunggu dia di tempat ini, dia sekarang kembali, tapi perempuan itu menghalangiku bersatu dengan cintaku kembali."


Jin penjaga menatap Lestari.


"Kau hantu bodoh, yang kau tunggu pasti juga sudah mati."


"Dia titisannya, dia Damar yang terlahir lagi untukku!"


Lestari mulai kembali marah.


Ia tiba-tiba melesat masuk ke dalam rumah, Jin penjaga yang tak siap jadi kecolongan.


Jin itu bergerak cepat mencoba mengejar Lestari untuk menangkapnya, tapi Lestari malah lebih dulu merasuki Nilam yang kebetulan pikirannya kosong.


Nilam yang ikut duduk melingkar mendengarkan Ki Marta bicara memang setengah melamun, pikirannya memikirkan begitu banyak hal menakutkan di rumah itu, dan ia sungguh-sungguh ingin pindah saja.


Tapi, sepertinya Tomi tetap ingin tinggal di sana, membuat Nilam menjadi stres dan pikirannya langsung ruwet.


Tubuh Nilam mengejang, matanya mendelik ke atas. Tomi yang duduk di sebelahnya langsung meraih tubuh sang isteri.

__ADS_1


"Sayang, kamu kenapa? Sayang..."


Tomi panik luar biasa.


"Bang Damar... Ini aku Lestari, Bang. Ini aku."


Mendengar suara yang keluar dari mulut Nilam bukan lagi suara Nilam, membuat Tomi ketakutan dan langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Nilam.


"Pergi kau! Aku bukan Damar! Aku tidak mengenalmu!!"


Tomi beringsut menjauh.


Sikap Tomi yang demikian membuat Lestari di tubuh Nilam marah.


Ia mendelik memandang Tomi dengan sengit.


"Kau mengkhianati!! Teganya kau lebih memilih wanita ini daripada aku!!"


Lestari sengaja membenturkan kepala Nilam ke lantai.


Untunglah Ki Marta langsung menangkap tubuh Nilam.


Ki Marta sambil membaca mantra-mantra terlihat menyesap air putih dari gelas lalu menyemburkannya ke arah wajah Nilam.


Lestari terhempas keluar, saat itulah Jin penjaga menarik rambut Lestari, menjambaknya dan menyeretnya keluar dari rumah.


Jin itu membawa Lestari pergi dari sana, melesat sangat cepat entah ke mana.


Nilam terkulai lemas, Tomi segera mengangkatnya dan membawanya ke kamar lagi.


"Bu, tolong jagakan Nilam untuk Tomi, Bu."


Pinta Tomi.


Ibunya Tomi yang wajahnya mengisyaratkan kengerian tampak mengangguk lalu mengajak Bik Surti buru-buru masuk ke kamar.


Ki Marta duduk bersila di karpet ruangan depan yang bersebelahan dengan ruang tamu itu.


Asistennya di sampingnya terlihat melakukan hal yang sama.


Tomi duduk di depan mereka, ditemani Pak Dadang yang tampak ketakutan.


Tak lama, jin penjaga pulang ke rumah Tomi menemui Ki Marta, membisikkan pada Ki Marta jika ia telah memindahkan Lestari ke tempat yang sangat jauh.


Ki Marta tersenyum.


Ia kemudian membuka matanya pelahan.


Ditatapnya Tomi yang duduk di depannya.


"Sekarang sudah aman Tuan."


Kata Ki Marta.


"Benarkah? Sungguh Ki?"


Tomi tentu saja menyambut dengan senang.


Ki Marta menganggukkan kepalanya.


"Dia sudah kupindahkan ke tempat yang sangat jauh, ia mungkin tak bisa kembali lagi untuk beberapa saat."


Kata Ki Marta.


"Kecuali ada hal yang memicunya yang bisa membuatnya lebih cepat kembali."


Lanjut Ki Marta.


Tomi menaikkan kedua alisnya.


"Maksudnya?"

__ADS_1


Tomi bingung.


"Ada keterikatan antara anda dengan hantu bernama Lestari itu di masa lalu, saya tidak tahu pasti apa, tapi sepertinya ada sesuatu yang belum selesai."


Ujar Ki Marta.


Tomi mengerutkan kening.


Sesuatu yang belum selesai antara dirinya dengan Lestari?


Apa?


Bagaimana bisa?


Mengenal perempuan bernama Lestari itu saja Tomi tak pernah.


Bagaimana ada keterikatan?


Ki Marta yang bisa membaca pikiran Tomi terkekeh-kekeh.


"Bukan langsung dengan anda yang sekarang Tuan, tapi dengan anda yang juga ada di masa lalu, bisa jadi anda adalah keturunannya."


Kata Ki Marta.


"Damar? Maksudnya Damar?"


Tanya Tomi.


Jin penjaga yang memberikan informasi pada Ki Marta mengangguk mengiyakan, membuat Ki Marta juga mengangguk.


Tomi menghela nafas.


Apa iya kakek atau buyutnya ada yang bernama Damar?


Tomi mencoba mengingat-ingat.


"Nanti kalian bisa bahas sendiri sekeluarga, setelah ketemu, datanglah ke tempat saya lagi, nanti saya akan bantu memagari anda dan isteri anda agar tak bisa diganggu lagi selamanya."


Ujar Ki Marta.


Tomi terdiam.


"Hantu perempuan itu sangat mencintai laki-laki bernama Damar, ia sepertinya diminta menunggu Damar datang namun hingga ia mati Damar tak pernah datang lagi. Atau entahlah, bisa juga ada kemungkinan yang lebih tragis."


Kata Ki Marta sesuai informasi dari jin penjaga.


Tomi mengurut keningnya.


"Baiklah, saya mengerti."


Kata Tomi akhirnya setelah berpikir keras tapi tak juga menemukan titik terang.


"Saya akan coba cari tahu, siapa Damar."


"Apa tidak lebih baik pindah saja Pak Tomi? Lebih simpel."


Pak Dadang tiba-tiba menyela.


Ki Marta terkekeh.


"Jalan satu-satunya Tuan Tomi hanyalah harus memutus hubungan masa lalu itu, karena hantu itu telah menemukan anda, jadi kapanpun dia pasti akan kembali, dan di manapun anda, dia akan mencari dan menemukan anda lagi."


Kata Ki Marta.


Tomi terlihat tercekat. Wajahnya memucat. Takut dan cemas itu merayapi dadanya.


Sungguh, ia tak menyangka harus ada episode semacam ini dalam hidupnya.


Dulu ia menertawakan Iwan adiknya yang dia anggap selalu halu berurusan dengan hantu. Tapi sekarang?


**------------**

__ADS_1


__ADS_2