
“Gimana
Rin, suamiku udah pergi ‘kan?” tanyaku di balik telepon siang itu. Sudah
beberapa jam aku menunggu kabar dari Rini apakah Reinard masih menungguku di
kantor atau tidak.
Aku
mendengar Rini menghela nafas.
“Udah
mbak. Ada operasi katanya.” Sahutnya kemudian.
Aku
menghela nafas lega.
“Mbak!
Ada masalah apa sih?” tanya Rini kemudian. “Mas Reinard yang biasanya on dan
enggak ada cela, tadi berantakan banget.”
Aku
tidak segera menjawab. Kuayunkan langkahku ke tepi jendela. Mataku menerawang
jauh, pada hamparan kota Jakarta yang masih tetap terlihat begitu sibuk
meskipun aku melihatnya dari ketinggian. Di bawah sana beberapa ruas jalan
tampak macet. Bisa kubayangkan betapa sumpeknya terjebak macet di tengah hari
seperti ini dalam kondisi dikejar deadline pekerjaan.
“Biasa
lah Rin. Suami istri.” Sahutku kemudian.
“Iyadeeeh
mbak, tapi kasihan bener lho suami mbak Julia tadi.”
Aku
hanya mengulas senyum yang tak bisa terbaca oleh Rini.
“Mbak
Julia beneran enggak ngantor hari ini?”
“Kenapa
memang?”
“Kerjaan
banyak mbak.”
Aku
mengusap wajah. Menyadari jika masalah rumah tangga tidak perlu sampai membuat
waktu bekerja menjadi kacau, dan aku juga tidak seharusnya membawa masalahku
ini pada pekerjaan. Aku punya klien, mereka percaya padaku dan tentu saja tidak
peduli dengan hidupku. Jadi kenapa aku masih berada di sini sekarang?
“Yaudah
Rin, setengah jam lagi aku berangkat ngantor.” Kataku. “Oh ya, tolong beli’in
aku selimut sama bantal ya.” Ada sebuah ide yang tiba-tiba muncul di benakku.
“Buat
apa mbak?”
“Mungkin
untuk beberapa hari ke depan aku mau tidur di kantor Rin. Lembur.” Dalihku
sebelum menutup telepon.
*****
Untung
saja aku selalu menaruh baju ganti di dalam mobilku, sehingga aku tidak perlu
susah payah nge-mall hanya untuk membeli baju buat ke kantor. Aku memang
sengaja menaruh beberapa lembar baju dan sepatu di mobil karena sering lembur
dan mendadak keluar kota. Jadi daripada pulang, aku lebih memilih menyimpan
beberapa kebutuhan harianku di sana. Tak kusangka, jika semua itu juga berguna
saat aku menghadapi masalah dengan suamiku seperti ini.
Sebelum
ke kantor, aku mampir dulu di sebuah café untuk membeli kopi. Konsentrasiku di
perlukan hari ini, mengingat semalam aku juga tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Ternyata tidur tanpa Reinard di sampingku benar-benar tidak mengasyikkan.
Hatiku ngilu tiap melihat bantal di sampingku kosong. Memikirkan apa yang
dilakukannya tanpa aku.
“Terimakasih
mbak….” Aku menerima gelas kopiku pada waiters tersebut. Lalu berjalan menuju
mobil.
Cuaca
siang ini begitu terik, aku berjalan tergesa agar segera sampai di dalam mobil.
namun ketika baru saja membuka pintu civic putihku, suara seseorang menahanku.
“Permisi….”
Aku
menoleh. Mendapati seorang pria berjalan menuju ke arahku. Wajah pria itu
asing, dan aku rasa baru pertama kali ini aku bertemu dengannya. Ia tinggi,
__ADS_1
dengan gaya pakaian santai. Hanya mengenakan kaos abu dengan celana jeans biru
belel.
“Iya.”
Aku mengurungkan niat masuk ke dalam mobil.
“Maaf,
apa barang ini punya anda?” ia memperlihatkan sebuah dompet kulit warna coklat
dan itu adalah milikku.
“Sebentar.”
Aku membuka totebagku. Meskipun aku yakin jika itu milikku, namun aku perlu
memastsikannya lagi jika benda itu memang tidak ada di dalam tasku.
“Iya.
Itu punya saya.” Sahutku kemudian ketika dompetku benar-benar tidak ada di
dalam tas.
Pria
itu tersenyum, menapilkan lesung pipinya.
“Tadi
saya menemukannya di dekat meja kasir.” Katanya. “Dan maaf, saya lancang membukanya.
Karena ingin memastikan bahwa anda benar-benar pemiliknya.”
Aku
tersenyum, lalu menerima dompet itu.
“Terimakasih
ya mas.” Kataku.
“Sama-sama…”
Aku
kemudian permisi untuk melanjutkan perjalanan, sedangkan mas-mas berlesung pipi
itu kembali masuk ke dalam café. Entah apa yang dilakukannya.
****
Aku
bermaksud ingin menyelesaikan pekerjaanku tepat waktu ketika tiba-tiba saja
Rosa yang tidak biasanya datang ke kantorku, muncul dengan wajahnya yang
tertekuk-tekuk.
“Kamu
ngapain kesini?” aku beranjak dari kursi, menatap adikku yang masih berdiri di
depan pintu. “Tumben banget lho…”
Gadis
“Kenapa?”
tanyaku penasaran.
Bukannya
menjawab pertanyaanku, dia malah menangis semakin kencang. Ayolah, apa lagi
ini? Apakah masalah rumah tanggaku belum cukup sampai dihadirkan Rosa juga yang
menangis meraung-raung memelukku seperti ini.
“Kalau
kamu enggak jawab, mbak anggap kamu lagi kerasukan. Ngerti!” hardikku.
Rosa
mendongakkan wajahnya. Perlahan isakannya mulai berkurang.
“Papa
jahat banget tau enggak.” Ia mulai bercerita. Menghentakkan kakinya dengan
kesal saat menyebut kata ‘papa’.
“Duduk.”
Aku menarik pergelangannya untuk mengikutiku. Kami duduk bersisian, dan Rosa
masih terisak-isak kecil.
Sebelum
aku memulai sesi curhat antara kakak-adik sore ini, aku menelpon Rini terlebih
dahulu untuk membawakan dua kaleng soda dan makanan ringan ke meja kerjaku. Tak
berselang lama, wanita dengan heel’s sepuluh centimeter itu datang membawa baki
berisi makanan dan minuman yang aku pesan.
“Cerita
sekarang Ros.” Pintaku ketika Rini sudah meninggalkan ruangan. “Ada apa antara
kamu sama papa.”
Rosa
menyeka air mata di pipinya dengan punggung tangan. Aku menahan geli melihat
tingkah adikku yang mirip dengan anak kecil seperti ini.
“Minggu
depan temen-temenku mau pergi ke Singapura mbak.” Ia mulai ceritanya. “Lihat konser
Exo.”
“Terus?”
aku mengeryitkan kening.
“Sama
__ADS_1
papa enggak boleh.” Rosa kembali terlihat kesal. “Mana semua temenku ikut
lagi.”
Aku
menggigit bibir menahan tawa. Jadi hanya karena sebuah konser sampai membuat
Rosa sebegitu kesalnya dengan papa dan datang ke kantorku, padahal jarak rumah
dengan kantor cukup jauh.
“Emang
berangkat sama siapa? Ada temen cowoknya?” tanyaku.
Rosa
mengangguk pelan. “Kita ngajakin pacar.”
Aku
menghempaskan tubuhku di sofa.
“Ya
jelaslah enggak boleh Ros. Kamu tau papa kan? Ya kali sampe lebaran monyet kamu
boleh pergi. Papa lebih pilih kamu marahin daripada ngijinin kamu pergi.”
“Lha
terus gimana dong mbak.” Rosa menggoyang-goyangkan tanganku. “Aku pengen pergi.
Pengen, pengen, pengen banget.”
“Lihat
di youtube aja apa bedanya sih?” godaku.
Gadis
itu memutar bola mata malas. “Please lah mbaaaaak!” sahutnya kesal.
Aku
tertawa.
“Kapan
sih berangkatnya?”
“Minggu
depan.”
“Yaudah,
kakak temenin.” Aku pikir, ikut Rosa ke Singapura bukan ide buruk. Aku bisa
jalan-jalan sekalian belanja di sana. Biar enggak setres.
“Beneran?”
Rosa terlonjak. Wajahnya yang semula gelap gulita berubah berbinar-binar.
“Ya
masa mbak bohong. Suntuk juga nih, pengen main.”
“Makasiiih
mbak!” Rosa exited sampai memelukku dengan erat.
“Eh…pengap
tau pengaaap!” seruku sambil menocba melepaskan pelukan Rosa yang begitu erat.
Gadis
itu melepaskan pelukannya dan berkali-kali menciumiku.
“Jijik
kamu Ros!” pekikku.
“Oh
ya, ajakin mas Reinard juga ya jangan lupa!” kata Rosa kemudian.
“Kenapa
bawa-bawa dia?” sahutku kesal. “Enggak akh.”
“Lah!”
Rosa melongo. “Tumben enggak ngajakin mas Reinard, “
“Dia
sibuk.” Kataku mencari alasan, padahal dasarnya sedang malas karena aku sedang
marahan dengannya.
Rosa
berdecak. “Yakin nih mbak, aku sama Verrel lho. Nanti mau jadi obat nyamuk?’
Aku
mengibaskan tanganku tanda tidak peduli.
“Enggak…tenang
aja. Mbak udah punya schedule sendiri!” sahutku yakin beriringan dengan
ponselku yang bordering.
Ak
bangkit menuju mejaku, dan mengambil ponsel yang sejak tadi senyap diatas meja.
Sebuah nomor asing menari-nari di layar.
“Halo…..”
sapaku pelan.
“………”
“Apa?!!!”
Aku
terlonjak dari tempatku.
__ADS_1