Klandestin

Klandestin
Pada Sebuah Pesta Pernikahan


__ADS_3

‘Happy wedding Dimas dan Nika’


Tulisan itu terpampang besar di


depan pintu masuk ballroom hotel dimana aku dan Reinard hadir di acara resepsi


tersebut. Di bawah tulisan itu, ada banyak foto pasangan pengantin tersebut di


berbagai tempat di penjuru Indonesia. Mulai dari Wakatobi, Pulau senggigi,


Jogjakarta bahkan di bawah tugu Monas. Terlihat jika pasangan pengantin yang


tampak berbahagia tersebut menyukai hobi yang sama yaitu travelling.


Reinard terus menggamit tanganku


ketika memasuki pintu dan akhirnya bertemu dengan pasangan pengantin tersebut.


Dimas adalah teman sekelas Reinard ketika mereka sama-sama kuliah di fakultas


Kedokteran sedangkan Nika adalah mahasiswa di kampus yang sama tapi berbeda


jurusan.


“Kamu kok enggak ngomong sih Rei


kalau nikah?” Dimas menepuk bahu Reinard. “Kan aku bisa datang sama Nika.”


“Akh, kemarin terburu-buru.”


Sahut Reinard dan otomatis membuat Dimas dan Nika berpandangan. Aku tahu kalau


mereka tidak bisa mencerna kalimat Reinard yang terkesan ambigu itu. Mungkin


mereka mengira kalau aku hamil duluan, makanya menikah dengan terburu-buru.


“Emm….terburu-buru karena kita


menikah karena dijodohkan orangtua.” Sahutku jujur dan jawabanku itu membuat


Dimas dan Nika lebih kaget.


“Jadi…” Nika menatapku dan


Reinard bergantian.


“Tapi aku cinta kok sama dia.”


Reinard merangkul lenganku dengan possesif dan aku begitu bahagia mendapatkan


perlakuan seperti ini darinya.


“Cieee….sejak kapan sih Rei kamu


bisa ngomong sefrontal itu tentang cinta. Biasanya, kamu udah mirip batu kalau


berhubungan tentang wanita.” Cebik Dimas.


Aku tersipu malu sedangkan


Reinard terlihat tidak begitu terpengaruh. Terkadang Reinard yang frontal dalam


mengungkapkan perasaannya membuat jantungku naik-turun tidak karuan.


“Emm…dulu gimana Reinard waktu


kuliah?” tanyaku pelan sembari merapatkan tubuhku pada suamiku.


Dimas tertawa. “Dia banyak


fansnya Jul. untung aja, istriku enggak termasuk. Kalau iya, aku bakalan patah


hati berat.” Nika menepuk lengan Dimas sambil tertawa.


“Masa?” aku mulai tertarik.


Bagaimanapun bagi seorang wanita, masa lalu pasangan adalah hal yang harus


diketahui. Sebenarnya aku selalu penasaran dengan Reinard di jaman dulu, namun


aku tak pernah berani bertanya. Dia tidak pernah cerita dan seolah menutupi


semuanya.


“Emm….kamu mau jawaban jujur atau


bohong Jul?” goda Dimas. “Sejujurnya, kalau tentang masa lalu Reinard, enggak


habis kalau cerita cuma sebentar, mengingat bagaimana populernya dia waktu


kuliah.”


“Dim….jangan mulai deh.” Reinard


mendesis lirih lalu menutup telingaku dengan kedua telapak tangannya.


“Sayang…enggak usah di dengerin ya. Dimas banyak ngaconya.”


“Akh, nanggung kalau Cuma denger

__ADS_1


setengah-setengah.” Aku melepas tangan Reinard, mataku kembali teralihkan pada


Dimas. “Oke. Aku siap mendengarkan.”


Dimas justru tertawa.


“Tenang Jul, suami kamu ini bukan


playboy kok. Meskipun banyak cewek yang nguber-nguber dia, tapi aku lihat dia


berani bawa wanita di depan umum ya Cuma kamu.” Katanya yang membuat hatiku


membuncah lega. “Dia itu hobinya ngilang, bukan pacaran.”


“Ngilang?” tanyaku tidak


mengerti.


“Iya, kadang seharian dia dicari’in


enggak ada dimana-mana.”


Aku mengulum senyum. Aku pikir,


sampai sekarang pun Reinard masih punya hobi suka ngilang itu. Dia bisa


seharian di rumah sakit dari pagi sampai malam.


Obrolan makin seru ketika


beberapa teman kuliah Reinard dan Dimas ikut bergabung. Setelah cukup lama


ngobrol seputaran masa jaman kuliah dan pekerjaan, Reinard mengajakku untuk


beralih tempat karena masih banyak tamu yang ingin bertemu pasangan pengantin


itu.


Kami memilih menepi di pinggir


kolan renang yang tidak seramai di dalam ballroom tadi untuk menghabiskan waktu


sebelum acara puncak dimulai.


“Aku ambilin minum dulu ya?”


Reinard mengelus pipiku. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan kecil.


Sementara Reinard mengambil


minum, aku berjalan perlahan menyusuri sebuah papan panjang berisi foto-foto


bersama karena ada foto ketika Dimas dan Nika menggunakan almamater kampus,


acara wisuda mereka, dan foto-foto lain.


Braaaaak!


Sedang asyik dengan foto kenangan


Dimas dan Nika, tiba-tiba aku mendengar sebuah suara benda-benda jatuh menyentak


beriringan dengan beberapa tamu yang berlarian kearah sumber suara.


“Kenapa mas?” tanyaku pada salah


seorang waiters yang berlari mendahuluiku.


“Ada yang berkelahi mbak.” Jawab


waiters itu tanpa menoleh ke arahku.


Aku bergegas menuju sumber keributan.


Ingin tahu apa yang terjadi di sana. Ketika aku sampai, beberapa orang sudah


berkerumun. dari celah-celah manusia yang saling berjejer, aku melihat dua


orang yang saling memukul. Yang satu pria dengan jas putih dan yang satu pria


dengan jas warna….hitam…


Tunggu!


Aku kenal pria dengan jas warna


hitam itu.


“Reinard!” pekikku nyaring


menyibak kerumunan. Di belakangku, ada Nika dan juga Dimas yang mengikuti.


“Rei….Rei…..sudah…..” aku menarik


lengan Reinard yang sedang mencengkeram kerah kemeja Daniel.


Apa?! Kenapa ada Daniel di sini?


Kenapa mereka bertengkar?

__ADS_1


“Rei…sudah…” Aku mendorongnya ke


pinggir. Kepalaku menoleh pada Daniel yang terlihat berantakan dan kini sedang


mengatur nafasnya yang terengah. Pria itu menatap nyalang ke arahku.


“Kalian kenapa?! Ini acara orang


lain loh….!” Seruku kesal lantas menoleh pada Dimas dan Nika lalu mengucapkan


banyak permintaan maaf padanya. Aku dan Dimas lantas mengajak Reinard ke


halaman belakang.


“Rei….Kamu enggak apa-apa kan?”


tanya Dimas ketika kami bertiga sudah berada di ruang belakang hotel.


Reinard tidak menjawab. Wajahnya


masih terlihat tegang. Baru kali ini aku melihat Reinard dengan mimic muka


seperti itu. Penuh dengan amarah yang belum terlampiaskan sepenuhnya.


“Wajah kamu luka-luka Rei…..”


desisku pelan dengan khawatir.


“Aku enggak apa-apa.” Sahut


Reinard, ia mengelus pipiku lembut.


Aku menoleh kearah Dimas. “Kok


Daniel ada di sini Dim?” tanyaku kemudian, penasaran kenapa tiba-tiba ada sosok


Daniel diantara kerumunan para tamu yang hadir malam ini.


“Dia salah satu anggota keluarga


Nika Jul. sepupu jauhnya gitu. Aku juga baru bertemu dengannya dua kali ini.”


Sahut Dimas. “Kalian saling mengenal?”


“Iya….” Anggukku. “Dia teman


SMA-ku waktu itu.”


Aku tidak menyahut. Sejujurnya


aku masih menyimpan banyak pertanyaan tentang masalah yang membuat Reinard dan


Daniel berkelahi seperti tadi.


“Dim, sorry aku sudah merusak


pestamu.” Reinard yang sejak tadi diam angkat bicara.


Daniel tersenyum. “Enggak


apa-apa. Di suatu acara, hal-hal semacam itu biasa terjadi. Aku hanya terkejut


melihatmu bisa adu jotos seperti itu.”


Reinard hanya mengulas senyum


kecil.


“Karena kondisiku tidak begitu


baik sekarang, aku ingin pulang terlebih dahulu. Maaf ya sudah membuat


keributan di pesta pernikahanmu. Kalau pihak hotel minta ganti rugi, kamu


hubungi aku.”


Dimas mengangguk.


“It’s OK. Itu bukan masalah


besar.” Ia menepuk lengan Reinard perlahan. “Jul, mending kamu yang nyetir.”


Pria itu mengedik ke arahku dan ku jawab dengan anggukan kecil.


Ku ambil kunci mobil dari saku


celana Reinard. “Aku yang nyetir ya?” bisikku. “Kondisimu kurang begitu baik.”


“Iya.” Jawab Reinard tanpa


penolakan.


Setelah berpamitan pada Dimas dan


menitip salam pada Nika, akhirnya aku beranjak meninggalkan pesta pernikahan


Dimas dengan seribu satu pertanyaan.


*****

__ADS_1


__ADS_2