
Matahari telah bersinar terang, manakala Damar akhirnya kembali ke rumah persembunyian Lestari.
Wajah Damar tampak begitu pucat, dadanya bergemuruh dan sesak.
Melihat Mang Dayat yang sudah diambang kematian namun masih saja menemaninya dalam todongan senjata membuat Damar rasanya tak mampu lagi berpikir.
"Beri aku waktu."
Kata Damar pada para abdi Ayahnya dan juga orang-orang Jepang yang menggunakan seragam dan bersenjata.
"Tak ada keturunan Belanda yang boleh hidup lagi di tanah ini."
Begitu kira-kira yang dikatakan salah satu orang Jepang.
Damar menarik nafasnya yang berat.
"Aku akan membawanya pada kalian, beri aku waktu lima belas menit."
Kata Damar.
Orang Jepang yang berdiri paling depan menggeleng.
"Tidak!!"
Tegasnya.
"Lima menit."
Putus orang Jepang itu.
Damar rasanya ingin meninjunya saat itu juga, tapi melihat Mang Dayat kini dalam bahaya, tentu saja Damar tak bisa apa-apa.
Damar pun terpaksa mengangguk mengiyakan apa yang sudah diputuskan orang Jepang tersebut.
"Saya pastikan Mang Dayat selamat Mang, saya janji."
Kata Damar.
Mang Dayat menatap iba Damar.
Ia ingin bicara bahwa Damar tak perlu melakukan apapun untuknya, lebih baik biarkan ia mati, dan larilah yang jauh dengan Lestari, tapi mulut Mang Dayat dibungkam, ditutup dan disumpal dengan kain.
Damar berjalan lunglai menuju rumah di mana Lestari ia sembunyikan.
Dengan langkah berat, ia terus berjalan, matanya berusaha menahan air mata agar tak sampai jatuh.
Damar menggeser rak buku yang ia sengaja letakkan di depan pintu loteng supaya jika ada yang sampai masuk, tak akan ada yang curiga dengan pintu loteng itu.
Lestari di dalam loteng begitu mendengar ada suara yang berusaha membuka pintu langsung bergerak dari posisinya berbaring.
Dan ketika pintu loteng itu terbuka, sementara yang berdiri di sana adalah Damar, tentu saja Lestari begitu bahagia.
"Bang..."
Lestari terlihat langsung berdiri dan berlari menghambur ke arah Damar.
Dipeluknya Damar sang kekasih hatinya.
"Syukurlah... syukurlah kau kembali, jangan pergi lagi... Jangan pergi lagi... aku takut."
__ADS_1
Kata Lestari.
Damar menatap wajah Lestari lekat-lekat.
Betapa cantiknya paras gadis itu, betapa lembutnya suara dan gerak geriknya.
Damar rasanya tak bisa dan tak rela melepaskan Lestari, tak sudi ada yang menyentuhnya lagi selain tangannya.
"Ada apa? Kenapa wajah Bang Damar begitu pucat? Abang sakit?"
Tanya Lestari lembut dan begitu penuh kasih sayang mengusap wajah Damar.
Damar meraih tangan Lestari, menciuminya sambil mulai menangis.
"Ada apa?"
Tanya Lestari semakin bingung.
Belum lagi Damar mampu bersuara, tiba-tiba terdengar dari luar serentetan suara tembakan ke arah rumah.
Lestari ketakutan.
"Keluar!! Sudah lebih dari lima menit!!"
Bentakan dan teriakan menyusul terdengar setelah serentetan tembakan yang menghancurkan seisi rumah.
Mereka kemudian mulai meringsek.
Damar mendorong Lestari semakin masuk ke dalam ruangan loteng itu.
Ditutupnya pintu loteng tersebut.
Dipeluknya kemudian Lestari dengan erat.
Bisik Damar sambil tetap memeluk Lestari.
"Aku percaya..."
Lirih Lestari.
"Berisitirahatlah yang tenang di sini Lestari, aku akan datang kepadamu setelah membalaskan dendamku."
Kata Damar.
Lestari yang tak mengerti maksud dari perkataan Damar hendak bertanya, namun...
"Ah..."
Lestari tiba-tiba merasakan sesuatu yang tajam menembus perutnya.
Damar menangis tersedu-sedu, sambil tetap memeluk Lestari, belati itu kembali ditusukkannya ke perut Lestari untuk kedua kalinya.
Darah mengucur deras dari perut Lestari. Mata Lestari menatap ke atas, sekujur tubuhnya dalam pelukan Damar mengejang.
Damar terus mengeratkan pelukannya, sambil kemudian menjerit sekuat tenaga.
Melepaskan seluruh beban derita dalam hatinya.
Pengap dadanya kini.
__ADS_1
Dan begitu tubuh Lestari melemah, nafasnya yang tersengal-sengal pelahan mereda lalu berhenti sama sekali, barulah Damar kemudian melepaskan pelukannya.
Ditatapnya wajah Lestari, ditutupnya mata Lestari yang masih terbuka karena menahan sakit.
Diciumnya berkali-kali wajah Lestari sembari terus berbisik.
"Maafkan aku sayang, aku mencintaimu, maafkan aku, hanya ini yang bisa aku lakukan agar kau tak sampai menjadi budak untuk melayani para tentara itu."
Damar menangis tersedu-sedu.
Dibaringkannya tubuh Lestari di lantai loteng kayu, dicabutnya belati dari perut Lestari.
Darah ada di mana-mana, bahkan membasahi pakaian dan tubuh Damar pula.
Damar mendengar teriakan dan tembakan lagi di luar, ia kemudian dengan amarah yang luar biasa keluar dari loteng.
Kini ia sudah pada titik yang paling tak bisa terkontrol.
Damar mengamuk luar biasa, diterjangnya semua orang yang ada di sana.
Damar tak peduli jika harus mati saat ini, karena setidaknya Lestari telah aman, tak akan ada yang akan mengganggunya, tak akan ada yang mengancam keselamatannya, tak akan ada yang bisa merenggut martabatnya sebagai seorang perempuan.
Damar memukul, menendang dan menghajar para abdi Ayahnya.
Namun tembakan tentara Jepang tentu saja dengan mudah melumpuhkannya..
Damar tumbang, ambruk ke lantai bekas rumah Belanda itu.
Dalam keadaan sekarat itu, Damar kemudian ditinggalkan bersama Mang Dayat yang juga sekarat.
Mereka semua pergi, karena merasa Damar dan Mang Dayat tak akan pernah selamat.
Padahal, tak jauh dari tempat mereka, seorang laki-laki bersembunyi di balik pohon besar, menyaksikan seluruh kekejian para abdi Tuan Ageng Parta Prawira dan juga orang-orang Jepang terhadap Damar dan Mang Dayat.
Laki-laki itu kemudian menolong Damar dan Mang Dayat, lalu menguburkan Lestari di dekat pohon besar di depan rumah.
Laki-laki itu, tak lain adalah kakek Bik Surti, yang kelak mewarisi rumah Mang Dayat, lalu dibeli seorang keluarga jauh untuk satu kebutuhan, namun tak dipakai yang akhirnya dirawat orangtua Bik Surti hingga akhirnya diturunkan pada Bik Surti meskipun keturunan keluarga dari pemilik rumah terlibat hutang piutang dengan Koperasi di mana Tomi bekerja.
Sementara itu, Damar satu tahun setelah diselamatkan oleh Kakek Bik Surti menikah dengan perempuan Jawa, ia kemudian menjadi pengusaha batik di Semarang.
Tuan Ageng Parta Prawira setelah mendengar kabar Lestari dibunuh oleh Damar, sementara Tuan Ageng Parta Prawira juga tahunya Damar mati ditembak orang Jepang akhirnya menderita gangguan jiwa.
Ia mengurung diri terus menerus di dalam ruangan pribadinya. Apalagi setelah Soemitri, Ibunda Lestari datang dan mengutuk Tuan Ageng Parta Prawira dengan semua sumpah sarapah yang menakutkan.
Tuan Ageng Parta Prawira nyatanya sangat tergila-gila dengan Lestari, ketidak mampuannya memiliki gadis itu dan mendengar gadis itu justeru jatuh cinta dengan putranya sendiri membuat Tuan Ageng Parta Prawira begitu patah hati.
Dan belum lagi luka itu membaik, Damar justeru membuat keputusan yang jauh dari bayangan Tuan Ageng, yaitu membunuh Lestari.
Padahal semula, Tuan Ageng Parta Prawira hanya menggertak saja akan menyerahkan Lestari pada pihak Jepang.
Sejatinya, Lestari akan ia minta bawa ke kediamannya dan akan ia nikahi sendiri.
Tapi...
Kenyataan justeru jauh dari bayangan, dan akhirnya membuat Tuan Ageng Parta Prawira kehilangan kewarasannya.
Dan sejak itu, kejayaan dan kekayaan Tuan Ageng Parta Prawira pun hancur.
Tak ada yang bisa ia wariskan pada putri-putrinya, selain kisah pilu dan malu.
__ADS_1
💦💦💦💦💦💦
Flashback berakhir.