Klandestin

Klandestin
Ambigu


__ADS_3

Setelah


‘kejujuran’ yang dikatakan Reinard malam itu, aku berusaha untuk membatasi


ruang temu diantara kami. Kami tinggal serumah, tidur dalam kasur yang sama


namun aku berusaha untuk menjaga jarak dengannya sebaik mungkin. Ketika Reinard


berada di depan TV, aku menyibukkan diriku di meja kerja dan baru akan masuk


kamar ketika dia sudah terlelap. Begitu pagi tiba, kami akan bertemu sebentar


di meja makan sebelum kembali ke rutinitas pekerjaan kami.


Aku tidak tahu,


apakah yang kulakukan pada Reinard adalah sesuatu yang salah atau benar. Aku


sudah memberikan sepenuhnya hidupku untuknya bahkan juga hatiku dan berfikir


bahwa dia tetap akan menginginkanku meskipun pernikahan kami adalah hasil dari


sebuah perjodohan orangtua. Aku hanya berfikir, untuk apa mendekati seseorang


yang tak menginginkanku? Aku istrinya, dia berhak atas diriku bahkan tubuhku


dan tentu aja aku juga berhak atas dirinya. Namun, mendengar bahwa ia belum


siap melakukan hal itu membuatku berfikir jika aku benar-benar sudah ia tolak.


Jikapun ada kesempatan, aku tidak tahu itu kapan.


Seperti biasa,


aku memarkir mobilku di depan kantor. Tempat yang terjangkau jika sewaktu-waktu


aku ingin pergi keluar. Masih cukup pagi, dan belum banyak karyawan yang


datang. Aku memang terbiasa datang paling awal dan pulang paling akhir.


Beberapa karyawan baru pasti tidak bisa mengikuti gaya pekerjaanku. Untuk


beberapa hari mereka pasti akan datang mendahului aku dan pulang lebih telat


daripada aku. Jika hal itu sudah terjadi, aku psti akan mencari RIni untuk


menjelaskan kepada mereka tentang caraku bekerja.


Aku mengunci


pintu mobil lantas berjalan santai masuk ke dalam kantor. Namun belum juga


membuka pintu, seseorang tiba-tiba memanggilku.


Aku menoleh,


mendapati seorang pria berusia setengah abad dengan pakaian lusuh menengadahkan


tangannya kepadaku. Aku belum pernah melihatnya, mungkin ia baru di sini.


“Minta


seikhlasnya mbak….” Kata pria itu dengan suara lirih bergetar.


Sejujurnya aku


tidak begitu mempercayai pengemis. Di berita-berita, banyak sekali orang-orang


yang bekerja dengan pura-pura menjadi pengemis dan kenyataannya mereka bisa


mendapatkan banyak uang dari pekerjaannya itu. Bisa membeli rumah bahkan mobil.


Tapi, terkutuklah aku menjadi seseorang yang mudah iba dan percaya dengan


penampilan seseorang, sehingga tanpa berfikir panjang aku mengeluarkan uang


limapuluh ribu dari dalam tasku dan memberikannya.


Pria itu


tersenyum lalu mengucapkan terimakasih.


“Saya doakan


anda bahagia selamanya bersama suami anda.” Katanya sebelum pergi.


Aku mengedikkan


bahu. Tau aja si bapak kalau aku sudah menikah.


*****


Rini menungguku


dengan setia di seberang meja tanpa berkata apapun. Dia tahu jika sudah


berurusan dengan pekerjaan, aku akan berubah menjadi orang paling serius.


Apalagi mengenai urusan pelik tentang perceraian dengan tambahan pembagian


harta gono-gini yang adil seperti ini.


“Nanti kalau


masih ada dokumen yang lain segera kasih ya Rin.” Aku mengulurkan stopmap yang


isinya baru selesai aku tandatangani.


“Siap mbak!” Rini


mengacungkan jempol dan bergegas pergi.


Aku hendak


membalik dokumen yang lain ketika ponselku menjerit. Nama ‘suamiku’ tertera di


layar.


“Halo…..”


“Jul, lagi

__ADS_1


sibuk?” tanyanya tanpa basa-basi.


Sangat sibuk.


“Tidak begitu….”


Mulutku benar-benar tidak bisa sinkron dengan pikiranku.


“Syukurlah….”


“Ada apa?” Aku


memutar kursiku menghadap jendela.


“Bisa tolong


pulang sebentar, ambilkan buku yang ada di atas meja kamar. Hari ini ada


presentasi dan aku lupa membawanya.”


“Presentasi jam


berapa?” aku bangkit dari kursiku tanpa pikir panjang. Tiba-tiba saja jiwa


super heroku bangkit.


“Dua jam lagi.”


Sahut Reinard. “Maaf merepotkanmu, masih ada beberapa pasien di poliklinik dan


aku tidak bisa meninggalkan mereka dan membuat menunggu.”


Disinilah


peranku sebagai istri berhati malaikat dimulai. Setelah berkata ‘tunggu’, aku


bergegas mengambil kunci mobil dan tas. Melupakan setumpuk pekerjaan yang masih


menggunung di mejaku juga setumpuk janji bahwa aku tidak akan memperdulikan


Reinard lagi. Dulu, aku selalu menyebut waktu bekerja itu sangat berharga.


Bahkan aku tidak mau ada satupun orang yang mengangguku ketika sibuk dengan


pekerjaan. Namun sekarang, permintaan tolong Reinard berhasil membuatku bangkit


dari kursi dan bergegas meninggalkan ruangan. Ajaib sekali!


Mahadaya cinta!


“Rin, kalau


klien datang suruh nunggu aku sekitar etengah jam.” Kataku ketika lewat di


depan meja Rini tanpa menoleh.


*****


Bahkan setelah


menikah dan menyandang status sebagai istri Reinard, tatapan mata para pegawai


nyaman. Bahkan lebih buruk, aku malah diperlakukan seperti wanita perebut suami


orang. Mereka menatapku dari jauh dengan pandangan kesal lalu berbisik-bisik.


Akh, aku benci


kondisi absurd seperti ini. Namun aku pura-pura saja tidak peduli. Dengan


percaya diri aku berjalan begitu saja melewati koridor, mengabaikan semua mata


yang tertuju padaku. Anggap saja aku seorang model yang sedang berjalan di


catwalk sekarang.


“Cari siapa?”


Seseorang tiba-tiba menghadangku.


Oh my god.


Tidak pernah ada


cerita bukan, seorang penonton tiba-tiba menghentikan jalan seorang model yang


sedang melengang indah di atas catwalk.


Wajah yang


menghadangku itu tidak asing. Jelas. Dia dokter internship yang dpanggil ‘win’


oleh Reinard waktu itu. Dari name tag yang tergantung di dadanya, ternyata


dokter itu bernama ‘Wina’. Nama yang bagus.


“Reinard-nya


ada?” aku tersenyum lebar, berusaha beramah-tamah meskipun sebenarnya aku kesal


dengan perempuan yang tak ada tata-kramanya di depanku ini.


Bukannya


menjawab, Wina malah melipat tangannya di depan dada.


“Mungkin lagi


keluar.”


Aku mengerutkan


kening.


“Masa?”


jelas-jelas ketika aku telepon di parkiran tadi, ia masih melayani pasien


terakhirnya.


“Iya….dokter

__ADS_1


Reinard enggak ada di ruangannya.” Gadis nyebelin ini malah menghadang jalanku.


Apa dia tidak tahu jika saat ini aku sudah berada dalam mode ‘siap menerkam


siapa saja?’


“Mending kamu


minggir deh, ADIK KECIL.” Aku sengaja menekankan kata ‘adik-kecil’ agar dia tahu


posisinya sekarang. “Aku mau ketemu suamiku. Mau ngasih barang berharga dia.”


Aku menunjukkan buku yang sejak tadi berada dalam pelukanku.


Wina memutar


bola matanya malas.


“Kan udah aku


bilang tante, kalau dokter Reinard enggak ada di kantornya.”


Sialan! Aku


dipanggil tante. Dia kira umurku sudah empat puluh tahun apa?


“Kan aku bisa


tunggu di ruangannya.” Keukeuhku.


“Ya enggak bisa


dong. Kalau—“


“Julia.” Sebuah


suara menginterupsi dana otomatis langsung membuat aku dan Wina menoleh bersamaan.


Betapa lega


hatiku ketika melihat Reinard baru saja keluar dari ruangannya dan kini


berjalan ke arah kami.


“Aku nungguin


dari tadi.” Kata Reinard ketika sampai di depan kami,


Aku melirik Wina


dan tersenyum penuh ejekan. Setidaknya aku menang sekarang, dan gadis cilik di


depanku ini hanya berbohong padaku tadi.


“Iya nih, baru


ngobrol sama dokter Wina.” Aku tersenyum lebar pada Wina yang justru membuang


pandang kearah lain. Aku bersumpah jika saat ini kami tidak ada di rumah sakit


milik keluarga suamiku dan suamiku adalah orang penting di sini, aku sudah


mengajak gadis tengik ini adu mulut.


“Oh….” Reinard


menatap Wina. “Kalian akrab sekarang?”


Wina meringis.


“Dikit sih dok.” Jawabnya tak antusias.


Reinard tertawa.


Tanpa kuduga, ia tiba-tiba mengaitkan jemarinya di jemariku. Membuatku mundur


selangkah karena terkejut. Jangan-jangan ia keliru mengambil tangan. Hendak


menarik tangan Wina namun keliru menarik tanganku. Namun ketika aku menatapnya,


pria itu jelas-jelas tersenyum hangat padaku.


“Ayo masuk aja.


Kamu enggak sibuk kan?”


Aku sibuk


banget!


“Ee—enggak….”


Lagi-lagi mulut dan otakku tidak bisa sinkron.


“Kalau gitu aku


buatin teh ya? Atau kamu mau makan sesuatu, kita bisa pesan layanan antar?”


Aku menggeleng.


Separuh jiwaku pergi—mirip lagunya mas Anang namun ini dalam versi syok karena


tiba-tiba suamiku yang beberapa hari lalu mendeklarasikan bahwa ia belum siap


melakukan kontak apapun denganku tiba-tiba menyentuhku.


“Ayo.” Tarikan


tangan Reinard membangunkan lamunanku.


Aku hanya


menurut, sebelum pergi aku menoleh sekilas pada Wina yang ternyata menatapku


dengan pandangan kesalnya.


Aku tertawa


lebar. Untuk kali ini aku menang!


*****

__ADS_1


__ADS_2