Kisah Hantu LESTARI

Kisah Hantu LESTARI
50. Ada Apa Dengan Mereka?


__ADS_3

Namun, terdengar di atas plafon rumah sesuatu seperti bergerak, semacam suara sesuatu diseret-seret.


Tomi, Nilam dan Ibu menatap ke atas langit-langit kamar.


Sreeek... Sreeek... Sreeek...


Ketiganya seketika terlihat memucat, wajah mereka tegang membayangkan apa yang ada di sana.


Bersamaan dengan itu terdengar suara perempuan yang seperti bicara dengan bahasa Belanda, yang tentu saja mereka tidak paham artinya.


Tomi dan Nilam serta Ibu belum tahu mereka harus bagaimana, saat kemudian pintu ruang kerja Tomi terdengar digebrak.


Mereka saking kagetnya nyaris melompat dari atas tempat tidur.


Hingga...


Hening.


Sepi.


Hanya suara rintik hujan saja yang turun di luar sana. Tomi, Nilam dan Ibu saling berpandangan.


Setelah itu mereka pun turun dari tempat tidur, Tomi berjalan di depan, sementara Ibu dan Nilam mengikuti Tomi di belakangnya.


Suara derit pintu kamar yang dibuka lebih lebar terdengar memecah keheningan, langkah mereka yang seperti orang mengendap-endap keluar dari kamar.


Kosong...


Ruangan rumah kosong.


Hanya gorden pintu pembatas ruangan depan dan ruangan berikutnya yang terlihat meriap-riap, meski tak ada angin yang berhembus masuk.


Nilam dan Ibu semakin mengeratkan genggaman tangan mereka.


Tomi menatap ruang kerjanya yang pintunya sedikit terbuka.


Haruskah mencari tahu ada apa di sana?


Atau lebih baik abaikan saja dan pergi dari rumah secepatnya?


Ah tidak!


Di jalan pun nyatanya tak aman. Apalagi Bik Surti...


"Hiks hiks hiks..."


Tiba-tiba di ruang dalam terdengar seperti ada seseorang menangis.


Sudah jelas tidak ada siapa-siapa di sana, dan pastinya itu bukan manusia.


Ibu langsung menarik Nilam masuk ke dalam kamar.


Keduanya kembali ke tempat tidur, wajah keduanya pucat pasi, tubuh keduanya juga gemetaran.


Tomi sendiri sebagai laki-laki tak mungkin begitu saja lari, jika itu Lestari apakah ia harus temui saja?


Apakah harus begitu agar semua bisa selesai?


Gorden itu meriap-riap lagi, seiring dengan terlihat seperti ada bayangan dari sana mendekat.


Tomi mencoba menguatkan diri tetap bertahan berdiri.


Lelah, ia sudah lelah, jika memang dia Lestari, akan Tomi kuatkan dirinya bertemu dan bicara.


Ah sial!!


Bagaimana bisa aku jadi segila Iwan, bicara dengan hantu, dan percaya pada mereka. Batin Tomi mengumpat dirinya sendiri.


Tapi...


Ttrtttt... Trrtttt...


Hp Tomi ada pesan baru masuk, setelah itu dering panggilan ikut masuk pula.


Tomi menatap gorden pembatas ruangan yang masih meriap-riap namun tak terlihat lagi bayangan, juga tak terdengar lagi suara tangisan perempuan di sana.


Tomi dengan tangannya yang lemas meraih hp dari saku celananya, dilihatnya Iwan memanggil.


"Ya Wan."


Tomi menjawab panggilan Iwan.

__ADS_1


"Bang, benar ini Bik Surti, dia dibawa ke Rumah Sakit, ini polisi akan ke rumah, kita harus kasih kesaksian sebelum Bik Surti meninggalkan rumah."


Kata Iwan.


"Oh ya silahkan saja."


Kata Tomi.


Panggilan pun berakhir.


"Ada apa?"


Ibu yang mendengar Tomi bicara di telfon akhirnya melongok dari pintu kamar, sementara Nilam masih duduk di tepi tempat tidur saja.


"Bik Surti benar meninggal Bu, sebentar lagi Iwan datang bersama polisi."


Terang Tomi.


"Lho, kamu kan tidak salah apa-apa, kok didatangi polisi?"


Tomi menggeleng sambil menghampiri Ibunya.


"Tenanglah Bu, mereka hanya ingin minta kesaksian kita saja sebelum Bik Surti keluar dari rumah."


Kata Tomi.


Ibu menghela nafas.


"Siapa yang membunuh Bik Surti? Hantu itu kah? Apa dia bisa membunuh orang?"


Ibu menatap Tomi dengan tatapan takut.


Tomi memeluk Ibunya.


"Ibu boleh pulang jika takut di sini, pulanglah bersama Nilam dan Iwan, Bu."


Kata Tomi memeluk Ibunya dan matanya berkaca-kaca menatap isterinya yang menangis sesenggukan.


"Tidak mungkin Ibu meninggalkan putra Ibu sendirian di tempat seperti ini, lebih baik kamu cari tempat lain saja, biar Ibu yang bayar. Rumah ini jelas tak aman lagi."


Daarr!!!


Braaakk!!!


Tomi dan Ibu melonjak terkejut.


Untungnya Iwan dan pak Dadang kembali bersama polisi.


"Selamat malam."


Dua orang polisi terlihat memberi salam.


Tomi mengangguk menyambut mereka, lalu mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.


Iwan yang melihat Ibu pucat pasi akhirnya menyuruhnya masuk ke dalam kamar saja dengan Nilam.


"Bagaimana kondisi Bik Surti saat ditemukan?"


Tanya Ibu ketika berada di dalam kamar, duduk bersama Nilam di tepi tempat tidur dan Iwan berdiri di depan mereka.


"Kepalanya hancur Bu, tapi masih bisa dikenali dia Bik Surti. Kejam sekali yang membunuhnya."


Kata Iwan.


"Manusia atau hantu?"


Tanya Nilam menyela, suaranya bergetar.


"Belum bisa dipastikan kalau polisi mah, tapi kalau aku merasa itu sudah jelas ulah hantu."


Ujar Iwan.


"Batu itu terlalu besar jika diangkat manusia, posisi Bik Surti dibunuh juga di tempat yang terlalu mudah dilihat manusia lain. Jika pembunuh itu manusia, ia pasti akan berpikir puluhan kali melakukannya."


Tutur Iwan.


Ibu mantuk-mantuk, begitu juga dengan Nilam.


"Ya, membunuh di pinggir jalan yang kapan saja ada orang lewat tentu tak masuk akal jika pembunuhnya manusia."


Kata Ibu.

__ADS_1


Iwan mengangguk.


"Iwan akan temani Bang Tomi menemui polisi."


Kata Iwan.


Ibu dan Nilam mengangguk.


"Ibu dan Kak Nilam di sini saja, tidak akan ada apa-apa, polisi hanya bertanya soal Bik Surti saja."


Kata Iwan.


Ibu dan Nilam mengangguk lagi.


Iwan pun beranjak keluar dari kamar Nilam dan Tomi di mana saat ini Nilam dan Ibu duduk sambil ketakutan.


Tomi terlihat bicara serius dengan polisi ditemani Pak Dadang.


Hingga kemudian...


"Irfan, apa Pak Tomi mengenal Pak Irfan?"


Tanya salah satu polisi.


Tomi jelas langsung berpandangan dengan Pak Dadang.


"Maksudnya Irfan mana Pak? Pastinya kan pemilik nama Irfan banyak."


Ujar Tomi.


Pak Polisi mengulurkan sebuah kartu nama ke depan Tomi.


Sebuah kartu nama yang jelas saja tak asing untuknya.


Tomi mengambil kartu nama dari Pak polisi, lalu menatap polisi dengan pandangan bingung.


"Kami menemukannya di dalam tas dompet yang dibawa korban, nanti kami akan periksa ponselnya, mungkin besok kamu butuh kesaksian Pak Tomi lagi."


Kata polisi itu.


Tomi mengangguk saja.


Masih bingung apa hubungannya Pak Irfan dengan kematian Bik Surti.


Setelah mengajukan beberapa pertanyaan lain dan bisa dijawab dengan baik oleh Tomi, maka dua orang polisi itupun akhirnya pamit undur diri.


"Terimakasih atas kerjasamanya Pak Tomi, besok kami akan hubungi kembali."


"Siap Pak, saya akan berusaha sebaik mungkin bekerjasama."


Ujar Tomi seraya menjabat tangan kedua polisi itu.


Tomi mengantar dua polisi itu keluar dari rumah.


"Pak Irfan, siapa dia?"


Iwan mengambil kartu nama dari tangan Abangnya.


"Dia manager kantor cabang di sini sebelum digantikan olehku."


Kata Tomi.


"Ooh manager sebelumnya yang tidak tinggal di sini ya Pak Dadang?"


Iwan kali ini menatap Pak Dadang.


Tampak Pak Dadang mengangguk, tapi wajahnya juga seperti orang bingung.


"Kenapa Pak?"


Tanya Iwan menangkap kebingungan Pak Dadang.


"Ohh tidak apa-apa, saya hanya tidak tahu Bik Surti dan Pak Irfan dekat."


Kata pak Dadang.


"Ya kan Bik Surti mengurus rumah ini, tentu saja ia punya beberapa kartu nama pengurus koperasi kita."


Kata Tomi.


Pak Dadang meski ragu tetap mantuk-mantuk.

__ADS_1


💦💦💦💦💦💦


__ADS_2