
Aku
mengatur irama jantungku ketika sosok ini sudah berdiri di depanku dengan
senyumannya yang terlihat menyimpan banyak misteri. Sejujurnya aku tidak pernah mengenal orang ini—bahkan namanya
saja aku tidak tahu. Hanya saja, aku teringat pesan dari Reinard untuk menjauh
tiap bertemu dengannya, membuatku harus menjaga jarak dan menyimpulkan bahwa
orang ini berbahaya..
Sosok
yang berdiri di depanku ini adalah pengemis itu. Pria pengemis yang terlihat
menemui suamiku dan berbicara serius dengannya waktu itu.
“Apa—yang
bisa saya bantu?” aku mencoba bersikap wajar. Dari pakaian yang dikenakannya,
ia tidak akan meminta-minta seperti biasanya.
Pria itu kembali tersenyum.
Sebuah senyum yang sarat dengan sesuatu yang misterius menurutku. Ataukah aku hanya berlebihan, over thingking
karena pesan Reinard waktu itu?
“Julia bukan?” tanyanya kemudian,
dan tentu saja langung membuatku terkejut. Bagaimana ia bisa tahu namaku? Siapa
yang memberi tahu? Reinard? Tidak mungkin, bahkan aku rasa mereka mempunyai
hubungan yang kurang baik dan mustahil Reinard mengatakan padanya tentang
diriku.
“I—iya benar.” Sahutku sambil
meremas kantong belanjaan yang masih ku pegang untuk menghalau perasaan takut
yang aku rasa.
“Bisakan kita bicara sebentar?”
tanyanya lagi.
Aku menimbang dengan ragu.
Pembicaraan apa?
“Akh, jangan takut dengan saya.”
Ia seakan tahu apa yang aku pikirkan. “Nama saya Anton.”
Aku belum menjawab. Jadi namanya
Anton? Lelaki pengemis yang sering aku jumpai ini.
“Bagaimana? Apa anda punya waktu?
Saya hanya ingin mengatakan sesuatu yang penting. Sesuatu yang selama ini anda
tidak sadari.”
Sesuatu yang penting? Sepertinya
aku mulai penasaran.
“Baiklah.” Aku menoleh kanan
kiri, mencoba mencari tempat duduk di depan apartement yang bisa kami gunakan
untuk saling bicara karena posisi berdiri seperti ini kurang baik. Namun tidak
ada bangku di sini selain di dekat tempat pembuangan sampah, dan aku yang tidak
mau.
Mataku tertahan di sebuah café di
seberang jalan. Sepertinya itu tempat yang cocok, karena aku tidak mungkin
membawa pak Anton masuk ke dalam apartement.
“Bagaimana kalau di café itu saja
pak?” tanyaku kemudian.
Pak Anton mengikuti arah mataku,
dan ia mengangguk setuju.
“Saya titipin belanjaan saya
dulu.” Aku berjalan menuju pos satpam lalu menitipkan barang-barang
belanjaanku, sebelum akhirnya berjalan beriringan menuju café di seberang
jalan.
*****
Café bernuansan skandinavia ini
tidak begitu ramai, hanya ada aku dan beberapa anak muda yang tengah
__ADS_1
bercengkrama dengan pasangannya. Sejujurnya, aku baru kali ini masuk dan
memesan sesuatu di sini, bahkan selama ini aku sama sekali tidak menyadari
bahwa ada café yang begitu nyaman di depan apartemen tempatku tinggal. Aku
yakin, jika aku akan betah berlama-lama di sini jika bersama Reinard, bukan
bapak-bapak ini. Seorang lelaki misterius yang seakan sedang ingin memberikan sesuatu
padaku lewat tatatapan dan senyumannya yang begitu tidak aku mengerti.
“Maaf menganggu waktu anda.” Pria
itu membuka suara setelah aku duduk di hadapannya setelah memesan dua cangkir
kopi hangat.
Aku hanya tersenyum kaku.
Sebenarnya aku tidak terlalu sibuk, karena hari ini aku juga free dari
pekerjaan. Hanya saja aku merasa membuang-buang waktu sekarang.
“Bapak mau mengatakan apa?”
tanyaku kemudian, tidak sabar dengan apa yang ingin dikatakannya.
Pria itu belum segera menjawab.
Alih-alih membuka mulut, ia justru mengambil cangkirnya dan menyesapnya dengan
penuh perasaan. Jika aku lihat dari caranya berbicara dan berperilaku, ia tidak
seperti seorang yang biasa tinggal di jalanan. Terlihat bagaimana ia begitu
‘biasa’ dengan latte beserta café yang kami datangi sekarang.
“Jangan terburu-buru.” Sahutnya
kemudian. “Apakah anda tidak ingin tahu bagaimana saya bisa tahu nama anda mbak
Julia?”
Aku terdiam. Sebenarnya aku
memang ingin tahu bagaimana ia bisa mengenal namaku. Tapi itu tadi, ketika aku
belum menguasai rasa terkejutku.
“Jadi….bapak tahu nama saya dari
siapa?” tanyaku pada akhirnya.
Dia kembali tersenyum—dengan
“Enggak diminum dulu kopinya?” ia
mengedik pada kopiku yang sama sekali belum aku sentuh. Cappuccino hangat ini
begitu lezat. Pasti! Tapi rasa ingin menyesap itu sama sekali tidak ada di
dalam benakku. Aku hanya ingin pria berkaus biru ini segera mengatakan
tujuannya menemuiku, agar aku bisa pulang dan memasak makan malam untuk
suamiku.
“Iya, nanti saya minum.” Itulah
jawabanku.
Pria itu menyilangkan tangannya
di atas meja.
“Apa anda juga tidak ingin tahu
bagaimana saya bisa mengenal suami anda?”
“Apa kalian saling mengenal?” aku
balik bertanya. Sesuatu yang sebenarnya aku pikirkan sejak dulu di dalam
benakku. Reinard selalu mewanti-wantiku untuk menghindar jika bertemu pria
bernama Anton ini, tapi ia selalu mengelak tiap aku tanya alasannya.
“Ya.” Angguk pak Anton. “Kami
saling mengenal. Bahkan sangat akrab.”
Aku mengerutkan alis.
“Akrab?” tanyaku sangsi.
“Benarkah?”
Pak Anton tertawa, lantas
menyandarkan tubuhnya di kursi dengan santai.
“Sejak kapan kalian menikah?”
“beberapa bulan lalu.”
“Apa Reinard tidak pernah
menceritakan tentang saya?” pak Anton mengangkat salah satu alisnya.
__ADS_1
Aku menggeleng. “Tidak pernah.” Jawabku
jujur tanpa menutupi.
“Sama sekali?”
“Ya….!”
“Astaga.” Pak Anton kembali
menegakkan tubuhnya. “Aku kecewa.”
Aku berdecak lirih. Sejak tadi ia
terus berputar-putar, dan banyak menginterogaisiku layaknya polisi. Apa yang
sebenarnya ia inginkan dariku?
“Tolong jangan berbelit-belit.”
Tukasku kemudian setelah merasa kesal dengan apa yang pria ini lakukan di
depanku. Ia terus beputar-putar dengan kalimatnya, dan bahkan merasa kecewa
ketika Reinard tidak pernah menceritakan tentangnya padaku. Jadi, siapa dia?
Sepenting apakah dia di mata Reinard sampai suamiku harus menceritakan
profilnya pada istrinya—yaitu aku?!
“Apa anda terburu-buru?” Ia
menatapku dengan tegas. Bahkan matanya tertuju tajam padaku. Seolah sedang
berkata bahwa ‘kamu harus tetap di sini apapun keadaannya.’
“Ya.” Aku menatap jam tanganku.
“Ini sudah sore dan saya ingin pulang.”
“Padahal saya ingin menceritakan
cerita panjang sekali….”
“Jadi apa yang anda inginkan pak
Anton? Uang?” Aku berbalik menatapnya dengan tegas—habis kesabaranku.
Menantangnya dengan kalimatku yang begitu menusuk. Ayolah, jika memang ingin
memerasku dengan mengatakan mengenal Reinard dengan baik, pasti akan aku
berikan uang itu. Bukankah di jaman sekarang, banyak orang melakukan hal-hal
seperti ini demi uang?
Bukannya mengangguk, pria itu
malah tertawa. “Bukan! Aku tidak menginginkan uang dari anda.”
Aku mengerutkan alis.
“Saya hanya ingin mengatakan pada
anda siapa Reinard sebenarnya.” Ia kembali menyesap latte-nya dengan penuh
perasaan. Bahkan jemarinya sempat menari-nari kecil ketika café sedang memutar
sebuah lagu. Seakan ia sedang merayakan sesuatu atas pencapaian besarnya.
“Saya cukup mengenal suami saya.”
Aku berusaha untuk tidak tersulut emosi meskipun aku mulai tertarik dengan apa
yang baru saja dikatakannya.
“Apa anda yakin?”
Aku kembali terdiam.
“Seharusnya dalam pernikahan, komunikasi
dan keterbukaan penting bukan?”
Untuk hal ini, aku setuju.
“Ya. Saya rasa begitu.”
“Tapi faktanya, Reinard tidak
melakukan hal itu bukan?”
“Apa maksud anda?!” Suaraku
sedikit meninggi, namun masih bia terkontrol. Suara alunan music yang memenuhi
seluruh café cukup membantu dalam menyamarkan suaraku.
Pak Anton tersenyum sinis.
“Seharusnya anda bersikap sopan
Julia.” Gumamnya. “Karena saya adalah mertua anda.”
Sedetik kemudian aku membeku di
tempatku.
*****
__ADS_1