Klandestin

Klandestin
Hanya Tinggal Impian


__ADS_3

Aku menatap sarapanku tanpa ada keinginan untuk memakannya


sedikitpun. Meskipun terlihat enak, sepiring nasi goreng dari hotel berbintag


ini sungguh tak membuatku tertarik. Sebenarnya, aku ingin tinggal di kamar saja


sampai waktu check-out berakhir, namun aku butuh udara segar atau setidaknya


pemandangan segar untuk membuat mata sepet-ku yang semalaman tidak bisa


terpejam ini bisa terasa nyaman.


Seperti yang dikatakannya di depan pintu semalam, Reinard


benar-benar tidak pulang. Menyisakan rasa kesal, sedih dan tentu saja cemas di


dalam hatiku. Seharusnya kami sudah berbahagia semalam, atau jikapun kami belum


bisa melakukannya, kami bisa berpelukan semalaman atau tidur seranjang berdua.


Agar aku tidak kesepian dan kedinginan.


Sampai detik ini juga, Reinard tak bisa aku hubungi. Lebih tepatnya,


aku sedang menunggu telepon atau pesan darinya yang menanyakan kabarku. Tapi


nihil. Ponselku teronggok dingin di atas nakas, seperti ponsel rusak. Bahkan


yang biasanya bunyi untuk sms-sms spam orang iseng minta pulsa atau menawrkan


KPR rumah pun tidak ada sama sekali. Aku heran, apa jangan-jangan ponselku


memang rusak? Akh, tapi tidak. Tadi pagi aku bisa menelpon Arian, menanyakan


bagaimana keadaan mobilku yang kemarin dibawanya.


“Pengantin baru yang terlihat berantakan sepagi ini.” sebuah suara


membuatku mendongak seketika. Sedetik kemudian, aku berdecak malas.


“Ngapain lo di sini? Buntutin gue?” mood-ku bertambah buruk Ketika


sosok pria bertubuh atletis ini berdiri di depanku. Ia terlihat segar bahkan


sepagi ini dengan stelan celana santainya. Salah satu tangannya memegang sebuah


tas Adidas berwarna hitam. Namanya Daniel, mantan pacarku semasa SMA. Kami


memang masih menjalin komunikasi sampai sekarang, tapi bukan disebut komunikasi


yang baik—dari versiku. Karena aku sebal setiap mengingat dia menyakitiku

__ADS_1


Ketika SMA.


“Nggak usah ke-PEDE-an deh Jul.” bukannya pergi, ia justru


meletakkan tasnya di kursi yang kosong sedangkan ia sendiri duduk tepat


bersebrangan denganku. “Aku habis nge-gym. Aku member aktif di sini.”


Aku tak menyahut. Pandanganku Kembali pada piring nasi goreng di


depanku.


“Lo kok nikah enggak bilang-bilang gue sih?” tanpa persetujuanku,


Daniel mengambil segelas es jeruk yang ada dihadapanku. Aku hendak melayangkan


protes, namun keduluan sedotan yang sudah masuk ke dalam mulutnya.


“Ih, itu udah gue minum kali!” Sungutku kesal.


Daniel justru terkekah. “Kenapa? Ciuman tidak langsung?” ia


meletakkan gelas es jeruk itu kembali ke atas meja. “Enggak apa-apa. Kan kita


dulu udah sering.”


Andai saja ini bukan di tempat umum, mungkin piring beserta nasi


goreng ini sudah melayang mengenai kepalanya. Aku paling benci setiap kali


mengaitkan semua hal tentang hubungan kami dulu sebagai pacar di sekolah. Mungkin


kenangan membahagiakan Daniel adalah memacariku, sedangkan kenangan terburukku


adalah pernah menjadi pacarnya.


“Lo tau enggak Jul, kalau gue patah hati waktu denger lo nikah.”


“Bodo. Emang gue pikirin.” Sahutku cuek.


“Gue beneran Jul. kenapa waktu itu lo nolak lamaran gue?”


Aku menoleh pada Daniel dengan kening berkerut. Aku ingat jika pria


itu teru-menerus mengajakku menikah setiap bertemu. Lah, ternyata dia serius


dengan kata-katanya.


“Ya karena gue enggak mau sama lo lah.”


“Atas dasar apa?”

__ADS_1


“Kita enggak sedekat itu untuk menikah!”


Daniel terkekah.


“Lantas sedekat apa lo sama suami lo sampai mau menikah sama dia?”


Mulutku bungkam seketika. Daniel benar, aku sama sekali tak dekat


dengan Reinard. Bahkan aku hanya tahu namanya, pekerjaannya dan orangtuanya.


Bahkan aku tidak tahu tentang hal mendetail tentang dia. Apa yang dia suka, apa


hobinya bahkan bagaimana hidupnya selama ini sebelum ada aku.


“Hey…..Jul.” suara Daniel mengaburkan lamunanku.


“Gue kenal sama dia Dan. Lo enggak usah sok tahu.” Sahutku ketus.


“Lo yakin?” Daniel menatapku dengan intens. “Lo enggak pengen minta


bantuan gue buat cari tahu siapa suami lo?”


Aku beranjak dari tempat dudukku. “Gue enggak perlu bantuan lo buat


cari tahu siapa suami gue. Karena gue kenal dia. Dan gue yakin, gue enggak


salah pilih.” Kataku bersamaan dengan derit kursi yang kugeser.


Aku tidak mau terus berada di dekat manusia toxic macam Daniel. Mama


pernah bilang bahwa dalam sebuah hubungan pernikahan, kita tidak perlu


mendengarkan kta-kata orang. Cukup kitalah yang berjalan sendiri dengan


kepercayaan diri kita, menerima pasangan apa adanya dan tentu aja mendukung


setiap apapun yang dikerjakannya.


Sesampainya di kamar, aku segera mengemasi barangku. Aku rasa, malam


pengantin sudah lewat dan aku ingin segera kembali ke apartement. Selamat tinggal


kamar hotel yang super nyaman, yang seharusnya menjadi saksi bisu apa yang kami


lakukan semalam. Semua sudah selesai, dan bayangan malam pengantin yang indah


itu sudah lenyap begitu saja dari benakku.


Sebelum beranjak meninggalkan kamar hotel, aku lebih dulu mengetik


pesan untuk Reinard dan berharap suamiku membacanya.

__ADS_1


‘Aku pulang ke apartement.’


Namun lagi-lagi taka da balasan apapun darinya.


__ADS_2