Kisah Hantu LESTARI

Kisah Hantu LESTARI
60. Kejujuran


__ADS_3

Damar mengulurkan tangannya, mengusap wajah Lestari agar air matanya berhenti mengalir.


Sakit rasanya hati melihat sang kekasih selama ini tak tenang karena menunggunya.


Gentayangan di dunia yang sudah seharusnya ia tinggalkan sejak lama.


Lestari menatap sayu Damar yang duduk di depannya.


"Apa yang ingin kau sampaikan Bang? Sampaikanlah, aku akan dengarkan."


Kata Lestari.


Damar menghela nafas.


Kini ia menatap jemari Lestari yang ada di pangkuan, diraihnya jemari itu, jemari yang masih lembut seperti dulu, hanya saja tak lagi hangat, dingin, sangat dingin.


Damar mencium jemari itu, dicobanya menahan air mata agar tak jatuh, ia ingin terlihat tegar, setelah sekian lama Lestari bertahan untuk dirinya, bagaimana bisa ia sebagai pria justeru memperlihatkan sisi lemahnya.


Dan...


Damar menatap Lestari lagi.


Keduanya saling bertatapan lagi.


"Lestari, apa kau sungguh lupa dengan penyebab kematianmu sayang?"


Tanya Damar akhirnya.


Lestari terdiam, setelah sekian detik baru ia mengangguk.


Damar semakin mengeratkan genggaman tangannya.


"A... Aku... Akulah yang membunuhmu Lestari."


Akhirnya...


Akhirnya pengakuan itupun meluncur dari mulut Damar sendiri, suaranya bergetar, sama halnya dengan genggaman tangannya pada tangan Lestari.


Lestari menatap nanar sang kekasih.


Tentu saja ia tak langsung percaya, sulit membayangkan ia dulu benar mati karena Damar.


Namun...


Tiba-tiba ingatan Lestari seolah masuk dalam kepalanya, seiring dengan Lestari merasa kepalanya sangat pusing.


Flashback,


Hari itu Lestari semalaman tak mampu memejamkan mata, takut jika Damar akan kenapa-kenapa membuatnya tak tenang.


Lestari berbaring di atas lantai loteng yang berdebu namun tak dihiraukannya.


Ia menangis, merindukan dan menghawatirkan sang kekasih hati.


Aku akan menunggunya sampai kapanpun. Aku akan menunggunya datang, meski aku mati di sini. Batin Lestari.


Hingga kemudian, begitu pagi menjelang dan Lestari baru saja merasa lelah dan mulai mengantuk, tiba-tiba...


Lestari yang masih bertahan di dalam loteng mendengar ada suara yang berusaha membuka pintu, iapun lantas langsung bergerak dari posisinya berbaring.


Khawatir itu adalah orang-orang Jepang dan orang Indonesia yang akan membunuhnya, Lestari dadanya berdegup sangat kencang.


Dan ketika pintu loteng itu terbuka, Lestari menatap pintu itu dengan ketakutan yang teramat.


Tapi...


Lestari begitu lega, karena kemudian yang berdiri di sana adalah Damar.


Ya Damar, sang kekasih yang telah mengambil seluruh bagian dari dirinya.


Hatinya dan juga kesuciannya.


Lestari tampak menyambut Damar dengan begitu bahagia.


"Bang..."

__ADS_1


Panggil Lestari, sambil terlihat langsung berdiri dan berlari menghambur ke arah Damar.


Dipeluknya Damar sang kekasih hatinya dengan segenap perasaan.


"Syukurlah... syukurlah kau kembali, jangan pergi lagi... Jangan pergi lagi... aku takut."


Kata Lestari.


Namun, Damar yang kali ini datang seperti bukan Damar yang sebelumnya pergi.


Wajahnya pucat, matanya merah dan berkaca-kaca.


Ia terus menatap Lestari, pelukannya pada Lestari terasa terlalu erat dan tubuhnya bergetar seolah menahan sedih, takut dan banyak hal lain yang Lestari tak mengerti.


"Ada apa? Kenapa wajah Bang Damar begitu pucat? Abang sakit?"


Tanya Lestari lembut dan begitu penuh kasih sayang mengusap wajah Damar.


Tentu saja Lestari tak ingin Damar sakit, jika toh harus ada yang sakit di antara mereka berdua, maka Lestari ingin dia saja yang sakit.


Namun bukannya menjawab pertanyaan Lestari, malah Damar meraih tangan Lestari, dan menciuminya sambil mulai menangis.


"Ada apa sebetulnya Bang?"


Tanya Lestari semakin bingung.


Belum lagi Damar mampu bersuara, tiba-tiba terdengar dari luar serentetan suara tembakan ke arah rumah.


Lestari langsung ketakutan.


Ia menatap Damar dalam ketakutannya yang luar biasa.


"Keluar!! Sudah lebih dari lima menit!!"


Bentakan dan teriakan menyusul terdengar setelah serentetan tembakan yang menghancurkan seisi rumah.


Mereka kemudian mulai meringsek.


Damar mendorong Lestari semakin masuk ke dalam ruangan loteng itu.


Dipeluknya kemudian Lestari dengan erat.


"Aku mencintaimu Lestari, percayakah kau jika aku sangat mencintaimu?"


Bisik Damar sambil tetap memeluk Lestari.


Lestari yang dalam ketakutannya dan berada dalam pelukan Damar menjawab.


"Ya, tentu saja aku percaya..."


Lirih Lestari.


Damar semakin mengeratkan pelukannya, hingga nyaris membuat Lestari tak mampu bernafas.


Tiba-tiba, Damar berbisik di telinga Lestari,


"Berisitirahatlah yang tenang di sini Lestari, aku akan datang kepadamu setelah membalaskan dendamku."


Kata Damar.


Lestari yang tak mengerti maksud dari perkataan Damar hendak bertanya, namun...


"Ah..."


Lestari tiba-tiba merasakan sesuatu yang tajam menembus perutnya.


Sakit...


Sakit sekali.


Damar menangis tersedu-sedu, sambil tetap memeluk Lestari, sesuatu yang tajam kembali ditusukkan Damar ke perut Lestari untuk kedua kalinya.


Darah mengucur deras dari perut Lestari. Mata Lestari menatap ke atas, sekujur tubuhnya dalam pelukan Damar mengejang.


Damar terus mengeratkan pelukannya, sambil kemudian menjerit sekuat tenaga.

__ADS_1


Ada apa?


Kenapa Bang Damar menusukku?


Aku salah apa?


Aku mencintainya dan memberikan semuanya?


Aku menunggunya di sini seperti yang ia inginkan, tapi kenapa aku malah dibunuh?


Apa dia sudah bosan denganku?


Apa dia tak lagi mencintaiku?


Apa yang salah?


Apa karena aku keturunan Belanda yang dianggap telah menjajah di Negerinya?


Salahku apa?


Bukankah aku juga mengalir darah Ibu Soemitri yang berdarah Nusantara juga?


Tubuh Lestari semakin lama semakin melemah karena kehilangan banyak darah, nafasnya yang tersengal-sengal pelahan mereda lalu berhenti sama sekali.


Dan sebuah kekuatan seolah menarik paksa Lestari dari raganya.


Lestari menjerit sekuat tenaga karena rasanya sakit luar biasa.


Rasa sakit yang seratus kali lipat dari saat perutnya ditusuk.


Mata Lestari meremang, manakala dilihatnya tubuhnya tergolek bersimbah darah.


Lestari menjerit, dan kekuatan yang entah datang dari mana menariknya, melemparkannya jauh keluar.


Bang Damar...


Bang Damar...


Lestari memanggil nama Damar.


Flashback berakhir.


Lestari menatap Damar di depannya yang kini menangis meraung seolah merasakan dadanya begitu sakit dan sesak.


"Aku sangat mencintaimu, dan aku terlalu takut kau dibawa pasukan Jepang yang kapan saja bisa jadi budak mereka."


Damar menangis.


"Aku tahu ini tidak adil, tapi aku tak tahu harus bagaimana lagi menyelamatkanmu hari itu. Aku... tak mampu melawan kekuatan Ayah yang ingin memilikimu, aku juga tak mampu melawan pasukan Jepang sendirian saat itu."


Damar mengatakannya sembari menangis dan menggenggam tangan Lestari.


Lestari kembali berurai air mata.


Saking cintanya ia pada Damar, ia memang tak mampu mengingat apa yang dilakukan Damar padanya.


Yang terkenang dan terekam dalam ingatannya adalah semua hal baik Damar padanya.


Tatapan lembutnya, sentuhan penuh cintanya, tutur katanya yang sarat kasih, pelukannya yang hangat dan menenangkan.


Lestari terisak di tempatnya.


Haruskah ia membenci Damar karena ternyata laki-laki benar sudah membunuhnya, tapi...


"Aku mencintaimu Lestari, aku hanya ingin kau tak pernah bisa ternoda oleh laki-laki manapun lagi."


Ujar Damar, membuat hati Lestari tak mampu merasakan benci.


Lestari memeluk Damar.


"Aku lelah Bang, aku sudah dengar semua yang ingin kau sampaikan, aku menerimanya... jika itu memang alasannya, aku menerimanya."


Kata Lestari.


Damar terharu, dan...

__ADS_1


💦💦💦💦💦


__ADS_2