
“Beneran
udah mau pulang?” sindirku pada Reinard ketika ia sudah membereskan peralatan
mandinya. “Enggak mau nginep lagi? Tuh mukanya belum sembuh.” Aku
menunjuk-nunjuk wajahnya yang masih ada sedikit sisa lebam.
“Kamu
lagi ngejekin aku ya?” ia meraih jemariku lantas menarik tubuhku ke dalam
pelukannya. “Nginep semalam aja sayang…. Kan kita udah baikan.”
Aku
terkekah sambil melepaskan pelukannya. Sejak kapan Reinard punya kebiasaan
manja seperti ini. Semalaman ia benar-benar tidak mau menjauh dariku, alhasil
ranjang rumah sakit yang sempit ini harus kami bagi berdua. Himpit-himpitan,
namun rasanya tetap saja nyaman.
“Terus
hari ini kita mau ngapain?” aku mentap Reinard yang kini sedang memasukkan
ponselnya ke dalam saku celana jeans.
“Kamu
enggak sibuk hari ini?” dia balik bertanya.
Aku
menggeleng. “Demi kamu, aku enggak akan sibuk.” Tawaku.
Pria
itu mencubit hidungku lembut.
“Mau
aku ajak ke suatu tempat?” tanyanya kemudian.
“Kemana?”
“Emm….kasih
tau sekarang enggak ya?” godanya yang langsung mendapatkan pelototan kesal
dariku.
“Kasih
tau doong…..!” aku menarik-narik ujung kausnya.
Reinard
menggeleng. “Surprize aja yang sayang..” ia merangkulku dan salah satu
tangannya meraih tas jinjing yang berisi peralatan mandi tadi. “Aku suka bikin
kamu terkejut kok.” Ia lantas menarik tubuhku keluar dari dalam kamar inap ini.
*****
Aku
terdiam beberapa saat ketika Reinard menghentikan mobilnya di sebuah halaman.
Beberapa meter di depan kami, terlihat sebuah papan bertuliskan ‘Panti Asuhan
Kasih’. Aku menarik nafas perlahan, aku kira Reinard tak akan pernah membawaku
ke mari dan memperkenalkannya dengan anak-anak serta ibu panti. Atau aku kira
ia tak akan pernah membawaku secepat ini.
“Jul,
kok bengong?” suara Reinard membuyarkan lamunanku.
Aku
menoleh. “Emm….aku cuma….terkejut aja.” Sahutku jujur.
Suamiku
tersenyum lalu mengelus rambutku perlahan. “Aku ingin kamu kenalan sama ibu
Ayu.”
“Ibu
Ayu?” tanyaku.
Reinard
mengangguk. “Seorang wanita yang menemukanku di depan pintu panti asuhan ini
ketika aku bayi, yang merawatku dan menjagaku sampai aku besar.”
Aku
tak menjawab. Perasaan haru tiba-tiba melingkupi hatiku. Mengertilah aku kenapa
Reinard tak menceritakan masa lalunya padaku. Aku tahu itu berat, ketika kita
harus membuka masa lalu pedih kita di depan orang lain. Jikapun sekarang
Reinard terlihat baik-baik saja, aku yakin ia butuh waktu sangat lama untuk
membiasakannya.
“Ayo
turun…..” ia meremas tanganku. Dari dalam panti asuhan aku melihat seorang
wanita berusia enam puluh tahunan berjalan ke arah kami. “itu Ibu udah
menyambut kita.”
Aku
mengangguk. Mengikutinya turun dari dalam mobil. awalnya aku ragu-ragu harus
menyapa ibu Ayu dengan kalimat pembuka seperti apa. Namun wanita itu seolah
tahu apa yang sedang aku pikirkan, beliau langsung memelukku dan menciumiku.
“Pasti
Julia kan?” Ibu Ayu mengusap-usap lenganku. “Akhirnya Reinard membawamu kemari
__ADS_1
nak…..”
Aku
tertegun dan ku toleh Reinard yang berdiri di sampingku. Ia hanya mentapaku
dengan senyuman. Rupanya, ia sudah menceritakan semua hal pada ibu Ayu, seorang
wanita yang pasti sudah Reinard anggap seperti ibu kandungnya sendiri.
Wanita
bernama Ayu itu terlihat sederhana. Rambutnya yang sudah memutih disanggul ke
belakang dengan rapi. Meskipun kerut di wajahnya tidak bisa membohongi usianya,
namun gurat cantik masih terlihat jelas di wajahnya
“Maafkan
saya datang terlambat ya bu….” Sahutku kemudian.
Ibu
Ayu mengangguk sambil mengelus punggung tanganku.
“Iya…ibu
mengerti. Reinard pernah berkata pada ibu kalau dia menikahi seorang wanita
yang begitu cantik.” Ibu Ayu tersenyum. “Dan dia berjanji akan membawa istrinya
datang kemari.”
“Dan
permintaan ibu terwujud bukan?” timpal Reinard.
“Iya….ibu
tahu kalau kamu akan menepati janji kamu nak….” Ibu Ayu menepuk bahu Reinard
dengan pelan.
Aku
tersenyum melihat interaksi antara suamiku dan Ibu Ayu. Meskipun mereka tidak
punya hubungan darah, namun mereka terlihat begitu saling mengasihi satu sama
lain.
“Mas
Reinard….!” Suara riuh tibaa-tiba bergema dari dalama panti. Seorang anak
laki-laki berusia sekitar enam tahun berlari menyambut kami, diikuti banyak
anak yang lain di belakang mereka.
“Mas
Reinard datang lagi!” seorang gadis cilik dengan poni menarik-narik ujung baju
suamiku. “Bawa apa mas?”
Reinard
berjongkok. “Ada tuh di mobil.” ia mengedikkan matanya kearah mobil.
“Eh….kalian
perhatian mereka padaku. Anak-anak itu mengikuti arah gerakan mata ibu Ayu.
“Tau enggak mbak Julia itu siapa?”
Anak-anak
itu terdiam dan saling pandang.
Aku
tertawa kecil. “Kenalin, namaku Julia. Istri mas Reinard.” Aku menyodorkan
tanganku. Awalnya mereka terlihat tidak percaya jika aku adalah istri Reinard.
Namun ketika gadis berponi itu menyambut tanganku, teman-temannya yang lain
mengikuti dan menyalami satu persatu. Kembali mereka bercericit tidak berhenti.
Menanyakan semua hal padaku, bahkan tempat tinggalku.
Reinard
membawakan mereka banyak sekali makanan ringan. Aku tidak tahu kapan ia
menyiapkan semua itu di bagasi mobilnya. Seandainya aku tahu jika kami akan
datang ke mari, aku pasti akan meminta Reinard untuk menghentikan mobil di
restoran pizza dan membeli beberapa box. Aku yakin mereka pasti sangat menyukai
makanan seperti itu.
Gadis
berponi bernama Nana itu langsung mengajakku untuk masuk ke dalam kamarnya dan
bermain boneka. Beberapa teman yang lain juga mengikuti kami, jadilah kami
bermain rumah-rumahan dan boneka di kamar empit dengan banyak kasur itu. Aku
merasa sedikit miris melihat betapa sederhananya tempat tinggal mereka ini.
Namun aku melihat mereka begitu bahagia dan bersyukur dengan apa yang mereka
miliki sekarang. Mereka tampak bahagia, menikmati hidup mereka dengan penuh
kesederhanaan.
Perlahan
aku mengusap sudut mataku yang mulai basah. Bayangan akan hidup Reinard yang
tak jauh beda seperti mereka bertahun-tahun lalu membuat hatiku tersayat perih.
Setelah
aku masuk ke dalam kamar tadi, kulihat Reinard mengajak anak-anak laki-laki
untuk bermain bola di halaman belakang. Dari jendela kamar Nana, aku bia meihat
suamiku begitu bahagia dengan anak-anak kecil itu. Ia tertawa, berguling
bersama dan tentu saja menggendong anak-anak itu berlari keliling halaman.
__ADS_1
Sebuah pemandangan yang sama sekali belum aku lihat selama ini ketika bersama
Reinard.
“Mari
ngeteh dulu Julia….” Ibu Ayu muncul di depan pintu dengan senyumnya yang khas.
Aku
menjeda kegiatanku bersama anak-anak dan beranjak dari tempat dudukku setelah
sebelumnnya meminta ijin dulu pada Nana dan teman-temannya bahwa aku akan
keluar sebentar.
Dua
cangkir teh hangat mengepul di atas meja di teras panti. Ditemani beberapa kue tradisinonal yang
diletakkan di dalam piring kecil. Aku duduk di salah satu kursi rotan yang
kosong, bersebrangan dengan ibu Ayu.
“Ibu
bahagia ketika melihat Reinard menikah dengan wanita sebaik dan secantik kamu
Julia.” Ibu ayu memberikan sebuah album foto usang kepadaku.
Aku
tersenyum lalu menerima album itu. “Itu foto-foto Reinard waktu kecil.” Lanjut bu
Ayu ketika aku hanya menimang-nimang benda tersebut.
Aku
tak menyahut, kini mataku fokus membuka halaman awal album foto itu.
Memperlihatkan seorang bayi laki-laki berkulit bersih dan sangat tampan. Siapa
lagi, dia adalah suamiku.
“Ibu
yakin jika kamu belum pernah melihat foto masa kecilnya bukan?”
Aku
kembali tersenyum. “ belum bu.” Sahutku. “ternyata dia sangat tampan.” Aku
menatap lekat sebuah foto Reinard memakai seragam TK. Ku elus foto yang
gambarnya mulai pudar itu. Di foto tersebut, Reinard tampak tersenyum membawa
sebuah piala.
“Itu
piala ketika dia menang lomba.” Gumam ibu Ayu pelan. “Tapi ibu lupa lomba apa.”
Kekahnya.
Aku
ikut tertawa, lantas kembali membuka album itu selanjutnya. Kali ini ketika
Reinard sedang berjalan-jalan di taman mini. Dengan seorang gadis yang usianya
terlihat beberapa tahun lebih muda darinya. dari beberapa foto, aku melihat
bahwa Reinard selalu bersama gadis kecil itu. Tampaknya mereka begitu dekat.
“Dia
memiliki hidup yang sulit Julia….” Gumam ibu Ayu kemudian sambil meletakkan
cangkirnya. Aku mengangkat dagu, entah kapan ibu Ayu mengambil cangkir tersebut
dan menyesapnya.
Ibu
ayu menatapku. “Dia sudah bercerita bukan tentang masa lalunya?”
Aku
mengangguk. “ saya baru tahu beberapa hari lalu bu.”
“Ibu
yakin dia sangat mencintai kamu Julia.”
Aku
tak menyahut. Banyak yang mengatakan hal itu padaku. Bahkan Marina juga pernah
mengatakannya.
“Dulu
dia adalah seseorang yang sangat dingin Julia. Tapi ibu lihat, setelah menikah
dia sering tersenyum.”
Aku
tidak bisa menjawab apapun selain menatap Reinard yang masih bercengkrama
dengan anak-anak. Jauh di lubuk hatiku yang terdalam, aku merasa bangga dengan
diriku sendiri.
“Syukurlah
jika sekarang dia lebih bahagia bu….” Kataku kemudian.
Ibu
Ayu menoleh padaku.
“Julia,
kamu tahu apa yang Reinard inginkan sekarang?”
Aku
menoleh.
“Apa
bu?” tanyaku.
“Dia
__ADS_1
ingin memiliki seorang anak dari kamu.”
******