
Aku terbangun
ketika hawa dingin menyapu kulitku melalui pintu loteng yang belum tertutup.
Aku mengucek-ucek mataku, lantas mengalihkan pandang pada jam dinding. Pukul
tujuh malam. Pantas saja hawa semakin dingin.
Reinard sudah
tidak ada di sampingku, padahal aku ingat, sore tadi setelah kami saling
membahagiakan di atas tempat tidur, ia juga ikut tidur di sampingku. Ia pasti
sudah bangun lebih dulu dan membiarkanku tidur nyenyak tanpa menganggu.
“Sudah bangun?”
suara Reinard menguar di telingaku. Pria itu sudah berdiri di depan pintu
sambil tersenyum. Wajahnya kelihatan segar dan ia sudah berganti baju lebih
santai.
“Kenapa tidak
membangunkanku?” aku menyandarkan tubuhku di badan kasur. “Ini sudah malam.”
Reinard berjalan
ke arahku dan duduk di pinggiran tempat tidur.
“Aku lihat kamu
begitu nyenyak, aku tidak tega.” Ia menoel hidungku. “Apa kamu lapar?”
Aku memegang
perut. “He’em…” anggukku tak memungkiri bahwa cacing-cacing di perutku sudah
memberontak.
“Kalau begitu,
segera mandi dan mari kita makan.”
“Makan?” aku
melebarkan mataku. “Makan apa?”
“Makan….ya
makan!”Sahur Reinard. “Aku masak.”
Aku tertawa kecil.
Selama pernikahan kami, baru kali ini aku mendengar Reinard memasak.
“Kenapa
tertawa?” ia meraih tubuhku. “Apa kamu berfikir kalau masakanku tidak enak?” ia
mulai menggelitiki perutku.
“Tidak…!” tawaku
sambil mencoba menghindari gelitikannya di pinggangku.
“Tapi kenapa tertawa?”
Reinard belum menyudahi gelitikannya.
Aku tertawa
sambil menjerit-jerit. “Aku hanya tertawa, apa tidak boleh?”
“Boleeeeh….”
Reinard menggelitik semakin intens. “Asalkan kamu mau aku gelitiki.” Ia
menghempaskan badanku di atas kasur, lalu menciumiku.
“Rei…..apakah
kita tidak jadi makan?” tanyaku ketika suamiku itu justru kembali membuka
kancing bajuku.
“Nanti dulu.
Nanggung Julia…” erangnya ketika aku menginterupsi apa yang sedang
dilakukannya.
Aku tersenyum.
Membiarkannya bermain-main dengan diriku. Toh, aku istrinya dan malam ini adalah
milik kami berdua. Dia bebas melakukan apapun padaku, dan akupun juga begitu.
*****
“Hmm…baunya
harum.” Aku melebarkan senyum ketika menjumpai mie goreng dan ayam goreng di
atas meja makan. “Yakin kamu yang buat?” Aku menatap Reinard sembari duduk pada
salah satu kursi kosong, di depan Reinard.
“Apa aku sedang
terlihat berbohong sekarang?” ia meminum air putih dari gelas yang dipegangnya.
“Cobalah…”
Aku mengambil
garpu lalu mulai memelintir mie goreng yang ada di hadapanku. Dari tampilan dan
aromanya, mie goreng ini terasa enak.
__ADS_1
“Jangan lupa
ayamnya.” Reinard meletakkan satu paha ayam di piringku.
“Wooo….enak
Rei.” Mataku berbinar ketika satu kunyahan berhasil aku telan. “Belajar dari
mana?” aku kembali memelintir mie dari garpuku dengan porsi lebih besar dan
kemudian mengunyahnya lagi.
“Apa kamu pikir
aku tidak bisa masak?” decak Reinard. “Aku kecewa padamu istriku.”
Aku tertawa.
“Maaf…maaf….” Aku menangkupkan kedua tanganku. “Aku kasih nilai sembilan dari sepuluh.
Gimana?”
Reinard
mengedikkan dagu. “Not bad. Nilai yang sempurna.” Katanya. “Sebagai bentuk
apresiasi untuk kananan ini, kamu harus melakukan sesuatu.”
“Apa?”
“Habiskan
mie-nya. OKE!” Reinard beranjak dari duduknya lant berjalan ke arah kulkas.
“Aku kasih hadiah kalau habis.” tangannya membuka pintu kulkas.
“Hadiahnya apa?”
tanyaku tidak sabar.
“Taaa…..daaaa…..”
Reinard mengeluarkan sekotak besar ice cream.
“Waaaa…ice
cream!” seruku antusias. Bahkan aku sudah bisa merasakan ice cream itu meleleh
di mulutku sebelum aku berhasil memakannya.
Reinard menaruh
kotak ice cream itu tepat di depanku. “Jadi, habiskan makananmu ya sayang?” ia
mengacak-acak rambutku sebelum akhirnya kembali ke tempat duduknya. “Baru kamu
boleh menikmati ice cream itu.
Aku terenyum
lebar.
dengan senang hati!” jawabku penuh semangat.
*****
Selepas makan
malam, kami memilih duduk di depan perapian sambil memakan ice cream. Cuaca
memang cukup dingin, apalagi hujan sempat turun beberapa saat yang lalu. Namun
semuanya terasa hangat ketika kami saling berpelukan seperti ini. Apalagi villa
bergaya Eropa ini juga menyediakan perapian yang cukup menghangatkan.
“Aneh enggak sih
kita?” Reinard bergumam ketika aku baru saja memasukkan sesendok ice cream ke
dalam mulutnya.
“Aneh kenapa?”
aku mendongak menatap matanya.
“Makan ice cream
di cuaca sedingin ini.” Ia mengedikan dagunya pada kotak ice cream yang
dipegangnya yang kini hanya tersisa separo.
Aku terbahak. Ku
akui baru kali ini aku melakukan hal absurd seperti ini. Duduk saling memeluk
dengan selimut di tubuh kami, di depan perapian pula. Namun sambil menikmati
ice cream kacang hijau. Namun aku pikir tidak ada yang buruk, toh ice cream ini
tetap terasa nikmat meskipun kami menyantapnya di cuaca sedingin ini.
“ENggak. Asal
sama kamu.” Aku mengeratkan lenganku di pinggang Reinard.
“Kalau kamu
pilek gimana sayang?” Reinard mengecup keningku. Bibirnya terasa dingin ketika
menyentuh kulitku.
“Kalau aku pilek
kan punya dokter.” Ujarku. “Kalau kamu yang pilek gimana?”
Reinard tampak
berfikir sesaat.
“Kalau aku pilek
__ADS_1
kan punya istri yang bakalan ngerawat aku di rumah.” Katanya lalu menyuapiku
dengan sesendok ice cream dari tangannya.
Aku menerima
suapan itu dengan sedikit nyengir, pasalnya dingin dari ice crem itu cukup
membuat langit-langit mulutku membeku sesaat.
“Jul, apa
hubunganmu dengan Daniel?” Reinard mengelus-elus pucuk kepalaku. Nada suaranya berubah
berat. Menandakan ia sedang dalam mode serius sekarang.
“Cuma teman
SMA.” Jawabku datar.
“Selebihnya?”
“Emm….mantan
pacar waktu SMA.” Aku menjawab dengan jujur, dan akan berusaha untuk mengatakan
yang sebenarnya.
“Kenapa kalian
putus.”
Aku berdecih lirih.
Tidak bisa menyimpulkan kalau saat ini Reinard tengah cemburu, namun untuk apa
ia menanyakan tentang masa laluku dengan Daniel sampai mendetail begini?
“Karena aku
merasa, dia bukan pria baik untukku.” Aku menegakkan duduk dan berbalik
menghadap ke arah suamiku yang ternyata sedang menatapku. “Kau tahu kan Rei,
ketika hubungan percintaan harus kandas karena orang ketiga.”
Reinard tak
menyahut.
“Kenapa kamu
menanyakan tentang Daniel padaku?”
“Karena aku
merasa kalian begitu dekat, bahkan sampai sekarang.”
Aku memutar bola
mata malas. “Ya karena kami berada dalam kompleks kantor yang sama dan dia—“
“Masih
menyukaimu?”
Aku tak segera
menjawab, namun mengangguk pelan pada akhirnya. “Sepertinya begitu.”
“Kalau begitu,
jangan dekat-dekat dengannya lagi.”
Aku menaikkan
alis. “Kenapa? Kami hanya bertemu sesekali.”
“Karena aku
rasa, dia akan terus menjadi orang ketiga diantara kita.”
Sepertinya
kata’orang ketiga’ tidak begitu cocok dengan apa yang terjadi pada kami saat
ini. Bisa dikatakan orang ketiga jika aku juga menaruh perasaan pada Daniel,
namun nyatanya alih-alih suka, aku malah membenci pria itu dengan sangat. Apalagi
setelah aku datang ke kantornya beberapa hari yang lalu dan ia mengatakan
sesuatu yang tak menyenangkan untukku.
“Aku tidak akan
peduli padanya Rei.” Sahutku lembut. “Percayalah, hanya seorang Reinard yang
bisa membuat hati seorang Julia berdebar hebat.”
Reinard
memperbaiki letak duduknya dan menangkupkan kedua tangannya di pipiku.
“Aku mencintaimu
Julia.” Gumamnya. “Maafkan aku jika selama ini masih sering menyakitimu.” Dia
memelukku dengan hangat.
“Hhmm….apa
kalimat maaf menjadi kalimat paling ampuh yang keluar dari mulutmu Rei?”
Ejekku. “Setiap hari, detik dan menit kamu terus meminta maaf padaku. Kenapa?”
“Karena aku
hanya merasa sering berbuat salah padamu.” Ia mengeratkan pelukannya, seakan
aku akan berlari meninggalkannya jika ia tak melakukan itu.
__ADS_1