Klandestin

Klandestin
Jangan Cemburu (Go To Singapore)


__ADS_3

“Kamu beneran


enggak mau ikut?” sungutku sambil memasukkan beberapa baju ke dalam koper


dengan sedikit membanting-banting. Mataku beralih pada Reinard yang berdiri


tidak jauh dariku, menatapku sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada


sambil bersandar pada kusen pintu. Sejak tadi ia hanya senyam-senyum sendiri.


“Kamu yang


bahagia dong, kan mau liburan.” Entah kalimatnya itu mengejek atau memang


sebuah dukungan untukku agar aku tidak terus saja menekuk muka seperti ini


sejak semalam.


“Bahagia, kalau


kamu ikut!” aku memasukkan barang terakhirku—satu set peralatan mandi, lalu


menutup koper yang berukuran tidak terlalu besar itu rapat-rapat. Rencananya


aku dan Rosa hanya akan menginap dua sampai tiga malam, jadi aku tidak perlu


membawa banyak barang. Lagipula, jika nanti mood-ku membaik di sana, aku pasti


akan kelayapan untuk shopping. Tapi dengan catatan, kalau moodku baik lho ya!


Kalau tidak, aku paling cuma akan berguling-guling saja di hotel tanpa


melakukan apapun.


Reinard berjalan


kearahku dan duduk berjongkok di depanku. Sejak tadi memang aku hanya duduk


lesehan di lantai.


“Apa aku


pura-pura lagi meriang aja ya yank, biar gak jadi pergi?” senyumku melebar,


mendapat ide sebagus itu.


“Jangan!” geleng


Reinard. “Memang Rosa juga bakalan percaya?”


Aku termenung. Iya


juga ya. Meski aku sakit beneran, gadis itu pasti tetap akan memaksaku untuk


berangkat.


“Itung-itung


nyenengin adik kamu Jul. jarang kan liburan bersama?”


“Tapi aku maunya


sama kamu….!” Sungutku lagi. “Kenapa sih kamu enggak bisa ikut!” padahal


Reinard sudah menjelaskan bahwa minggu ini dia sibuk karena ada beberapa acara,


juga mengisi sebuah talkshow dan seminar serta ada beberapa kelas untuk para


mahasiswanya di kampus.


“Kan aku udang


bil—“


“Enggak usah


diterusin, aku udah tahu.” Aku beranjak dari tempatku dan berdiri untuk segera


mandi.


“Mau dipeluk


dulu?” Reinard juga berdiri. “Biar kamu enggak galau.”


Aku nyengir,


lalu membuka lenganku lebar-lebar untuk menerima pelukan suamiku.


“Kamu jangan


nakal ya di rumah…” kataku ketika kami sudah saling berpelukan.


“Iya…”


“Janji?”


“Janji…!”


“Okeee. Aku


inget-inget janji kamu!”


Aku mendengar


Reinard tertawa.


“Akh….bakalan


kangen sama bau enaknya suamiku nih.”


“Sama!”


“Kalau gitu,


gimana kalau aku gak jadi pergi aja?”


“Juliaaa….”


“Hehehehe…..”


tawaku pelan. “Mau mandi akh….”


“Aku anterin!”


serta merta Reinard mengangkat tubuhku ala bridal style.


“Lho….?” Pekikku


histeris.


“Mandi bareng!”


serunya lalu membawaku masuk ke dalam kamar mandi.


******


Dua jam


kemudian, aku sudah bersiap untuk keberangkatanku ke Singapura. Reinard akan mengantarku


sampai bandara, karena Rosa bakalan menunggu di sana. Gadi itu bilang,  akan terlalu banyak makan waktu jika ia harus


menjemputku di apartement.

__ADS_1


“Udah gak ada


yang kelupaan kan?” tanya Reinard sambil mengunci pintu.


“Enggak.”


Sahutku sambil membenarkan letak tas selempang yang aku pakai.


“Yaudah, yok…”


Reinard menarik koperku dan aku menggandeng lengannya untuk turun ke basement.


Namun baru saja


aku melangkah, pintu unit apartement di sampingku terbuka dan sosok Rangga


menyembul dari sana. Melihatku, ia melebarkan matanya beriringan dengan senyum


ramahnya yang merekah.


“Loh Jul….” ia


tertawa pelan. Pria itu tampak masih sedikit acak-acakan. Mungkin baru bangun


tidur.


“Baru bangun


Ngga?” selorohku, dan pria itu hanya menggosok-gosok belakang lehernya.


“Iya nih.


Semalem café buka sampai pagi.”


Aku menganggguk,


melirik Reinard yang berdiri tanpa ekspresi di sampingku.


“Kenalin, suami


aku.” Aku menyikut lengan Reinard.


“Oh hallo…..”


Rangga mengulurkan tangannya. “Aku Rangga….”


“Reinard.”


Reinard membalas uluran tangan itu dengan kalimat yang begitu dingin.


Dua orang ini


memang begitu kontras. Reinard seseorang yang sulit sekali membaur dengan orang


lain, dalam arti ia hanya bisa banyak bicara dengan orang terdekatnya saja.


Sedangkan Rangga adalah orang yang begitu gampang beradaptasi dengan lingkungan


sekitar. Dan jatuhnya ia selalu bisa membawa energy positif untuk semua orang.


“Mau kemana


Jul?” tanya Rangga kemudian.


“Singapore.”


Sahutku.


“Woow….mau


holiday?”


“Akh sebenernya


“Acara apa? Suami


juga ikut?” Rangga menatap Reinard, tapi bukannya menjawab, suamiku malah


pura-pura tidak dengar.


“Adikku itu suka


banget sama K-pop. Ini mau lihat konsernya. Tapi sayang…..suamiku enggak bisa


ikut.” Aku melirik Reinard yang masih anteng-anteng saja. “Jadi ya….liburan


sendiri.”


“Waaah asyik yah


bisa jalan ke Singapura. Coba kalau enggak sibuk, aku juga pengen nih liburan


ke—“


“Sayang,


berangkat kapan? Nanti ketinggalan pesawat.” Potong Reinard tiba-tiba, yang


membuat Rangga  langsung mengunci


mulutnya rapat-rapat.


Aku tertawa


hambar. Kenapa sih Reinard pandai sekali membuat orang mati kutu seperti ini.


Hhmm… kenapa tidak memberi Rangga kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya


dulu? Kalau begini kan aku yang enggak enak.


“Oh….em… iya


nih.” Aku menatap jam tanganku. “Udah hampir telat.”


Aku menatap


Rangga yang masih berdiri tak bergeming di depanku.


“Berangkat dulu


ya Ngga?” Reinard langsung menarikku, bahkan ketika aku ingin mengatakan


‘Jagain Reza selama aku pergi.’


“Take care ya


Jul…?!” sahut Rangga ketika aku sudah melewati punggungnya. “Jangan lupa


oleh-oleh!”


“Oke!” aku


mengangkat jempol sembari berjalan menuju lift.


“Terlalu


kebanyakan ngomong deh.” Gumam Reinard ketika pintu lift terbuka.


“Apa?” aku


pura-pura tidak mendengar. Mataku tertuju pada wajah Reinard yang sekarang


begitu masam. Ia menarik koperku dengan sedikit berisik dan berdiri menghadap

__ADS_1


pintu lift dengan melipat tangan di depan dada.


“Kamu tadi


ngomong apa?” aku menyenggol lengannya ketika kami sudah berdiri bersisian.


Pintu lift


tertutup.


“Jangan


deket-deket sama pria tadi!” Sahut Reinard dengan tegas tanpa menoleh padaku.


Aku tersenyum


puas. Bahagia sekali melihat suamiku cemburu seperti ini.


*****


Rosa menerima


kedatanganku dengan cengiran puasnya. Gadis yang sekarang terlihat casual


dengan jeans belel dan juga kaos oblong itu langsung berlari ke arahku sambil


menarik kopernya ketika melihat kedatanganku.


“Halo mas!” ia


menyapa Reinard dengan sumringah.


“Udah lama Ros?”


tanya Reinard padanya.


“Emm….udah


hampir dua jam.”


“Busyet….kamu


sekalian ngabsen orang-orang apa Ros?” tanyaku terkejut. “Ngapain juga


lama-lama di sini.”


“Yakan tadi


perpisahan dulu sama temen-temenku yang berangkat awal mbak!” sahutnya.


“Yaelah…orang


nanti juga ketemu di sana kan? Takut kalau cowok kamu masuk pesawat yang


salah?”


Rosa


menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu. “Salah sendiri kenapa mbak


Julia enggak mau berangkat bareng sama temen-temenku!”


“Ya enggak maul


ah. Dikira ibu guru TK lagi nganterian anak-anaknya liburan?” sahutku santai.


“Mbak males kalau rame-rame.”


“Tapi hotelnya


nanti kan sama’an.”


“Ya kan beda


kamar!”


“Tapi kenapa


mbak Julia bookingnya satu kamar sama aku? Ih….kayak enggak punya duit aja!”


“Eh….kamu pikir


aku di pihak kamu apa? Ya setengahnya di pihak papa lah. Mbak Cuma enggak mau


kalau kamu pakek kamar sendiri, tengah malem disusulin sama cowok kamu. Nanti


mbak disalahin sama papa kalau kamu hamidun!”


“Ih…..mbak


Juliaaaaa…..!” jerit Rosa gemas. “Emang siapa sih yang mau bikin anak!”


“Udah…udah…kalian


kenapa pada bertengkar sih? Jadi berangkat enggak?” Reinard yang sejak tadi


diam akhirnya melerai.


 “Jadi dong mas, mbak Julia niiih…..”


“Yaudah, cepet siap-siap.


Tuh udah dipanggil buat berangkat.” Kata Reinard ketika terdengar pengumuman


bahwa pesawat yang menuju Singapura akan segera berangkat.


Aku menghadap


kearah Reinard, mengabaikan Rosa yang mencibirku sambil mengolok “Pura-pura


galau….”


“Kamu ati-ati ya


di rumah sendirian.” Aku mengalungkan tanganku di lehernya dengan posesif.


Tidak peduli jika bandara ini sangat ramai. Buktinya Reinard juga tidak


kelihatan canggung mendapatkan perlakukanku, ia malah melingkarkan kedua


tangannya di pinggangku.


“Iya sayang….”


Ia mencium bibirku lembut, membuat Rosa menjerit hiteris. “Akh, sensor ini


sensor! Anak di bawah umur!”


Aku tersenyum.


“Yaudah, aku berangkat ya…. See you honey!”


“See you…” kami


saling melepaskan diri perlahan, lalu dengan berat hati aku menarik koperku


menjauh.


“Ati-ati ya….”


Lambaiku sebelum akhirnya Reinard tak terlihat.


*****

__ADS_1


__ADS_2