Klandestin

Klandestin
Panti Asuhan


__ADS_3

“Beneran


udah mau pulang?” sindirku pada Reinard ketika ia sudah membereskan peralatan


mandinya. “Enggak mau nginep lagi? Tuh mukanya belum sembuh.” Aku


menunjuk-nunjuk wajahnya yang masih ada sedikit sisa lebam.


“Kamu


lagi ngejekin aku ya?” ia meraih jemariku lantas menarik tubuhku ke dalam


pelukannya. “Nginep semalam aja sayang…. Kan kita udah baikan.”


Aku


terkekah sambil melepaskan pelukannya. Sejak kapan Reinard punya kebiasaan


manja seperti ini. Semalaman ia benar-benar tidak mau menjauh dariku, alhasil


ranjang rumah sakit yang sempit ini harus kami bagi berdua. Himpit-himpitan,


namun rasanya tetap saja nyaman.


“Terus


hari ini kita mau ngapain?” aku mentap Reinard yang kini sedang memasukkan


ponselnya ke dalam saku celana jeans.


“Kamu


enggak sibuk hari ini?” dia balik bertanya.


Aku


menggeleng. “Demi kamu, aku enggak akan sibuk.” Tawaku.


Pria


itu mencubit hidungku lembut.


“Mau


aku ajak ke suatu tempat?” tanyanya kemudian.


“Kemana?”


“Emm….kasih


tau sekarang enggak ya?” godanya yang langsung mendapatkan pelototan kesal


dariku.


“Kasih


tau doong…..!” aku menarik-narik ujung kausnya.


Reinard


menggeleng. “Surprize aja yang sayang..” ia merangkulku dan salah satu


tangannya meraih tas jinjing yang berisi peralatan mandi tadi. “Aku suka bikin


kamu terkejut kok.” Ia lantas menarik tubuhku keluar dari dalam kamar inap ini.


*****


Aku


terdiam beberapa saat ketika Reinard menghentikan mobilnya di sebuah halaman.


Beberapa meter di depan kami, terlihat sebuah papan bertuliskan ‘Panti Asuhan


Kasih’. Aku menarik nafas perlahan, aku kira Reinard tak akan pernah membawaku


ke mari dan memperkenalkannya dengan anak-anak serta ibu panti. Atau aku kira


ia tak akan pernah membawaku secepat ini.


“Jul,


kok bengong?” suara Reinard membuyarkan lamunanku.


Aku


menoleh. “Emm….aku cuma….terkejut aja.” Sahutku jujur.


Suamiku


tersenyum lalu mengelus rambutku perlahan. “Aku ingin kamu kenalan sama ibu


Ayu.”


“Ibu


Ayu?” tanyaku.


Reinard


mengangguk. “Seorang wanita yang menemukanku di depan pintu panti asuhan ini


ketika aku bayi, yang merawatku dan menjagaku sampai aku besar.”


Aku


tak menjawab. Perasaan haru tiba-tiba melingkupi hatiku. Mengertilah aku kenapa


Reinard tak menceritakan masa lalunya padaku. Aku tahu itu berat, ketika kita


harus membuka masa lalu pedih kita di depan orang lain. Jikapun sekarang


Reinard terlihat baik-baik saja, aku yakin ia butuh waktu sangat lama untuk


membiasakannya.


“Ayo


turun…..” ia meremas tanganku. Dari dalam panti asuhan aku melihat seorang


wanita berusia enam puluh tahunan berjalan ke arah kami. “itu Ibu udah


menyambut kita.”


Aku


mengangguk. Mengikutinya turun dari dalam mobil. awalnya aku ragu-ragu harus


menyapa ibu Ayu dengan kalimat pembuka seperti apa. Namun wanita itu seolah


tahu apa yang sedang aku pikirkan, beliau langsung memelukku dan menciumiku.


“Pasti


Julia kan?” Ibu Ayu mengusap-usap lenganku. “Akhirnya Reinard membawamu kemari

__ADS_1


nak…..”


Aku


tertegun dan ku toleh Reinard yang berdiri di sampingku. Ia hanya mentapaku


dengan senyuman. Rupanya, ia sudah menceritakan semua hal pada ibu Ayu, seorang


wanita yang pasti sudah Reinard anggap seperti ibu kandungnya sendiri.


Wanita


bernama Ayu itu terlihat sederhana. Rambutnya yang sudah memutih disanggul ke


belakang dengan rapi. Meskipun kerut di wajahnya tidak bisa membohongi usianya,


namun gurat cantik masih terlihat jelas di wajahnya


“Maafkan


saya datang terlambat ya bu….” Sahutku kemudian.


Ibu


Ayu mengangguk sambil mengelus punggung tanganku.


“Iya…ibu


mengerti. Reinard pernah berkata pada ibu kalau dia menikahi seorang wanita


yang begitu cantik.” Ibu Ayu tersenyum. “Dan dia berjanji akan membawa istrinya


datang kemari.”


“Dan


permintaan ibu terwujud bukan?” timpal Reinard.


“Iya….ibu


tahu kalau kamu akan menepati janji kamu nak….” Ibu Ayu menepuk bahu Reinard


dengan pelan.


Aku


tersenyum melihat interaksi antara suamiku dan Ibu Ayu. Meskipun mereka tidak


punya hubungan darah, namun mereka terlihat begitu saling mengasihi satu sama


lain.


“Mas


Reinard….!” Suara riuh tibaa-tiba bergema dari dalama panti. Seorang anak


laki-laki berusia sekitar enam tahun berlari menyambut kami, diikuti banyak


anak yang lain di belakang mereka.


“Mas


Reinard datang lagi!” seorang gadis cilik dengan poni menarik-narik ujung baju


suamiku. “Bawa apa mas?”


Reinard


berjongkok. “Ada tuh di mobil.” ia mengedikkan matanya kearah mobil.


“Eh….kalian


perhatian mereka padaku. Anak-anak itu mengikuti arah gerakan mata ibu Ayu.


“Tau enggak mbak Julia itu siapa?”


Anak-anak


itu terdiam dan saling pandang.


Aku


tertawa kecil. “Kenalin, namaku Julia. Istri mas Reinard.” Aku menyodorkan


tanganku. Awalnya mereka terlihat tidak percaya jika aku adalah istri Reinard.


Namun ketika gadis berponi itu menyambut tanganku, teman-temannya yang lain


mengikuti dan menyalami satu persatu. Kembali mereka bercericit tidak berhenti.


Menanyakan semua hal padaku, bahkan tempat tinggalku.


Reinard


membawakan mereka banyak sekali makanan ringan. Aku tidak tahu kapan ia


menyiapkan semua itu di bagasi mobilnya. Seandainya aku tahu jika kami akan


datang ke mari, aku pasti akan meminta Reinard untuk menghentikan mobil di


restoran pizza dan membeli beberapa box. Aku yakin mereka pasti sangat menyukai


makanan seperti itu.


Gadis


berponi bernama Nana itu langsung mengajakku untuk masuk ke dalam kamarnya dan


bermain boneka. Beberapa teman yang lain juga mengikuti kami, jadilah kami


bermain rumah-rumahan dan boneka di kamar empit dengan banyak kasur itu. Aku


merasa sedikit miris melihat betapa sederhananya tempat tinggal mereka ini.


Namun aku melihat mereka begitu bahagia dan bersyukur dengan apa yang mereka


miliki sekarang. Mereka tampak bahagia, menikmati hidup mereka dengan penuh


kesederhanaan.


Perlahan


aku mengusap sudut mataku yang mulai basah. Bayangan akan hidup Reinard yang


tak jauh beda seperti mereka bertahun-tahun lalu membuat hatiku tersayat perih.


Setelah


aku masuk ke dalam kamar tadi, kulihat Reinard mengajak anak-anak laki-laki


untuk bermain bola di halaman belakang. Dari jendela kamar Nana, aku bia meihat


suamiku begitu bahagia dengan anak-anak kecil itu. Ia tertawa, berguling


bersama dan tentu saja menggendong anak-anak itu berlari keliling halaman.

__ADS_1


Sebuah pemandangan yang sama sekali belum aku lihat selama ini ketika bersama


Reinard.


“Mari


ngeteh dulu Julia….” Ibu Ayu muncul di depan pintu dengan senyumnya yang khas.


Aku


menjeda kegiatanku bersama anak-anak dan beranjak dari tempat dudukku setelah


sebelumnnya meminta ijin dulu pada Nana dan teman-temannya bahwa aku akan


keluar sebentar.


Dua


cangkir teh hangat mengepul di atas meja di teras panti.  Ditemani beberapa kue tradisinonal yang


diletakkan di dalam piring kecil. Aku duduk di salah satu kursi rotan yang


kosong, bersebrangan dengan ibu Ayu.


“Ibu


bahagia ketika melihat Reinard menikah dengan wanita sebaik dan secantik kamu


Julia.” Ibu ayu memberikan sebuah album foto usang kepadaku.


Aku


tersenyum lalu menerima album itu. “Itu foto-foto Reinard waktu kecil.” Lanjut bu


Ayu ketika aku hanya menimang-nimang benda tersebut.


Aku


tak menyahut, kini mataku fokus membuka halaman awal album foto itu.


Memperlihatkan seorang bayi laki-laki berkulit bersih dan sangat tampan. Siapa


lagi, dia adalah suamiku.


“Ibu


yakin jika kamu belum pernah melihat foto masa kecilnya bukan?”


Aku


kembali tersenyum. “ belum bu.” Sahutku. “ternyata dia sangat tampan.” Aku


menatap lekat sebuah foto Reinard memakai seragam TK. Ku elus foto yang


gambarnya mulai pudar itu. Di foto tersebut, Reinard tampak tersenyum membawa


sebuah piala.


“Itu


piala ketika dia menang lomba.” Gumam ibu Ayu pelan. “Tapi ibu lupa lomba apa.”


Kekahnya.


Aku


ikut tertawa, lantas kembali membuka album itu selanjutnya. Kali ini ketika


Reinard sedang berjalan-jalan di taman mini. Dengan seorang gadis yang usianya


terlihat beberapa tahun lebih muda darinya. dari beberapa foto, aku melihat


bahwa Reinard selalu bersama gadis kecil itu. Tampaknya mereka begitu dekat.


“Dia


memiliki hidup yang sulit Julia….” Gumam ibu Ayu kemudian sambil meletakkan


cangkirnya. Aku mengangkat dagu, entah kapan ibu Ayu mengambil cangkir tersebut


dan menyesapnya.


Ibu


ayu menatapku. “Dia sudah bercerita bukan tentang masa lalunya?”


Aku


mengangguk. “ saya baru tahu beberapa hari lalu bu.”


“Ibu


yakin dia sangat mencintai kamu Julia.”


Aku


tak menyahut. Banyak yang mengatakan hal itu padaku. Bahkan Marina juga pernah


mengatakannya.


“Dulu


dia adalah seseorang yang sangat dingin Julia. Tapi ibu lihat, setelah menikah


dia sering tersenyum.”


Aku


tidak bisa menjawab apapun selain menatap Reinard yang masih bercengkrama


dengan anak-anak. Jauh di lubuk hatiku yang terdalam, aku merasa bangga dengan


diriku sendiri.


“Syukurlah


jika sekarang dia lebih bahagia bu….” Kataku kemudian.


Ibu


Ayu menoleh padaku.


“Julia,


kamu tahu apa yang Reinard inginkan sekarang?”


Aku


menoleh.


“Apa


bu?” tanyaku.


“Dia

__ADS_1


ingin memiliki seorang anak dari kamu.”


******


__ADS_2