Klandestin

Klandestin
Bab 3 Kelanjutan Intro


__ADS_3

Jam 3 sore kelasku selesai bersama sahabatku Rina aku berjalan keluar dari gedung ini.


"Rin anter aku ke kantin yuk, motorku aku tinggal di sana tadi" kataku kepada Rina.


"Haduh nggak bisa arka aku aja tadi berangkat naik Go-Jek karena motorku ban nya bocor" jawab rina memelas


"Serius kenapa nggak bilang sih kan bisa aku jemput di kos"


"Iya habisnya tadi aku buru-buru jadi nggak sempet chat kamu" Aku mengangguk dan berjalan terus kearah taman samping gedung tempatku kuliah tadi. Aku terkejut melihat Yusuf duduk sendirian di bangku salah satu taman.


Karena yang aku tahu dia adalah mahasiswa ilmu komunikasi yang gedungnya berada di gedung H yang lumayan jauh jaraknya dari gedung B ini.


Dia melambaikan tangan ke arahku. Aku sempat menengok kebelakang memastikan keberadaan orang selain diriku dan Rina. Aku menatap Rina tapi kurasa Rina tidak pernah cerita kalau dia mengenal Yusuf.


"Arka udah selesai kelasnya?" aku sedikit terkejut melihat Yusuf menghampiriku dan berbicara seperti itu. Aku hanya mengangguk. "Yaudah ayo aku antar ambil motormu dikantin" Aku semakin terkejut mendengar ucapan Yusuf yang baru saja keluar dari mulutnya. Jadi dia menunggumu sampai selesai kelas untuk sekedar mengantarku mengambil motor di kantin? pikirku dalam hati.


"Aduh mas takut merepotkan. Lagian aku juga sama temenku ini" Tolak ku halus.


"Malah merepotkan kalau kamu menolak karena aku udah nunggu kamu dari jam setengah 2 disini" Rina menatapku seakan meminta penjelasan dan aku hanya bisa memutar bola mata.


"nggak apa arka kamu sama mas ini aja aku kan bisa naik gojek". jawab Rina sambil mendorongku ke arah Yusuf. " Ya sudah aku duluan ya" ucap Rina sambil berjalan menjauh.


"Ayok ar motorku masih ada di tempat yang tadi" Aku mengangguk dan mengikuti langkah Yusuf dari belakang sambil berfikir keras apa yang sebenarnya terjadi. "Arka kamu belum makan siang kan? ayo kita makan siang dulu"


"belum sih mas tapi aku masih ada urusan habis ini" jawabku menolak halus.


"urusannya di tunda dulu, makan untuk kesehatan harus di utamakan" aku mengangguk saja karena sedang malas berdebat. Aku masih tidak habis pikir dengan kelakuan Yusuf ini.


Akhirnya kami memutuskan makan siang di kantin. Dikantin aku melihat beberapa temanku dengan tatapan terkejut melihatku berboncengan dengan Yusuf. Aku tidak mengindahkan keberadaan mereka dan duduk mengambil jarak dari mereka.

__ADS_1


Yusuf pergi memesan makanan untuk kami berdua dan tinggallah aku duduk sendirian di meja kantin nomer 11 ini. Salah satu kakak tingkat ku mas Zio menghampiriku yang duduk sendirian dengan clingak clinguk mungkin memastikan keberadaan Yusuf.


"Kok kamu bisa bareng Yusuf?" tanya mas zio penasaran.


"Ceritanya panjang mas nanti saja." ucapky sedikit takut karena mas zio adalah orang yang paling mengawasi aktivitasku di dalam maupun diluar kampus.


"Ya sudah aku tunggu penjelasan kamu. Aku harap bukanlah kabar buruk bagi mas." mas zio beranjak dan pergi kembali ke kumpulan teman-temanku.


Aku paham betul apa maksud dari mas zio adalah ketidakinginannya aku menyukai orang yang notabene berlatar belakang organisasi berbeda denganku dan bisa dibilang membuatku tertarik ke dalam organisasi sebelah.


Dari kejauhan aku melihat Yusuf dengan. membawa nampan berjalan berhati hati menuju tempat kita duduk. Dia memesan nasi ayam kremes begitu juga aku.


"ini nasinya ayo dimakan" Aku mengangguk sambil bilang terima kasih. "teman-temanmu itu tidak masalah kalau kita makan bareng seperti ini?" aku menatapnya sebentar dan kembali mengisi sendokku dengan nasi penuh.


"masalah gimana mas maksudnya?"


Aku pernah mendengar Yusuf tidak pernah bermain main soal wanita malahan beredar kabar kalau Yusuf adalah penyuka sesama jenis.


Setelah makanan ku habis aku berniat langsung berpamitan ke Yusuf hanya saja tak ku sangka Yusuf yang berpamitan dulu padahal makanannya belum habis. Setelah melihat jam tangannya ia seperti tergesa gesa membereskan barang bawaannya.


"ya sudah aku ada janji sama temenku aku duluan ya. kalau pulang hati-hati" dia langsung bangkit tanpa menunggu persetujuan dariku. Mungkin dia juga kurang nyaman disini karena memang sedari tadi teman-teman ku yang berada di sebrang tidak hentinya menatap kita berdua.


Setelah memastikan yusuf sudah pergi aku bergegas menuju ke arah teman-teman ku.


"kamu ini apaan sih arka kok jalan sama Yusuf?" tanya Genta teman seangkatannya jurusan akuntansi. Memang Genta ini orangnya sumbu pendek dan meledak ledak wajar saja melihat kejadian tadi membuatnya geram.


"stttt diam dulu dengerin penjelasan arka jangan emosi dulu." kata mas zio membelaku.


Memang mas zio lah yang sejak aku masuk ke kampus ini selalu peduli kepadaku. benar-benar my bestie sekaligus kakak yang mengayomi sampai sering kita dikira orang pacaran bagi orang yang tidak terlalu dekat dengan kita.

__ADS_1


"aku ketemu Yusuf karena dia kemarin menghubungiku untuk mengajak kita kerjasama untuk pemilihan BEM tahun ini. setelah itu aku kelas bareng dia dan motorku aku tinggal disini."


"pantes aku melihat motormu tapi aku cari kamu nggak ada" sela genta saat penjelasan ku


"Rencana ku ambil motor sama Rina tapi dia malah nggak bawa motor. Trus aku ketemu Yusuf ditanam samping gedung B ternyata dia nungguin aku kelas dan nganter lagi kesini." ujarku panjang lebar menjelaskan dan teman-teman melonggo termasuk mas zio.


"brengsek apa sih maksud nya Yusuf?" jawab genta penuh emosi. Aku bisa merasakan kalau ini bukan masalah aku saja tapi sepertinya genta mempunyai dendam pribadi dengan Yusuf.


Genta memang menurut pandangan teman-teman ku memiliki rasa kepadaku. Tapi begitulah karena kita dalam satu organisasi sangatlah berbahaya jika menjalin hubungan.


"udahlah gen kan aku bisa jaga diri" ucap ku menenangkan


kalau ada apa-apa bilang aku" jawab genta tanpa menatapku dan bergegas membereskan barang-barang nya lalu pergi tanpa pamitan.


"gausah dipikir arka Manusia sumbu pendek itu memang suka begitu." Ucap Risma teman sekelas mas zio yang kebetulan ada di lokasi.


Masalah itu terlewati begitu saja. sehabis gelap teman-teman juga langsung geser ke markas kami yang kira-kira 5 km dari kampus. Banyak yang kami bahas seperti tidak ada habisnya. sesekali bersenda gurau sampai ada yang kejar-kejaran karena masalah sepele.


Mulai dari berebut rokok, teriak-teriak karena ada barang yang disembunyikan, ada yang berebut ps, menonton TV ngerjain yang lagi tidur pokoknya banyak banget hal kecil disini yang bisa membuat tertawa.


Jam 11 aku pamit pulang karena aku bukanlah anak kos yang pulang kapan saja boleh tapi aku khawatir saja kalau tidak buru-buru pulang mbak Lastri akan menunggumu diruang tamu.


.


.


Penasaran kelanjutan kisah arka? tunggu next update episode ya


Jangan berhenti membawa kawan!

__ADS_1


__ADS_2