
‘Happy wedding Dimas dan Nika’
Tulisan itu terpampang besar di
depan pintu masuk ballroom hotel dimana aku dan Reinard hadir di acara resepsi
tersebut. Di bawah tulisan itu, ada banyak foto pasangan pengantin tersebut di
berbagai tempat di penjuru Indonesia. Mulai dari Wakatobi, Pulau senggigi,
Jogjakarta bahkan di bawah tugu Monas. Terlihat jika pasangan pengantin yang
tampak berbahagia tersebut menyukai hobi yang sama yaitu travelling.
Reinard terus menggamit tanganku
ketika memasuki pintu dan akhirnya bertemu dengan pasangan pengantin tersebut.
Dimas adalah teman sekelas Reinard ketika mereka sama-sama kuliah di fakultas
Kedokteran sedangkan Nika adalah mahasiswa di kampus yang sama tapi berbeda
jurusan.
“Kamu kok enggak ngomong sih Rei
kalau nikah?” Dimas menepuk bahu Reinard. “Kan aku bisa datang sama Nika.”
“Akh, kemarin terburu-buru.”
Sahut Reinard dan otomatis membuat Dimas dan Nika berpandangan. Aku tahu kalau
mereka tidak bisa mencerna kalimat Reinard yang terkesan ambigu itu. Mungkin
mereka mengira kalau aku hamil duluan, makanya menikah dengan terburu-buru.
“Emm….terburu-buru karena kita
menikah karena dijodohkan orangtua.” Sahutku jujur dan jawabanku itu membuat
Dimas dan Nika lebih kaget.
“Jadi…” Nika menatapku dan
Reinard bergantian.
“Tapi aku cinta kok sama dia.”
Reinard merangkul lenganku dengan possesif dan aku begitu bahagia mendapatkan
perlakuan seperti ini darinya.
“Cieee….sejak kapan sih Rei kamu
bisa ngomong sefrontal itu tentang cinta. Biasanya, kamu udah mirip batu kalau
berhubungan tentang wanita.” Cebik Dimas.
Aku tersipu malu sedangkan
Reinard terlihat tidak begitu terpengaruh. Terkadang Reinard yang frontal dalam
mengungkapkan perasaannya membuat jantungku naik-turun tidak karuan.
“Emm…dulu gimana Reinard waktu
kuliah?” tanyaku pelan sembari merapatkan tubuhku pada suamiku.
Dimas tertawa. “Dia banyak
fansnya Jul. untung aja, istriku enggak termasuk. Kalau iya, aku bakalan patah
hati berat.” Nika menepuk lengan Dimas sambil tertawa.
“Masa?” aku mulai tertarik.
Bagaimanapun bagi seorang wanita, masa lalu pasangan adalah hal yang harus
diketahui. Sebenarnya aku selalu penasaran dengan Reinard di jaman dulu, namun
aku tak pernah berani bertanya. Dia tidak pernah cerita dan seolah menutupi
semuanya.
“Emm….kamu mau jawaban jujur atau
bohong Jul?” goda Dimas. “Sejujurnya, kalau tentang masa lalu Reinard, enggak
habis kalau cerita cuma sebentar, mengingat bagaimana populernya dia waktu
kuliah.”
“Dim….jangan mulai deh.” Reinard
mendesis lirih lalu menutup telingaku dengan kedua telapak tangannya.
“Sayang…enggak usah di dengerin ya. Dimas banyak ngaconya.”
“Akh, nanggung kalau Cuma denger
__ADS_1
setengah-setengah.” Aku melepas tangan Reinard, mataku kembali teralihkan pada
Dimas. “Oke. Aku siap mendengarkan.”
Dimas justru tertawa.
“Tenang Jul, suami kamu ini bukan
playboy kok. Meskipun banyak cewek yang nguber-nguber dia, tapi aku lihat dia
berani bawa wanita di depan umum ya Cuma kamu.” Katanya yang membuat hatiku
membuncah lega. “Dia itu hobinya ngilang, bukan pacaran.”
“Ngilang?” tanyaku tidak
mengerti.
“Iya, kadang seharian dia dicari’in
enggak ada dimana-mana.”
Aku mengulum senyum. Aku pikir,
sampai sekarang pun Reinard masih punya hobi suka ngilang itu. Dia bisa
seharian di rumah sakit dari pagi sampai malam.
Obrolan makin seru ketika
beberapa teman kuliah Reinard dan Dimas ikut bergabung. Setelah cukup lama
ngobrol seputaran masa jaman kuliah dan pekerjaan, Reinard mengajakku untuk
beralih tempat karena masih banyak tamu yang ingin bertemu pasangan pengantin
itu.
Kami memilih menepi di pinggir
kolan renang yang tidak seramai di dalam ballroom tadi untuk menghabiskan waktu
sebelum acara puncak dimulai.
“Aku ambilin minum dulu ya?”
Reinard mengelus pipiku. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan kecil.
Sementara Reinard mengambil
minum, aku berjalan perlahan menyusuri sebuah papan panjang berisi foto-foto
bersama karena ada foto ketika Dimas dan Nika menggunakan almamater kampus,
acara wisuda mereka, dan foto-foto lain.
Braaaaak!
Sedang asyik dengan foto kenangan
Dimas dan Nika, tiba-tiba aku mendengar sebuah suara benda-benda jatuh menyentak
beriringan dengan beberapa tamu yang berlarian kearah sumber suara.
“Kenapa mas?” tanyaku pada salah
seorang waiters yang berlari mendahuluiku.
“Ada yang berkelahi mbak.” Jawab
waiters itu tanpa menoleh ke arahku.
Aku bergegas menuju sumber keributan.
Ingin tahu apa yang terjadi di sana. Ketika aku sampai, beberapa orang sudah
berkerumun. dari celah-celah manusia yang saling berjejer, aku melihat dua
orang yang saling memukul. Yang satu pria dengan jas putih dan yang satu pria
dengan jas warna….hitam…
Tunggu!
Aku kenal pria dengan jas warna
hitam itu.
“Reinard!” pekikku nyaring
menyibak kerumunan. Di belakangku, ada Nika dan juga Dimas yang mengikuti.
“Rei….Rei…..sudah…..” aku menarik
lengan Reinard yang sedang mencengkeram kerah kemeja Daniel.
Apa?! Kenapa ada Daniel di sini?
Kenapa mereka bertengkar?
__ADS_1
“Rei…sudah…” Aku mendorongnya ke
pinggir. Kepalaku menoleh pada Daniel yang terlihat berantakan dan kini sedang
mengatur nafasnya yang terengah. Pria itu menatap nyalang ke arahku.
“Kalian kenapa?! Ini acara orang
lain loh….!” Seruku kesal lantas menoleh pada Dimas dan Nika lalu mengucapkan
banyak permintaan maaf padanya. Aku dan Dimas lantas mengajak Reinard ke
halaman belakang.
“Rei….Kamu enggak apa-apa kan?”
tanya Dimas ketika kami bertiga sudah berada di ruang belakang hotel.
Reinard tidak menjawab. Wajahnya
masih terlihat tegang. Baru kali ini aku melihat Reinard dengan mimic muka
seperti itu. Penuh dengan amarah yang belum terlampiaskan sepenuhnya.
“Wajah kamu luka-luka Rei…..”
desisku pelan dengan khawatir.
“Aku enggak apa-apa.” Sahut
Reinard, ia mengelus pipiku lembut.
Aku menoleh kearah Dimas. “Kok
Daniel ada di sini Dim?” tanyaku kemudian, penasaran kenapa tiba-tiba ada sosok
Daniel diantara kerumunan para tamu yang hadir malam ini.
“Dia salah satu anggota keluarga
Nika Jul. sepupu jauhnya gitu. Aku juga baru bertemu dengannya dua kali ini.”
Sahut Dimas. “Kalian saling mengenal?”
“Iya….” Anggukku. “Dia teman
SMA-ku waktu itu.”
Aku tidak menyahut. Sejujurnya
aku masih menyimpan banyak pertanyaan tentang masalah yang membuat Reinard dan
Daniel berkelahi seperti tadi.
“Dim, sorry aku sudah merusak
pestamu.” Reinard yang sejak tadi diam angkat bicara.
Daniel tersenyum. “Enggak
apa-apa. Di suatu acara, hal-hal semacam itu biasa terjadi. Aku hanya terkejut
melihatmu bisa adu jotos seperti itu.”
Reinard hanya mengulas senyum
kecil.
“Karena kondisiku tidak begitu
baik sekarang, aku ingin pulang terlebih dahulu. Maaf ya sudah membuat
keributan di pesta pernikahanmu. Kalau pihak hotel minta ganti rugi, kamu
hubungi aku.”
Dimas mengangguk.
“It’s OK. Itu bukan masalah
besar.” Ia menepuk lengan Reinard perlahan. “Jul, mending kamu yang nyetir.”
Pria itu mengedik ke arahku dan ku jawab dengan anggukan kecil.
Ku ambil kunci mobil dari saku
celana Reinard. “Aku yang nyetir ya?” bisikku. “Kondisimu kurang begitu baik.”
“Iya.” Jawab Reinard tanpa
penolakan.
Setelah berpamitan pada Dimas dan
menitip salam pada Nika, akhirnya aku beranjak meninggalkan pesta pernikahan
Dimas dengan seribu satu pertanyaan.
*****
__ADS_1