Klandestin

Klandestin
Pria itu Lagi


__ADS_3

Hujan mengguyur


bumi dengan deras ketika petang beranjak datang. Aku masih berada di kantor.


Setelah obrolan panjang dengan Eli sore tadi, otomatis membuat pekerjaanku


tertunda dan menyebabkan aku harus lembur untuk batas waktu yang tidak


ditentukan.  Mungkin aku baru bisa


menyelesaikannya sekitar jam sembilan, atau malah nanti tengah malam. Yang


jelas aku tidak mau menundanya samapai besok karena besok adalah weekend dan


aku tidak ingin pikiranku masih terbelenggu dengan berkas-berkas dingin yang


masih belum tersentuh di kantor. Setelah menikah, aku ingin menghabiskan waktu


liburanku di rumah bersama suamiku.


Dering telepon


membuyarkan konsentrasiku. Nama ‘suamiku’ tertera dilayar, dan tentu saja


membuatku menunda kembali pekerjaan untuk mengangkat telepon itu.


“Iya sayang….”


Beberapa hari ini panggilan sayang, honey, love atau semacamnya menjadi


panggilan familiar kami sehingga menyebabkan efek kehidupan rumah tangga kami


menjadi begitu hangat sehangat mentari pagi.


“Kenapa belum


pulang?” aku mendengar suara pintu di tutup. “Aku baru saja sampai di rumah dan


melihat rumah kosong.”


Aku berdehem


kecil. Lupa pamit pada Reinard bahwa hari ini aku harus lembur.


“Maaf….aku lupa


memberitahukannya padamu bahwa hari ini aku lembur.” Ada sedikit nada kecewa


dalam suaraku. Seharusnya di jam segini aku sudah berada di rumah dan


melayaninya.


“Lembur?


Sendirian?”


“Iya.”


‘Tapi diluar


hujan deras sayang….”


Aku tertawa.


“Hujannya di luar honey, dan aku berada di dalam gedung. Mustahil bisa basah….”


Aku ingin menggodanya dengan kalimat erotis, namun urung kulakukan. Karena aku


bisa saja berlari pulang sekarang setelah mengatakan hal itu.


“Baiklah….jam


berapa kamu pulang?” Tanya Reinard kemudian. “Aku akan menjemputmu.”


“Tidak perlu.


Aku bisa memesan taksi nanti.” Sahutku. Hari ini aku memang tidak membawa mobil


karena alat transportasiku itu sedang dalam perbaikan di bengkel.


“Kamu yakin aku


tidak perlu menjemputmu sayang?”


“Yap! Seribu persen.


Aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku, dan tunggulah di rumah.” Aku


menggigit bibirku. “Dan usahakan jangan tertidur oke?”


Kudengar Reinard


tergelak. Akhir-akhir ini aku sering mendengarnya tertawa dan aku merasa sangat


bahagia. Image Reinard yang dingin dan kaku perlahan mulai menghilang.


“Baiklah…baiklah….aku


akan menunggu dan sama sekali tidak akan terpejam, meskipun kamu akan pulang


subuh.”


Aku tertawa.


Setelah saling bertukar kalimat ‘miss you’ dan ‘love you’. Akhirnya aku kembali


mematikan ponselku.


*****


Tepat pukul


sepuluh malam, aku selesai dengan pekerjaanku. Setelah mematikan laptop,disusul


lampu ruang kerjaku dan menutup pintu, aku bergegas turun menuju lobi. Suasana


sudah sangat sepi, hanya ada seorang security yang duduk terkantuk-kantuk di


pojokan. Melihatku, security itu tersenyum, dan aku membalasnya dengan senyuman


sambil berjalan keluar gedung.


Hujan masih


mengguyur, meskipun tak sederas tadi. Aku mengutuki diriku sendiri yang tidak


membawa payung atau tadi menolak dengan tegas ketika suamiku menawarkan diri


untuk menjemputku. Ketika waktu sudah beranjak malam, aku yakin dia sudah


tertidur dan aku juga tidak tega untuk menyuruhnya datang.


“Aku tahu, kamu


pasti bingung kan?” sebuah suara familiar membuaku menoleh. Seketika senyumku


mengembang ketika sosok itu berjalan menuju ke arahku.


“Sayang…..kenapa

__ADS_1


sampai sini?” kebahagiaanku membuncah ketika suamiku tiba-tiba sudah berdiri di


depanku membawa sebuah payung.


“Jemput kamu.”


Sahut Reinard tanpa ragu.


“Kan aku sudah


bilang bisa naik taksi. Lagipula apa kamu enggak capek?”


Reinard


menggeleng.


“Tidak. Aku


justru merasa sangat kesepian ketika kamu tidak pulang-pulang.” Reinard


merengut dan aku tertawa kecil. Kumasukkan tanganku ke lengannya.


“Baiklaaah….terimakasih


sudah menjemputku suamiku….” Kukecup pipinya sekilas. “Jadi, kita pulang


sekarang.”


“Tidak.” Reinard


membuka payungnya.


“Tidak?” aku


menoleh ke arahnya.


“Bagaimana kalau


malam ini kita menginap di situ?” ia mengedikkan dagunya ke sebuah hotel yang


berada di seberang jalan, tepat di depan kantorku.


“Nginrp hotel?”


Pekikku tertahan. Sejak kapan Reinard bisa menjadi seseorang yang bisa


mengekspresikan keinginanya seperti itu. Dengan gamblang mengungkapkan keinginannya


untuk mengajakku menghabiskan malam di hotel.


“Aku rindu Jul.


pengen quality time sama kamu.” Aku hendak menyemburkan tawa ketika melihat


ekspresi Reinard yang sedikit nakal, lucu tapi juga kekanak-kanakan. Jika tadi


aku bisa, aku ingin mengabadikannya di ponselku dan akan kulihat setiap hari


jika aku bosan.


“Tapi di rumah


‘kan juga bisa. Lagian juga enggak bakalan ada yang ganggu sayang….kan kita cuma


berdua.” Saranku. Aku bukannya tidak setuju dengan ide Reinard, hanya saja


tidak ada bedanya di apartement maupun di hotel.


“Jadi beneran


enggak mau nih?” Reinard mengeluarkan kartu hotel dari dalam saku celananya.


Aku menutupi


mulutku dengan telapak tangan. Aku benar-benar tidak menyangka jika suamiku


punya bakat memberi surprise manis seperti ini.


“Kan sayang


banget uangnya gak bisa dikembalikan….” Reinard melirikku dengan pandangan


menggodanya.


“Oke…oke…”tawaku


renyah. “Aku tidak bisa menolak untuk tidak mengatakan iya ketika suamiku sudah


mempersiapkan segalanya untukku.”


“Naaah….kan aku


jadi seneng Julia….” Ia merangkul bahuku. “Kita jalan sekarang ya?”


“Lha mobilnya


dimana?”tanyaku bingung.


“Udah di


basement hotel. Aku malas mengeluarkannya lagi.”


Aku menepuk keningku.


Ternyata menikah dengan seseorang yang lebih muda itu menyenangkan, ia punya


sisi lain yang begitu mengejutkan.


Berdua, kami


beriringan berbagi payung menerobos hujan. Dingin memang merasuk ke dalam


tulang, namun tak begitu aku rasakan karena hatiku benar-benar hangat oleh


cinta dan perasaan meletup-letup panas di dadaku.


Sesekali kami


bercanda di bawah payung, meng-abaikan hujan yang turun rintik-rintik ini.  Hingga akhirnya, kami sampai di depan hotel.


Saat Reinard berusaha menutup payung, tiba-tiba datang seseorang dan itu cukup


mengejutkan kami.


Pria pengemis


itu. Dia terlihat lebih rapi dari biasanya, dengan celana bahan hitam dengan


atasan jaket bomber warna cokelat, wajahnya yang hitam karena terik matahari


tak sekusut biasanya. Ia terlihat lebih segar, mungkin efek udara yang dingin.


Ketika


berhadapan dengan kami, pria itu tersenyum. Tiba-tiba aku teringat kalimat


Reinard yang dikatakannya terakhir kali padaku, bahwa aku harus menghindar jika


bertemu dengan pria pengemis ini. Diam-diam aku menatap Reinard yang berdiri di

__ADS_1


sampingku. Wajah pria itu jauh dari kata ramah, bahkan bisa dibilang kini


rahangnya terkatup dengan tegas. Seolah sedang menahan amarah yang siap meledak


kapanpun itu.


“Rei….” Bisikku


pelan. Tak begitu jelas, namun aku yakin Reinard cukup mendengarnya dengan


baik.


“Jul, kamu


tunggu di kamar ya?” Reinard buru-buru mengambil kartu hotel dari dalam sakunya


dan memberikannya kepadaku. “Nanti aku nyusul.”


Aku menerima


kartu hotel itu dan buru-buru pergi. Mengabaikan segala bentuk pertanyaan yang


menggantung di dadaku. Siapa sebenarnya pria ini? Apa hubungannya dengan


Reinard? Dan kenapa ia begitu tidak suka. Namun semua itu aku tahan, karena aku


tahu ini bukan waktu yang tepat membobardir Reinard dengan segala macam


pertanyaan seperti itu.


Sesampainya di


kamar, pikiranku masih tidak tenang. Aku berjalan hilir mudik sambil menatap


pintu dengan harapan Reinard segera membukanya dan menjelaskan semuanya


kepadaku. Hingga akhirnya, setelah lebih dari limabelas menit menunggu, pintu


itu diketuk dari luar.


Aku bergegas


membukanya, dan melihat suamiku sudah tersenyum di balik pintu.


“Aku kira sudah


tidur….” Reinard masuk ke dalam kamar dan melewatiku. Meskipun aku melihatnya


baik-baik saja bahkan datang dengan senyuman, namun basa-basi ‘aku kira sudah


tidur’ bukanlah hal yang benar-benar tepat.


“Kamu enggak


apa-apa?” aku mengekornya dari belakang. Dan berhenti ketika pria itu


menghentikan langkahnya tepat di depanku lalu berbalik.


“Aku baik-baik


saja.” Jawab Reinard seraya mengelus rambutku. “Aku tahu kamu punya banyak


pertanyaan di sini.” Ia lalu menunjuk dadaku.


Aku menelan


saliva. Aku memanag punya banyak pertanyaan untuknya, namun aku setengah tidak


berani. Bagaimana jika Reinard marah dan menganggapku terlalu ikut campur


nanti.


“Julia, apa kamu


percaya padaku?” tanyanya memecah sunyi.


Aku mengangguk.


“Apa kamu


mencintaiku?”


Tentu saja!


Aku kembali


mengangguk.


“Mungkin kamu


penasaran akan hubunganku dengan pria tadi.” Reinard menatapku intens. Manik


mata kami saling beradu, dan aku melihat jika tatapannya begitu lembut.


Membuatku tidak tega untuk menanyakan ini dan itu.


“Dia…..tadi


siapa?” tanyaku pelan memberanikan diri.


Reinard


tersenyum, kedua tangannya terulur menguap-usap lengan atasku.


“Kamu percaya


padaku ‘kan?” ulangnya sekali lagi.


Aku mengangguk.


“Tentu saja. Kamu suamiku.” Sahutku.


“Aku akan


menceritakannya. Tapi tidak sekarang.”


Sejujurnya akau


sedikit kecewa dengan pernyataannya ini. Aku menunggunya lebih dari limabelas


menit dengan perasaan yang tidak karuan. Namun ketika benar-benar berhadapan


dengannya, ia justru memintaku untuk menunggu. Namun aku bisa apa. Aku tidak


bisa memaksanya bukan?


“Karena malam ini,


aku benar-benar ingin berdua bersamamu melewati malam. Tanpa memikirkan apapun.


Mengerti?”


Aku terdiam,


namun hanya sesaat karena tiba-tiba Reinard sudah mencium bibirku dengan begitu


dalam dan penuh perasaan.


*****

__ADS_1


__ADS_2