
"Jalan satu-satunya Tuan Tomi hanyalah harus memutus hubungan masa lalu itu, karena hantu itu telah menemukan anda, jadi kapanpun dia pasti akan kembali, dan di manapun anda, dia akan mencari dan menemukan anda lagi."
Kata-kata Ki Marta terus terngiang di telinga Tomi terus menerus, bahkan saat akhirnya ia berada di kantor.
Tomi berangkat kesiangan, bahkan saat kantor sudah nyaris masuk jam istirahat siang.
Tapi, apa boleh buat, keadaaan di rumah memang bisa dibilang darurat, tak bisa ditinggalkan.
Tomi sebagai kepala keluarga dan juga sekaligus yang sepertinya menjadi pemicu pertama hantu itu mengganggu keluarganya, tentu harus berada di rumah untuk mengurus keadaan di rumah lebih dahulu.
Tomi duduk diam di depan mejanya, beberapa berkas sudah menumpuk membutuhkan tanda tangannya.
Hubungan masa lalunya dengan Lestari.
Kaitan Tomi dengan Damar.
Apa sebetulnya? Apa sebetulnya?
Tomi rasanya begitu menuntut jawab, namun ia sungguh tak bisa menjawab apapun atas semua pertanyaannya sendiri.
Di rumah, tak lama setelah Tomi pergi, sebuah mobil terlihat memasuki halaman dan kemudian berhenti tepat di depan rumah, tak jauh dari pohon besar yang tumbuh rindang di halamannya.
"Bu, sepertinya putra Ibu sudah tiba."
Kata Bik Surti dari pintu kamar Nilam dan Tomi.
Ibunya Tomi memang masih menemani Nilam yang terlihat duduk bersandar pada tempat tidur.
Wajahnya pucat dan masih lemas.
Ibunya Tomi menawarkan untuk Nilam pergi ke dokter, namun Nilam menolak dengan halus.
Ia bukan sakit fisik, tapi ia syok.
"Apakah Iwan, Bu?"
Tanya Nilam saat Ibunya Tomi berdiri dari duduknya.
"Iya, Iwan datang lebih cepat dari yang direncanakan. Mungkin karena ingin punya waktu jalan-jalan dulu di sini."
Ujar Ibunya Tomi.
Nilam mengangguk sambil tersenyum lemah.
"Tapi Ibu tidak akan langsung pulang kan? Rumah akan sepi sekali."
Lirih Nilam.
Ibunya Tomi menggeleng.
"Tidak, kami akan tetap di sini sampai keadaan sudah benar-benar baik dan kamu juga sudah sehat."
Kata Ibunya Tomi.
Nilam menghela nafas lega.
"Terimakasih Bu."
Ucap Nilam.
Ibunya Tomi mengangguk.
Lalu Ibunya Tomi pamit keluar lebih dulu untuk menyambut Iwan.
"Bik Surti sudah masak sayur lodeh dan ayam dicabein yang pedes Bik?"
Tanya Ibunya Tomi saat keluar dari kamar dan Bik Surti terlihat sedang sibuk menggantung bingkai bunga lagi di dinding.
Bingkai yang tadi kacanya sudah pecah.
"Sudah Bu, gorengan tahu juga sudah saya buatkan, tinggal buah potongnya belum."
Kata Bik Surti.
"Semangka saja Bik, kalau Nilam potongkan apel saja."
Kata Ibunya Tomi.
Bik Surti mengangguk, lalu bergegas ke ruang dalam untuk menyiapkan buah potong yang diminta Ibunya Tomi.
Ibunya Tomi kemudian membuka pintu rumah, terlihat Iwan sudah turun dari mobil tapi tak langsung masuk rumah melainkan menatap pohon besar di halaman rumah Kakaknya.
"Wan."
Panggil Ibu pada putra bungsunya.
__ADS_1
Iwan yang mendengar namanya dipanggil lantas menoleh, begitu melihat Ibunya yang berdiri di teras rumah memandang ke arahnya, Iwan pun tersenyum lebar.
"Bu..."
Iwan akhirnya membawa langkahnya menuju sang Ibunda.
"Kenapa tidak langsung masuk?"
Tanya Ibu saat Iwan menyalami dan mencium tangan Ibunya.
"Lihat rumah lelembut."
Kata Iwan nyengir.
Ibu menabok lengan Iwan.
"Jangan di sini bicaranya, serem."
Kata Ibu sambil kemudian mengajak Iwan masuk ke dalam rumah.
"Kok sepi Bu? Kak Nilam ikut Bang Tomi?"
Tanya Iwan.
Ibu tampak memberi isyarat pada Iwan jika Nilam ada di dalam kamar.
"Sakit?"
Lirih Iwan seperti bisik-bisik saja.
Ibu menggeleng.
"Ada hantu yang ganggu isteri Abangmu."
Ujar Ibu.
Iwan terkekeh.
"Sejak kapan Ibu percaya pada hantu?"
Tanya Iwan sambil masih terkekeh, membuat Ibu terpaksa menabok lengan Iwan lagi.
"Sudah sana temui Kakak iparmu dulu, kasihan dia."
Ujar Ibu.
"Siap."
Sahut Iwan.
Ibu mengangguk, lalu bergegas ke ruang dalam untuk memastikan lagi semuanya memang sudah disiapkan dengan baik oleh Bik Surti.
Iwan menyingkap tirai pintu kamar paling depan yang letaknya ada di depan ruang tamu persis.
Kamar yang ditempati Nilam dan Tomi itu pintunya dibiarkan terbuka, hanya tirai saja yang menutupi.
Tok tok tok...
Iwan mengetuk bingkai pintu.
Nilam yang semula memejamkan mata sambil bersandar terlihat membuka matanya pelahan.
Nilam tersenyum melihat Iwan berdiri di pintu kamar sambil menatapnya.
"Wan, kamu sudah sampai?"
Sapa Nilam seraya membenahi posisinya.
Iwan mengangguk, lalu berjalan mendekati Nilam.
Ia bersalaman dengan Nilam dan menanyakan kabarnya.
"Menurutmu aku bagaimana Wan? Sehat atau bagaimana?"
Tanya Nilam yang memang ia sendiri tak tahu persis sebetulnya kondisinya sekarang itu seperti apa.
Dibilang sehat rasanya seperti sedang sakit, tapi dibilang sakit ia merasa tak perlu ke dokter karena yang ia rasakan juga tak jelas.
Iwan hanya tersenyum.
"Jangan dipikirkan, mereka memang sengaja begitu, kalau mengincar seseorang, mereka bikin orang itu lemah dulu, karena setelah lemah, maka mudah untuk dikendalikan."
Ujar Iwan.
Nilam menatap adik iparnya.
__ADS_1
"Kau tahu Kak Nilam diganggu hantu?"
Tanya Nilam.
Iwan tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
"Ayo bawa makan, semua akan baik-baik saja Kak, aku sudah datang."
Ujar Iwan penuh percaya diri.
Dan entah kenapa, kedatangan Iwan nyatanya memang seperti membawa energi yang berbeda.
Energi yang dirasakan oleh Nilam bisa menenangkan, seolah membuat Nilam jadi tak terlalu khawatir dan takut.
"Pasti Kak Nilam juga siklus makannya terganggu kan? Jangan dituruti dong Kak, makin Kakak nurutin, energi mereka makin mendorong Kakak sampai ke titik paling rendah."
Iwan mengajak Nilam berdiri, dan Nilam menurut akhirnya turun dari tempat tidur nya untuk berdiri.
"Temani Iwan dan Ibu makan, biar Kak Nilam juga jangan sendirian di kamar."
Iwan kemudian menggandeng kakak iparnya keluar dari kamar.
Nilam pun mengikuti Iwan yang kemudian membawanya ke ruang dalam di mana di sana ada ruang makan.
Ibu ada di sana sedang meletakkan potongan buah semangka yang baru selesai dipotong Bik Surti di dapur.
"Nah kan, ayo makan Nilam."
Ibu terlihat menarikkan kursi untuk menantunya.
Nilam duduk di sana.
"Wah sayur lodeh."
Iwan tertawa.
Memang Iwan suka sekali sayur lodeh, apalagi jika bertemu dengan ikan goreng dan sambal. Sayangnya hari ini hanya ada ayam dicabein.
Iwan baru akan nyomot gorengan tahu, saat Ibunya menabok tangan Iwan.
"Cuci tangan dulu, kamu kan nyetir dari Jakarta ke sini."
Omel Ibu.
Iwan tertawa.
"Iya Bu sori, lupa."
"Tas ranselnya kasih Bik Surti biar di bawa masuk ruang kerja Abang mu, kamu tidur di sana saja Wan, ada sofa bed nya."
Ujar Ibu.
Iwan mantuk-mantuk.
"Di mana saja Iwan mah."
"Tapi di sana penampakan hantu none Belanda..."
Nilam tampak masih takut mengatakan lebih banyak.
Iwan mengibaskan tangannya ke udara.
"Santai Kak, nggak bakal berani macam-macam sama Iwan."
Ujar Iwan.
Nilam tersenyum melihat adik iparnya yang sepertinya memang terbiasa melihat hantu.
Bik Surti menghampiri Iwan untuk mengambil ras ransel Iwan agar bisa dibawakan ke kamar yang digunakan sebagai ruang kerja Tomi.
"Bik, pohon besar depan itu rumah tua Belanda, dulu di sini sepertinya komplek orang Belanda ya?"
Tanya Iwan.
Bik Surti menganggukkan kepalanya.
"Betul sekali Tuan Muda."
Ujar Bik Surti.
Iwan mengulum senyum.
Sudah jelas, rumah penuh darah. Batin Iwan.
**--------------**
__ADS_1