Klandestin

Klandestin
Rentetan Rahasia


__ADS_3

“Tumben datang


ke rumah….” Sapa mama ketika aku muncul dari balik pintu.


“Ih…kedatangan


anaknya kok mama malah ngomong gitu sih?” aku masuk ke dalam rumah lalu


langsung menuju dapur. Dari depan pintu tadi hidungku mencium bau lezat dari


arah dapur. Dan ternyata benar, mama sedang memasak semur daging.


“Wah aku datang


tepat waktu nih.” Kataku semangat. “Aku bantuin ya ma?”


“Enggak usah.


Kamu duduk aja.” Mama menarik tanganku lalu menyuruhku duduk di kursi makan.


“Makanan itu jadi enggak enak kalau kebanyakan tangan yang pegang.”


Aku mencibir.


Dari mana juga mama mempercayai mitos tidak berdasar seperti itu. Namun karena


tidak ingin berdebat, aku akhirnya mengalah dan duduk anteng di kursi sambil


mengupas jeruk.


“Tumben datang


Jul. Enggak kerja?” Tanya mama yang masih berdiri menghadap kompor dan


masakannya.


“Libur ma. Akhir


pekan. “sahutku sambil memasukkan seulas jeruk ke dalam mulutku. “Papa mana?”


“Masuk kantor.”


“Rosa?”


“Tuh dikamar.


Lagi nge-halu sama oppa-oppa virtualnya.”


Aku terkikik.


“Reinard kemana


Jul?” terdengar mama mematikan kompor, lalu berjalan ke arahku. Menggeser kursi


lalu duduk di sampingku. “Kok enggak diajak aja sih.”


Itu masalahnya.


Aku datang memang sengaja tidak mengajak Reinard. Sejujurnya aku masih kesal


dengan apa yang terjadi semalam. Meskipun dia berjanji akan mengatakan hal yang


berkaitan dengan pengemis itu, namun aku masih kesal karena ia tidak bisa


langsung jujur. Bukankah aku istrinya? Aku berhak tau apa yang terjadi padanya,


entah masa lalunya atau bahkan hidupnya sekarang.


“Dia ada


panggilan masuk dari rumah sakit tadi.” Jawabku tak sepenuhnya bohong. Karena


memang tadi pagi setelah kami pulang dari hotel, ia mendapatkan telepon dan


bergegas pergi. Kemana lagi kalau bukan on call dari rumah sakit.


“Yaaah…padahal


mama kangen sama mantu mama.”


Aku tak


menjawab. Sibuk dengan jeruk manisku yang begitu menggoda air liurku.


“Jul, gimana.


Udah berhasil apa belum?”

__ADS_1


“Berhasil apa?”


tanyaku pura-pura tidak mengerti. Padahal aku tahu apa yang mama maksud.


“Yaaaah Jul.


kira-kira mama sama papa bakalan dapet cucunya kapan?” mama menatapku dengan


sorot mata penuh pengharapan. “Kasihan papamu udah tua, dia pengen cepet dapet


cucu biar perusahaan bisa segera ia kasih ke Reinard.”


Aku meletakkan


sisa jerukku di atas meja. Lalu menatap mama. Sejak dulu, aku penasaran kenapa


papa begitu ngebet ingin memberikan perusahaan kepada Reinard, bahkan ketika


Reinard tidak mungkin bisa melakukannya karena ia seorang dokter.


“Ma, Reinard itu


dokter. Bagaimana bisa dia memegang perusahaan. Basicnya dia itu ngurus pasien


ma, bukan ngurusi perusahaan.”


“Ya jaman


sekarang kan bisa belajar otodidak Jul. Reinard pinter, mama yakin dia juga gak


akan belajar terlalu lama untuk masalah bisnis.” sahut mama enteng.


“Mending papa


kasih nanti ke suaminya Rosa deh.” Kataku acuh tak acuh. “Kenapa harus Reinard


coba.”


“NGawur! Rosa


masih kecil.” Sahut mama. “Lagian, papa udah bener-bener jatuh cinta sama


Reinard Jul. dulu sebelum dikenalin sama kamu, papa udah bilang sama mama kalau


Reinard bakal dijodohin sama kamu, dan perusahaan akan jadi milik kalian.”


“Idih, percaya


banget sama Reinard.”


“Gimana enggak


percaya. Lihat aja suamimu itu orangnya sopan banget, udah baik lagi.”


Aku memutar bola


mata malas. Entah kenapa orangtuaku begitu mengangumi Reinard dari segala sisi.


Bahkan dengan tenang menyerahkan anak perempuan pertama di keluarga mereka


untuk pria itu, meskipun akhirnya aku juga kesengsem sama pesonanya.


****


Setelah makan


siang di rumah, aku kembali pulang ke apartement. Niatku ingin membersihkan rumah


karena semenjak pulang dari Paris beberpa waktu lalu, aku belum sempat


bersih-bersih.


Reinard belum


pulang, karena apartement masih sepi seperti biasanya. Setelah berganti baju


dengan celana training pendek dan kaos oblong, serta menggelung rambutku, aku


segera turun ke lapangan. Pertama aku membersihkan meja, kursi dan menge-lap


semuanya. Kertas-kertas yang sekiranya tidak terpakai, aku buang semua ke


tempat sampah. Lalu aku menyapu seluruh ruangan dan berakhir dengan mengepel


semua lantai. Keringat mulai membasahi tubuhku meski AC aku hidupkan. Lumayan,


bakar kalori.

__ADS_1


Setelah rumah


beres, hal terakhir yang akau lakukan adalah mencuci baju. Terakhir mencuci


adalah tiga hari lalu dan itu dilakukan Reinard. Aku biasa menge-cek


kantong-kantong di baju ataupun celana sebelum kumasukkan ke mesin cuci. Aku


tidak mau sisa tisu atau kertas justru membuat kotor baju-baju yang berwarna


hitam.


“Reinard, kenapa


enggak dibuang sih?” gerutuku ketika menemukan lipatan kertas di dalam saku


jaket suamiku. Jaket itu baru kemarin aku lihat di rumah, mungkin selama ini


selalu ada di dalam mobil.


“Ini apa….?”


desisku sembari membuka lipatan kertas rapi yang akhirnya aku tahu itu adalah


struk belanja.


Aku mengerutkan


alis, melihat betapa banyaknya Reinard mengeluarkan uang untuk membeli pizza


dan burger. Tapi bukan hal itu yang membuatku terkejut, melainkan alamat


restoran cepat saji itu berada di jalan Braga, Bandung. Tiba-tiba perutku


terasa mulas, aku ingat beberapa waktu lalu Arian menelponku dan melihat Reinard


di Bandung. Dan tanggalnya pun sama dengan Arian yang menelponku waktu itu.


Tergesa, aku


mengambil ponsel di atas meja kamar, untuk segera menghubungi Arian.


“Halo Jul…” sapa


pemuda itu ketika ia baru saja mengangkat telepon.


“Yan, lo masih


inget nggak jaket yang dipakai Reinard waktu kamu bilang lihat dia di Bandung?”


tanyaku cepat tanpa basa-basi.


“Masih sih,


emang kenapa?”


“Cuma tanya.


Cepet, jaketnya warna apa?”


“Kalau enggak


salah sih, warna navy.”


Hatiku mencelos


seketika, mataku beralih pandang pada jaket yang masih berada di tanganku.


Berwarna navy, persis dengan apa yang dikatakan Arian.


“Jul, emang


kena—“


Belum sempat Arian


menyelesaikan kalimatnya, aku sudah menutup telepon terlebih dahulu. Tidak ada


waktu menjelaskan ini-itu pada Arian yang pati akan berujung dengan dia yang


ngember ke semua orang.


Kepalaku pusing


mendadak dan kedua tumitku terasa lemas. kujatuhkan tubuhku di sofa tanpa


tenaga. Ada apa sebenarnya dengan Reinard?

__ADS_1


****


__ADS_2