
Setelah
‘kejujuran’ yang dikatakan Reinard malam itu, aku berusaha untuk membatasi
ruang temu diantara kami. Kami tinggal serumah, tidur dalam kasur yang sama
namun aku berusaha untuk menjaga jarak dengannya sebaik mungkin. Ketika Reinard
berada di depan TV, aku menyibukkan diriku di meja kerja dan baru akan masuk
kamar ketika dia sudah terlelap. Begitu pagi tiba, kami akan bertemu sebentar
di meja makan sebelum kembali ke rutinitas pekerjaan kami.
Aku tidak tahu,
apakah yang kulakukan pada Reinard adalah sesuatu yang salah atau benar. Aku
sudah memberikan sepenuhnya hidupku untuknya bahkan juga hatiku dan berfikir
bahwa dia tetap akan menginginkanku meskipun pernikahan kami adalah hasil dari
sebuah perjodohan orangtua. Aku hanya berfikir, untuk apa mendekati seseorang
yang tak menginginkanku? Aku istrinya, dia berhak atas diriku bahkan tubuhku
dan tentu aja aku juga berhak atas dirinya. Namun, mendengar bahwa ia belum
siap melakukan hal itu membuatku berfikir jika aku benar-benar sudah ia tolak.
Jikapun ada kesempatan, aku tidak tahu itu kapan.
Seperti biasa,
aku memarkir mobilku di depan kantor. Tempat yang terjangkau jika sewaktu-waktu
aku ingin pergi keluar. Masih cukup pagi, dan belum banyak karyawan yang
datang. Aku memang terbiasa datang paling awal dan pulang paling akhir.
Beberapa karyawan baru pasti tidak bisa mengikuti gaya pekerjaanku. Untuk
beberapa hari mereka pasti akan datang mendahului aku dan pulang lebih telat
daripada aku. Jika hal itu sudah terjadi, aku psti akan mencari RIni untuk
menjelaskan kepada mereka tentang caraku bekerja.
Aku mengunci
pintu mobil lantas berjalan santai masuk ke dalam kantor. Namun belum juga
membuka pintu, seseorang tiba-tiba memanggilku.
Aku menoleh,
mendapati seorang pria berusia setengah abad dengan pakaian lusuh menengadahkan
tangannya kepadaku. Aku belum pernah melihatnya, mungkin ia baru di sini.
“Minta
seikhlasnya mbak….” Kata pria itu dengan suara lirih bergetar.
Sejujurnya aku
tidak begitu mempercayai pengemis. Di berita-berita, banyak sekali orang-orang
yang bekerja dengan pura-pura menjadi pengemis dan kenyataannya mereka bisa
mendapatkan banyak uang dari pekerjaannya itu. Bisa membeli rumah bahkan mobil.
Tapi, terkutuklah aku menjadi seseorang yang mudah iba dan percaya dengan
penampilan seseorang, sehingga tanpa berfikir panjang aku mengeluarkan uang
limapuluh ribu dari dalam tasku dan memberikannya.
Pria itu
tersenyum lalu mengucapkan terimakasih.
“Saya doakan
anda bahagia selamanya bersama suami anda.” Katanya sebelum pergi.
Aku mengedikkan
bahu. Tau aja si bapak kalau aku sudah menikah.
*****
Rini menungguku
dengan setia di seberang meja tanpa berkata apapun. Dia tahu jika sudah
berurusan dengan pekerjaan, aku akan berubah menjadi orang paling serius.
Apalagi mengenai urusan pelik tentang perceraian dengan tambahan pembagian
harta gono-gini yang adil seperti ini.
“Nanti kalau
masih ada dokumen yang lain segera kasih ya Rin.” Aku mengulurkan stopmap yang
isinya baru selesai aku tandatangani.
“Siap mbak!” Rini
mengacungkan jempol dan bergegas pergi.
Aku hendak
membalik dokumen yang lain ketika ponselku menjerit. Nama ‘suamiku’ tertera di
layar.
“Halo…..”
“Jul, lagi
__ADS_1
sibuk?” tanyanya tanpa basa-basi.
Sangat sibuk.
“Tidak begitu….”
Mulutku benar-benar tidak bisa sinkron dengan pikiranku.
“Syukurlah….”
“Ada apa?” Aku
memutar kursiku menghadap jendela.
“Bisa tolong
pulang sebentar, ambilkan buku yang ada di atas meja kamar. Hari ini ada
presentasi dan aku lupa membawanya.”
“Presentasi jam
berapa?” aku bangkit dari kursiku tanpa pikir panjang. Tiba-tiba saja jiwa
super heroku bangkit.
“Dua jam lagi.”
Sahut Reinard. “Maaf merepotkanmu, masih ada beberapa pasien di poliklinik dan
aku tidak bisa meninggalkan mereka dan membuat menunggu.”
Disinilah
peranku sebagai istri berhati malaikat dimulai. Setelah berkata ‘tunggu’, aku
bergegas mengambil kunci mobil dan tas. Melupakan setumpuk pekerjaan yang masih
menggunung di mejaku juga setumpuk janji bahwa aku tidak akan memperdulikan
Reinard lagi. Dulu, aku selalu menyebut waktu bekerja itu sangat berharga.
Bahkan aku tidak mau ada satupun orang yang mengangguku ketika sibuk dengan
pekerjaan. Namun sekarang, permintaan tolong Reinard berhasil membuatku bangkit
dari kursi dan bergegas meninggalkan ruangan. Ajaib sekali!
Mahadaya cinta!
“Rin, kalau
klien datang suruh nunggu aku sekitar etengah jam.” Kataku ketika lewat di
depan meja Rini tanpa menoleh.
*****
Bahkan setelah
menikah dan menyandang status sebagai istri Reinard, tatapan mata para pegawai
nyaman. Bahkan lebih buruk, aku malah diperlakukan seperti wanita perebut suami
orang. Mereka menatapku dari jauh dengan pandangan kesal lalu berbisik-bisik.
Akh, aku benci
kondisi absurd seperti ini. Namun aku pura-pura saja tidak peduli. Dengan
percaya diri aku berjalan begitu saja melewati koridor, mengabaikan semua mata
yang tertuju padaku. Anggap saja aku seorang model yang sedang berjalan di
catwalk sekarang.
“Cari siapa?”
Seseorang tiba-tiba menghadangku.
Oh my god.
Tidak pernah ada
cerita bukan, seorang penonton tiba-tiba menghentikan jalan seorang model yang
sedang melengang indah di atas catwalk.
Wajah yang
menghadangku itu tidak asing. Jelas. Dia dokter internship yang dpanggil ‘win’
oleh Reinard waktu itu. Dari name tag yang tergantung di dadanya, ternyata
dokter itu bernama ‘Wina’. Nama yang bagus.
“Reinard-nya
ada?” aku tersenyum lebar, berusaha beramah-tamah meskipun sebenarnya aku kesal
dengan perempuan yang tak ada tata-kramanya di depanku ini.
Bukannya
menjawab, Wina malah melipat tangannya di depan dada.
“Mungkin lagi
keluar.”
Aku mengerutkan
kening.
“Masa?”
jelas-jelas ketika aku telepon di parkiran tadi, ia masih melayani pasien
terakhirnya.
“Iya….dokter
__ADS_1
Reinard enggak ada di ruangannya.” Gadis nyebelin ini malah menghadang jalanku.
Apa dia tidak tahu jika saat ini aku sudah berada dalam mode ‘siap menerkam
siapa saja?’
“Mending kamu
minggir deh, ADIK KECIL.” Aku sengaja menekankan kata ‘adik-kecil’ agar dia tahu
posisinya sekarang. “Aku mau ketemu suamiku. Mau ngasih barang berharga dia.”
Aku menunjukkan buku yang sejak tadi berada dalam pelukanku.
Wina memutar
bola matanya malas.
“Kan udah aku
bilang tante, kalau dokter Reinard enggak ada di kantornya.”
Sialan! Aku
dipanggil tante. Dia kira umurku sudah empat puluh tahun apa?
“Kan aku bisa
tunggu di ruangannya.” Keukeuhku.
“Ya enggak bisa
dong. Kalau—“
“Julia.” Sebuah
suara menginterupsi dana otomatis langsung membuat aku dan Wina menoleh bersamaan.
Betapa lega
hatiku ketika melihat Reinard baru saja keluar dari ruangannya dan kini
berjalan ke arah kami.
“Aku nungguin
dari tadi.” Kata Reinard ketika sampai di depan kami,
Aku melirik Wina
dan tersenyum penuh ejekan. Setidaknya aku menang sekarang, dan gadis cilik di
depanku ini hanya berbohong padaku tadi.
“Iya nih, baru
ngobrol sama dokter Wina.” Aku tersenyum lebar pada Wina yang justru membuang
pandang kearah lain. Aku bersumpah jika saat ini kami tidak ada di rumah sakit
milik keluarga suamiku dan suamiku adalah orang penting di sini, aku sudah
mengajak gadis tengik ini adu mulut.
“Oh….” Reinard
menatap Wina. “Kalian akrab sekarang?”
Wina meringis.
“Dikit sih dok.” Jawabnya tak antusias.
Reinard tertawa.
Tanpa kuduga, ia tiba-tiba mengaitkan jemarinya di jemariku. Membuatku mundur
selangkah karena terkejut. Jangan-jangan ia keliru mengambil tangan. Hendak
menarik tangan Wina namun keliru menarik tanganku. Namun ketika aku menatapnya,
pria itu jelas-jelas tersenyum hangat padaku.
“Ayo masuk aja.
Kamu enggak sibuk kan?”
Aku sibuk
banget!
“Ee—enggak….”
Lagi-lagi mulut dan otakku tidak bisa sinkron.
“Kalau gitu aku
buatin teh ya? Atau kamu mau makan sesuatu, kita bisa pesan layanan antar?”
Aku menggeleng.
Separuh jiwaku pergi—mirip lagunya mas Anang namun ini dalam versi syok karena
tiba-tiba suamiku yang beberapa hari lalu mendeklarasikan bahwa ia belum siap
melakukan kontak apapun denganku tiba-tiba menyentuhku.
“Ayo.” Tarikan
tangan Reinard membangunkan lamunanku.
Aku hanya
menurut, sebelum pergi aku menoleh sekilas pada Wina yang ternyata menatapku
dengan pandangan kesalnya.
Aku tertawa
lebar. Untuk kali ini aku menang!
*****
__ADS_1