
“Karena saya adalah mertua anda.”
Kalimat itu memang bisa aku
dengar dengan jelas meskipun suara lagu di café ini mengalun ke segala penjuru.
Namun alih-alih meyakinkah pendengaranku, aku jutru merasa apa yang ku dengar
itu salah.
Mertuaku? Bagaimana bisa?
Bukankah sudah jelas kalau mertuaku adalah Saputra, seorang lelaki yang
menjodohkan kami, bahkan menikahkan kami. Sudah jelas pula nama belakang
suamiku juga Saputra, bukannya Anton.
“Mertua?” aku memandang pak Anton
penuh ketidak percayaan. “Bapak jangan bercanda.”
“Apa saya terlihat bercanda
sekarang?” pria itu justru balik menatapku.
Aku membuang pandang ke segala
penjuru. Entah ke arah mana, tapi yang jelas aku ingin menghindari tatapan mata
penuh intimidasi tersebut.
“Reinard anak pungut keluarga Saputra.”
Suara pak Anton kembali berdenging di telingaku. “Dulu Reinard tinggal di panti
asuhan.”
Kembali aku merasa jika kepalaku
sedang dihantam oleh ribuan batu. Belum selesai keterkejutanku dengan pak Anton
yang mengaku sebagai ayah dari suamiku, kini aku kembali terkejut ketika
mendengar Reinard diambil dari panti asuhan. Kabar yang diberikan pak Anton itu laksana
rentetan peluru yang menghujan jantungku.
Ini bohong bukan? Kalau ini
fakta, kenapa Reinard, Marina atau bahkan keluarganya tidak pernah mengatakan apapun
kepadaku.
“Anda jangan membuat kebohongan
pak!” kataku kemudian dengan mata menyala marah. “Anda sedang menginginkan apa
dari saya dan Reinard? Jika uang, akan saya berikan. Tapi bapak jangan pernah
muncul di depan kami lagi.” Rahangku mengeras.
“Sudah saya bilang, kalau saya
tidak menginginkan uang dari anda mbak Julia.” Ia mengedikkan bahunya.
“Beberapa saat yang lalu, Reinard sudah memberikannya pada saya. Cukup banyak.
Jadi sisanya masih ada.”
Aku meremas ujung bajuku. Benar
bukan, pria ini memang tak terlihat sebagai pria baik-baik. Dia punya maksud
terselubung atas tindakannya. Tapi yang menjadi pertanyaanku adalah, kenapa
Reinard bersedia memberinya uang?
“Kenapa suami saya memberi anda
uang?” tanyaku skeptis.
“Tentu saja untuk menutup mulut
saya agar tidak menemui anda dan menceritakan semua ini.” Jawab Pak Anton
santai. “Anda tahu, Reinard adalah seorang bayi yang ditinggalkan orang tuanya
sewaktu dia bayi. Suatu saat, istri saya yang tidak memiliki anak datang ke
panti asuhan yang Reinard tinggali dan bertemu dia. Lalu kami mengadopsinya
menjadi anak kami. Tapi sayang—“ pria itu menjeda kalimatnya, dan aku menunggu
dengan mata panas menahan tangis.
“Sayangnya, dia lebih memilih
meninggalkan kami dan pergi pada keluarga Saputra.” Lanjut pak Anton.”Jadi
bukankah normal jika saya sebagai ayahnya juga, memiminta sesuatu pada anak
saya yang udah sukses?!”
“Cukup pak!” potongku cepat.
Dadaku sakit mendengar cerita itu, meskipun tidak sepenuhnya percaya. “Bapak
jangan mengarang cerita yang tidak-tidak. Karena saya tidak akan percaya!” aku
bangkit dari kursiku. Rasanya sudah tidak ada lagi yang perlu aku dengarkan
dari pria di depanku ini.
__ADS_1
“Saya akan menganggap jika
pertemuan hari ini dan kalimat bapak itu tidak pernah ada.” Aku mengambil
tasku, bersiap untuk pergi.
“Saya tidak meminta anda percaya
Julia. Tapi itu faktanya.” Sahut pak Anton, dan aku tidak mau menoleh padanya.
“Panti asuhan itu ada di daerah Bandung. Dan Reinard akan ke sana beberapa hari
sekali. Kalau anda tidak percaya, tanyakan sendiri pada Reinard.”
Aku menggigit bibir, namun
berhasil mengabaikan kalimat itu dan pergi begitu saja meninggalkannya tanpa
pamit.
****
Aku bergegas masuk ke dalam
apartement setelah meninggalkan café terebut. Meskipun lututku terasa lemas,
aku berusaha untuk membuat segalanya terlihat tenang. Bahkan aku sempat lupa
mengambil barang belanjaanaku di pos satpam. Untung pak satpam yang baik itu memanggilku
dan menyerahkan setumpuk belanjaan yang sama sekali tak ku pikirkan.
Di dalam lift aku berfikir,
meskipun tidak seratus persen percaya dengan apa yang pak Anton katakan, aku
aku berusaha menyambungkan satu demi satu kejadian yang aku lalui bersama
Reinard. Hingga aku teringat sesuatu. Struk belanjaan di daerah Braga yang aku
temukan di saku jaketnya. Ketika Reinard membeli begitu banyak makanan di
restoran cepat saji. Mungkinkah semua makanan itu untuk panti asuhan?
Terburu-buru kuambil struk itu di
dalam laci meja riasku. Masih kulipat rapi di sana. Entah kenapa dulu aku tak
langsung membuangnya, karena ternyata sekarang berguna. Setidaknya, aku ingin
mendengar pengakuan itu dari bibir Reinard. Jikapun apa yang dikatakan pak
Anton itu benar, aku tentu saja akan sangat kecewa.
****
Aku mendengar langkah kaki pria
itu memasuki rumah. Namun aku pura-pura tidak mendengar dan sibuk mengganti bed
“Lagi ngapain?” aku merasakan
tangannya sudah melingkar di pinggangku. Sedetik kemudian, kurasakan bibirnya
sudah mengecup leherku. Aku menggeliat sedikit, tidak bisa mengelak jika
ciumannya itu sangat menggodaku.
“Aku menginginkanmu Jul….”
bisiknya lembut di depan telingaku.
Aku menggigit bibir bawahku,
menahan perasaan ingin membalas ciumannya. Namun aku tidak mungkin melakukannya
sekarang, ada hal lain yang ingin aku selesaikan malam ini dengannya.
“Rei….” Aku berbalik arah
menghadapnya. Mata kami saling bertautan. Kembali ada rasa gamang di dalam
hatiku melihat sorot matanya yang begitu lembut itu. Entah apa yang akan
terjadi nanti ketika aku mengatakan apa yang sudah terjadi hari ini.
“Iya.” Ia membelai rambutku. “Apa
kamu menyuruhku segera mandi sayang….”
Aku tidak membalas candaannya,
melainkan melepaskan diri dari pelukannya dan berjalan ke meja rias lalu
mengambil struk belanjaan dari situ.
“Aku tadi siang ketemu pak
Anton.” Gumamku tanpa menoleh padanya. Tanganku terulur mengambil lipatan
kertas itu. “Kami berbincang beberapa hal tadi.” Lanjutku datar,
Aku tidak mendengar balasan atau
kalimat pun dari mulut Reinard.
“Benarkah apa yang dikatakan pria
itu Rei?” aku menatapnya dari pantulan kaca. Pria itu tampak terkejut, lalu
berjalan mendekatiku.
“Jul….apa yang kamu dengar dari
__ADS_1
dia?” ia menarik lengangku untuk menghadap ke arahnya. “Bukannya aku sudah
bilang untuk segera pergi jika bertemu dengannya?”
Aku belum menjawab. Ku ulurkan
struk belanjaan itu padanya.
“Aku menemukan struk belanjaan
ini di jaketmu beberapa waktu yang lalu.” Reinard menerima struk belanja itu
dan menatapnya lekat-lekat. “Kamu membeli banyak makanan di jalan Braga. Untuk
siapa?”
“Jul!” Reinard mencengkeram lenganku
dengan kuat. “Apa yang pria itu katakana padamu?!” matanya tampak berapi-api.
“Jawab aku Rei. Apakah benar kamu
anak adopsi dari keluarga Saputra?”
Reinard terdiam beberapa saat,
hingga akhirnya ia menjawab pertanyaanku.
“Maafkan aku Julia.” Gumamnya
kemudian dengan pelan. Aku melihat wajahnya mulai keruh.
Aku mengusap wajahku frustasi. Benar
bukan, aku langsung kecewa dengan jawabannya. “Kenapa….kenapa tidak pernah
cerita padaku tentang semuanya? Kenapa? Aku istrimu Rey, rasanya tidak adil
ketika aku tidak mengetahui semua rahasia hidupmu! Kamu sering membohongiku
dengan datang ke panti asuhan, dan ternyata Pak Anton pernah mengadopsimu
sebelum kamu diadopsi oleh keluarga Saputra. Kenapa Rei? Sulitkah mengatakan
kebenaran itu pada aku?! Istrimu?!” Seruku dengan air mata yang berderai.
Dadaku terasa sesak. Satu menit yang lalu aku masih berharap apa yang dikatakan
Pak Anton tadi hanya bualan dari seorang pria pemeras uang. Namun, mendengar
kalimat ‘maafkan aku Julia’ sudah lebih dari cukup bahwa apa yang terjadi
adalah realita.
“Aku bukannya tidak mau berkata
jujur padamu Jul, tapi—“ aku mendorong tubuhnya menjauh dariku.
“Aku kecewa denganmu Rei.”
Suaraku serak bercampur dengan tangis. “Seharusnya apapun itu, kamu harus
menjelaskan kepadaku.” Aku berlalu mengambil tas dan kunci mobil di atas nakas.
“Jul, mau kemana?” Reinard meraih
lenganku ketika aku smeninggalkan pintu kamar. “Jangan pergi, aku bisa jelain.”
“TOlong, aku ingin sendiri.”
Sahutku menghempaskan tangannya.
“Jul…!” ia menatapku penuh
permohonan. “Ini sudah malam, kamu mau kemana?”
“Bukan urusan kamu.” Sahutku sengit.
“Jangan halangi aku Rei.”
“Iya, tapi ini sudah malam. Kamu mau
kemana? Mau pulang ke rumah papa-mama? Aku anter ya? Aku ambil kunci mobil
dulu.”
“Enggak usah!” Seruku histeris.
Aku menatap matanya lekat-lekat.
Tak bisa aku pungkiri jika mata teduh itu kini juga mulai berkaca-kaca.
“Aku mau pergi sendiri. Aku mohon,
ijinkan aku berfikir.” Pintaku.
Reinard hanya diam.
“Meksipun kamu hanya anak adopsi
dari keluarga saputra, atau kamu juga pernah diadopsi oleh keluarga Anton, kamu
mestinya menjelaskan semuanya padaku Rei. Karena apapun masa lalu kamu, aku
pasti akan menerimamu, karena aku memilihmu.” Aku menyeka air mataku. “Kamu
tahu, begitu menyakitkan ketika kita mendengar sebuah fakta dari pasangan kita,
dan itu dari mulut orang lain.”
Aku beranjak pergi, menutup pintu
apartement dengan sedikit keras. Sebelum pintu benar-benar tertutup, kulihat
__ADS_1
matanya begitu hampa menatapku.
******