
"Bu Nilam yakin akan menebang pohon itu?"
Tanya Bu Har pada Nilam yang siang hari akhirnya ke tempat Bu Har untuk menanyakan soal siapa yang bisa dimintai tolong menebang pohon.
"Saya yakin Bu, mertua saya juga setuju."
Kata Nilam.
Bu Har menghela nafas.
Lalu...
"Nanti coba saya tanya ke Mang Jarot, mungkin Mang Jarot bersedia, biasanya untuk menebang pohon sebesar itu butuh beberapa orang."
"Ya saya ikut saja, soal biaya mau berapa saja juga tidak masalah."
Ujar Nilam.
Bu Har mengangguk.
"Ya baiklah Bu Nilam. Nanti sore saya chat kalo sudah ada kabar."
Nilam terlihat senang sekaligus lega.
"Terimakasih Bu."
Kata Nilam.
Bu Har mengangguk.
Nilam kemudian membeli beberapa bahan makanan, macam mie instan, telur, dan juga kopi sachet. Biar saja untuk alasan tiba-tiba pergi ke tempat Bu Har, supaya Bik Surti tidak banyak tanya.
Nilam setelah selesai belanja, maka langsung pamit, terlalu lama di warung juga Ibunya Tomi tidak suka.
Nilam bergegas pulang ke rumahnya, Ibunya Tomi menyambut di pintu depan.
"Bagaimana?"
Tanya Ibunya Tomi.
"Nanti sore dikabari Bu, nanti mau ditanyakan dulu bisa atau tidak Pak Jarotnya."
Ujar Nilam.
Ibunya Tomi mantuk-mantuk.
"Semoga bisa, biar kalian nantinya bisa tenang tinggal di sini. Biaya nanti urusan Ibu, tenang saja."
Kata Ibunya Tomi.
Nilam mengangguk.
"Kasak-kusuk apa sih?"
Iwan muncul dari ruang dalam membawa segelas orange jus. Hari sebetulnya tak begitu terik, tapi tetap saja ingin minum es.
"Ikut-ikutan saja urusan perempuan."
Sahut Ibunya.
Iwan nyengir.
"Kadang perempuan kalau dibiarkan saja berbahaya soalnya."
Kata Iwan, yang begitu melewati sang Ibu langsung kena tabok lengannya.
Iwan tambah cekikikan.
"Ada keripik kentang Wan itu di lemari TV."
Ujar Nilam.
"Wah cocok Ka."
Iwan semangat.
"Hmm... kayak bocah saja makan keripik kentang."
Ibunya geleng-geleng kepala.
"Lha Iwan belum nikah ya masih bocah lah Bu."
Iwan membela diri.
"Iya bocah bandel kamu mah."
Nilam jadi ikut tertawa saat melihat Iwan jadi manyun.
Bik Surti tampak muncul pula dari ruang dalam, Nilam memberikan belanjaannya pada Bik Surti untuk disimpan di lemari dapur.
__ADS_1
"Kok beli mie instan lagi Nya? Kan yang kemarin belanja masih banyak."
Bik Surti heran.
"Oh nggak apa, kan ada Iwan."
Kata Nilam sembari menghindari tatapan menyelidik Bik Surti dan Iwan.
Nilam berjalan ke arah lemari TV dan mengambil dua bungkus keripik kentang untuk diberikan pada Iwan.
"Bik, buat nanti malam ada bahan apa untuk masak?"
Ibunya Tomi yang juga berusaha melindungi sang menantu lalu mengajak Bik Surti menuju ruang dalam.
Nilam menghela nafas.
Semoga saja Bik Surti tidak curiga sampai nanti Pohon itu ditebang.
Iwan sendiri setelah mendapatkan keripik kentangnya lantas pergi keluar rumah, ia memilih duduk di kursi teras, dan menatap pohon depan rumah.
Menatap pohon besar itu langsung terlihat bayangan masa lalu di mana banyak orang Belanda di bantai di sana.
Beberapa perempuan digelandang, dan ada yang dilecehkan di tempat lalu dieksekusi.
Kejahatan kemanusiaan nyatanya terjadi begitu mengerikan. Mungkin bukan hanya sejak VOC ada di bumi nusantara, atau kedatangan Nippon ke bumi Pertiwi, namun jauh sebelum itu juga bisa jadi begitu.
Iwan tiba-tiba merasa kepalanya begitu pening, terutama aroma anyir dan jeritan yang juga ikut mengganggunya.
Iwan yang memang memiliki kelebihan itu, bukan hanya bisa melihat hantu, namun juga bisa melihat gambaran masa lalu di tempat-tempat tertentu.
Dan...
Deg!!
Siapa tadi?
Iwan kaget luar biasa, saat sekelebat bayangan masa lalu seolah terpampang di depannya.
Ya...
Seorang pemuda tampan berlari-lari dengan wajah pucat.
Wajah itu...
Bang Tomi.
"Hari ini tidak usah masak, Abang mau ajak makan di luar."
Kata Tomi yang menghubungi Nilam lewat sambungan telfon.
"Ada acara apa Bang, kok tiba-tiba makan di luar?"
Tanya Nilam.
"Biar kamu nggak jenuh, biar bisa lupa semua hal buruk yang terjadi beberapa hari ini."
Kata Tomi.
Nilam yang duduk di tepi tempat tidurnya tersenyum.
"Nanti Nilam kasih tahu Ibu."
"Driver akan menjemput jam lima sore, jadi semua siap-siap ya, bilang ke Iwan juga."
Kata Tomi.
"Bik Surti bagaimana? Diajak juga kan?"
Tanya Nilam.
"Ya kalau kamu mau ajak Bik Surti tidak apa-apa."
"Nanti Nilam ajak saja, kasihan kan kalau ditinggal sendirian."
"Ya sayang."
"Jam lima berarti dua jam lagi, Nilam bilang ke Ibu dulu ya."
"Ok."
Setelah itu telfon pun terputus.
Nilam segera meletakkan hp nya di atas kasur, lalu beranjak dari sana untuk menyampaikan pesan Tomi pada mertuanya, dan juga pada Iwan serta Bik Surti.
Nilam baru keluar dari kamar saat ia mendengar Iwan dan Ibunya tengah bicara di ruang kerja Tomi.
Pintu ruangan itu tak ditutup rapat, hingga suara mereka bisa di dengar jelas dari luar ruangan.
"Maksud kamu apa sih wan?"
__ADS_1
Tanya Ibunya masih belum mengerti dengan apa yang sedang dibahas Iwan.
"Bang Tomi, Bu... Aku lihat seseorang yang wajahnya persis Bang Tomi tadi saat duduk di depan. Dia laki-laki di masa lalu. Aku melihatnya lari-lari dengan wajah pucat pasi."
Kata Iwan.
Jelas Iwan sangat yakin jika ada satu takdir yang membuat Tomi datang ke tempat itu, dan Tomi pasti ada hubungannya dengan laki-laki yang Iwan lihat dalam bayangannya.
Ibunya terkesiap,
"Kamu ini paling berimajinasi lagi."
Ujar ibunya.
Iwan menghela nafas.
"Bu... Iwan serius, lagipula sekarang Ibu percaya kan kalau hantu itu nyata ada. Dulu juga Ibu selalu bilang Iwan itu halu."
Kata Iwan.
"Ya, tapi gambaran masa lalu itu terlalu berlebihan Wan."
Iwan mengurut keningnya.
"Sungguh Bu, ini tidak akan berakhir sebelum Bang Tomi yang menemukan kuncinya. Kunci yang menghubungkannya dengan semua ini."
Ujar Iwan.
"Ah kamu ini membuat kepala Ibu pusing saja, sudahlah wan, hantu itu sudah disingkirkan Ki Marta, sebentar lagi Ibu juga akan merobohkan rumahnya."
Ibunya akhirnya malah keceplosan.
Mendengarnya bukan hanya Iwan yang kaget, tapi juga Nilam yang menguping.
Aduuuh Ibu kok malah bilang-bilang. Batin Nilam.
Ibunya terlihat sama kagetnya dengan mulutnya yang rem blong.
"Bu..."
Iwan menghampiri Ibunya.
"Apa Ibu bilang? Merobohkan rumahnya? Ah jangan katakan Ibu akan menebang pohon itu."
Iwan jelas terlihat tak setuju sama sekali.
Kepalang tanggung, Ibu sebagai orang yang lebih tua mana mau disalahkan, jadi sekalian saja Ibu mengangguk.
"Bu... ibu sadar tidak itu namanya Ibu mengajak perang lelembut."
Kata Iwan.
"Sudahlah Wan, lagipula pohon itu sudah tua, kalau ada angin besar lalu roboh, itu akan bahaya."
Kata Ibu.
"Mustahil pohon sebesar itu tumbang karena angin ibu."
"Mustahil bagaimana? Dahannya saja kalau jatuhin rumah bisa bocor."
Kesal Ibu.
Iwan geleng-geleng kepala.
"Tidak Bu, pokoknya Iwan menentang keputusan Ibu."
Ujar Iwan.
"Kamu nggak kasihan sama Kakak iparmu, dia yang diteror terus."
"Justeru karena itu Iwan ingin carikan solusi."
"Ya itu tebang saja pohonnya."
Ibunya ngeyel.
"Tidak Bu, Iwan akan bicara dengan Bang Tomi."
Sungut Iwan.
Haiiish ... Ibunya mendesis.
"Kamu ini...selalu bikin Ibu kesal."
Ibu juga jadi menggerutu.
Kemudian Iwan...
**--------------**
__ADS_1