Klandestin

Klandestin
Rahasia Lagi


__ADS_3

Aku menunggu Wina dengan perasaan


cemas. Sudah lebih dari sepuluh menit sejak aku meninggalkan café Rangga tadi


dan melajukan mobilku di jalan raya. Namun karena aku tidak bisa berputar-putar


hanya untuk menunggu ponselku berdering, akhirnya aku menghentikan mobilku di


pinggir jalan.


“Please Win, segera telepon aku.”


Aku meremas-remas kemudiku dengan tidak sabar. Berkali-kali ku toleh ponselku


yang ku letakkan di kursi samping pengemudi. Namun benda pipih itu masih diam


seribu bahasa.


Brrrt….brrtt…brrtt….


Akhirnya!


Aku bernafas lega ketika nomor


Wina menari-nari di layar ponselku. Tak mau menunggu, aku langsung mengambil


dan menggeser layar hijau di sana.


“Win, gimana?!” tanyaku to the


point.


“Tan, kayaknya beneran ke Bogor


deh.” Sahut Wina.


Aku mengerutkan alisku. Jantungku


menciut, bahkan serasa di remas.


“Beneran?”


“Iya. Ini udah masuk tol arah


Bogor. Tante Julia cepetan. Nanti aku hubungi lagi.”


“Oke Win.” Aku mematikan ponselku


lalu meletakkannya kembali di kursi penumpang dengan asal-asalan. Setelah


menghidupkan mesin mobil, aku segera memacu gas-ku menuju Bogor.


Semoga aku mendapatkan hasil kali


ini. Apapun yang aku lihat nanti, setidaknya bisa mengobati rasa penasaranku.


****


Aku melihat mobil Honda City


hitam yang terparkir di depan rumah sakit. Rumah sakit itu familiar karena


beberapa waktu lalu aku sempat datang ke rumah sakit ini untuk menjenguk


klien-ku, Bu Santi di rumah sakit.


“Kok berhenti di sini Win?”


tanyaku ketika sudah keluar dari mobil. gadis itu berdiri di samping pintu


mobilnya.


“Dokter Reinard masuk ke situ


tante.” Sahut Wina sambil mengedik ke dalam rumah sakit.


Aku mengerutkan keningku tidak


paham. Apa sebenarnya yang terjadi? Apa suamiku juga bekerja di rumah sakit


ini? Sejauh itu? Jakarta-Bogor?


“Gimana tante, kita masuk ke


dalam apa tunggu di sini aja sampai mobil dokter Reinard keluar?” Wina menyugar


rambutnya ke belakang. Ia memperhatikanku dengan serius. Untuk kali ini aku


sama sekali tidak melihat sosok Wina yang menyebalkan itu.


“Masuk aja Win. Nanggung kan,


udah sampai di sini juga.” Sahutku kemudian.


“Tapi gimana kita bisa tahu


dokter Reinard di sebelah mana tante. Rumah sakit ini kan luas, kalau kita


kehilangan dia malah bahaya.” Wina mencoba menjelaskan, dan aku mengangguk. Setuju


dengan yang Wina katakan. Jika kami ternyata tidak menemukan Reinard, bisa

__ADS_1


dipastikan kami juga tidak mendapat apa-apa, padahal kami sudah melakukan perjalanan


sejauh ini. Tapi kalau kami hanya menunggu di sini, kami juga tidak akan


menemukan bukti apa-apa selain melihat Reinard keluar. Dan aku juga tidak punya


alasan pasti untuk menanyai suamiku perihal kedatangannya di rumah sakit ini


ketika bertemu nanti.


“Gimana tan?” Suara Wina


menyadarkanku. Rupanya gadis itu sedang menunggu keputusanku.


“Masuk aja deh Win.” Putusku pada


akhirnya. “Kalau enggak ketemu dia di dalem, yaudah anggep kita lagi enggak


beruntung. Tapi kalau bisa ketemu dan dapat bukti, setidaknya kita enggak


sia-sia sampai sini.”


Wina mengangguk. “Setuju deh sama


tante.”


Aku tersenyum pahit. Beriringan,


kami berdua masuk ke dalam rumah sakit itu. berkali-kali aku menarik nafas


panjang, mencoba menetralkan perasaanku yang campur aduk. Ada banyak pertanyaan


dan rasa was-was di dalam hatiku, namun aku tidak bisa menjelaskannya pada


Wina. Aku tidak ingin terlihat lemah di depan gadis itu, makanya sejak tadi aku


mencoba untuk bersikap santai walau sebenarnya tidak dengan perasaanku.


“Maafin ya Win, udah ganggu waktu


kamu.” Aku kembali membuka percakapan, ketika masuk di lobi. Kami berdua


menyapu seluruh sudut ruangan, mencari-cari sosok Reinard diantara banyak pengunjung


dan petugas rumah sakit di sini.


“Tenang mbak….” Jawab Wina dan


aku menoleh. Tiba-tiba saja dia memanggilku dengan sebutan mbak, dan aku


terkejut.


menatapku dengan meringis. Ia seolah tahu apa yang sedang aku pikirkan.


Aku tersenyum dengan sudut


bibirku.


Gadis berkucir kuda itu


mengedikkan bahu. “Ya…aku rasa panggilan tante terlalu tua.” Kilahnya kemudian


yang langsung ku respon dengan tertawa. Meskipun tawaku sedikit hambar karena


beban pikiran.


Kami kini masuk ke dalam lift


yang membawa ke lantai dua.


“Kamu enggak apa-apa bolos?”


tanyaku kemudian. Kami berdiri bersisian, dan mata kami fokus pada pintu lift


yang menutup perlahan.


“Tenanglah mbak, semua bisa di


atur. Sebenarnya aku turun jaga hari ini. Cuma tadi pagi bantuin poliklinik


yang pasiennya lumayan banyak.”


“Beneran?”


Wina menatapku. “Apa aku


kelihatan lagi bohong?” ia menunjuk mukanya sendiri. “Lagian aku juga harus


cari tahu, dokter Reinard ngapain aja. Secara kan aku juga peduli sama dia, mbak.”


Aku membuang nafas jengah.


Lagi-lagi dia pengen buat aku illfeel. Namun setelah aku pikir-pikir, tidak


masalah juga Wina menjadi pengangum suamiku. Aku kenal Wina, apalagi aku juga


kenal Reinard dengan baik—ya meskipun tidak semua rahasianya aku tahu. Reinard


tidak menyukai tipikal wanita seperti Wina. Dia terlalu kekanak-kanakan


menurutku.

__ADS_1


Lift di lantai dua terbuka. Aku


dan Wina kembali berjalan beriringan menyapu gedung poliklinik yang berjajar


rapi. Namun sekali lagi aku tak menemukan sosok Reinard di sana. Bahkan ketika


aku bertanya pada salah seorang petugas rumah sakit apakah ada dokter bernama


Reinard di rumah sakit ini, petugas itu menjawab tidak ada. Berarti bisa


diambil kesimpulan bahwa Reinard datang ke sini bukan untuk bekerja, namun


untuk melakukan hal lain.


“Terus kita harus gimana sekarang


Win?” aku memijit keningku yang mulai terasa pusing. Malam merangkak naik,


rumah sakit semakin ramai karena jam kunjung. Namun Reinard belum tampak batang


hidungnya.


“Tenang mbak, pelan-pelan. Nggak


usah dipaksakan. Kita bisa kesini lagi besok. Aku yakin dokter Reinard bakalan


kesini lagi.” Wina meremas pundakku., mencoba membesarkan hatiku yang mulai


rapuh.


Aku menengadah, menatap Wina yang


berdiri di sampingku. Kini kami duduk di lorong.


“Aku enggak bisa pulang dengan


tangan hampa Win.” Tekanku. Mataku sudah berkaca-kaca ingin menangis.


Bagaimanapun juga batinkan sebagai istri menjerit sakit ketika suamiku


menyimpan rahasia yang tak pernah dikatakannya kepadaku.


“Aku hanya enggak nyangka kalau


menikah begitu sulit.” Gumamku pelan. Saking pelannya, aku yakin Wina juga


tidak mendengar.


Kini kami melanjutkan ke ruang


rawat inap. Satu-satunya harapan terakhirku, karena jika kami tidak menemukan


sosok Reinard di ruangan-ruangan rawat inap ini, kami benar-benar akan pulang


dengan tangan hampa.


Beberapa kali, aku melihat sosok


yang mirip dengan Reinard. Namun ketika aku dekati, itu orang lain. Lagi-lagi


aku kecewa dan Wina kembali mencoba menenangkanku. Sungguh mencari satu orang


diantara orang-orang yang lalu lalang membesuk ini benar-benar melelahkan.


“Mbak.” Wina menyenggol lenganku.


Aku menoleh.


“Kayaknya itu dokter Reinard


kan?”


Aku langsung menoleh ke arah yang


ditunjuk Wina.


Benar. Aku yakin kali ini. Dia


benar-benar suamiku. Untuk beberapa detik aku merasa lega karena bisa menemukan


suamiku, namun di detik berikutnya kembali jantungku seperti diremas dengan


hebat.


Dia….suamiku.


Namun siapa perempuan yang duduk


di kursi roda itu? yang sedang didorongnya perlahan.


Dan senyum itu….


Kenapa Reinard terlihat begitu


akrab dengan perempuan itu.


Oh Tuhan!


Apa lagi ini?


*****

__ADS_1


__ADS_2