Kisah Hantu LESTARI

Kisah Hantu LESTARI
26. Kisah Hantu Lestari


__ADS_3

Flashback 1942,


Damar semalaman tak bisa tidur dengan nyenyak, gelisah hati sebagaimana kebanyakan orang yang sedang jatuh cinta.


Setiap kali mata terpejam, selalu Lestari dan senyumannya yang begitu menawan yang terbayang di pelupuk mata.


Ya, Damar rasanya sudah benar-benar tergila-gila pada sosok gadis berdarah Belanda itu.


Ia sungguh-sungguh menginginkannya.


"Mar, kenapa kau tidak tidur?"


Samsul yang tiba-tiba terbangun terdengar bertanya kala melihat Damar yang duduk bersandar pada dinding kayu papan kamar mereka.


Samsul memang tidur satu kamar dengan Damar sejak Damar datang ke padepokan itu.


Damar menghela nafas.


Samsul yang langsung paham dari ekspresi wajah Damar yang terlihat samar-samar karena cahaya lampu teplok di kamar mereka itu akhirnya memutuskan ikut bangun dan duduk di sebelah Damar.


"Memikirkan Lestari?"


Tanya Samsul.


Damar mengangguk.


"Nyatakan saja perasaanmu, aku rasa dia juga sama menaruh rasa padamu Damar."


Ujar Samsul.


Damar mengangguk.


"Ya Sul, aku juga bisa merasakannya, karena itulah aku semakin ingin memilikinya."


Kata Damar.


Samsul mantuk-mantuk.


"Tak ada yang salah, kau dan dia sama-sama lajang, masih muda, kau tampan dan dia juga cantik, kalian sangat serasi."


Ujar Samsul memuji.


Damar tertawa kecil.


"Bukan itu yang aku pikirkan."


"Lantas apa?"


Tanya Samsul heran.


Damar menatap susunan genteng di atas sana, ada kegelisahan terpancar begitu ketara pada wajahnya.


"Aku ingin menikah dengan Lestari. Tapi mungkinkah Ayah merestui aku menikah? Sementara aku dimintanya belajar di padepokan ini untuk menyiapkan diri sebagai penerusnya, bukan untuk bermain dengan perempuan."


Lirih Damar.


"Seorang pembisnis juga butuh perempuan untuk dijadikan isteri, apa yang salah?"


Samsul semakin tidak mengerti.


"Jaman sudah berubah Sul, sekarang bangsa Belanda kembali berada di bawah, Negeri mereka diduduki Jerman, sementara di tanah jajahan mereka juga di usir Jepang. Mereka sudah tak memiliki power, penyerahan tanah jajahan pada pihak Jepang tanpa syarat sama sekali di Kalijati tanggal delapan Maret lalu membuktikan bahwa mereka kini bukan lagi apa-apa, itu pasti akan menjadi pengaruh penilaian Ayah soal Lestari jika aku menginginkannya menjadi isteri. Bisa jadi Lestari akan dianggap tak layak dipilih karena hanya akan menghancurkan reputasi keluarga."

__ADS_1


Damar begitu terbawa suasana hatinya, bicara panjang lebar seolah meluapkan semua ganjalan dalam dirinya.


"Tapi Lestari tidak murni orang Belanda, Ibunya dia orang kita Mar."


Kata Samsul.


"Tapi ia ketara sekali memiliki darah orang Belanda, dan lagi dia adalah anak sahabat Ayah."


Sahut Damar.


"Justeru karena dia anak sahabat Ayahmu, aku rasa Ayahmu malah akan merestui kalian. Kau harusnya melihat dari sisi di mana ia sampai rela melarikan Lestari ke padepokan ini, menyembunyikannya di sini agar aman, agar tak sampai diburu sebagaimana perempuan keturunan Belanda yang lain."


Ujar Samsul.


Damar terdiam.


Benarkah?


Mungkinkah Ayahnya nanti akan merestui jika ia mengatakan soal keinginannya menikahi Lestari?


Batin Damar terus bertanya-tanya.


"Atau kau cobalah bicara pada Ki Gedhe Tirtayasa lebih dulu, meminta pendapatnya sebagai seorang tua yang bijaksana, beliau pasti akan dengan senang hati memberikan masukan Mar, besok kau temui saja beliau, jika menurut beliau tidak apa-apa, maka sekalian saja kau mintakan Ki Gedhe Tirtayasa untuk menyampaikannya pada Ayahmu."


Kata Samsul.


Damar memikirkan saran Samsul dengan sungguh-sungguh.


Tampaknya saran itu adalah saran yang baik, Damar rasanya memang harus segera menyampaikannya agar ia bisa tenang dan lega.


Cintanya yang menggebu membuatnya begitu gelisah, karena rasa ingin memiliki atas diri Lestari membuat Damar juga takut bila kelak ia akan tak kuasa menahan diri.


Ia ingin menikahi Lestari, hanya itu caranya agar keinginannya tak menjadi sebuah kejahatan.


Ia terus saja menatap bunga sedap malam pemberian Damar untuknya.


Aromanya yang harus memenuhi setiap sudut kamar dan hatinya, membuat Lestari semakin tak kuasa menahan rindu pada Damar.


Ah lucu memang, padahal baru sore tadi mereka bicara sambil menikmati kelapa muda bersama para emban dan juga Samsul abdi sekaligus teman sepermainan Damar.


Tapi...


Malam ini...


Lestari sudah mulai merindukan Damar lagi.


Wajah tampannya, senyumannya yang begitu tenang, tatapan matanya yang teduh, semua seolah membayangi Lestari sedemikian rupa.


"Ah Bang Damar..."


Lestari malu-malu menyebutkan nama itu.


Sungguh ia kini dilanda kasmaran.


**--------------**


Pagi hari selepas subuh, tiba-tiba Ki Gedhe Tirtayasa meminta Damar pergi ke kebun lagi untuk melihat apakah ada pohon Nangka di sana yang berbuah.


Ki Gedhe Tirtayasa ingin Damar membawa Nangka yang sudah matang dan juga yang masih mentah agar bisa sebagian dijual dan sebagian lagi untuk dijadikan persediaan makanan di padepokan.


Mendapat perintah dari Ki Gedhe Tirtayasa seperti itu akhirnya Damar bersama Samsul pergi ke kebun yang di hari sebelumnya mereka mendapatkan kelapa.

__ADS_1


Damar berniat, sepulang dari kebun, Damar akan menemui Ki Gedhe Tirtayasa untuk menyampaikan tentang keinginannya menikahi Lestari secepatnya.


Sementara itu...


Di kala Damar diminta pergi ke kebun yang letaknya jauh dari padepokan. Ki Gedhe Tirtayasa meminta Lestari berkemas untuk dipindahkan ke tempat lain.


Tempat yang masih milik Ki Gedhe Tirtayasa namun di urus anak bungsunya.


"Kenapa tiba-tiba saya harus dipindahkan Ki?"


Tanya Lestari yang tentu saja sedih luar biasa karena harus meninggalkan tempat di mana ia bisa tinggal bersama sang kekasih.


"Tidak apa-apa, di tempat anakku, kau akan lebih aman dan di sana kau bisa belajar lebih banyak sebagai perempuan."


Kata Ki Gedhe Tirtayasa.


Lestari tampak kedua tangannya yang berada di atas pangkuan meremas kain yang ia kenakan. Menahan diri menangis meski akhirnya tak bisa.


"Kapan saya harus pergi?"


Tanya Lestari.


"Sebentar lagi ada yang menjemputmu, untuk itu cepatlah berkemas."


Jawab Ki Gedhe Tirtayasa.


Lestari matanya meremang. Namun apa yang bisa ia lakukan?


Tentu saja ia tak memiliki hak apapun untuk menolak.


Selain ia hanyalah seseorang yang dititipkan, ia juga seorang keturunan Belanda yang pastinya masih bisa hidup hingga saat ini saja sudah harus disyukuri.


Lestari pun dengan berat hati menerima keputusan Ki Gedhe Tirtayasa yang begitu tiba-tiba itu.


Ia undur diri dari ruangan Ki Gedhe Tirtayasa lalu menuju kamarnya untuk berkemas.


Nyi Esih yang sedikit curiga kenapa Lestari dipanggil ke ruangan Ki Gedhe Tirtayasa pagi-pagi sekali setelah Damar dan Samsul pergi ke kebun akhirnya menyusul Lestari masuk ke dalam kamar.


Dan tentu saja Nyi Esih terkejut melihat Lestari bersimpuh di lantai sambil mengemasi barang-barang bawaannya lagi.


"Lestari, apa yang terjadi?"


Tanya Nyi Esih sembari mendekati Lestari.


Tampak Lestari menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak tahu Nyi, tiba-tiba aku harus pindah dari sini, aku akan tinggal di rumah anak bungsu Ki Gedhe Tirtayasa."


"Lho..."


Nyi Esih melongo.


Lestari menangis sesenggukan. Dadanya begitu sesak karena tak ingin jauh dari Damar.


Ki Gedhe Tirtayasa di ruangannya menghela nafas. Jari tangannya di ketuk-ketukkan di atas meja kayu di depannya di mana ia duduk sila di atas tikar.


Ki Gedhe Tirtayasa harus melakukan ini karena ia ingin melindungi Damar dan Lestari agar tak sampai semakin jatuh cinta lalu harus berhadapan dengan Tuan Ageng Parta Prawira yang lebih dulu mencintai Lestari.


Tentu ini keputusan yang akan dianggap tidak adil karena menghalangi dua anak muda yang saling mencintai.


Tapi...

__ADS_1


Ki Gedhe Tirtayasa tak mau ada masalah yang jauh lebih besar pada keduanya jika tetap nekat bersatu.


**--------------------**


__ADS_2