Kisah Hantu LESTARI

Kisah Hantu LESTARI
57. Hutang Maaf


__ADS_3

Pak Dadang di tempat Ki Martha masih terlihat seperti kesurupan, dia berguling-guling sambil teriak-teriak.


Ia seperti melihat Bik Surti, perempuan mirip Bik Surti yang kepalanya hancur itu berjalan mendekati Pak Dadang.


"Kau juga harus ikut aku Pak Dadang..."


Kata hantu Bik Surti.


Ki Martha yang melihat kedatangan hantu Bik Surti langsung meminta tolong Jin pengikutnya untuk menyingkirkan hantu Bik Surti.


Jin itupun cepat melesat menyambar tubuh hantu Bik Surti dan membawanya jauh dari sana.


Hantu Bik Surti menjerit-jerit berusaha melepaskan diri, namun percuma saja karena cengkraman jin pengikut Ki Martha sangatlah kencang.


Ki Martha kemudian membakar dupa yang seketika langsung memenuhi ruangan rumahnya.


Ki Martha menatap sekeliling, mengawasi bilamana ada gangguan lagi.


Setelah yakin tak ada yang datang, ia lalu meletakkan tangannya di atas kepala Pak Dadang.


Terlihat mulutnya yang dipenuhi sirih komat-kamit membaca mantra.


Dan...


Cuiih!!


Cuiiih!!


Ki Martha menyemburkan ludah berwarna merah ke arah wajah Pak Dadang.


Pak Dadang menggelepar.


"Panaaaas... Panaaas..."


Teriak Pak Dadang.


Ki Martha kembali meraih kepala Pak Dadang yang kini dipegangi asisten Ki Martha.


Ki Martha komat-kamit lagi.


"Keluar hey demit gundul."


Kata Ki Martha.


Lalu...


Plakk!!


Pok!!


Ki Martha menabok dan mengemplang kepala Pak Dadang, yang seketika demit gundul yang bersembunyi di tubuh Pak Dadang pun keluar.


Demit gundul itu cekikikan.


"Kenapa kau tertawa Ndul?"


Tanya Ki Martha.


"Maaf Ki, aku tak tahu apa-apa, jadi jangan tanya apa-apa padaku."


Kata demit gundul yang bersiap akan melompat pergi namun Ki Martha lebih dulu menangkap kakinya.


"Kau disuruh siapa membawa orang ini masuk alam lelembut?"


Tanya Ki Martha.


"Ampun Kiii... ampun... Aku tidak ikutan, aku tidak ikutan."


Demit gundul menghiba.


Ki Martha bersiap menyabetkan kain penutup kepalanya yang telah ia buka dan terlihat banyak tulisan aneh di kain itu.


"Katakan, atau kau akan aku hancurkan saat ini juga!"


Kata ki Martha.


Demit gundul itupun akhirnya bersimpuh di depan Ki Martha.


"Ampun Ki... ampuuun..."


Kata Demit gundul.

__ADS_1


Ki Martha menatap tajam demit gundul.


"Aku diperintah hantu Mang Dayat, dia ingin laki-laki yang bernama Tomi itu melihat masa lalu kakeknya."


Demit gundul bertutur.


Ki Martha menghela nafas.


"Dia ingin laki-laki bernama Tomi itu bisa Kakeknya meminta maaf pada hantu Lestari yang sampai saat ini belum bisa tenang karena menunggu kekasihnya yang telah membunuhnya."


Lanjut demit gundul.


Ki Martha mantuk-mantuk.


Jadi ini yang menghubungkan Pak Tomi dengan hantu None Belanda itu.


Sesuatu yang mengikatnya adalah dosa dari Kakek nya.


Ki Martha akhirnya melepaskan demit gundul.


"Sebetulnya ini hanyalah kebetulan, Surti membaca mantera terlarang untuk mengganggu majikan barunya, namun justru membuat Lestari kembali terusik. Padahal, tanpa Surti mengusik pun, mereka, Lestari dan Tomi memang sudah digariskan harus bertemu karena ada ikatan yang harus diputus sekarang."


Kata ki Martha.


Lalu...


Ki Martha menatap Pak Dadang yang kini muntah-muntah.


Wajahnya pucat pasi.


Ki Martha kemudian meminta staf kantor Koperasi dan beberapa orang dari pasar yang mengantar Pak Dadang ke rumahnya itu agar membawa pak Dadang ke Rumah sakit.


"Saat ini ia sudah tidak lagi diganggu mahluk halus, sekarang tinggal urusan dokter yang harus menangani pak Dadang, bawalah dia, aku akan ke rumah milik Koperasi."


Kata Ki Martha.


Salah satu staf kantor Koperasi yang mengantar Pak Dadang kemudian meminta ijin untuk menghubungi staf lain yang kini bersama Tomi.


Ia harus mengabadikan soal rencana Ki Martha mengunjungi rumah Koperasi.


**------------**


"Aku ikut."


"Aku harus selesaikan semuanya Wan."


Kata Tomi


Ia berjalan sedikit terhuyung, dan memaksa Iwan untuk membantunya keluar dari klinik dan segera pulang.


Nilam sendiri masih istirahat setelah minum obat tadi, ditemani Ibu mertuanya dan Bu Harti Nilam tampak lebih tenang di klinik.


"Kau yakin akan menghadapi Lestari, Bang?"


Tanya Iwan.


Tomi mengangguk.


Iwan sudah mengatakan pada Tomi tentang kebenaran sosok Damar yang tak lain adalah kakek mereka.


Ya...


Damar, sosok yang selama ini telah lama di tunggu Lestari, yang telah melakukan kesalahan begitu besar namun tak sempat ia tebus.


Tomi dan Iwan masuk ke dalam mobil, ditemani staf kantor Tomi yang sedari pagi begitu setia.


"Kantor hari ini kacau sekali bukan?


Tanya Tomi pada staf yang ikut dengannya.


"Ya Pak, tapi ada empat orang yang masih bisa handle di kantor, jangan khawatir."


Ujar staf tersebut.


Tomi kemudian menghela nafas.


Laki-laki muda yang berwajah tampan itu duduk bersandar menatap lurus ke arah jalan.


Iwan menyalakan mesin mobilnya dan kemudian mulai melajukannya menuju pulang.


"Astaga."

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar pekikan suara staf kantor yang duduk di kursi nomor dua di belakang Tomi.


Tomi menoleh ke arah belakangnya.


"Ada apa?"


Tanya Tomi.


"Pa...k... Pak Irfan, beliau... meninggal hari ini."


Mendengar berita itu, jelas saja Tomi langsung terkejut luar biasa, diraihnya hp milik stafnya dan melihat pesan yang baru saja staf tersebut baca.


Tomi lantas mencari hp nya lagi.


"Hp mu Bang."


Kata Iwan sambil memberikan hp Tomi yang tadi ia amankan saat Tomi tak sadarkan diri di tanah lapang.


Tomi segera melihat pesan yang masuk, termasuk pesan dari para petinggi.


Tomi sungguh tak percaya, bagaimana bisa Pak Irfan meninggal setragis itu?


Terguling dari tangga dan kepalanya retak.


Tomi dengan tangan gemetaran mencoba menghubungi beberapa teman sesama manager yang kini mulai heboh di grup.


Tapi dari semuanya sepertinya tak ada yang punya waktu merespon.


Bersamaan kemudian mobil sudah memasuki halaman rumah.


Pohon beringin besar yang tumbuh di halaman rumah seolah menyambut kedatangan mobil Iwan yang membawa Tomi.


Tomi jadi ingat penglihatannya saat masuk ke alam entah apa.


Di mana ia seperti melihat masa lalu secara jelas.


Tomi keluar dari mobil, berdiri diam sejenak seraya menatap nanar ke arah tempat yang di penglihatannya tadi adalah tempat di mana Lestari dikuburkan.


Tomi juga ingat jika Lestari dulu...


"Ah yah, Wan..."


Tomi menoleh ke arah Iwan yang kini juga turun dari mobil.


"Ada apa Bang?"


Tomi berjalan menghampiri Iwan, lalu mengajaknya ke dalam rumah.


"Lestari, aku tahu siapa yang membunuhnya."


Kata Tomi.


Iwan mengerutkan kening.


Lalu...


"Siapa?"


Tanya Iwan.


Tomi menatap Iwan dengan ekspresi wajahnya yang terlihat sangat tegang.


"Damar. Dia yang membunuh Lestari."


Kata Tomi.


"Hah? Ba... Bagaimana mungkin?"


Tanya Iwan nyaris tak percaya.


Tomi mengangguk.


"Aku diberi penglihatan itu, aku melihat Damar menusuk Lestari berulangkali hingga ia mati."


"Gila."


Iwan terbelalak.


"Ya, kakek kita, dia punya hutang maaf yang sangat besar pada Lestari, Wan."


Lirih Tomi.

__ADS_1


💦💦💦💦💦💦


__ADS_2