Klandestin

Klandestin
Akh, Aku Bosan!


__ADS_3

“Mbak, enggak ikut jalan nih?”


tanya Rosa ketika dilihatnya aku cuma berguling-guling saja di kasur semenjak


sampai tadi. Bosan sekali hidupku hari ini, mana Reinard belum bisa dihubungi


lagi sejak aku mendarat tadi. Membuat mood-ku yang sudah buruk menjadi lebih


buruk.


Aku menutup majalah fashion yang


ku baca lalu mendongak, menatap Rosa yang sudah berganti baju dan berbau wangi.


“Lah, udah mau keluar aja? Emang


enggak capek?”


“Enggak lah. Namanya liburan ya


enggak boleh ada kesempatan buat tiduran kayak kain pel enggak guna gitu.” Saat


menyebut ‘kain pel enggak guna’ entah kenapa Rosa menatapku dengan penuh


ejekan.


Aku berdecak sebal.


“terus-terusin deh ngeledekin mbak!” aku bangkit dari posisiku kemudian


mengambil air putih di atas nakas. Sambil minum aku menatap ke luar jendela


hotel. Cuaca memang begitu cerah sore ini, suasana asyik sekali jika bisa


keluar lalu jalan-jalan menikmati suasana. Tapi sayangnya tidak ada Reinard dan


aku yakin semuanya tidak akan menarik. Kalau pergi dengan Rosa dan


teman-temannya apalagi. Aku pasti sudah mirip dengan ibu-ibu yang mengiringi


anak-anaknya jalan-jalan.


“Besok ajalah Ros jalan sama


temen-temen kamu. Hari ini temenin mbak aja ya?” aku meletakkan botol air


mineralku di atas meja.


“Yaaaah enggak bisa dong mbak.


Besok itu seharian udah sibuk. Pagi-pagi sekali aku harus udah datang buat


acara jumpa fans EXO. Enggak bisa ah! Aku enggak mau ya, jadwalku berantakan


gara-gara nurutin mbak Julia!” Rosa menyambar tas selempangnya.


Aku mencebik. “Ya udah lah


terserah kamu aja!” kataku pada akhirnya. Tau begini, dulu aku enggak pernah


menyodorkan diri untuk menemaninya. Benar kata orang, jangan pernah membuat


keputusan ketika hatimu sedang kecewa.


“Beneran enggak ikut? Mau


shopping nih.”


“Enggak!” aku memberikan kode


dengan tanganku agar Rosa segera pergi.


“Yaudah. See you mbak Julia yang


super enggak asyik!” kata Rosa sambil melenggang pergi. Tak berselang lama


kemudian, aku sudah mendengarnya menutup pintu kamar.


Selepas Rosa pergi, suasana


kembali menjadi hening. Aku tiduran tengkurap di kasur dengan menghela nafas


bosan. Berkali-kali kuambil ponselku, untuk menge-cek notifikasi pesan dari


Reinard yang masuk—barangkali—namun nihil. Suamiku itu pasti terlampau sibuk


sampai melupakan istrinya yang sekarang sedang dalam mode gabut di negeri


orang.


“Akh….bisa gila aku kalau kayak


begini!” seruku sebal lalu beranjak dari kasur. Kutarik koperku yang sejak


datang tadi belum pindah dari tempatnya. Aku sama sekali belum merapikan isi


koperku. Bahkan aku belum membukanya sama sekali. Akhirnya, setelah hampir dua


jam, baru aku punya niat untuk mengeksekusi isinya.


Pertama yang kulakukan adalah


mengambil peralatan mandiku dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam


jazucci aku mencoba menenagkan diriku dengan berendam sambil memutar beberapa


lagu klasik yang mungkin bisa merubah moodku. Setelah cukup lama berendam, aku akhirnya


menyerah dan keluar. Berganti baju, dan kulanjutkan dengan berdandan secantik


mungkin. Kenapa? Entahlah, aku tiba-tiba punya keinginan untuk keluar dari

__ADS_1


kamar. Rasa lapar mendera perutku, dan aku rasa aku juga perlu mencuci mataku.


Siapa tahu menemukan sesuatu untuk ku beli dan ku oleh-olehkan untuk suamiku


tercinta nanti.


Aku meninggalkan kamar hotel


ketika petang mulai beranjak di cakrawala. Tempat pertama yang aku tuju adalah


restoran yang tak jauh dari hotel. Di sana aku menikmati makan malamku dengan


nikmat sambil seekali membuka pekerjaan.


Setelah puas makan, aku


melanjutkan ke salah satu mall yang letaknya juga tak jauh dari hotel. Tidak


ingin naik kendaraan umum, aku lebih memilih untuk berjalan kaki. Lumayan, biar


sehat. Lagipula, disini aku merasa tak canggung jika berpindah dari satu tempat


ke tempat lain hanya berjalan kaki, karena banyak juga orang-orang yang


sepertiku. Menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan.


Rupanya shopping adalah hal


paling ampuh untuk mengusir badmood. Buktinya, baru saja masuk salah satu


butik, aku sudah laper mata. Tak menunggu waktu lama, aku langsung memasukkan


banyak baju di dalam keranjang belanjaku. Membeli ini itu, bahkan aku menemukan


beberapa lingerie lucu yang pastinya akan aku pakai di depan suamiku nanti.


Saat sedang asyik memilih


beberapa sepatu, ponselku tiba-tiba menjerit nyaring. Sebuah telepon dari Rosa.


“Mbak dimana?” tanya Rosa ketika


aku baru saja menempelkan teleponku di daun telinga.


“Mall.” Sahutku lugas. “Memang


kenapa?”


“Pantes tak cariin enggak ada.”


“Kamu udah pulang?”


“Udah sih….”


“Yaudah, segera tidur.”


“Males ah. Kayak anak ayam jam


segini tidur.”


“Mbak beli apa sih?!”


“lagi Shopping. Apa sih?”


“Aku kesana ya?”


“Sekarang?”


“Enggak, tahun depan!”


Aku berdecak sebal.


“Yaudah buruan kesini. Mbak Julia


tunggu.”


“Oke!”


Aku segera memasukkan kembali


ponselku ke dalam tas, sebelum akhirnya beranjak menuju kasir. Untuk membayar


barang-barangku yang seabrek ini.


*****


Aku melipat kedua tanganku di


depan dada. menatap dua orang yang kini duduk di depanku sambil makan burger. Meskipun


aku sudah memasang muka paling jutek, mereka terlihat tidak peduli.


Yaaa…mungkin benar ungkapan jika untuk orang yang saling kasmaran, dunia memang


hanya milik mereka berdua. Yang lain numpang—sepertiku.


Rosa memang akhirnya menyusulku.


Namun aku pikir dia bakalan sendirian, tapi ternyata ia malah bersama cowoknya


yang aku tahu bernama Arya. Tadi dia mengenalkan dirinya padaku. Sekarang, aku


malah terjebak seperti kambing congek di sebuah restoran cepat saji, melihat


betapa mesranya mereka berdua saling menyuapi dan mengelap sisa remahan makanan


satu sama lain.


“Mbak Julia enggak makan?” Arya


menoleh ke arahku. Pandangannya terhenti pada burgerku yang masih belum

__ADS_1


tersentuh.


“Mbak udah kenyang, kan tadi udah


bilang baru aja makan.” sahutku. Alih-alih mengambil burger, aku malah


mengambil gelas cola-ku lalu menyesapnya.


“Ooh….” Hanya itu yang diucapkan


Arya sebelum akhirnya kembali ngobrol santai bersama Rosa.


“Kalian udah pacaran berapa


lama?” tanyaku kemudian.


Arya dan Rosa menoleh.


“Enam bulan.” Sahut mereka


serempak. Kompak sekali.


Aku membuang nafas jengah.


“Kenapa kamu pilih Rosa? Dia kan enggak cantik, suaranya cempreng, manja, kayak


anak kecil, dan—“


“Mbaaaak!” protes Rosa cepat. Ia memanyunkan


bibirnya padaku dengan kesal. Jelas kesal, ia kan pasti ingin terlihat menjadi


wanita paling sempurna di depan pacarnya.


Aku nyengir. “Ya kan namanya


cinta harus menerima apa adanya. Ya enggak Ar?” aku mengedik pada Arya yang


hanya dijawab anak itu dengan cengiran.


“Kalau dipikir iya juga ya.


Kenapa mas Reinard mau sama mbak Julia. Udah lebih tua, galak, enggak sayang


adik, seenaknya sendiri—“


“Eh!” gentian aku yang protes.


“Tapi aku menyayangi dia sepenuh hati.” Tegasku. “Dan dia cinta mati sama aku


kok.” Aku merasa bangga dengan diriku sendiri.


Rosa mencebik. Ia menyesap


minumannya sebelum akhirnya menarik tangan Arya untuk berdiri.


“Jalan-jalan lagi yuk yank…”


“Lho, mau kemana?” aku menaikkan


alis tidak setuju.


“Jalan-jalan lah. Males sama mbak


Julia.” Cibir Rosa lalu menarik pacarnya pergi begitu saja.


“Mbaaak duluan ya!” Arya ikut


nimbrung. Ia kelihatannya tidak enak denganku, namun Rosa sudah mendominasinya


dan mengajaknya pergi.


Tidak ada yang bisa kulakukan


selain kembali ke hotel pada akhirnya. Dengan malas aku langsung menaruh


belanjaanku sembarangan lalu menghempaskan tubuhku di atas kasur. Pandanganku


tertuju keluar jendela, pada lampu-lampu kota yang berkelip. Pikiranku melayang


ke Jakarta. Apa yang dilakukan suamiku sekarang disana?


Apakah ia memikirkanku, seperti


aku memikirkannya sekarang?


Tok…tok…tok…


Bunyi pintu diketuk membuyarkan


lamunanku.


Tumben Rosa secepat ini balik.


Tok…tok..tok…


Aku beranjak dari kasur dengan


malas.


Tok…tok…tok…


“ya…iya sa—“


Aku menarik pintu, dan sedetik


kemudian mataku melebar sempurna.


Oh Tuhan, apa aku tidak salah


lihat?!

__ADS_1


“Reinard?!”


******


__ADS_2