
“Tumben datang
ke rumah….” Sapa mama ketika aku muncul dari balik pintu.
“Ih…kedatangan
anaknya kok mama malah ngomong gitu sih?” aku masuk ke dalam rumah lalu
langsung menuju dapur. Dari depan pintu tadi hidungku mencium bau lezat dari
arah dapur. Dan ternyata benar, mama sedang memasak semur daging.
“Wah aku datang
tepat waktu nih.” Kataku semangat. “Aku bantuin ya ma?”
“Enggak usah.
Kamu duduk aja.” Mama menarik tanganku lalu menyuruhku duduk di kursi makan.
“Makanan itu jadi enggak enak kalau kebanyakan tangan yang pegang.”
Aku mencibir.
Dari mana juga mama mempercayai mitos tidak berdasar seperti itu. Namun karena
tidak ingin berdebat, aku akhirnya mengalah dan duduk anteng di kursi sambil
mengupas jeruk.
“Tumben datang
Jul. Enggak kerja?” Tanya mama yang masih berdiri menghadap kompor dan
masakannya.
“Libur ma. Akhir
pekan. “sahutku sambil memasukkan seulas jeruk ke dalam mulutku. “Papa mana?”
“Masuk kantor.”
“Rosa?”
“Tuh dikamar.
Lagi nge-halu sama oppa-oppa virtualnya.”
Aku terkikik.
“Reinard kemana
Jul?” terdengar mama mematikan kompor, lalu berjalan ke arahku. Menggeser kursi
lalu duduk di sampingku. “Kok enggak diajak aja sih.”
Itu masalahnya.
Aku datang memang sengaja tidak mengajak Reinard. Sejujurnya aku masih kesal
dengan apa yang terjadi semalam. Meskipun dia berjanji akan mengatakan hal yang
berkaitan dengan pengemis itu, namun aku masih kesal karena ia tidak bisa
langsung jujur. Bukankah aku istrinya? Aku berhak tau apa yang terjadi padanya,
entah masa lalunya atau bahkan hidupnya sekarang.
“Dia ada
panggilan masuk dari rumah sakit tadi.” Jawabku tak sepenuhnya bohong. Karena
memang tadi pagi setelah kami pulang dari hotel, ia mendapatkan telepon dan
bergegas pergi. Kemana lagi kalau bukan on call dari rumah sakit.
“Yaaah…padahal
mama kangen sama mantu mama.”
Aku tak
menjawab. Sibuk dengan jeruk manisku yang begitu menggoda air liurku.
“Jul, gimana.
Udah berhasil apa belum?”
__ADS_1
“Berhasil apa?”
tanyaku pura-pura tidak mengerti. Padahal aku tahu apa yang mama maksud.
“Yaaaah Jul.
kira-kira mama sama papa bakalan dapet cucunya kapan?” mama menatapku dengan
sorot mata penuh pengharapan. “Kasihan papamu udah tua, dia pengen cepet dapet
cucu biar perusahaan bisa segera ia kasih ke Reinard.”
Aku meletakkan
sisa jerukku di atas meja. Lalu menatap mama. Sejak dulu, aku penasaran kenapa
papa begitu ngebet ingin memberikan perusahaan kepada Reinard, bahkan ketika
Reinard tidak mungkin bisa melakukannya karena ia seorang dokter.
“Ma, Reinard itu
dokter. Bagaimana bisa dia memegang perusahaan. Basicnya dia itu ngurus pasien
ma, bukan ngurusi perusahaan.”
“Ya jaman
sekarang kan bisa belajar otodidak Jul. Reinard pinter, mama yakin dia juga gak
akan belajar terlalu lama untuk masalah bisnis.” sahut mama enteng.
“Mending papa
kasih nanti ke suaminya Rosa deh.” Kataku acuh tak acuh. “Kenapa harus Reinard
coba.”
“NGawur! Rosa
masih kecil.” Sahut mama. “Lagian, papa udah bener-bener jatuh cinta sama
Reinard Jul. dulu sebelum dikenalin sama kamu, papa udah bilang sama mama kalau
Reinard bakal dijodohin sama kamu, dan perusahaan akan jadi milik kalian.”
“Idih, percaya
banget sama Reinard.”
“Gimana enggak
percaya. Lihat aja suamimu itu orangnya sopan banget, udah baik lagi.”
Aku memutar bola
mata malas. Entah kenapa orangtuaku begitu mengangumi Reinard dari segala sisi.
Bahkan dengan tenang menyerahkan anak perempuan pertama di keluarga mereka
untuk pria itu, meskipun akhirnya aku juga kesengsem sama pesonanya.
****
Setelah makan
siang di rumah, aku kembali pulang ke apartement. Niatku ingin membersihkan rumah
karena semenjak pulang dari Paris beberpa waktu lalu, aku belum sempat
bersih-bersih.
Reinard belum
pulang, karena apartement masih sepi seperti biasanya. Setelah berganti baju
dengan celana training pendek dan kaos oblong, serta menggelung rambutku, aku
segera turun ke lapangan. Pertama aku membersihkan meja, kursi dan menge-lap
semuanya. Kertas-kertas yang sekiranya tidak terpakai, aku buang semua ke
tempat sampah. Lalu aku menyapu seluruh ruangan dan berakhir dengan mengepel
semua lantai. Keringat mulai membasahi tubuhku meski AC aku hidupkan. Lumayan,
bakar kalori.
__ADS_1
Setelah rumah
beres, hal terakhir yang akau lakukan adalah mencuci baju. Terakhir mencuci
adalah tiga hari lalu dan itu dilakukan Reinard. Aku biasa menge-cek
kantong-kantong di baju ataupun celana sebelum kumasukkan ke mesin cuci. Aku
tidak mau sisa tisu atau kertas justru membuat kotor baju-baju yang berwarna
hitam.
“Reinard, kenapa
enggak dibuang sih?” gerutuku ketika menemukan lipatan kertas di dalam saku
jaket suamiku. Jaket itu baru kemarin aku lihat di rumah, mungkin selama ini
selalu ada di dalam mobil.
“Ini apa….?”
desisku sembari membuka lipatan kertas rapi yang akhirnya aku tahu itu adalah
struk belanja.
Aku mengerutkan
alis, melihat betapa banyaknya Reinard mengeluarkan uang untuk membeli pizza
dan burger. Tapi bukan hal itu yang membuatku terkejut, melainkan alamat
restoran cepat saji itu berada di jalan Braga, Bandung. Tiba-tiba perutku
terasa mulas, aku ingat beberapa waktu lalu Arian menelponku dan melihat Reinard
di Bandung. Dan tanggalnya pun sama dengan Arian yang menelponku waktu itu.
Tergesa, aku
mengambil ponsel di atas meja kamar, untuk segera menghubungi Arian.
“Halo Jul…” sapa
pemuda itu ketika ia baru saja mengangkat telepon.
“Yan, lo masih
inget nggak jaket yang dipakai Reinard waktu kamu bilang lihat dia di Bandung?”
tanyaku cepat tanpa basa-basi.
“Masih sih,
emang kenapa?”
“Cuma tanya.
Cepet, jaketnya warna apa?”
“Kalau enggak
salah sih, warna navy.”
Hatiku mencelos
seketika, mataku beralih pandang pada jaket yang masih berada di tanganku.
Berwarna navy, persis dengan apa yang dikatakan Arian.
“Jul, emang
kena—“
Belum sempat Arian
menyelesaikan kalimatnya, aku sudah menutup telepon terlebih dahulu. Tidak ada
waktu menjelaskan ini-itu pada Arian yang pati akan berujung dengan dia yang
ngember ke semua orang.
Kepalaku pusing
mendadak dan kedua tumitku terasa lemas. kujatuhkan tubuhku di sofa tanpa
tenaga. Ada apa sebenarnya dengan Reinard?
__ADS_1
****