Kisah Hantu LESTARI

Kisah Hantu LESTARI
58. Hadiah Di Tengah Malapetaka


__ADS_3

Tak lama setelah Tomi dan Iwan berada di rumah dan tengah membicarakan soal apa yang baru saja dialami Tomi, Ki Martha dan asistennya datang ke rumah Koperasi.


Tomi dan Iwan langsung menyambut kedatangan Ki Martha.


"Terimakasih sudah datang Ki, padahal saya belum sempat menghubungi Aki."


Ujar Tomi.


Ki Martha mengangguk.


"Saya merasa ada tanggungjawab yang belum saya selesaikan saat kemarin Bik Surti meminta saya datang atas pemintaan keluarga Tuan Tomi."


Kata Ki Martha.


Tomi kemudian mengajak Ki Martha masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu rumah Koperasi.


Tomi meminta staf kantor koperasi untuk kembali ke kantor saja, dan biar masalah di rumah Koperasi ia akan tangani sendiri.


Staf kantor koperasi itupun menurut perintah Tomi untuk kembali ke tempat kerjanya, lagipula ia mulai tak nyaman dengan situasi dan kondisi yang ada.


Terlalu banyak hal yang janggal, dan dia tadi sempat merasa ada aroma anyir darah yang bercampur wangi bunga tercium cukup mengganggu.


"Jadi anda sudah tahu jika ternyata hubungan masa lalu antara anda dengan hantu Lestari adalah karena kaitan darah anda dengan Almarhum kakek anda Tuan?"


Tanya Ki Martha.


Tomi mengangguk.


"Damar, namanya Damar, kemungkinan setelah ia menikah dengan Nenek yang orang Jawa, ia hijrah ke Semarang dan mengganti namanya menjadi Santoso Raharjo."


Ujar Tomi.


Ki Martha mantuk-mantuk.


Iwan yang duduk di samping Abangnya terlihat memandang ke arah pintu di mana di luar tampak mahluk tinggi besar berjaga.


"Dia abdimu Ki?"


Tanya Iwan.


Ki Martha memandang Iwan sebentar, lalu menoleh ke arah pintu di mana Iwan kini menatapnya.


Terlihat Ki Martha mengangguk.


"Ya Tuan, ternyata kau bisa melihat mereka juga."


Ki Martha terkekeh.


Iwan tersenyum saja, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Ki Martha lagi.


"Lalu apa yang harus kami lakukan, agar hantu Lestari berhenti mengganggu Bang Tomi dan Kak Nilam, Ki?"


Tanya Iwan pada Ki Martha.


Ki Martha mantuk-mantuk, lalu...


"Memanggil mendiang Kakek kalian dan membiarkan ia bertemu dengan kekasihnya."


Kata Ki Martha.


Setelah mengatakannya, Ki Martha menatap Tomi.


"Apa anda siap Tuan?"


Tanya Ki Martha pada Tomi.


Terlihat Tomi menoleh ke arah Iwan, dua kakak beradik itu berpandangan sejenak, lalu...


"Memangnya apa saya harus terlibat?"


Tanya Tomi akhirnya.


Ia sedikit takut.


Ki Martha mengangguk.

__ADS_1


"Tengah malam nanti, kita pertemukan mereka, anda yang satu darah dengan Damar akan menjadi medianya."


Ujar Ki Martha, yang kemudian meminta pada asistennya rokok miliknya.


"Apa akan berbahaya Ki?"


Iwan ikut khawatir.


Ki Martha menggeleng.


"Tidak, andaikan ada yang kemudian terjadi, abdi saya yang akan mengurusnya."


Kata Ki Martha.


Iwan akhirnya mengangguk.


Tomi menoleh pada Iwan.


Karena Tomi jelas tak tahu banyak tentang dunia astral, maka tentu saja masukan Iwan menjadi sangat penting untuknya.


"Baiklah."


Kata Tomi setelah melihat Iwan sepertinya mendukung ide Ki Martha.


"Lalu apa yang harus kami persiapkan?"


Tanya Tomi dan Iwan nyaris bersamaan.


Ki Martha kemudian menjelaskan apa yang musti mereka persiapkan untuk nanti malam.


"Bunga tujuh rupa untuk mandi Tuan Tomi setelah jam sepuluh malam. Pakaian atau apapun yang berhubungan dengan Kakek Damar, dan beberapa lainnya adalah urusan saya."


"Pakaian atau yang berhubungan dengan Kakek?"


Iwan dan Tomi bergumam, lalu...


"Apa foto bisa Ki?"


Tanya Iwan.


Iwan lalu memberikan hp miliknya yang tadi sempat minta dikirimi foto kakek dengan huruf palawa yang disebutkan Bibi.


Ki Martha menatap foto itu, lalu berganti menatap Tomi.


"Benar saja, kalian sangat mirip."


Kata ki Martha takjub.


"Ya saking miripnya sampai hantu saja tak bisa bedakan."


Seloroh Iwan membuat Ki Martha terkekeh dan Tomi terlihat mengurut kening.


"Untuk menunggu malam datang, saya akan coba membersihkan tempat ini dari mantera yang dibaca Surti."


Kata Ki Martha.


"Kamar Surti, di mana kamarnya, saya akan membersihkan dari sana."


Lanjut ki Martha lagi.


Iwan yang kemudian berdiri dan mengantar Ki Martha menuju ruang belakang di mana kamar Bik Surti berada.


Tomi yang masih duduk di ruang tamu kemudian asisten Ki Martha meminta ijin menggunakan dapur untuk membuatkan kopi hitam Ki Martha.


Tentu saja Tomi mengangguk dan mempersilahkan.


Sepeninggal asisten Ki Martha, Tomi juga akhirnya beranjak dari ruang tamu dan menuju kamar.


Ia menatap kamarnya yang kosong.


Teringat ia pagi ini di mana ia melihat Nilam ada dua.


Ya...


Memang tak ada pilihan selain menyelesaikan semuanya, apa yang telah dibuat Kakek nyatanya sangat jahat.

__ADS_1


Tomi berjalan ke arah tempat tidur, tubuhnya sudah begitu letih.


Ia ingat pak Irfan yang katanya meninggal tak wajar hari ini.


Ada apa sebetulnya dengan-nya?


Batin Tomi bertanya-tanya.


**------------**


Pak Dadang di Rumah Sakit meminta bertemu Tomi, namun belum bisa diijinkan keluar.


"Saya ingin minta maaf, saya ingin jelaskan pada Tuan Tomi, jika semua idenya Pak Irfan, saya tidak ikut melakukan apa-apa selain mengantar Pak Irfan menemui Bik Surti yang sebetulnya sudah lama tak mengurus rumah itu."


Pak Dadang meracau seorang diri di kamar perawatan, staf yang menunggui merekam racauan Pak Dadang.


"Saya ingin minta maaf, tolong saya ingin ketemu pak Tomi, saya harus bertemu Pak Tomi, saya takut, saya takut."


Kata Pak Dadang begitu panik.


Staf yang merekam berusaha menenangkan Pak Dadang.


Sementara di klinik, Nilam juga sudah terbangun.


Tampak Nilam duduk bersandar di atas tempat tidur klinik sambil disuapi bubur dan sayur oleh Ibu mertuanya.


Sang Ibu mertua terlihat begitu telaten merawat Nilam, membuat Nilam sampai tak enak hati.


"Ibu harusnya juga istirahat."


Kata Nilam.


Ibu mertua Nilam tersenyum.


Wajahnya begitu sumringah, membuat Nilam jadi heran sendiri.


"Ibu kenapa dari tadi senyum terus?"


Tanya Nilam menatap mertuanya.


"Habiskan dulu buburnya, nanti baru Ibu cerita."


Kata Ibunya Tomi.


Nilam pun memakan satu suapan terakhir buburnya.


Setelah menghabiskan bubur satu mangkuk kecil dan sup juga, Ibunya Tomi mengambilkan segelas air putih hangat dan juga obat agar diminum Nilam.


"Kapan kita bisa pulang Bu?"


Tanya Nilam.


"Tunggu Tomi jemput saja, biar kita pastikan dulu rumahnya sudah aman ditempati atau kita memang pindah saja dari sana, pokonya kamu tidak akan Ibu ijinkan kembali ke rumah itu jika kamu masih harus berhadapan dengan hal bahaya."


Ujar Ibu.


Nilam meminum obat yang baru diberikan Ibu.


"Bang Tomi, apa dia baik-baik saja Bu?"


Tanya Nilam.


Ibunya Tomi mengangguk.


"Dia baik-baik saja, jangan khawatir."


Kata Ibu.


Nilam mengangguk.


"Kamu mulai sekarang harus benar-benar jaga kesehatan dan jangan sampai stres Nilam, demi kamu, demi Tomi dan demi calon cucu Ibu, mengerti."


Ibunya Tomi tersenyum menatap Nilam yang seperti terkejut.


"Calon cucu Ibu?"

__ADS_1


💦💦💦💦💦


__ADS_2