
Lestari dan Damar masih bicara tentang rencana mereka selanjutnya untuk pergi sejauh mungkin dari sana.
Saat kemudian, terdengar seperti sayup-sayup banyak orang bicara di tengah kesunyian malam.
Damar bergerak turun dari bale-bale, Lestari menggapai tangan Damar dengan wajah ketakutan. Tangan Lestari gemetaran.
"Tidak apa-apa, jangan khawatir."
Kata Damar lembut sambil melepaskan tangannya dari genggaman tangan Lestari yang sejatinya Damar sendiri ingin terus menggenggamnya.
Tapi...
Suara orang-orang itu semakin mendekat.
Mungkinkah warga kampung?
Mereka tahu jika Damar dan Lestari ada di rumah Samsul ini? Batin Damar.
Damar kemudian berjalan mengendap ke dekat dinding yang terbuat dari bambu. Damar mengintip dari salah satu celahnya, dan benar saja serombongan orang dengan membawa obor serta senjata menuju ke arah mereka.
Rombongan itu tapi dipimpin Ki Gedhe Tirtayasa dan...
Damar terkesiap, begitu melihat Mang Dayat juga bersama rombongan tersebut. Mang Dayat berjalan di dekat Ki Gedhe Tirtayasa.
Damar menatap Lestari yang duduk di tepi bale-bale sambil terus menatapnya.
"Ada apa Bang?"
Tanya Lestari takut.
Damar mengulurkan tangannya, meminta Lestari mendekat.
Lestari menurut mendekati Damar.
"Kita pergi lewat belakang, kamu masih lelah?"
Tanya Damar pada Lestari.
Lestari yang masih polos tampak mengangguk.
Ya tentu saja, mereka baru saja melakukannya, Damar sejatinya juga ingin segera tidur, apalagi sejak pagi ia sama sekali belum istirahat.
Tapi, tentu saja mereka tak ada pilihan lain, mereka harus segera pergi.
Damar yang curiga Mang Dayat diperintah Ayahnya untuk membawa pergi Lestari tentu saja tak mau membiarkannya.
Damar menggandeng Lestari ke arah bagian belakang rumah Samsul, rencananya mereka akan kabur lagi dari sana.
Setahu Damar, di belakang rumah Samsul ada jalan setapak menuju sawah yang jika mengikuti pematang sawah utama, mereka akan bisa sampai di jalan besar.
Meskipun pasti akan sangat melelahkan karena jarak menuju jalan besar itu sangat jauh jika lewat pematang sawah tersebut.
Damar membuka pintu belakang rumah Samsul, manakala tiba-tiba seekor kucing hitam melompat dan lari melesat melewati Damar yang kaget bukan kepalang.
Kucing itu kemudian bersembunyi dalam kegelapan, di mana Damar tak mampu melihatnya.
"Hanya kucing, tak apa."
Kata Damar pada Lestari yang menurut saja mengikuti Damar.
Gadis itu memercayai Damar seutuhnya, dan memang begitu gadis belia jika sudah jatuh hati.
Suara orang-orang kampung semakin terdengar mendekat.
Damar yang panik segera mengajak Lestari kabur.
Damar dan Lestari berusaha lari meninggalkan gubuk reyot milik orangtua Samsul.
Mereka berlari di sepanjang jalan setapak.
Tapi, nasib sial Lestari tersandung, kondisinya yang masih lemas dan juga harus menahan sakit membuatnya tak bisa lari dengan cepat.
"Kamu tidak apa-apa?"
Damar meraih Lestari.
__ADS_1
"Jika tertangkap apa kita akan dibunuh Bang?"
Tanya Lestari.
Damar tak mampu menjawab.
Bukan, bukan dibunuh yang Damar takutkan. Tapi Lestari dibawa pergi, dipisahkan darinya, lalu dimiliki Ayahnya.
Meskipun kini Lestari sudah memberikan mahkotanya untuk Damar, tapi Damar tentu saja semakin tak ingin melepaskan Lestari.
Buatnya, tanggungjawabnya menjaga Lestari harus ia lakukan hingga ia mati.
Damar meminta Lestari naik ke gendongan.
"Aku akan menggendongmu, naiklah."
"Aku berat."
Kata Lestari ragu.
"Tak apa, naiklah."
Ujar Damar.
Sementara suara pintu gubuk orangtua Samsul terdengar di dobrak.
Lestari naik ke gendongan Damar.
Damar yang sangat lelah memaksakan diri menggendong Lestari sembari mempercepat jalannya.
"Aku mencintai Bang Damar."
Lestari terus mengatakannya, membuat Damar begitu sakit mendengarnya.
Gadis ini begitu polos, bagaimana bisa Ayah tega akan menjadikannya seorang isteri laki-laki seusianya.
Damar terus bergerak.
Dari arah gubuk orangtua Samsul warga yang bersama Ki Gedhe Tirtayasa meringsek ke belakang gubuk, dan melihat Damar yang menggendong Lestari menjauh.
Kata Ki Gedhe Tirtayasa.
Para penduduk berlarian mengejar Damar, termasuk juga Mang Dayat.
Ki Gedhe Tirtayasa yang usianya sudah sepuh memilih menunggu mereka di dalam gubuk.
Ia berjalan menuju bale-bale, ia akan duduk di sana, namun melihat bekas yang tertinggal dari Damar dan Lestari membuat Ki Gedhe Tirtayasa mengurungkannya.
Ia memilih duduk di bangku kayu panjang yang lapuk di depan meja panjang.
Ki Gedhe Tirtayasa tertegun menatap bale-bale yang tak jauh dari tempatnya kini duduk.
Dua anak itu sudah melakukannya, sudah jelas mereka akan semakin tak mau dipisahkan satu sama lain. Sungguh keterlaluan jika Tuan Ageng Parta Prawira tetap dalam keputusannya untuk memiliki Lestari.
Dan tak butuh waktu lama, ketika akhirnya terdengar teriakan Damar yang semakin terdengar mendekat.
Damar berungkali memberontak, meminta dilepaskan.
Damar yang di pegangi dua orang laki-laki bertubuh gempal dan besar dibawa ke hadapan Ki Gedhe Tirtayasa.
"Lepaskan kami Ki."
Kata Damar.
Ki Gedhe Tirtayasa memandangi Damar, setelah itu juga memandang ke arah Lestari yang baru dibawa masuk juga oleh Mang Dayat dan diiringi beberapa warga desa yang lain.
"Kenapa harus kabur Nak?"
Tanya Ki Gedhe Tirtayasa.
Damar bergeming.
"Kami datang untuk menjemput kalian pulang."
"Tidak akan.. kami tidak akan pulang ke rumah Tuan Ageng Parta Prawira."
__ADS_1
Tegas Damar.
Ki Gedhe Tirtayasa menggeleng.
"Kita pulang ke padepokan."
Ki Gedhe Tirtayasa berdiri, lalu memberi isyarat kepada orang-orang yang membantunya agar Damar dan Lestari jangan sampai dibiarkan lepas.
Semuapun mengerti dan kemudian mengikuti Ki Gedhe Tirtayasa yang kembali menuju padepokannya.
Setelah sampai ke padepokan, Ki Gedhe Tirtayasa meminta Nyi Esih dan beberapa Emban untuk memberikan para warga bahan makanan yang bisa mereka masak.
Jika tak ada beras mereka bisa mengambil beras, telur, minyak, dan juga sayuran.
Kelak, pasti akan ada paceklik, jadi tentu saja bahan makanan jauh lebih bermanfaat untuk warga desa.
Warga yang kelompoknya menyisir jalan pintas untuk mencari Samsul juga telah kembali ke padepokan dan menyampaikan laporan jika tapak kuda di jalanan itu jelas mengarah ke jalan menuju Kuningan.
Dan benarlah dugaan Ki Gedhe Tirtayasa, jika Mang Dayat sejatinya telah dicurigai sejak awal, maka Tuan Ageng Parta Prawira tak lantas membiarkan ia berangkat sendiri ke Padepokan.
"Ini berarti, Mang Dayat jelas sudah percuma jika kembali ke Kuningan, anda pasti sudah dianggap sebagai pengkhianat Mang."
Ujar Ki Gedhe Tirtayasa.
Mang Dayat mengangguk.
Damar sendiri bersama Lestari telah di masukkan ke dalam ruangan terpisah.
"Begini saja, besok saya yang akan menemui Tuan Ageng Parta Prawira, saya akan bicara baik-baik, terutama soal Samsul yang jelas tak bersalah dalam masalah ini agar bisa dibebaskan."
"Lalu saya, apa yang bisa saya lakukan Ki?"
Tanya Mang Dayat.
Warga desa telah mendapatkan bahan makanan yang dibagikan oleh Nyi Esih dan para emban, mereka berterimakasih lalu permisi kepada Ki Gedhe Tirtayasa yang terlihat masih berdiri di depan padepokannya bersama Mang Dayat.
"Apa ada tempat yang bisa untuk sembunyi nak Damar dan Lestari yang paling aman?"
Tanya Ki Gedhe Tirtayasa.
Mang Dayat sejenak terdiam, mencoba berpikir.
Lalu...
"Sebetulnya ada tempat yang sepertinya aman Ki."
Kata Mang Dayat.
"Di mana?"
Tanya Ki Gedhe Tirtayasa.
"Tak jauh dari Pabrik gula."
"Di sana ada satu komplek yang semula dihuni para Belanda, sejak Jepang masuk, mereka sudah langsung meninggalkan tempat itu."
"Di dekat area perumahan Belanda dan Pabrik Gula, ada tanah yang dihadiahkan Belanda kepada Tuan Ageng Parta Prawira, yang kemudian tanah itu diberikan pada saya. Dulu saat isteri saya masih hidup, tanah itu saya bangun rumah dan untuk tempat tinggalnya. Karena kami tak memiliki anak, begitu isteri saya mangkat, rumah itu akhirnya kosong hingga sekarang."
"Tapi Tuan Ageng Parta Prawira akan bisa dengan mudah menemukannya."
Ujar Ki Gedhe Tirtayasa.
Mang Dayat menggeleng.
"Tidak Ki, sejatinya beliau tak pernah tahu letak tanah itu tepatnya di mana, orang Belanda memberikan tanah itu di kediaman Tuan Ageng saat mereka bekerja sama jual beli rempah. Saya yang mengurus semuanya, maka Tuan Ageng menyerahkan tanah itu kepada saya. Tuan Ageng sendiri memiliki beberapa bangunan di sekitar pabrik gula yang ada di tepi barat yang cukup jauh dari tempat saya yang berada di ujung timur."
Ki Gedhe Tirtayasa mengangguk-angguk.
"Kalau begitu, besok pagi, kita jalankan rencana kita Mang. Saya menemui Tuan Ageng untuk membebaskan Samsul, Mang Dayat membawa Lestari dan Damar."
Mang Dayat mengangguk setuju.
"Baik Ki. Saya akan laksanakan semampu dan sebaik yang saya bisa."
💦💦💦💦💦
__ADS_1