Kisah Hantu LESTARI

Kisah Hantu LESTARI
33. Menyusul Samsul


__ADS_3

Bukgh!!


Samsul mendapat pukulan di wajah dan perut, darah mulai memenuhi sekujur tubuhnya dari muntahannya.


Tapi Samsul tetap memilih bungkam. Melihat apa yang dilalukan Tuan Ageng Parta Prawira ini membuat Samsul semakin jelas melihat sosok laki-laki dengan nama besar itu nyatanya bersifat persis penjajah.


Tak heran ia bisa sukses di kala banyak orang menderita, dan ia juga bisa sangat dekat dengan orang-orang Belanda.


Sifat dan perangainya berkebalikan dengan sosok Damar sang putra, yang baik dan hangat pada siapa saja, Damar pasti menuruni sifat sang Ibu, mustahil ia menuruni sifat Ayahnya yang menghalalkan semua cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.


Dan...


Tuan Ageng Parta Prawira kini mengarahkan senjata api ke arah kepala Samsul.


"Katakan di mana Lestari? Dia tidak ada di padepokan, dan Damar juga jelas tadi bersamamu, ke mana mereka?"


Tanya Tuan Ageng Parta Prawira.


Samsul menyeringai dalam kesakitan tubuhnya.


Ia tak takut mati, daripada menjadi penghianat sahabat yang sudah macam saudara baginya, lebih baik Samsul memilih mati.


Mati jauh lebih mulia, daripada membuka mulut menjadi penghianat.


Darr!!


Tak sabar lagi, Tuan Ageng Parta Prawira akhirnya menembakkan peluru senjata apinya tepat ke arah dada samsul.


Samsul yang diikat kedua tangan dan kakinya terlihat mengejang, dan tembakan kedua melesat lagi ke arah dada sebelahnya, yang akhirnya mengakhiri hidup Samsul.


Samsul tewas sebagai seorang sahabat, saudara dan sekaligus abdi setia Damar.


"Buang dia ke kali, paling-paling jika ditemukan orang, dikira dia dibunuh Jepang."


Kata Tuan Ageng Parta Prawira dingin.


Ia kemudian berjalan masuk kediamannya, para algojonya kemudian melepas ikatan Samsul untuk menuruti perintah sang Tuan guna membuang mayatnya.


Esok paginya di padepokan Ki Gedhe Tirtayasa, tampak Ki Gedhe Tirtayasa bersiap menuju kediaman Tuan Ageng Parta Prawira.


Sementara Damar dan Lestari sudah diungsikan sebelum subuh dengan dibantu warga desa yang mengantar ke tempat pengasingan mereka ditemani Mang Dayat.


"Aku tanya sekali lagi Mang, aku dengar kalian menyebut nama Samsul, kenapa dia sebetulnya?"


Tanya Damar pada Mang Dayat saat mereka dalam perjalanan menuju rumah milik Mang Dayat yang akan ditempati Damar dan Lestari sementara waktu.

__ADS_1


Damar begitu penasaran dan khawatir, jika sesuatu yang buruk terjadi pada Samsul.


"Tenanglah Tuan Muda, semua akan baik-baik saja karena Ki Gedhe Tirtayasa yang akan turun tangan."


Kata Mang Dayat mencoba menenangkan Damar.


Lestari yang duduk di samping Damar menatap wajah Damar dengan tatapan polos, Damar yang menyadari dirinya ditatap sang kekasih akhirnya meraih tangan Lestari dan kemudian menggenggamnya erat.


Lestari tak mengatakan apapun sepanjang perjalanan, meski sejatinya hatinya terus bertanya-tanya kenapa seolah semua begitu semrawut, tapi ia merasa itu karena ia adalah keturunan Belanda.


Sampai di tempat yang dituju, mereka segera turun.


"Terimakasih Mang, sebaiknya Mamang langsung kembali saja ke Cirebon."


Ujar Mang Dayat pada salah satu penduduk yang dimintai tolong Ki Gedhe Tirtayasa untuk mengantar Damar dan lainnya.


Mang Dayat kemudian mengajak Damar dan Lestari bergegas menuju komplek perumahan Belanda yang telah kosong.


Suasananya begitu sepi dan terkesan angker.


Komplek perumahan para elite Belanda ini lumayan jauh dari lokasi desa dan lebih dekat dengan pabrik gula yang mangkrak serta kebun tebu yang sepertinya sudah habis dijarah dan tak lagi ada yang memelihara.


Pergeseran kekuasaan dari Belanda ke Jepang nyatanya membuat semua peninggalan Belanda tak terurus.


Jepang lebih mementingkan garapan bahan pangan seperti padi untuk memasok makanan ke daerah-daerah yang ada tentara Jepang sedang berperang melawan sekutu demi Asia Timur Raya.


"Saya yakin di sini akan aman Tuan Muda, semua orang sudah habis dibunuh dan ditangkap, komplek ini tak akan terjamah oleh siapapun. Siang nanti sesuai keputusan Ki Gedhe Tirtayasa pagi tadi, saya akan menyusul beliau ke Kuningan, memastikan Samsul baik-baik saja."


Ujar Mang Dayat seraya menata beberapa bungkus bahan makanan yang diberikan isteri Ki Gedhe Tirtayasa sebagai bekal.


"Tiga hari sekali saya akan datang untuk mengantar makanan, anda dan Lestari untuk sementara bersembunyilah di sini, sambil Ki Gedhe Tirtayasa memikirkan jalan keluar lain."


Kata Mang Dayat.


Damar yang tak punya pilihan apapun selain menurut pada keputusan Ki Gedhe Tirtayasa yang telah merelakan diri membelanya akhirnya mengangguk.


Mang Dayat tersenyum melihat Tuan mudanya.


Nyatanya, jika kelak Damar bisa menjadi seorang Tuan besar sebagaimana Ayahnya, ia pasti akan menjadi Tuan yang dicintai sekaligus dihormati para abdinya.


Mang Dayat akhirnya permisi karena harus segera menyusul Ki Gedhe Tirtayasa ke kediaman Tuan Ageng Parta Prawira.


**------------**


Brakk!!

__ADS_1


Tuan Ageng Parta Prawira menggebrak meja ruangan istirahatnya, manakala seorang abdi menyampaikan kedatangan Ki Gedhe Tirtayasa.


"Untuk apa dia kemari?"


Gerutu Tuan Ageng Parta Prawira sambil akhirnya keluar dari ruangannya dan menuju pendopo di mana Ki Gedhe Tirtayasa kini duduk bersila menunggunya.


"Untuk apa kau ke mari Ki?"


Tanya Tuan Ageng Parta Prawira sembari menuju kursi kebesarannya.


Di kala Ki Gedhe Tirtayasa yang selain lebih tua dan juga memiliki ilmu lebih tinggi darinya duduk bersila di atas lantai, Tuan Ageng Parta Prawira justeru duduk di kursi sebagaimana Raja.


"Saya datang untuk menjemput Samsul Tuan, saya minta dengan baik-baik untuk melepaskan anak yatim piatu itu, dia sungguh tak tahu menahu soal anda dan putra anda yang memperebutkan gadis Belanda."


Tuan Ageng Parta Prawira tertawa.


"Ki, kau pikir aku anak kecil yang bisa kau bodohi hah? Bagaimana bisa orang yang ikut mengantar Damar ke tempat ini kemarin tak tahu menahu soal masalah yang terjadi."


"Dia hanya mengantar saja."


"Aah pembohong, ternyata kau tak lebih dari seorang tua pembohong."


"Tuan Ageng Parta Prawira, sadarlah Tuan, ini hanya masalah gadis kecil saja, kenapa anda seperti menjadi begitu hilang kendali."


Ki Gedhe Tirtayasa seolah sudah tak mampu lebih sabar.


"Tak usah menggurui aku Ki, aku lebih tahu apa yang aku inginkan dan aku butuhkan. Aku yang lebih berhak memutuskan siapa yang ingin aku miliki dan siapa yang harus aku singkirkan."


Tuan Ageng Parta Prawira berdiri.


"Samsul sudah mati semalam, kau carilah dia di kali, aku lelah, aku mau tidur."


Setelah mengucapkannya, Tuan Ageng berbalik untuk kembali ke ruangannya.


Namun, Ki Gedhe Tirtayasa yang geram luar biasa melihat sikap Tuan Ageng Parta Prawira itu akhirnya terpaksa menerjang Tuan Ageng dengan cepat dari arah belakangnya.


Tuan Ageng Parta Prawira pun sukses tersungkur.


Ki Gedhe Tirtayasa mengepalkan tinjunya dengan penuh amarah, lalu dihantamnya wajah Tuan Ageng Parta Prawira berkali-kali.


Sayangnya, Ki Gedhe Tirtayasa seolah lupa ia tengah berada di mana.


Seorang abdi Tuan Ageng Parta Prawira tiba-tiba dari arah samping menusukkan senjata tajam ke punggung Ki Gedhe Tirtayasa.


Ki Gedhe Tirtayasa yang ditusuk dari belakang terlihat menoleh ke arah sang abdi yang baru saja menusuknya.

__ADS_1


Tubuh Ki Gedhe Tirtayasa limbung, dan kesempatan itu digunakan langsung oleh Tuan Ageng Parta Prawira untuk menusuk Ki Gedhe Tirtayasa berulangkali hingga akhirnya laki-laki berwibawa itupun menyusul Samsul.


**------------------**


__ADS_2