Klandestin

Klandestin
Ini Bukan Kebohongan


__ADS_3

“Karena saya adalah mertua anda.”


Kalimat itu memang bisa aku


dengar dengan jelas meskipun suara lagu di café ini mengalun ke segala penjuru.


Namun alih-alih meyakinkah pendengaranku, aku jutru merasa apa yang ku dengar


itu salah.


Mertuaku? Bagaimana bisa?


Bukankah sudah jelas kalau mertuaku adalah Saputra, seorang lelaki yang


menjodohkan kami, bahkan menikahkan kami. Sudah jelas pula nama belakang


suamiku juga Saputra, bukannya Anton.


“Mertua?” aku memandang pak Anton


penuh ketidak percayaan. “Bapak jangan bercanda.”


“Apa saya terlihat bercanda


sekarang?” pria itu justru balik menatapku.


Aku membuang pandang ke segala


penjuru. Entah ke arah mana, tapi yang jelas aku ingin menghindari tatapan mata


penuh intimidasi tersebut.


“Reinard anak pungut keluarga Saputra.”


Suara pak Anton kembali berdenging di telingaku. “Dulu Reinard tinggal di panti


asuhan.”


Kembali aku merasa jika kepalaku


sedang dihantam oleh ribuan batu. Belum selesai keterkejutanku dengan pak Anton


yang mengaku sebagai ayah dari suamiku, kini aku kembali terkejut ketika


mendengar Reinard diambil dari panti asuhan.  Kabar yang diberikan pak Anton itu laksana


rentetan peluru yang menghujan jantungku.


Ini bohong bukan? Kalau ini


fakta, kenapa Reinard, Marina atau bahkan keluarganya tidak pernah mengatakan apapun


kepadaku.


“Anda jangan membuat kebohongan


pak!” kataku kemudian dengan mata menyala marah. “Anda sedang menginginkan apa


dari saya dan Reinard? Jika uang, akan saya berikan. Tapi bapak jangan pernah


muncul di depan kami lagi.” Rahangku mengeras.


“Sudah saya bilang, kalau saya


tidak menginginkan uang dari anda mbak Julia.” Ia mengedikkan bahunya.


“Beberapa saat yang lalu, Reinard sudah memberikannya pada saya. Cukup banyak.


Jadi sisanya masih ada.”


Aku meremas ujung bajuku. Benar


bukan, pria ini memang tak terlihat sebagai pria baik-baik. Dia punya maksud


terselubung atas tindakannya. Tapi yang menjadi pertanyaanku adalah, kenapa


Reinard bersedia memberinya uang?


“Kenapa suami saya memberi anda


uang?” tanyaku skeptis.


“Tentu saja untuk menutup mulut


saya agar tidak menemui anda dan menceritakan semua ini.” Jawab Pak Anton


santai. “Anda tahu, Reinard adalah seorang bayi yang ditinggalkan orang tuanya


sewaktu dia bayi. Suatu saat, istri saya yang tidak memiliki anak datang ke


panti asuhan yang Reinard tinggali dan bertemu dia. Lalu kami mengadopsinya


menjadi anak kami. Tapi sayang—“ pria itu menjeda kalimatnya, dan aku menunggu


dengan mata panas menahan tangis.


“Sayangnya, dia lebih memilih


meninggalkan kami dan pergi pada keluarga Saputra.” Lanjut pak Anton.”Jadi


bukankah normal jika saya sebagai ayahnya juga, memiminta sesuatu pada anak


saya yang udah sukses?!”


“Cukup pak!” potongku cepat.


Dadaku sakit mendengar cerita itu, meskipun tidak sepenuhnya percaya. “Bapak


jangan mengarang cerita yang tidak-tidak. Karena saya tidak akan percaya!” aku


bangkit dari kursiku. Rasanya sudah tidak ada lagi yang perlu aku dengarkan


dari pria di depanku ini.

__ADS_1


“Saya akan menganggap jika


pertemuan hari ini dan kalimat bapak itu tidak pernah ada.” Aku mengambil


tasku, bersiap untuk pergi.


“Saya tidak meminta anda percaya


Julia. Tapi itu faktanya.” Sahut pak Anton, dan aku tidak mau menoleh padanya.


“Panti asuhan itu ada di daerah Bandung. Dan Reinard akan ke sana beberapa hari


sekali. Kalau anda tidak percaya, tanyakan sendiri pada Reinard.”


Aku menggigit bibir, namun


berhasil mengabaikan kalimat itu dan pergi begitu saja meninggalkannya tanpa


pamit.


****


Aku bergegas masuk ke dalam


apartement setelah meninggalkan café terebut. Meskipun lututku terasa lemas,


aku berusaha untuk membuat segalanya terlihat tenang. Bahkan aku sempat lupa


mengambil barang belanjaanaku di pos satpam. Untung pak satpam yang baik itu memanggilku


dan menyerahkan setumpuk belanjaan yang sama sekali tak ku pikirkan.


Di dalam lift aku berfikir,


meskipun tidak seratus persen percaya dengan apa yang pak Anton katakan, aku


aku berusaha menyambungkan satu demi satu kejadian yang aku lalui bersama


Reinard. Hingga aku teringat sesuatu. Struk belanjaan di daerah Braga yang aku


temukan di saku jaketnya. Ketika Reinard membeli begitu banyak makanan di


restoran cepat saji. Mungkinkah semua makanan itu untuk panti asuhan?


Terburu-buru kuambil struk itu di


dalam laci meja riasku. Masih kulipat rapi di sana. Entah kenapa dulu aku tak


langsung membuangnya, karena ternyata sekarang berguna. Setidaknya, aku ingin


mendengar pengakuan itu dari bibir Reinard. Jikapun apa yang dikatakan pak


Anton itu benar, aku tentu saja akan sangat kecewa.


****


Aku mendengar langkah kaki pria


itu memasuki rumah. Namun aku pura-pura tidak mendengar dan sibuk mengganti bed


“Lagi ngapain?” aku merasakan


tangannya sudah melingkar di pinggangku. Sedetik kemudian, kurasakan bibirnya


sudah mengecup leherku. Aku menggeliat sedikit, tidak bisa mengelak jika


ciumannya itu sangat menggodaku.


“Aku menginginkanmu Jul….”


bisiknya lembut di depan telingaku.


Aku menggigit bibir bawahku,


menahan perasaan ingin membalas ciumannya. Namun aku tidak mungkin melakukannya


sekarang, ada hal lain yang ingin aku selesaikan malam ini dengannya.


“Rei….” Aku berbalik arah


menghadapnya. Mata kami saling bertautan. Kembali ada rasa gamang di dalam


hatiku melihat sorot matanya yang begitu lembut itu. Entah apa yang akan


terjadi nanti ketika aku mengatakan apa yang sudah terjadi hari ini.


“Iya.” Ia membelai rambutku. “Apa


kamu menyuruhku segera mandi sayang….”


Aku tidak membalas candaannya,


melainkan melepaskan diri dari pelukannya dan berjalan ke meja rias lalu


mengambil struk belanjaan dari situ.


“Aku tadi siang ketemu pak


Anton.” Gumamku tanpa menoleh padanya. Tanganku terulur mengambil lipatan


kertas itu. “Kami berbincang beberapa hal tadi.” Lanjutku datar,


Aku tidak mendengar balasan atau


kalimat pun dari mulut Reinard.


“Benarkah apa yang dikatakan pria


itu Rei?” aku menatapnya dari pantulan kaca. Pria itu tampak terkejut, lalu


berjalan mendekatiku.


“Jul….apa yang kamu dengar dari

__ADS_1


dia?” ia menarik lengangku untuk menghadap ke arahnya. “Bukannya aku sudah


bilang untuk segera pergi jika bertemu dengannya?”


Aku belum menjawab. Ku ulurkan


struk belanjaan itu padanya.


“Aku menemukan struk belanjaan


ini di jaketmu beberapa waktu yang lalu.” Reinard menerima struk belanja itu


dan menatapnya lekat-lekat. “Kamu membeli banyak makanan di jalan Braga. Untuk


siapa?”


“Jul!” Reinard mencengkeram lenganku


dengan kuat. “Apa yang pria itu katakana padamu?!” matanya tampak berapi-api.


“Jawab aku Rei. Apakah benar kamu


anak adopsi dari keluarga Saputra?”


Reinard terdiam beberapa saat,


hingga akhirnya ia menjawab pertanyaanku.


“Maafkan aku Julia.” Gumamnya


kemudian dengan pelan. Aku melihat wajahnya mulai keruh.


Aku mengusap wajahku frustasi. Benar


bukan, aku langsung kecewa dengan jawabannya. “Kenapa….kenapa tidak pernah


cerita padaku tentang semuanya? Kenapa? Aku istrimu Rey, rasanya tidak adil


ketika aku tidak mengetahui semua rahasia hidupmu! Kamu sering membohongiku


dengan datang ke panti asuhan, dan ternyata Pak Anton pernah mengadopsimu


sebelum kamu diadopsi oleh keluarga Saputra. Kenapa Rei? Sulitkah mengatakan


kebenaran itu pada aku?! Istrimu?!” Seruku dengan air mata yang berderai.


Dadaku terasa sesak. Satu menit yang lalu aku masih berharap apa yang dikatakan


Pak Anton tadi hanya bualan dari seorang pria pemeras uang. Namun, mendengar


kalimat ‘maafkan aku Julia’ sudah lebih dari cukup bahwa apa yang terjadi


adalah realita.


“Aku bukannya tidak mau berkata


jujur padamu Jul, tapi—“ aku mendorong tubuhnya menjauh dariku.


“Aku kecewa denganmu Rei.”


Suaraku serak bercampur dengan tangis. “Seharusnya apapun itu, kamu harus


menjelaskan kepadaku.” Aku berlalu mengambil tas dan kunci mobil di atas nakas.


“Jul, mau kemana?” Reinard meraih


lenganku ketika aku smeninggalkan pintu kamar. “Jangan pergi, aku bisa jelain.”


“TOlong, aku ingin sendiri.”


Sahutku menghempaskan tangannya.


“Jul…!” ia menatapku penuh


permohonan. “Ini sudah malam, kamu mau kemana?”


“Bukan urusan kamu.” Sahutku sengit.


“Jangan halangi aku Rei.”


“Iya, tapi ini sudah malam. Kamu mau


kemana? Mau pulang ke rumah papa-mama? Aku anter ya? Aku ambil kunci mobil


dulu.”


“Enggak usah!” Seruku histeris.


Aku menatap matanya lekat-lekat.


Tak bisa aku pungkiri jika mata teduh itu kini juga mulai berkaca-kaca.


“Aku mau pergi sendiri. Aku mohon,


ijinkan aku berfikir.” Pintaku.


Reinard hanya diam.


“Meksipun kamu hanya anak adopsi


dari keluarga saputra, atau kamu juga pernah diadopsi oleh keluarga Anton, kamu


mestinya menjelaskan semuanya padaku Rei. Karena apapun masa lalu kamu, aku


pasti akan menerimamu, karena aku memilihmu.” Aku menyeka air mataku. “Kamu


tahu, begitu menyakitkan ketika kita mendengar sebuah fakta dari pasangan kita,


dan itu dari mulut orang lain.”


Aku beranjak pergi, menutup pintu


apartement dengan sedikit keras. Sebelum pintu benar-benar tertutup, kulihat

__ADS_1


matanya begitu hampa menatapku.


******


__ADS_2