
Aku menunggu Wina dengan perasaan
cemas. Sudah lebih dari sepuluh menit sejak aku meninggalkan café Rangga tadi
dan melajukan mobilku di jalan raya. Namun karena aku tidak bisa berputar-putar
hanya untuk menunggu ponselku berdering, akhirnya aku menghentikan mobilku di
pinggir jalan.
“Please Win, segera telepon aku.”
Aku meremas-remas kemudiku dengan tidak sabar. Berkali-kali ku toleh ponselku
yang ku letakkan di kursi samping pengemudi. Namun benda pipih itu masih diam
seribu bahasa.
Brrrt….brrtt…brrtt….
Akhirnya!
Aku bernafas lega ketika nomor
Wina menari-nari di layar ponselku. Tak mau menunggu, aku langsung mengambil
dan menggeser layar hijau di sana.
“Win, gimana?!” tanyaku to the
point.
“Tan, kayaknya beneran ke Bogor
deh.” Sahut Wina.
Aku mengerutkan alisku. Jantungku
menciut, bahkan serasa di remas.
“Beneran?”
“Iya. Ini udah masuk tol arah
Bogor. Tante Julia cepetan. Nanti aku hubungi lagi.”
“Oke Win.” Aku mematikan ponselku
lalu meletakkannya kembali di kursi penumpang dengan asal-asalan. Setelah
menghidupkan mesin mobil, aku segera memacu gas-ku menuju Bogor.
Semoga aku mendapatkan hasil kali
ini. Apapun yang aku lihat nanti, setidaknya bisa mengobati rasa penasaranku.
****
Aku melihat mobil Honda City
hitam yang terparkir di depan rumah sakit. Rumah sakit itu familiar karena
beberapa waktu lalu aku sempat datang ke rumah sakit ini untuk menjenguk
klien-ku, Bu Santi di rumah sakit.
“Kok berhenti di sini Win?”
tanyaku ketika sudah keluar dari mobil. gadis itu berdiri di samping pintu
mobilnya.
“Dokter Reinard masuk ke situ
tante.” Sahut Wina sambil mengedik ke dalam rumah sakit.
Aku mengerutkan keningku tidak
paham. Apa sebenarnya yang terjadi? Apa suamiku juga bekerja di rumah sakit
ini? Sejauh itu? Jakarta-Bogor?
“Gimana tante, kita masuk ke
dalam apa tunggu di sini aja sampai mobil dokter Reinard keluar?” Wina menyugar
rambutnya ke belakang. Ia memperhatikanku dengan serius. Untuk kali ini aku
sama sekali tidak melihat sosok Wina yang menyebalkan itu.
“Masuk aja Win. Nanggung kan,
udah sampai di sini juga.” Sahutku kemudian.
“Tapi gimana kita bisa tahu
dokter Reinard di sebelah mana tante. Rumah sakit ini kan luas, kalau kita
kehilangan dia malah bahaya.” Wina mencoba menjelaskan, dan aku mengangguk. Setuju
dengan yang Wina katakan. Jika kami ternyata tidak menemukan Reinard, bisa
__ADS_1
dipastikan kami juga tidak mendapat apa-apa, padahal kami sudah melakukan perjalanan
sejauh ini. Tapi kalau kami hanya menunggu di sini, kami juga tidak akan
menemukan bukti apa-apa selain melihat Reinard keluar. Dan aku juga tidak punya
alasan pasti untuk menanyai suamiku perihal kedatangannya di rumah sakit ini
ketika bertemu nanti.
“Gimana tan?” Suara Wina
menyadarkanku. Rupanya gadis itu sedang menunggu keputusanku.
“Masuk aja deh Win.” Putusku pada
akhirnya. “Kalau enggak ketemu dia di dalem, yaudah anggep kita lagi enggak
beruntung. Tapi kalau bisa ketemu dan dapat bukti, setidaknya kita enggak
sia-sia sampai sini.”
Wina mengangguk. “Setuju deh sama
tante.”
Aku tersenyum pahit. Beriringan,
kami berdua masuk ke dalam rumah sakit itu. berkali-kali aku menarik nafas
panjang, mencoba menetralkan perasaanku yang campur aduk. Ada banyak pertanyaan
dan rasa was-was di dalam hatiku, namun aku tidak bisa menjelaskannya pada
Wina. Aku tidak ingin terlihat lemah di depan gadis itu, makanya sejak tadi aku
mencoba untuk bersikap santai walau sebenarnya tidak dengan perasaanku.
“Maafin ya Win, udah ganggu waktu
kamu.” Aku kembali membuka percakapan, ketika masuk di lobi. Kami berdua
menyapu seluruh sudut ruangan, mencari-cari sosok Reinard diantara banyak pengunjung
dan petugas rumah sakit di sini.
“Tenang mbak….” Jawab Wina dan
aku menoleh. Tiba-tiba saja dia memanggilku dengan sebutan mbak, dan aku
terkejut.
menatapku dengan meringis. Ia seolah tahu apa yang sedang aku pikirkan.
Aku tersenyum dengan sudut
bibirku.
Gadis berkucir kuda itu
mengedikkan bahu. “Ya…aku rasa panggilan tante terlalu tua.” Kilahnya kemudian
yang langsung ku respon dengan tertawa. Meskipun tawaku sedikit hambar karena
beban pikiran.
Kami kini masuk ke dalam lift
yang membawa ke lantai dua.
“Kamu enggak apa-apa bolos?”
tanyaku kemudian. Kami berdiri bersisian, dan mata kami fokus pada pintu lift
yang menutup perlahan.
“Tenanglah mbak, semua bisa di
atur. Sebenarnya aku turun jaga hari ini. Cuma tadi pagi bantuin poliklinik
yang pasiennya lumayan banyak.”
“Beneran?”
Wina menatapku. “Apa aku
kelihatan lagi bohong?” ia menunjuk mukanya sendiri. “Lagian aku juga harus
cari tahu, dokter Reinard ngapain aja. Secara kan aku juga peduli sama dia, mbak.”
Aku membuang nafas jengah.
Lagi-lagi dia pengen buat aku illfeel. Namun setelah aku pikir-pikir, tidak
masalah juga Wina menjadi pengangum suamiku. Aku kenal Wina, apalagi aku juga
kenal Reinard dengan baik—ya meskipun tidak semua rahasianya aku tahu. Reinard
tidak menyukai tipikal wanita seperti Wina. Dia terlalu kekanak-kanakan
menurutku.
__ADS_1
Lift di lantai dua terbuka. Aku
dan Wina kembali berjalan beriringan menyapu gedung poliklinik yang berjajar
rapi. Namun sekali lagi aku tak menemukan sosok Reinard di sana. Bahkan ketika
aku bertanya pada salah seorang petugas rumah sakit apakah ada dokter bernama
Reinard di rumah sakit ini, petugas itu menjawab tidak ada. Berarti bisa
diambil kesimpulan bahwa Reinard datang ke sini bukan untuk bekerja, namun
untuk melakukan hal lain.
“Terus kita harus gimana sekarang
Win?” aku memijit keningku yang mulai terasa pusing. Malam merangkak naik,
rumah sakit semakin ramai karena jam kunjung. Namun Reinard belum tampak batang
hidungnya.
“Tenang mbak, pelan-pelan. Nggak
usah dipaksakan. Kita bisa kesini lagi besok. Aku yakin dokter Reinard bakalan
kesini lagi.” Wina meremas pundakku., mencoba membesarkan hatiku yang mulai
rapuh.
Aku menengadah, menatap Wina yang
berdiri di sampingku. Kini kami duduk di lorong.
“Aku enggak bisa pulang dengan
tangan hampa Win.” Tekanku. Mataku sudah berkaca-kaca ingin menangis.
Bagaimanapun juga batinkan sebagai istri menjerit sakit ketika suamiku
menyimpan rahasia yang tak pernah dikatakannya kepadaku.
“Aku hanya enggak nyangka kalau
menikah begitu sulit.” Gumamku pelan. Saking pelannya, aku yakin Wina juga
tidak mendengar.
Kini kami melanjutkan ke ruang
rawat inap. Satu-satunya harapan terakhirku, karena jika kami tidak menemukan
sosok Reinard di ruangan-ruangan rawat inap ini, kami benar-benar akan pulang
dengan tangan hampa.
Beberapa kali, aku melihat sosok
yang mirip dengan Reinard. Namun ketika aku dekati, itu orang lain. Lagi-lagi
aku kecewa dan Wina kembali mencoba menenangkanku. Sungguh mencari satu orang
diantara orang-orang yang lalu lalang membesuk ini benar-benar melelahkan.
“Mbak.” Wina menyenggol lenganku.
Aku menoleh.
“Kayaknya itu dokter Reinard
kan?”
Aku langsung menoleh ke arah yang
ditunjuk Wina.
Benar. Aku yakin kali ini. Dia
benar-benar suamiku. Untuk beberapa detik aku merasa lega karena bisa menemukan
suamiku, namun di detik berikutnya kembali jantungku seperti diremas dengan
hebat.
Dia….suamiku.
Namun siapa perempuan yang duduk
di kursi roda itu? yang sedang didorongnya perlahan.
Dan senyum itu….
Kenapa Reinard terlihat begitu
akrab dengan perempuan itu.
Oh Tuhan!
Apa lagi ini?
*****
__ADS_1