Klandestin

Klandestin
Suamiku dan Pelukannya


__ADS_3

“Tidak!


Jangan….!”


“Tidaaak…Jangan…!”


“Jangan….aku


mencintai dia!”


“Dia milikku!”


Aku terbangun


dari tidur lelapku ketika suara teriakan itu menggema semakin nyaring di


telingaku.


Aku terlonjak


duduk, mendapati Reinard berteriak-teriak dengan mata terpejam. Wajah pria itu


begitu ketakutan dan tidak tenang.


“Rei…Rei….bangun….!”


aku menggoyang-goyangkan tubuhnya namun ia masih tak bergeming.


Merasa usahaku


tidak berhasil, kupindahkan guling yang menjadi pembatas tempat tidur kami. Aku


sedikit maju, menggoyang-goyangkan tubuh Reinard lebih keras lagi.


“Rei…..bangun!!!”


Seperti


terkejut, pria itu langsung membuka matanya. Menatapku dengan nanar lalu


menarikku ke dalam pelukannya.


Aku terdiam


sejenak, hendak mendorong tubuhnya agar menjauh namun urung aku lakukan. Nafasnya


yang turun naik terdengar menderu di telingaku. Badannya basah oleh keringat


dan aku yakin jika sekarang kondisi Reinard tidak baik-baik saja. Kontras dengan


kebiasaan Reinard yang begitu tenang dan dingin.


“Kamu kenapa


Rei?” aku mengusap keringat di pelipisnya. Meskipun kondisi remang-remang, aku


bisa melihat keringat mengalir dari sana.


Sudah kuduga,


Reinard tak menyahut. Ia justru mengencangkan lengannya di pinggangku.


“Kamu enggak


apa-apa kan Jul?” suaranya terdengar lirih dan serak.


“Aku?” kini aku


yang terlihat bingung. “Aku baik-baik saja. Sejak tadi aku tidur di sampingmu


dan kamu terus berteriak-teriak.”


“Syukurlah….”


“Ha?” aku


semakin tidak mengerti. Aku yakin jika Reinard belum sepenuhnya sadar bahwa


sekarang ia sudah berada di dunia nyata. “Apa kamu mau minum? Bagaimana dengan


air putih?”


Aku sudah hampir


beranjak dari kasur, ketika tangan Reinard menarikku untuk tetap berada di


dalam pelukannya. Seandainya saja saat ini Reinard melakukannya dalam keadaan


baik-baik saja, mungkin aku tidak akan bisa menahan keinginanku untuk


menciumnya. Namun karena saat ini kondisi Reinard yang setengah tidak sadar dan


juga ketakutan, aku berusaha untuk memakluminya. Sifat alamiah manusia bukan jika


ia amembutuhkan sebuah pelukan hangat ketika cemas? Anggap saja Reinard juga


begitu.


“Aku tidak ingin


minum Jul.” Katanya. “Aku takut.”


Aku menenggak


saliva susah payah. Kalimat ‘aku-takut’ benar-benar menyika batinku. Bukankah


seharusnya aku yang mengatakan hal tersebut jika dia hendak meninggalkanku


sendirian di apartement seperti hari-hari biasanya?


“Baik…baik…. Aku


tidak akan meninggalkanmu.” Jawabku. “Tapia pa kamu tidak ingin kembali tidur?”


Karena pundakku


kini sudah mulai pegal.


“Aku ingin


tidur, tapi jangan pernah pergi dari kasur ini.”


Aku mengangguk


lantas membantunya kembali merebahkan diri diatas kasur. Ketika aku hendak


sedikit menjaga jarak, kembali Reinard menarikku dan melingkarkan salah satu


tangannya di pinggangku sedangkan kepalanya bersandar di dadaku.


Aku ingin


mengartikan posisi ini dengan hal lain. Namun ketika melihat Reinard begitu


nyaman, aku justru mengulum senyum, berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran


kotor di otakku yang datang di waktu yang sama sekali tidak tepat.


Perlahan kutepuk-tepuk


punggungnya pelan, dan tak lama kemudian aku bisa merasakan hembusan nafas

__ADS_1


beratnya yang naik turun dengan teratur.


Reinard sudah


kembali tidur.


******


“Semakin hari,


gue merasa kalau Reinard punya sebuah rahasia.” Aku mengetuk-ngetuk jariku di


meja sambil bertopang dagu. Pandanganku tertuju pada jalanan padat di depanku.


Pukul tiga sore dan aku meluangkan waktu menemani Eli berbelanja. Hari ini Reza


tidak ada diantara kami, dan itu cukup membuatku berbicara lebih serius dengan


Eli. Karena ketika ada Reza, ujung-ujungnya pasti aku hanya akan mendengarkan


perdebatan Eli dengan manusia itu.


“Kenapa lo


ngomongnya gitu?” Tanya Eli tanpa menoleh padaku. Ia terlihat mematung di depan


cermin besar untuk mencocokkan beberapa baju ke tubuhnya. Sebenarnya tubuh Eli


sangat bagus dan aku pikir ia bisa mengenakan pakaian model apa saja.


“Lo tau gak El?”


Eli menoleh


sekilas, namun kembali mengambil salah satu baju yang dipegang pelayan toko


yang sejak tadi begitu setia berdiri di samping Eli.


“Kemarin ada


seorang bapak-bapak pengemis di depan apartement kami, waktu aku bilang pernah


ketemu pengemis itu di kantor, wajah Reinard berubah panic dan memintaku


menghindar jika ketemu pengemis itu lagi.” Aku menegakkan dudukku. “DIa bilang


pengemis itu terlalu aneh.”


“Ya mungkin juga


memang aneh Jul.” sahut Eli kemudian. “Insting Reinard lebih baik dari lo. Gue


yakin. Lo kan tipe manusia yang gampang percaya pada penampilan orang.”


Aku mencebik.


Kalimat Eli ada benarnya juga sih.


“Ambil semua ya


mbak.” Eli terlihat menyerahkan semua baju yang dipegangnya pada waiters itu


dan menyerahkan sebuah kartu kredit. Setelah pegawai itu pergi, ia


menghampiriku dan duduk di depanku.


“Dan semalem dia


mimpi buruk. Teriak-teriak lalu terbangun dengan wajah pucat serta keringat


dingin.” Aku mengingat kejadian semalam, bahkan aku sempat merasa sangat


berdebar ketika pagi tadi ia masih melingkarkan tangannya di pinggangku ketika


Eli mangut-mangut.


“Lo enggak


Tanya, dia mimpi apa?”


Aku menggeleng.


“Sepertinya


kalaupun gue Tanya dia juga enggak bakalan jawab.” Sahutku pelan. “Lo tau kan


hubungan kami ini bagaimana?”


Eli berdecih


kecil, membuang pandang keluar jendela sebelum akhirnya membuka kalimat.


“Konsekwensi


menikah karena perjodohan sih gue rasa emang kayak gitu.”


“Teru gue harus


gimana dong?”


“Pelan-pelan


Jul. gue yakin kalau dia bakalan cerita apapun sama lo, kalau waktunya udah


tepat aja. Sebagai istri yang baik, tugas lo yang kasih semangat dialah…..”


“Gitu ya?”


“Ho’oh.”


“Ciieee….yang


berpengalaman.” Godaku.


Eli merengut.


“MUlai


deeeh….enggak Reza, enggak lo, sama aja!”


Aku kembali


terbahak.


“Eh, by the way


gimana hubungan lo sama Doni El?” aku mengalihkan pembicaraan.


Eli berdecak, ia


memilih untuk menyandarkan tubuhnya di kursi.


“Kemarin malam dia


mabuk, terus datang ke rumah gue.”


“Beneran?”


mataku melebar.


“Iya Jul. kenapa

__ADS_1


sih harus ke rumah gue? Dia kan punya banyak cewek.” Sahut Eli sewot.


Aku tersenyum.


“Dia belum move on dari lo El itu tandanya.”


“Idiiih….udah


bertahun-tahun Jul.”


“Sebenernya ya


kayak lo El. Lo aslinya juga belum move on kan sama dia.”


“Udaaaaah…..”


“Kalau udah


kenapa enggaka nikah lagi dan berhenti jadi player begitu?”


“Yak karena gue


trauma Jul. takut disakiti lagi.”


Aku mencebik.


Mekipun aku tidak benar-benar paham hidup setelah pernikahan, karena aku


pengantin baru. Namun aaku yakin jika apa yang dilakukan Eli ataupun Doni


selama ini adalah bentuk dari hati mereka yang masih belum sepenuhnya melupakan


satu sama lain.


“El, setahu gue


segala macam trauma dan sakit hati akan hilang ketika kita dipertemukan lagi


dengan orang yang tepat. Dan selama ini gue tahu lo hanya ingin membuktikan


pada Doni bahwa lo mampu berdiri tanpa dia. Begitupun Doni. Jujur sama gue, di


hati kecil lo yang paling dalam, nama dia masih ada kan?”


Eli menghembuskan


nafas kesal. “Apa’an sih lo Jul.” dengusnya lantas membuang pandang kea rah lain—berusaha


menghindariku.


******


Aku dan Eli


berpisah di parkiran. Dia masuk ke dalam mobilnya yang nanti akan membawanya ke


studio foto untuk pemotretan, sedangkan aku hendak kembali ke kantor sebentar


untuk mengerjakan beberapa pekerjaan. Karena aku ingin semuanya beres ketika


aku berangkat ke Perancis nanti. Setidaknya ketika liburan, aku tidak diganggu


telepon dari Rini yang menanyakan pekerjaan ini dan itu.


Baru saja


menyalakan mesin mobil, Arian tiba-tiba menelpon.


“Apa Yan?”


tanyaku setelah mengangkata telepon itu.


“Kamu di Bandung


ya Jul?”


“Bandung? Gue


kerja kali. Kenapa emang?”


“Gue pikir ikut


suami lo ke Bandung?”


“Suami gue ke


Bandung?” aku mengeryitkan keningku. “Suami gue kerjalah….”


“Masa iya sih?”


“Ho’oh.”


“Apa gue salah


lihat ya?”


“Emang gimana?”


“Kayaknya gue


tadi lihat Reinard lagi di daerah Braga.”


Aku berdecak.


“Enggak mungkin.


Lo salah lihat kali. Dia ada operasi kok sore ini.”


Arian tergelak.


“Iya nih,


kayaknya emang salah lihat. Orang gue Cuma lihatnya di dalem mobil.”


Aku berdecak


sebal.


“Kalau lo di


Bandung kan kita bisa meet up. Mau gue kenalin ke cewek baru aku.”


“Yaelaaah…gue


sama Reinard sibuk bos. Emang lo yang bisa kelayapan kemana-mana.”


“Namanya masih muda.”


Aku menatap jam


di pergelangan tanganku. Sudah mulai sore, dan aku harus segera kembali


bekerja.


“Gue tutup ya


Yan. Mau balik kantor nih.”


“Oke…Oke…see you


ya Jul.”

__ADS_1


“Yeeeepz!”


******


__ADS_2