Klandestin

Klandestin
Sehari Tanpamu


__ADS_3

“Gimana


Rin, suamiku udah pergi ‘kan?” tanyaku di balik telepon siang itu. Sudah


beberapa jam aku menunggu kabar dari Rini apakah Reinard masih menungguku di


kantor atau tidak.


Aku


mendengar Rini menghela nafas.


“Udah


mbak. Ada operasi katanya.” Sahutnya kemudian.


Aku


menghela nafas lega.


“Mbak!


Ada masalah apa sih?” tanya Rini kemudian. “Mas Reinard yang biasanya on dan


enggak ada cela, tadi berantakan banget.”


Aku


tidak segera menjawab. Kuayunkan langkahku ke tepi jendela. Mataku menerawang


jauh, pada hamparan kota Jakarta yang masih tetap terlihat begitu sibuk


meskipun aku melihatnya dari ketinggian. Di bawah sana beberapa ruas jalan


tampak macet. Bisa kubayangkan betapa sumpeknya terjebak macet di tengah hari


seperti ini dalam kondisi dikejar deadline pekerjaan.


“Biasa


lah Rin. Suami istri.” Sahutku kemudian.


“Iyadeeeh


mbak, tapi kasihan bener lho suami mbak Julia tadi.”


Aku


hanya mengulas senyum yang tak bisa terbaca oleh Rini.


“Mbak


Julia beneran enggak ngantor hari ini?”


“Kenapa


memang?”


“Kerjaan


banyak mbak.”


Aku


mengusap wajah. Menyadari jika masalah rumah tangga tidak perlu sampai membuat


waktu bekerja menjadi kacau, dan aku juga tidak seharusnya membawa masalahku


ini pada pekerjaan. Aku punya klien, mereka percaya padaku dan tentu saja tidak


peduli dengan hidupku. Jadi kenapa aku masih berada di sini sekarang?


“Yaudah


Rin, setengah jam lagi aku berangkat ngantor.” Kataku. “Oh ya, tolong beli’in


aku selimut sama bantal ya.” Ada sebuah ide yang tiba-tiba muncul di benakku.


“Buat


apa mbak?”


“Mungkin


untuk beberapa hari ke depan aku mau tidur di kantor Rin. Lembur.” Dalihku


sebelum menutup telepon.


*****


Untung


saja aku selalu menaruh baju ganti di dalam mobilku, sehingga aku tidak perlu


susah payah nge-mall hanya untuk membeli baju buat ke kantor. Aku memang


sengaja menaruh beberapa lembar baju dan sepatu di mobil karena sering lembur


dan mendadak keluar kota. Jadi daripada pulang, aku lebih memilih menyimpan


beberapa kebutuhan harianku di sana. Tak kusangka, jika semua itu juga berguna


saat aku menghadapi masalah dengan suamiku seperti ini.


Sebelum


ke kantor, aku mampir dulu di sebuah café untuk membeli kopi. Konsentrasiku di


perlukan hari ini, mengingat semalam aku juga tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Ternyata tidur tanpa Reinard di sampingku benar-benar tidak mengasyikkan.


Hatiku ngilu tiap melihat bantal di sampingku kosong. Memikirkan apa yang


dilakukannya tanpa aku.


“Terimakasih


mbak….” Aku menerima gelas kopiku pada waiters tersebut. Lalu berjalan menuju


mobil.


Cuaca


siang ini begitu terik, aku berjalan tergesa agar segera sampai di dalam mobil.


namun ketika baru saja membuka pintu civic putihku, suara seseorang menahanku.


“Permisi….”


Aku


menoleh. Mendapati seorang pria berjalan menuju ke arahku. Wajah pria itu


asing, dan aku rasa baru pertama kali ini aku bertemu dengannya. Ia tinggi,

__ADS_1


dengan gaya pakaian santai. Hanya mengenakan kaos abu dengan celana jeans biru


belel.


“Iya.”


Aku mengurungkan niat masuk ke dalam mobil.


“Maaf,


apa barang ini punya anda?” ia memperlihatkan sebuah dompet kulit warna coklat


dan itu adalah milikku.


“Sebentar.”


Aku membuka totebagku. Meskipun aku yakin jika itu milikku, namun aku perlu


memastsikannya lagi jika benda itu memang tidak ada di dalam tasku.


“Iya.


Itu punya saya.” Sahutku kemudian ketika dompetku benar-benar tidak ada di


dalam tas.


Pria


itu tersenyum, menapilkan lesung pipinya.


“Tadi


saya menemukannya di dekat meja kasir.” Katanya. “Dan maaf, saya lancang membukanya.


Karena ingin memastikan bahwa anda benar-benar pemiliknya.”


Aku


tersenyum, lalu menerima dompet itu.


“Terimakasih


ya mas.” Kataku.


“Sama-sama…”


Aku


kemudian permisi untuk melanjutkan perjalanan, sedangkan mas-mas berlesung pipi


itu kembali masuk ke dalam café. Entah apa yang dilakukannya.


****


Aku


bermaksud ingin menyelesaikan pekerjaanku tepat waktu ketika tiba-tiba saja


Rosa yang tidak biasanya datang ke kantorku, muncul dengan wajahnya yang


tertekuk-tekuk.


“Kamu


ngapain kesini?” aku beranjak dari kursi, menatap adikku yang masih berdiri di


depan pintu. “Tumben banget lho…”


Gadis


“Kenapa?”


tanyaku penasaran.


Bukannya


menjawab pertanyaanku, dia malah menangis semakin kencang. Ayolah, apa lagi


ini? Apakah masalah rumah tanggaku belum cukup sampai dihadirkan Rosa juga yang


menangis meraung-raung memelukku seperti ini.


“Kalau


kamu enggak jawab, mbak anggap kamu lagi kerasukan. Ngerti!” hardikku.


Rosa


mendongakkan wajahnya. Perlahan isakannya mulai berkurang.


“Papa


jahat banget tau enggak.” Ia mulai bercerita. Menghentakkan kakinya dengan


kesal saat menyebut kata ‘papa’.


“Duduk.”


Aku menarik pergelangannya untuk mengikutiku. Kami duduk bersisian, dan Rosa


masih terisak-isak kecil.


Sebelum


aku memulai sesi curhat antara kakak-adik sore ini, aku menelpon Rini terlebih


dahulu untuk membawakan dua kaleng soda dan makanan ringan ke meja kerjaku. Tak


berselang lama, wanita dengan heel’s sepuluh centimeter itu datang membawa baki


berisi makanan dan minuman yang aku pesan.


“Cerita


sekarang Ros.” Pintaku ketika Rini sudah meninggalkan ruangan. “Ada apa antara


kamu sama papa.”


Rosa


menyeka air mata di pipinya dengan punggung tangan. Aku menahan geli melihat


tingkah adikku yang mirip dengan anak kecil seperti ini.


“Minggu


depan temen-temenku mau pergi ke Singapura mbak.” Ia mulai ceritanya. “Lihat konser


Exo.”


“Terus?”


aku mengeryitkan kening.


“Sama

__ADS_1


papa enggak boleh.” Rosa kembali terlihat kesal. “Mana semua temenku ikut


lagi.”


Aku


menggigit bibir menahan tawa. Jadi hanya karena sebuah konser sampai membuat


Rosa sebegitu kesalnya dengan papa dan datang ke kantorku, padahal jarak rumah


dengan kantor cukup jauh.


“Emang


berangkat sama siapa? Ada temen cowoknya?” tanyaku.


Rosa


mengangguk pelan. “Kita ngajakin pacar.”


Aku


menghempaskan tubuhku di sofa.


“Ya


jelaslah enggak boleh Ros. Kamu tau papa kan? Ya kali sampe lebaran monyet kamu


boleh pergi. Papa lebih pilih kamu marahin daripada ngijinin kamu pergi.”


“Lha


terus gimana dong mbak.” Rosa menggoyang-goyangkan tanganku. “Aku pengen pergi.


Pengen, pengen, pengen banget.”


“Lihat


di youtube aja apa bedanya sih?” godaku.


Gadis


itu memutar bola mata malas. “Please lah mbaaaaak!” sahutnya kesal.


Aku


tertawa.


“Kapan


sih berangkatnya?”


“Minggu


depan.”


“Yaudah,


kakak temenin.” Aku pikir, ikut Rosa ke Singapura bukan ide buruk. Aku bisa


jalan-jalan sekalian belanja di sana. Biar enggak setres.


“Beneran?”


Rosa terlonjak. Wajahnya yang semula gelap gulita berubah berbinar-binar.


“Ya


masa mbak bohong. Suntuk juga nih, pengen main.”


“Makasiiih


mbak!” Rosa exited sampai memelukku dengan erat.


“Eh…pengap


tau pengaaap!” seruku sambil menocba melepaskan pelukan Rosa yang begitu erat.


Gadis


itu melepaskan pelukannya dan berkali-kali menciumiku.


“Jijik


kamu Ros!” pekikku.


“Oh


ya, ajakin mas Reinard juga ya jangan lupa!” kata Rosa kemudian.


“Kenapa


bawa-bawa dia?” sahutku kesal. “Enggak akh.”


“Lah!”


Rosa melongo. “Tumben enggak ngajakin mas Reinard, “


“Dia


sibuk.” Kataku mencari alasan, padahal dasarnya sedang malas karena aku sedang


marahan dengannya.


Rosa


berdecak. “Yakin nih mbak, aku sama Verrel lho. Nanti mau jadi obat nyamuk?’


Aku


mengibaskan tanganku tanda tidak peduli.


“Enggak…tenang


aja. Mbak udah punya schedule sendiri!” sahutku yakin beriringan dengan


ponselku yang bordering.


Ak


bangkit menuju mejaku, dan mengambil ponsel yang sejak tadi senyap diatas meja.


Sebuah nomor asing menari-nari di layar.


“Halo…..”


sapaku pelan.


“………”


“Apa?!!!”


Aku


terlonjak dari tempatku.

__ADS_1


__ADS_2