Klandestin

Klandestin
Di Puncak


__ADS_3

Aku terbangun


ketika hawa dingin menyapu kulitku melalui pintu loteng yang belum tertutup.


Aku mengucek-ucek mataku, lantas mengalihkan pandang pada jam dinding. Pukul


tujuh malam. Pantas saja hawa semakin dingin.


Reinard sudah


tidak ada di sampingku, padahal aku ingat, sore tadi setelah kami saling


membahagiakan di atas tempat tidur, ia juga ikut tidur di sampingku. Ia pasti


sudah bangun lebih dulu dan membiarkanku tidur nyenyak tanpa menganggu.


“Sudah bangun?”


suara Reinard menguar di telingaku. Pria itu sudah berdiri di depan pintu


sambil tersenyum. Wajahnya kelihatan segar dan ia sudah berganti baju lebih


santai.


“Kenapa tidak


membangunkanku?” aku menyandarkan tubuhku di badan kasur. “Ini sudah malam.”


Reinard berjalan


ke arahku dan duduk di pinggiran tempat tidur.


“Aku lihat kamu


begitu nyenyak, aku tidak tega.” Ia menoel hidungku. “Apa kamu lapar?”


Aku memegang


perut. “He’em…” anggukku tak memungkiri bahwa cacing-cacing di perutku sudah


memberontak.


“Kalau begitu,


segera mandi dan mari kita makan.”


“Makan?” aku


melebarkan mataku. “Makan apa?”


“Makan….ya


makan!”Sahur Reinard. “Aku masak.”


Aku tertawa kecil.


Selama pernikahan kami, baru kali ini aku mendengar Reinard memasak.


“Kenapa


tertawa?” ia meraih tubuhku. “Apa kamu berfikir kalau masakanku tidak enak?” ia


mulai menggelitiki perutku.


“Tidak…!” tawaku


sambil mencoba menghindari gelitikannya di pinggangku.


“Tapi kenapa tertawa?”


Reinard belum menyudahi gelitikannya.


Aku tertawa


sambil menjerit-jerit. “Aku hanya tertawa, apa tidak boleh?”


“Boleeeeh….”


Reinard menggelitik semakin intens. “Asalkan kamu mau aku gelitiki.” Ia


menghempaskan badanku di atas kasur, lalu menciumiku.


“Rei…..apakah


kita tidak jadi makan?” tanyaku ketika suamiku itu justru kembali membuka


kancing bajuku.


“Nanti dulu.


Nanggung Julia…” erangnya ketika aku menginterupsi apa yang sedang


dilakukannya.


Aku tersenyum.


Membiarkannya bermain-main dengan diriku. Toh, aku istrinya dan malam ini adalah


milik kami berdua. Dia bebas melakukan apapun padaku, dan akupun juga begitu.


*****


“Hmm…baunya


harum.” Aku melebarkan senyum ketika menjumpai mie goreng dan ayam goreng di


atas meja makan. “Yakin kamu yang buat?” Aku menatap Reinard sembari duduk pada


salah satu kursi kosong, di depan Reinard.


“Apa aku sedang


terlihat berbohong sekarang?” ia meminum air putih dari gelas yang dipegangnya.


“Cobalah…”


Aku mengambil


garpu lalu mulai memelintir mie goreng yang ada di hadapanku. Dari tampilan dan


aromanya, mie goreng ini terasa enak.

__ADS_1


“Jangan lupa


ayamnya.” Reinard meletakkan satu paha ayam di piringku.


“Wooo….enak


Rei.” Mataku berbinar ketika satu kunyahan berhasil aku telan. “Belajar dari


mana?” aku kembali memelintir mie dari garpuku dengan porsi lebih besar dan


kemudian mengunyahnya lagi.


“Apa kamu pikir


aku tidak bisa masak?” decak Reinard. “Aku kecewa padamu istriku.”


Aku tertawa.


“Maaf…maaf….” Aku menangkupkan kedua tanganku. “Aku kasih nilai sembilan dari sepuluh.


Gimana?”


Reinard


mengedikkan dagu. “Not bad. Nilai yang sempurna.” Katanya. “Sebagai bentuk


apresiasi untuk kananan ini, kamu harus melakukan sesuatu.”


“Apa?”


“Habiskan


mie-nya. OKE!” Reinard beranjak dari duduknya lant berjalan ke arah kulkas.


“Aku kasih hadiah kalau habis.” tangannya membuka pintu kulkas.


“Hadiahnya apa?”


tanyaku tidak sabar.


“Taaa…..daaaa…..”


Reinard mengeluarkan sekotak besar ice cream.


“Waaaa…ice


cream!” seruku antusias. Bahkan aku sudah bisa merasakan ice cream itu meleleh


di mulutku sebelum aku berhasil memakannya.


Reinard menaruh


kotak ice cream itu tepat di depanku. “Jadi, habiskan makananmu ya sayang?” ia


mengacak-acak rambutku sebelum akhirnya kembali ke tempat duduknya. “Baru kamu


boleh menikmati ice cream itu.


Aku terenyum


lebar.


dengan senang hati!” jawabku penuh semangat.


*****


Selepas makan


malam, kami memilih duduk di depan perapian sambil memakan ice cream. Cuaca


memang cukup dingin, apalagi hujan sempat turun beberapa saat yang lalu. Namun


semuanya terasa hangat ketika kami saling berpelukan seperti ini. Apalagi villa


bergaya Eropa ini juga menyediakan perapian yang cukup menghangatkan.


“Aneh enggak sih


kita?” Reinard bergumam ketika aku baru saja memasukkan sesendok ice cream ke


dalam mulutnya.


“Aneh kenapa?”


aku mendongak menatap matanya.


“Makan ice cream


di cuaca sedingin ini.” Ia mengedikan dagunya pada kotak ice cream yang


dipegangnya yang kini hanya tersisa separo.


Aku terbahak. Ku


akui baru kali ini aku melakukan hal absurd seperti ini. Duduk saling memeluk


dengan selimut di tubuh kami, di depan perapian pula. Namun sambil menikmati


ice cream kacang hijau. Namun aku pikir tidak ada yang buruk, toh ice cream ini


tetap terasa nikmat meskipun kami menyantapnya di cuaca sedingin ini.


“ENggak. Asal


sama kamu.” Aku mengeratkan lenganku di pinggang Reinard.


“Kalau kamu


pilek gimana sayang?” Reinard mengecup keningku. Bibirnya terasa dingin ketika


menyentuh kulitku.


“Kalau aku pilek


kan punya dokter.” Ujarku. “Kalau kamu yang pilek gimana?”


Reinard tampak


berfikir sesaat.


“Kalau aku pilek

__ADS_1


kan punya istri yang bakalan ngerawat aku di rumah.” Katanya lalu menyuapiku


dengan sesendok ice cream dari tangannya.


Aku menerima


suapan itu dengan sedikit nyengir, pasalnya dingin dari ice crem itu cukup


membuat langit-langit mulutku membeku sesaat.


“Jul, apa


hubunganmu dengan Daniel?” Reinard mengelus-elus pucuk kepalaku. Nada suaranya berubah


berat. Menandakan ia sedang dalam mode serius sekarang.


“Cuma teman


SMA.” Jawabku datar.


“Selebihnya?”


“Emm….mantan


pacar waktu SMA.” Aku menjawab dengan jujur, dan akan berusaha untuk mengatakan


yang sebenarnya.


“Kenapa kalian


putus.”


Aku berdecih lirih.


Tidak bisa menyimpulkan kalau saat ini Reinard tengah cemburu, namun untuk apa


ia menanyakan tentang masa laluku dengan Daniel sampai mendetail begini?


“Karena aku


merasa, dia bukan pria baik untukku.” Aku menegakkan duduk dan berbalik


menghadap ke arah suamiku yang ternyata sedang menatapku. “Kau tahu kan Rei,


ketika hubungan percintaan harus kandas karena orang ketiga.”


Reinard tak


menyahut.


“Kenapa kamu


menanyakan tentang Daniel padaku?”


“Karena aku


merasa kalian begitu dekat, bahkan sampai sekarang.”


Aku memutar bola


mata malas. “Ya karena kami berada dalam kompleks kantor yang sama dan dia—“


“Masih


menyukaimu?”


Aku tak segera


menjawab, namun mengangguk pelan pada akhirnya. “Sepertinya begitu.”


“Kalau begitu,


jangan dekat-dekat dengannya lagi.”


Aku menaikkan


alis. “Kenapa? Kami hanya bertemu sesekali.”


“Karena aku


rasa, dia akan terus menjadi orang ketiga diantara kita.”


Sepertinya


kata’orang ketiga’ tidak begitu cocok dengan apa yang terjadi pada kami saat


ini. Bisa dikatakan orang ketiga jika aku juga menaruh perasaan pada Daniel,


namun nyatanya alih-alih suka, aku malah membenci pria itu dengan sangat. Apalagi


setelah aku datang ke kantornya beberapa hari yang lalu dan ia mengatakan


sesuatu yang tak menyenangkan untukku.


“Aku tidak akan


peduli padanya Rei.” Sahutku lembut. “Percayalah, hanya seorang Reinard yang


bisa membuat hati seorang Julia berdebar hebat.”


Reinard


memperbaiki letak duduknya dan menangkupkan kedua tangannya di pipiku.


“Aku mencintaimu


Julia.” Gumamnya. “Maafkan aku jika selama ini masih sering menyakitimu.” Dia


memelukku dengan hangat.


“Hhmm….apa


kalimat maaf menjadi kalimat paling ampuh yang keluar dari mulutmu Rei?”


Ejekku. “Setiap hari, detik dan menit kamu terus meminta maaf padaku. Kenapa?”


“Karena aku


hanya merasa sering berbuat salah padamu.” Ia mengeratkan pelukannya, seakan


aku akan berlari meninggalkannya jika ia tak melakukan itu.

__ADS_1


__ADS_2