Klandestin

Klandestin
Bab 2 Intro


__ADS_3

Di dunia ini aku tidak tahu siapa yang harus aku percaya selain Ayah. Begitu hebatnya sosok Ayah ku yang bisa merangkap peran menjadi seorang Ibu yang lembut dan Ayah yang kuat didepan anaknya. Hanya saja Ayah begitu sulit untuk meluangkan banyak waktu untuk ku.


Semenjak aku kecil dia selalu bekerja keras untuk memenuhi seluruh kebutuhan ku sampai jarang sekali aku bertemu dengannya. Dia akan meluangkan waktunya sebentar jika aku melakukan sesuatu yang di anggapnya salah.


Seperti saat aku masih duduk di bangku SMP kelas 2 aku bolos kelas hanya untuk membeli buku series Harry Potter terbaru di Gramedia yang terjual terbatas. Waktu itu sekolah menelfon ke rumah dan mbak Lastri pengasuhku sedari kecil mengangkatnya. Mbak Lastri ternyata bercerita kepada Ayah saat aku tidak masuk kelas dan tidak ada keterangan.


Siangnya Ayah mengajakku makan siang bersama dan aku sudah bisa menebak kalau Ayah akan membahas masalah itu. Ternyata benar adanya Ayah langsung to the point menanyakan alasanku melakukan itu. Beliau mendengarkan alasanku melakukan hal itu dan memberi penjelasan bahwasanya hal itu tidaklah baik.


Ya begitulah Ayah mendidikku membiarkan aku melakukan apa yang aku suka kalau salah baru dikasih penjelasan bahwa hal itu tidak baik dilakukan. Aku maklum saja Ayah tidak punya banyak waktu untukku. Aku bangun Ayah sudah berangkat ke kantor dan saat aku tidur Ayah baru pulang dari kantor.


rasa-rasanya aku bisa lebih dari seminggu tidak bertemu Ayah padahal kita tinggal didalam satu atap. Biarpun begitu satu-satunya orang yang aku miliki di dunia ini adalah Ayah dan selanjutnya Mbak Lastri. Beliau berusia kira-kira 34 tahun dan tidak memiliki anak di pernikahannya lalu suaminya menceraikannya.


Beliau hidup sebatang kara makanya beliau sangatlah sayang kepadaku dan menjaga ku seperti anaknya sendiri. Pernah aku bertanya kepadanya kenapa tidak mencari pendamping hidup lagi katanya ia sekarang sudah lebih dari cukup hidup dirumah ini bersama ku membuatnya bahagia.


****


Dering alarm hp ku berbunyi membuatku terhenyak bangun dan melihat jendela yang tidaknya sudah terbuka oleh Mbak Lastri membuat sinar matahari pagi masuk kedalam kamarku. Kemarin aku sudah berpesan kepada beliau untuk tidak membangunkan ku pagi karena aku ada kuliah siang.


Aku bangkit mengambil handuk dan bersiap ke kampus untuk mengurus beberapa hal.

__ADS_1


"Pagi mbak arka sudah siap ke kampus? sarapan dulu mbak sudah aku buatin sarapan buat mbak arka." Sapa hangat mbak Lastri yang selalu sigap menyiapkan seluruh kebutuhan ku.


"iyaa mbak ayo sarapan bareng" ucapky selalu seperti itu karena tidak pernah sekalipun aku menganggap mbak Lastri orang lain. Dia juga sudah seperti ibu ku sendiri.


"Iya saya temani saja ya mbak, tadi saya sudah makan kok" sebelum berangkat ke kampus selalu aku sempatkan makan apa yang sudah disiapkan mbak Lastri karena beliau selalu sedih saat aku tidak sarapan dirumah.


Sesampainya di kampus dengan menggunakan Vespa kuning yang sangat aku sayangi karena kado ulang tahun yang ke 17 dari Ayah ku. Aku langsung menuju kantin kampus yang dimana tempatku berkumpul dengan teman-teman ku.


Aku duduk di gazebo kantin menunggu teman-teman ku yang biasa nya jam segini masih pada tidur semua. Aku datang pagi ke kampus karena akan bertemu seseorang penting menyangkut organisasi politik ku.


"hai kamu benar arka?" sapa lelaki tinggi semampai yang tampang nya bisa dibilang ganteng. Dia dari organisasi sebelah yang akan kutemui untuk membahas kerjasama politik yang akan kita jalin untuk memenangkan pesta demokrasi yang akan dilaksanakan 2 bulan lagi.


"iyaa aku arka, kamu mas Yusuf benar?" dia mengangguk dan duduk di depanku sambil meletakkan tasnya.


Makanya kemarin dia menghubungiku dan mengajak bertemu. Aku sebenarnya tidak tertarik untuk bekerja sama dengan organisasi nya hanya saja aku ingin mengetahui penawaran apa yang akan dia tawarkan kepadaku.


"Gimana apanya mas? kan yang ngajak ketemu kamu mas" mendengarku menjawab pertanyaannya ia tersenyum kecut.


"oh iya jadi begini....." obrolan kami berjalan sekitar lebih dari satu jam. Dia memutuskan untuk tidak mengikuti kelas karena dirasa urusan ini lebih urgent. Ya begitulah kalau mahasiswa organisasi bakal mementingkan organisasi nya daripada masuk kelas.

__ADS_1


Aku juga mendengar cerita kalau Yusuf ini adalah aktivis yang kritis bahkan juga sering mengkritik birokrasi kampus. Sayangnya dia berbeda organisasi denganku jadi aku tidak terlalu mengenalnya. aku mengetahui dari cerita mulut orang orang.


Satu kabar lagi yang beredar kalau Yusuf tidak pernah pacaran. Entah apa alasannya sampai juga ada kabar kalau Yusuf adalah penyuka sesama jenis. Aku tidak peduli dengan kabar yang beredar tapi dari obrolan kami aku rasa Yusuf adalah orang yang asik. Aku rasa aku punya frekuensi yang sama dengan Yusuf.


Tapi itu bukanlah tanda kalau aku menyukai nya. Bagiku seorang pacar hanya akan menghambat karir politik ku di dunia kampus.


"penawaran yang menarik mas tapi kembali lagi aku tidak bisa memutuskan ini sendirian. Aku haru berdiskusi dulu dengan teman temanku" ucapku sambil menyeruput es jeruk yang ku beli dari emak.


"okay kalo begitu kamu diskusikan dulu nanti aku tunggu kabar baiknya. Aku ada urusan di gedung B kalo ga salah itu gedung nya Ilmu Politik. mau bareng kesana?" tawarnya kepadaku sebenarnya aku bawa motor tapi cuacanya sedang panas sekali dan jarak dari kantin ke gedungku lumayan jauh akhir nya ku menerima penawarannya.


"boleh deh mas aku ada kelas 15 menit lagi. motorku biar disini aja." aku dan Yusuf berjalan menuju motornya dan ternyata motornya adalah motor trail yang aku inginkan tapi aku pikir ulang karena kaki ku tidak sampai ke tanah jika mengendarai nya. haha


Saat perjalanan yusf bertanya aku selesai kelas jam berapa dan aku menjawab jam 3 sore. Di perjalanan aku banyak mendapat tatapan kurang mengenakkan dari beberapa orang. Sudha biasa sebenernya tapi kok lebih banyak dari biasanya mungkin karena aku berboncengan dengan Yusuf idola kaum hawa dikampus. Mengikuti organisasi politik dikampus membuat ku memiliki banyak musuh. Bahkan aku tidak bisa percaya kepada teman ku seoganisasi politik karena didalam dunia perpolitikan itu tidak ada yang namanya kawan abadi. kawan bisa jadi lawan dan lawan bisa kawan.


sesampainya diparkiran aku pamit dan tak lupa berterima kasih pada Yusuf karena telah mengantarkan ku.


.


.

__ADS_1


penasaran dengan kelanjutan kisah arka? tungguin next update episode nya yaa


Jangan berhenti membaca kawan!


__ADS_2