
"Kamu apa Bang?"
Nilam mendekati Tomi.
Tomi terlihat mengurut kening.
Nilam meraih lengan Tomi.
"Jangan bikin Nilam takut Bang."
Kata Nilam.
Tomi menghela nafas.
"Sudahlah, sepertinya kita memang harus pindah, benar kata Ibu."
Ujar Tomi akhirnya.
Nilam mengangguk setuju.
"Ya Bang, ayo kita pindah saja dari sini."
Kata Nilam.
Tomi pun segera merapikan diri lalu bersiap berangkat ke kantornya.
Hari sudah terlalu siang untuk sarapan, maka Tomi memilih membawa bekal saja dan makan di jalan.
Nilam menyediakan sarapan Tomi dan mengantar Tomi hingga suaminya masuk mobil.
"Hati-hati Bang."
Kata Nilam.
Tomi mengangguk.
Diraihnya kepala Nilam untuk kemudian ia cium lembut keningnya.
"Kami juga hati-hati di rumah. Jangan jauh-jauh dari Ibu dan Iwan, yah."
Kata Tomi.
Nilam mengangguk.
Tomi masuk ke dalam mobil yang sudah siap berangkat.
Pak Dadang di balik kemudi terlihat mengangguk saja pada Nilam.
Nilam melambaikan tangannya pada Tomi.
Mobil melaju pelahan meninggalkan halaman rumah.
Iwan di dalam rumah, di ruang makan sibuk menikmati sarapannya.
Nasi lauk tumis kacang panjang dan telur dadar serta tahu kulit digoreng biasa, sementara untuk tambahannya ada Nuget ayam.
Nilam kembali masuk ke dalam rumah, menutup pintunya dan menguncinya.
Sebetulnya ia tahu jika usaha mengunci pintu seperti itu sia-sia saja bagi hantu, tapi tetaplah Nilam merasa harus melakukannya sebagai bentuk ikhtiar.
"Kamu sarapan dulu Nilam."
Kata Ibu yang terlihat keluar dari ruang kerja Tomi.
"Iya Bu."
Sahut Nilam.
"Makan yang banyak, jangan sampai sakit."
Kata Ibu lagi.
Nilam mengangguk.
Nilam akhirnya berjalan masuk ke ruang makan, di sana tampak Iwan sedang makan dengan lahap.
Nilam duduk di salah satu kursi yang mengitari meja makan.
"Tumisnya pedes Ka, banyak ranjaunya, ni Ibu masak inget jaman Ayah perang kayaknya."
Kata Iwan.
Nilam yang mendengarnya jadi nyengir.
__ADS_1
Nilam pun mengambil piring dan akan menyendok nasi saat tiba-tiba Ibu muncul dari kamar mandi.
Melihat Ibu muncul dari kamar mandi, Nilam sontak melihat ke arah gorden pembatas ruangan di mana ia duduk dengan ruang depan.
Dan tanpa sadar piring di tangan Nilam pun merosot jatuh ke atas meja.
Klentang...
Iwan yang kaget tentu saja langsung tersedak.
Uhuk uhuk uhuk...
Iwan terbatuk dan segera meneguk air dari gelasnya.
Ibu tergopoh-gopoh menuju ke arah Nilam.
"Ada apa Nilam?"
Tanya Ibu.
Nilam menengok ke arah Ibu, wajahnya pucat pasi.
"Ta... Tadi di depan Nilam bertemu Ibu."
Nilam suaranya bergetar, takut setengah mati karena jelas-jelas tadi Ibu keluar dari ruang kerja Tomi.
Dan...
"Kenapa memangnya dengan Ibu? Apa yang terjadi?"
Tanya Ibu yang jadi ikut panik.
Uhuk uhuk uhuk...
Iwan masih saja terbatuk, membuat suasana jadi terasa semakin rusuh.
"Kamu ini kenapa sih Wan, malah berisik."
Kesal Ibu.
"Lah Ibu, anak lagi tersedak malah dikata berisik."
Iwan juga jadi kesal, ia bicara sembari menepuk-nepuk dadanya.
Belum lagi Iwan bicara lagi, tiba-tiba hp Ibu di saku daster berdering.
Ibu meraih hp nya, dan tampak nama Bibi Sundari.
Ibu lekas mengangkat panggilan itu.
"Ya Sun..."
Jawab Ibu sambil menyuruh Nilam minum air putih agar bisa lebih tenang.
"Aku sudah menemukan beberapa barang yang diminta Tomi, tapi aku hubungi Tomi tak ada respon."
Kata Bibi Sundari.
"Ya dia lagi jalan ke kantor."
Kata Ibu.
"Oh iya, mungkin dia sibuk. Aku kirim foto dulu Mbak Yu."
Ujar Bibi Sundari.
"Ya, kirimkan saja."
Kata Ibu cepat.
Iwan yang sudah mulai tidak batuk mendekati Ibu.
"Bibi?"
Tanya Iwan.
Ibu mengangguk.
**--------------**
Sementara itu, di perjalanan menuju kantor, Tomi terlihat menikmati sarapannya di dalam mobil.
Pak Dadang sendiri memilih sarapan di warkop saja nanti yang di dekat kantor.
__ADS_1
Mobil terus melaju menyusuri jalan, tapi anehnya jalan yang mereka lewati makin lama makin berbeda.
Pak Dadang yang mengemudi baru menyadari begitu ia melihat di jalan raya di mana mobil mereka kini meluncur yang terlihat bukanlah mobil seperti biasa, melainkan delman, sepeda dan becak.
Ada mobil lewat hanya satu, dua, motor apalagi, hampir tidak ada.
Belum lagi bangunan-bangunan di sisi kanan kiri jalan raya juga tak ada yang pak Dadang kenali sepanjang tinggal di kota ini.
"Apa ini? Kita nyasar ke mana?"
Tiba-tiba Pak Dadang bersuara.
Tomi yang sedang menggigit Nuget jadi kaget.
Ia menoleh pada Pak Dadang yang tampak panik.
"Ada apa Pak?"
Tanya Tomi.
"Kita... Kita ada di mana?"
Pak Dadang balas menatap Tomi.
Tomi yang masih belum paham akhirnya menatap jalanan di luar mobil mereka, dan terlihat semua yang pak Dadang lihat, yang tentu saja buat Tomi juga sangat asing.
"Lho... Ini kita di mana Pak?"
Pak Dadang akhirnya menepikan mobilnya, mobil mereka berhenti di depan sebuah toko dengan tulisan Jepang yang tutup.
Tomi turun dari mobil, begitu juga Pak Dadang.
Mereka berdua celingak-celinguk seperti anak ayam yang tersesat.
Jalanan begitu lengang, hanya ada beberapa delman yang melintas.
Sejak kapan kota ini mulai dipenuhi delman lagi? Batin Tomi bertanya-tanya.
Belum lagi tanyanya terjawab, ia makin bingung saat melihat beberapa pemuda melintas menaiki sepeda ontel dengan celana pendek dan kemeja lengan pendek berwarna putih.
Beberapa pemuda itu terlihat mengayuh sepedanya dengan cepat.
Tomi melihat mereka dengan kening berkerut-kerut.
Kenapa tiba-tiba ia merasa seperti melihat pemandangan di masa lalu, masa tahun 1940an.
Hingga kemudian tiba-tiba ada seorang laki-laki tua seperti pengemis lewat.
Ia mengulurkan tangannya pada Tomi seolah meminta sedekah.
Tomi yang melihat laki-laki tua itu begitu kurus kering menjadi iba.
Ia ingat di dalam mobil masih ada bekal makan siang miliknya.
Tomi pun segera mengambil bekal itu, lalu memberikannya pada laki-laki tua tersebut.
Tak lupa Tomi juga memberikan selembar uang lima puluh ribu kepada si laki-laki tua.
Laki-laki tua itu kebingungan melihat kotak makan siang yang Tomi berikan, dan lebih bingung lagi saat melihat selembar uang lima puluh ribuan.
Laki-laki tua itu memandang Tomi, begitu juga Tomi yang memandang laki-laki tua itu dengan bingung.
Keduanya sama-sama bingung.
Lalu...
"Tuan dari mana?"
Tanya Laki-laki tua pada Tomi.
"Saya? Saya dari rumah, mau kerja, ini driver saya."
Kata Tomi.
Laki-laki tua itu menggeleng.
"Sepertinya anda tersesat kemari."
Laki-laki tua itu tersenyum.
"Ada yang sengaja membawa kalian kemari."
Kata laki-laki tua itu pula.
__ADS_1
Lalu....
💦💦💦💦💦