Klandestin

Klandestin
Sebuah Berita Besar


__ADS_3

Aku


mengatur irama jantungku ketika sosok ini sudah berdiri di depanku dengan


senyumannya yang terlihat menyimpan banyak  misteri. Sejujurnya aku tidak pernah mengenal orang ini—bahkan namanya


saja aku tidak tahu. Hanya saja, aku teringat pesan dari Reinard untuk menjauh


tiap bertemu dengannya, membuatku harus menjaga jarak dan menyimpulkan bahwa


orang ini berbahaya..


Sosok


yang berdiri di depanku ini adalah pengemis itu. Pria pengemis yang terlihat


menemui suamiku dan berbicara serius dengannya waktu itu.


“Apa—yang


bisa saya bantu?” aku mencoba bersikap wajar. Dari pakaian yang dikenakannya,


ia tidak akan meminta-minta seperti biasanya.


Pria itu kembali tersenyum.


Sebuah senyum yang sarat dengan sesuatu yang misterius menurutku. Ataukah aku hanya berlebihan, over thingking


karena pesan Reinard waktu itu?


“Julia bukan?” tanyanya kemudian,


dan tentu saja langung membuatku terkejut. Bagaimana ia bisa tahu namaku? Siapa


yang memberi tahu? Reinard? Tidak mungkin, bahkan aku rasa mereka mempunyai


hubungan yang kurang baik dan mustahil Reinard mengatakan padanya tentang


diriku.


“I—iya benar.” Sahutku sambil


meremas kantong belanjaan yang masih ku pegang untuk menghalau perasaan takut


yang aku rasa.


“Bisakan kita bicara sebentar?”


tanyanya lagi.


Aku menimbang dengan ragu.


Pembicaraan apa?


“Akh, jangan takut dengan saya.”


Ia seakan tahu apa yang aku pikirkan. “Nama saya Anton.”


Aku belum menjawab. Jadi namanya


Anton? Lelaki pengemis yang sering aku jumpai ini.


“Bagaimana? Apa anda punya waktu?


Saya hanya ingin mengatakan sesuatu yang penting. Sesuatu yang selama ini anda


tidak sadari.”


Sesuatu yang penting? Sepertinya


aku mulai penasaran.


“Baiklah.” Aku menoleh kanan


kiri, mencoba mencari tempat duduk di depan apartement yang bisa kami gunakan


untuk saling bicara karena posisi berdiri seperti ini kurang baik. Namun tidak


ada bangku di sini selain di dekat tempat pembuangan sampah, dan aku yang tidak


mau.


Mataku tertahan di sebuah café di


seberang jalan. Sepertinya itu tempat yang cocok, karena aku tidak mungkin


membawa pak Anton masuk ke dalam apartement.


“Bagaimana kalau di café itu saja


pak?” tanyaku kemudian.


Pak Anton mengikuti arah mataku,


dan ia mengangguk setuju.


“Saya titipin belanjaan saya


dulu.” Aku berjalan menuju pos satpam lalu menitipkan barang-barang


belanjaanku, sebelum akhirnya berjalan beriringan menuju café di seberang


jalan.


*****


Café bernuansan skandinavia ini


tidak begitu ramai, hanya ada aku dan beberapa anak muda yang tengah

__ADS_1


bercengkrama dengan pasangannya. Sejujurnya, aku baru kali ini masuk dan


memesan sesuatu di sini, bahkan selama ini aku sama sekali tidak menyadari


bahwa ada café yang begitu nyaman di depan apartemen tempatku tinggal. Aku


yakin, jika aku akan betah berlama-lama di sini jika bersama Reinard, bukan


bapak-bapak ini. Seorang lelaki misterius yang seakan sedang ingin memberikan sesuatu


padaku lewat tatatapan dan senyumannya yang begitu tidak aku mengerti.


“Maaf menganggu waktu anda.” Pria


itu membuka suara setelah aku duduk di hadapannya setelah memesan dua cangkir


kopi hangat.


Aku hanya tersenyum kaku.


Sebenarnya aku tidak terlalu sibuk, karena hari ini aku juga free dari


pekerjaan. Hanya saja aku merasa membuang-buang waktu sekarang.


“Bapak mau mengatakan apa?”


tanyaku kemudian, tidak sabar dengan apa yang ingin dikatakannya.


Pria itu belum segera menjawab.


Alih-alih membuka mulut, ia justru mengambil cangkirnya dan menyesapnya dengan


penuh perasaan. Jika aku lihat dari caranya berbicara dan berperilaku, ia tidak


seperti seorang yang biasa tinggal di jalanan. Terlihat bagaimana ia begitu


‘biasa’ dengan latte beserta café yang kami datangi sekarang.


“Jangan terburu-buru.” Sahutnya


kemudian. “Apakah anda tidak ingin tahu bagaimana saya bisa tahu nama anda mbak


Julia?”


Aku terdiam. Sebenarnya aku


memang ingin tahu bagaimana ia bisa mengenal namaku. Tapi itu tadi, ketika aku


belum menguasai rasa terkejutku.


“Jadi….bapak tahu nama saya dari


siapa?” tanyaku pada akhirnya.


Dia kembali tersenyum—dengan


“Enggak diminum dulu kopinya?” ia


mengedik pada kopiku yang sama sekali belum aku sentuh. Cappuccino hangat ini


begitu lezat. Pasti! Tapi rasa ingin menyesap itu sama sekali tidak ada di


dalam benakku. Aku hanya ingin pria berkaus biru ini segera mengatakan


tujuannya menemuiku, agar aku bisa pulang dan memasak makan malam untuk


suamiku.


“Iya, nanti saya minum.” Itulah


jawabanku.


Pria itu menyilangkan tangannya


di atas meja.


“Apa anda juga tidak ingin tahu


bagaimana saya bisa mengenal suami anda?”


“Apa kalian saling mengenal?” aku


balik bertanya. Sesuatu yang sebenarnya aku pikirkan sejak dulu di dalam


benakku. Reinard selalu mewanti-wantiku untuk menghindar jika bertemu pria


bernama Anton ini, tapi ia selalu mengelak tiap aku tanya alasannya.


“Ya.” Angguk pak Anton. “Kami


saling mengenal. Bahkan sangat akrab.”


Aku mengerutkan alis.


“Akrab?” tanyaku sangsi.


“Benarkah?”


Pak Anton tertawa, lantas


menyandarkan tubuhnya di kursi dengan santai.


“Sejak kapan kalian menikah?”


“beberapa bulan lalu.”


“Apa Reinard tidak pernah


menceritakan tentang saya?” pak Anton mengangkat salah satu alisnya.

__ADS_1


Aku menggeleng. “Tidak pernah.” Jawabku


jujur tanpa menutupi.


“Sama sekali?”


“Ya….!”


“Astaga.” Pak Anton kembali


menegakkan tubuhnya. “Aku kecewa.”


Aku berdecak lirih. Sejak tadi ia


terus berputar-putar, dan banyak menginterogaisiku layaknya polisi. Apa yang


sebenarnya ia inginkan dariku?


“Tolong jangan berbelit-belit.”


Tukasku kemudian setelah merasa kesal dengan apa yang pria ini lakukan di


depanku. Ia terus beputar-putar dengan kalimatnya, dan bahkan merasa kecewa


ketika Reinard tidak pernah menceritakan tentangnya padaku. Jadi, siapa dia?


Sepenting apakah dia di mata Reinard sampai suamiku harus menceritakan


profilnya pada istrinya—yaitu aku?!


“Apa anda terburu-buru?” Ia


menatapku dengan tegas. Bahkan matanya tertuju tajam padaku. Seolah sedang


berkata bahwa ‘kamu harus tetap di sini apapun keadaannya.’


“Ya.” Aku menatap jam tanganku.


“Ini sudah sore dan saya ingin pulang.”


“Padahal saya ingin menceritakan


cerita panjang sekali….”


“Jadi apa yang anda inginkan pak


Anton? Uang?” Aku berbalik menatapnya dengan tegas—habis kesabaranku.


Menantangnya dengan kalimatku yang begitu menusuk. Ayolah, jika memang ingin


memerasku dengan mengatakan mengenal Reinard dengan baik, pasti akan aku


berikan uang itu. Bukankah di jaman sekarang, banyak orang melakukan hal-hal


seperti ini demi uang?


Bukannya mengangguk, pria itu


malah tertawa. “Bukan! Aku tidak menginginkan uang dari anda.”


Aku mengerutkan alis.


“Saya hanya ingin mengatakan pada


anda siapa Reinard sebenarnya.” Ia kembali menyesap latte-nya dengan penuh


perasaan. Bahkan jemarinya sempat menari-nari kecil ketika café sedang memutar


sebuah lagu. Seakan ia sedang merayakan sesuatu atas pencapaian besarnya.


“Saya cukup mengenal suami saya.”


Aku berusaha untuk tidak tersulut emosi meskipun aku mulai tertarik dengan apa


yang baru saja dikatakannya.


“Apa anda yakin?”


Aku kembali terdiam.


“Seharusnya dalam pernikahan, komunikasi


dan keterbukaan penting bukan?”


Untuk hal ini, aku setuju.


“Ya. Saya rasa begitu.”


“Tapi faktanya, Reinard tidak


melakukan hal itu bukan?”


“Apa maksud anda?!” Suaraku


sedikit meninggi, namun masih bia terkontrol. Suara alunan music yang memenuhi


seluruh café cukup membantu dalam menyamarkan suaraku.


Pak Anton tersenyum sinis.


“Seharusnya anda bersikap sopan


Julia.” Gumamnya. “Karena saya adalah mertua anda.”


Sedetik kemudian aku membeku di


tempatku.


*****

__ADS_1


__ADS_2