Klandestin

Klandestin
Suami Paling Romantis


__ADS_3

Biasanya, setiap


punya masalah tentang hidupku, aku akan mencari Eli dan bercerita panjang lebar


padanya. Namun kali ini sepertinya bukan saat yang tepat untuk menelponnya dan


memulai sesi curhat. Selain ia sudah berada di luar negeri, perempuan itu juga


sedang ada masalah dengan mantan suaminya. Sebagai sahabat, aku harus mencoba


mengerti posisinya. Meskipun aku yakin, jikapun sekarang aku menekan namanya di


layar ponselku, ia pasti akan menjawabnya dan bersedia menjadi pendengarku.


Aku bisa saja


menghubungi Reza, tadi itu terkesan tidak mungkin. Reza manusia yang begitu


frontal dengan apa yang tidak lazim. Apalagi tentang masalah ‘suami’ yang


menyimpan rahasia dari istrinya. Pria itu pasti akan mencak-mencak dengan


kemayu dan mengatakan ‘pernikahan lo bener-bener gak sehat Jul. Kenapa semua


pria kayak mantan suaminya Eli.’


Daripada harus


mendengar kalimat itu dan rentetan kalimat serba menghakimi lainnya, aku


memilih menyendiri di balkon. Merasakan hembusan angin yang kupikir bisa


menurunkan gemuruhnya kepalaku karena begitu banyak pertanyaan yang berada di


sana.


Malam sudah


beranjak naik. Dari ketinggian tempatku berada kini, aku bisa melihat


gedung-gedung di depanku dengan lampu-lampunya yang berkelip-kelip, serta


kendaraaan yang mengular di bawah sana. Aku mendongak ke langit, berharap ada


satu titik bintang di atas sana yang bisa aku nikmati. Namun, percuma. Aku rasa


sinar-sinar dari lampu kota dan lampu kendaraan sudah mengalahkan cahaya indah


dari bintang-bintang itu.


“Jul, belum


tidur?” sebuah suara hangat menyapaku.


Aku menoleh, dan


mendapati Reinard sudah berdiri di ruang tamu sambil melepas jas yang


dipakainya. Aku tidak menyadari kedatangannya, mungkin karena aku melamun tadi.


“Iya.” Senyumku


mengembang tipis. Sangat kupaksakan sebenarnya. Aku berusaha mati-matian untuk


menciptakan senyum ini, karena saat ini hatiku benar-benar dongkol. Sempat


terbersit keinginanku untuk mencecarnya dengan berbagai pertanyaan dan amarah,


namun melihat wajahnya yang sayu, urung kulakukan niatku itu.


“Bagaimana


kerjaannya?” aku berjalan ke arahnya. “Kamu berangkat dari jam tujuh pagi, dan


pulang pukul sepuluh malam.” Aku melirik jam sekilas sebelum membantu Reinard


melepas simpulan dasi yang dipakainya.


“Maafkan aku….” Ia


menangkupkan kedua tangannya di pipiku, lalu mencium keningku lembut. “Aku


berharap ini semua bisa cepat berakhir.”


Aku mendongak.


“Pekerjaana sebagai dokter berakhir?” keryitku. “Mana mungkin.”


Reinard


tersenyum. “Mungkin….aku bisa pensiun lebih cepat dan menjadi pengangguran. Apa


kamu mau membiayai hidupku jika aku menjadi seorang pengangguran.”


Sungguh aku


ingin tertawa mendengar celotehan suamiku. Namun perasaan kesal yang masih


membelit hatiku, membuatku malas melakukannya.


“Sebenarnya,


jikapun pensiun dari dokter kamu masih bisa kerja yang lain.”


“Kerja apa?”


“Menjalankan


perusahaan papa.”


Reinard tertawa


kecil. “Ayolah Jul, aku tidak mungkin bisa menerima itu.”


“Kenapa? Tidak


tertarik?”

__ADS_1


Reinard terdiam


sesaat. “Sepertinya, aku terlalu serakah untuk hal semacam itu.”


“Tapi bukannya


waktu makan malam itu kamu bilang mau kita segera punya anak?” tanyaku bingung.


“Agar bisa menerima perusahaan itu kan?”


Reinard


menggeleng. “Bukan, aku punya dua alasan jul.”


“Apa?”


“Pertama, aku


melihatmu tidak nyaman dengan pembahasan soal anak. Kedua, karena aku memang


benar-benar ingin memiliki keturunan bersamamu.”


Aku menunduk.


Mataku berkaca-kaca. Keinginan untuk marah, untuk bertanya pada Reinard tentang


ketidakjujurannya padaku menghilang begitu saja. Entah kenapa, aku percaya.


Sangat percaya dengan apa yang dikatakannya. Lucu bukan, mudah sekali hatiku


terlena dengan kata-kata manis seperti itu.


“Jul, kok diem?”


Reinard menguarkan monolog di kepalaku.


Aku tak


bergeming. Begitu malu jika Reinard tahu aku hampir menangis dengan kalimatnya.


“Jul….” perlahan


Reinard menarik daguku. “Kamu menangis?”


Aku masih belum


menjawab.


“Heyyy….”


Reinard mengusap sebutir air mata yang menetes di pipiku.


“Aku tidak


menangis.” Aku mengedip-ngedipkan mataku, berusaha menahan agar sisa air mata


yang lain tidak terjatuh. “Aku hanya sedikit melankolis.”


Reinard tertawa,


“Julia…..” ia


mengelus rambutku lembut. “Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku sekarang.


Aku mungkin memang bukan orang sempurna. Tapi, semenjak bertemu denganmu, aku


menjadi seseorang yang lain. Maafkan aku jika di awal-awal pernikahan, aku


memilih menjauhimu. Itu bukan karena aku tak menginginkanmu Julia. Hanya saja


waktu itu aku takut jika apa yang aku lakukan akan melukaimu.”


Bukannya sebal


atau tidak nyaman dengan kalimat Reinard, aku justru menangis terisak.


Kueratkan tanganku yang melingkar di pinggangnya. Kenapa aku percaya saja


dengan apa yang dikatakannya, padahal beberapa menit lalu akau sudah meminta


hatiku untuk tegas menanyakan tentang apapun yang ia belum kasih tau padaku.


Namun detik ini, pemikiranku berubah. Aku tidak peduli jikapun Reinard tidak


akan bercerita tentang beberapa rahasianya. Karena aku percaya, dengan apa yang


dikatakannya.


*****


Waktu berjalan


luar biasa antara aku dan Reinard. Kami menjalani hari-hari indah bersama.


Dimulai dari selalu sarapan berdua sebelum berangkat bekerja, atau terkadang


Reinard datang ke kantorku untuk mengajakku makan siang ketika ia punya waktu


senggang. Aku begitu bahagia dengan pernikahanku, apalagi menjadi seorang istri


dari seseorang yang aku yakini jika ia juga mempunyai perasaan yang sama


denganku.


Jika ada yang


bilang pernikahan yang diawali dengan perjodohan itu membosankan dan hanya


memberikan ketidakbahagiaan, mungkin akulah orang pertama yang akan protes


dengan hal itu. Karena ternyata ketika kita mulai mengenal pasangan kita dengan


perlahan selama pernikahan, itu adalah hal paling menakjubkan.


“Boleh masuk?”


sebuah suara menggema dari depan pintu ruang kerjaku ketika aku sibuk dengan

__ADS_1


beberapa dokumen di hadapanku.


Aku mengangkat


dagu, speechless sesaat sebelum akhirnya senyumku mengembang dengan sempurna.


“Hey….ngapaian


kesini?” tanpa penawaran, aku lansung menaruh pena yang selama hampir satu jam


aku pegang, lalu sedikit merapikan rambut cepolku dan akhirnya mengayunkan


langkah dengan tergesa pada tamu yang tak aku undang ini.


“Aku hanya ingin


mengajakmu makan siang.” Reinard mengangkat kotak bekal makan siang yang


dibawanya.


Aku menutupi


mulutku dengan telapak tangan. “Bagaimana kamu tahu aku belum makan?” aku


menarik lengan suamiku menuju sofa. Kami sama-sama duduk bersisian.


“Aku pasti tahu,


karena kamu sama sekali tidak membuka pesanku atau mengangkat teleponku.” Jawab


Reinard sambil membuka kotak makan siang yang berisi chicken katsu lengkap


dengan dua botol air mineral.


Aku melirik


tasku yang tergantung di sisi meja. Sejak pagi aku memang lupa mengeluarkan


ponselku dari sana. Apalagi itu di mode getar.


“Sorry…..aku


bahkan lupa kalau punya hp.” Kikikku. “Aku sangat sibuk, bahkan tidak sadar


kalau ini sudah waktunya makan siang.”


“Makanya, aku


membelikanmu makanan ketika menuju kemari.” Reinard membuka tutup botol air


mineral lalu menaruhnya di depanku. Aku kira dia akan membiarkanku makan


sendiri, tapi ternyata ia mengambil sesendok nasi dan menyuapkannya padaku.


“Kalau aku suapi


begini, kamu bisa makan lebih cepat—“


“Dan bisa


menyelesaikan pekerjaanku sekalian.” Aku memeluk Reinard sesaat, lalu


menghambur ke meja kerja. Mengambil beberapa dokumen dan tentu saja pena-ku


tadi.


Reinard


menatapku tidak senang ketika aku kembali duduk di sampingnya dan menggelar


dokumenku di atas meja.


“Bukan begini


maksudku sayang….” Decaknya sebal. “Pencernaanmu akan terganggu kalau makan


sambil bekerja seperti ini.”


Aku tidak


peduli, karena Reinard juga masih terus menyuapiku meskipun akhirnya fokusku


teralihkan dengan kertas-kertas di depanku. Sesekali aku baru menoleh ke


arahnya ketika dia bilang ‘aaaaak…’, memintaku untuk membuka mulut karena


mulutku sudah kosong. Mirip sekali dengan bayi yang sedang disuapi oleh


orangtuanya. Bahkan beberapa karyawanku yang lewat di depan ruanganku


bersiut-siut menggoda melihat bagaimana keromantisan kami.


“Besok sore kita


pergi yuk…..” ajak Reinard ketika menutup kotak bekal yang sudah kosong.


“Kemana?”


tanyaku setelah meneguk hampir setengah botol air mineral.


“Temen kuliahku


nikah.” Jawabnya.


Aku menatap


Reinard serius.


“Ada mantanmu


enggak?!”


Reinard


terbahak.


******

__ADS_1


__ADS_2