Kisah Hantu LESTARI

Kisah Hantu LESTARI
51. Laki-laki Berpakaian Hitam


__ADS_3

Pagi hari aktifitas di rumah Tomi yang biasanya diawali oleh Bik Surti akhirnya jadi timpang.


Nilam mengalah mengambil alih tugas Bik Surti menyiapkan sarapan meskipun Ibu bolak-balik melarang.


Ibunya Tomi memang tak ingin Nilam kelelahan karena takutnya akan jadi seperti Kakak Tomi yang sampai sekarang belum juga dapat momongan meskipun pernikahannya telah masuk tahun kesepuluh.


"Tidak apa Bu, hanya masak sarapan kan mudah."


Kata Nilam.


"Jangan, sudah biar Ibu saja, kamu pokoknya jangan sampai lelah."


Kata Ibunya Tomi.


Iwan yang baru bangun terlihat masuk ke ruang belakang dan mendekati dapur.


"Pak Dadang ke mana Bu?"


Tanya Iwan celingak-celinguk mencari keberadaan sang driver kantor.


"Tadi pamit ke tempat Bu Harti beli rokok."


Kata Ibu.


"Ooh."


Iwan mantuk-mantuk, lalu berjalan ke arah kulkas, mengambil satu buah Apel dan kemudian membawanya ke wastafel untuk dicuci.


"Bang Tomi mandi ya?"


Tanya Iwan, entah pada Nilam, atau entah pada Ibu.


"Aku rasa Pak Irfan tahu sesuatu."


Ujar Iwan lagi, lalu menggigit Apelnya.


Pok!


Ibu menabok punggung Iwan dari belakang membuat Iwan nyaris terlonjak.


"Kenapa sih Bu?"


Protes Iwan.


Nilam yang sedang sibuk menggoreng Nuget jadi senyum-senyum melihat Ibu dan Iwan.


Memang Ibu dan Iwan selama ini selalu begitu, sejak Nilam pacaran dengan Tomi dan dikenalkan dengan keluarganya, selalu saja yang membuat heboh kala ada pertemuan adalah Ibu dan Iwan.


Mereka selalu bersama ke mana-mana, tapi selalu saja ada yang diributkan. Apalagi kalau pacar Iwan pas berkunjung dan Nilam juga ada di sana, kacau langsung suasana karena kelihatan sekali Ibu lebih sayang pada siapa.


Untungnya, pacar Iwan adalah anak orang berada dan anaknya sepertinya masa bodoh dengan semua hal, jadi diperlakukan macam apapun oleh Ibu, dia sepertinya santai saja.


"Kamu ini sudah curiga yang bukan-bukan pada Bik Surti, belum juga minta maaf sekarang ditambahi pula curiga pada teman Abangmu."


Kata Ibu.


"Lah gimana, kan Iwan hanya mengungkapkan apa yang terbersit dan terlintas di benak Iwan."


"Tapi kalau belum ada bukti seperti semalam kamu mencecar habis-habisan, kan akhirnya jadi fatal."


Kesal Ibu.


"Iwan kan hanya tanya, Ibu tahu sendiri semalam Iwan lihat hantu itu datang, Iwan juga kan tadinya ngejar dia, bukan ngejar Bik Surti, kalau toh Iwan manggil Bik Surti juga bukan mau Iwan celakai."


"Tapi dia ketakutan Iwan."


Nilam menyela.


"Akan lebih menakutkan jika Kak Nilam dan Bang Tomi kenapa-kenapa, aku jelas lebih mengkhawatirkan kalian."


Ujar Iwan.

__ADS_1


Nilam mengangkat nuget yang telah matang dari penggorengan dan meniriskannya, lalu memasukkan nuget mentah lagi.


Bersamaan dengan itu Tomi yang sudah selesai mandi keluar dari kamar mandi samping dapur.


Ia berjalan melewati dapur, dan terlihat Iwan serta Ibu sedang berada di dapur menemani Nilam.


"Sana ganti baju lalu sarapan, jangan lupa cari rumah kontrakan untuk ditempati sementara, Ibu yang akan bayar."


Kata Ibu.


Tomi mengangguk.


Lalu ia menatap Iwan.


"Nanti hubungi Bibi Sundari lagi Wan, foto kakek dan semua yang berhubungan dengan Kakek saat muda pastikan memang ada hubungannya dengan Damar."


Kata Tomi.


Iwan yang sedang menggigit Apelnya mengangguk sambil mengacungkan ibu jarinya.


Tomi berjalan lagi menjauh, menuju kamarnya untuk ganti baju.


"Baju sudah disiapkan kan Nilam?"


Tanya Ibu pada Nilam.


"Sudah Bu, tadi Nilam siapkan sebelum Bang Tomi pergi mandi."


Jawab Nilam.


"Hmm bagus, tuh kamu kalau cari isteri macam Kakak iparmu ini."


Kata Ibu.


Iwan langsung manyun.


**--------------**


Tomi mengerutkan kening.


Ia akhirnya berjalan mendekati pintu ruang depan, lalu memanggil Pak Dadang begitu dibukanya pintu ruang depan rumah itu.


"Pak... Pak Dadang."


Panggil Tomi.


Pak Dadang yang dipanggil tampak menoleh ke arah Tomi.


"Ngobrol sama siapa?"


Tanya Tomi heran.


Pak Dadang yang ditanya ngobrol dengan siapa jelas saja ekspresinya jauh lebih heran.


Ini majikannya Otok ayam apa rabun apa minus akut apa katarak.


"Ini Mang..."


Pak Dadang beralih ke arah semula, di mana tadi ada laki-laki berpakaian serba hitam mengajaknya bicara.


"Loh."


Pak Dadang celingak-celinguk bingung, ia kemudian melihat ke arah Tomi.


"Mang Dayat, ke mana dia?"


Pak Dadang malah balik bertanya pada Tomi yang tambah bingung.


"Mang Dayat apa?"


Tomi keluar dari dalam rumah, masih hanya dengan memakai kolor dan kaos oblong putih serta handuk di atas kepala karena rambutnya basah.

__ADS_1


"Mang Dayat, katanya tinggal di sekitar sini, barusan saya ngobrol sama dia, tadi dia pinjam korek buat nyalain rokoknya Tuan."


Kata Pak Dadang sungguh-sungguh.


Tomi jadi ikut celingukan, jelas tadi ia tak melihat siapapun di sana.


"Laki-laki apa sih pak Dadang? Dan siapa tadi namanya? Mang Dayat? Saya dari tadi lihat pak Dadang sendirian dan ngobrol sendirian, makanya saya panggil."


Ujar Tomi.


Pak Dadang tiba-tiba bulu kuduknya jadi merinding.


"Yang benar Tuan?"


Pak Dadang menatap Tomi.


Tomi mengangguk.


"Buat apa saya bohong."


Ujar Tomi.


Pak Dadang kembali celingak-celinguk.


Sungguh ia tak bisa percaya jika laki-laki dengan pakaian hitam itu juga hantu.


Ia terlihat sangat normal.


Ia juga kelihatannya laki-laki yang baik.


"Sepertinya rumah ini benar-benar angker Pak Dadang."


Ujar Tomi akhirnya.


Pak Dadang segera berjalan naik ke teras, lalu mengikuti Tomi yang terlihat bergegas masuk ke dalam rumah lagi.


Aneh sekali. Batin pak Dadang.


Tomi sendiri kemudian langsung ke arah kamarnya, ia semestinya cepat ganti baju, sarapan dan pergi berangkat ke kantor.


Tomi masuk kamar, dan melihat Nilam sedang menata sprei tempat tidur mereka.


"Nanti aku akan minta tolong pada staf kantor untuk mencarikan rumah baru agar kita pindah, semoga hari ini langsung dapat ya sayang."


Ujar Tomi sambil mulai sibuk memakai kemejanya.


"Kenapa harus pindah?"


Tanya Nilam sambil menata bantal agar terlihat lebih rapi.


Tomi yang berdiri di depan kaca lemari pakaian kamar mereka jadi heran Nilam malah bertanya kenapa mereka harus pindah.


Tepat saat Tomi akan menoleh ke arah Nilam yang semula ada di dekat tempat tidur, tiba-tiba terdengar pintu kamar berderit seolah dibuka dari luar.


Tomi seketika menoleh ke arah pintu mengira itu Ibunya, tapi ternyata malah Nilam.


Tomi jelas saja kaget.


Lah tadi...


Tomi mengalihkan pandangan ke dekat tempat tidur lagi, di mana tadi jelas-jelas Nilam sedang menata tempat tidur mereka.


"Ada apa Bang?"


Tanya Nilam bingung melihat reaksi Tomi saat ia masuk.


"Ta... Tadi kamu..."


💦💦💦💦💦


tek nerusin kerja lagi wkwkkwk

__ADS_1


__ADS_2