Klandestin

Klandestin
Apakah Kau Siap?


__ADS_3

“What?!” Reza


langsung berbalik arah ketika mendengar apa yang baru saja aku sampaikan. “Jadi


tidak ada malam pertama sampai detik ini?” matanya hampir saja meloncat keluar.


Aku menghela


nafas, masih dengan bertopang dagu. Aku tahu reaksi Reza memang akan selebay


itu, namun entah kenapa aku masih juga membicarakan hal ini dengannya.


“Tapi gue lihat


dia respect kok Jul sama lo.” Eli yang duduk bersebrangan denganku terlihat


santai. Ia memang terlihat sedikit terkejut ketika aku mengatakan bahwa tidak


terjadi apa-apa selama dua malam ini, namun itu tak berlangsung lama karena ia


berhasil membuat dirinya bersikap seperti biasa.


“Ya….mungkin.”


sahutku tidak yakin. “Setelah malam pernikahan itu, dia bekerja. Pasiennya


drop, dan yang semalam….aku yakin jika dia memang sudah sangat capek.” Hebat


sekali aku dalam menghibur diriku sendiri.


Eli


manggut-manggut. Sepertinya sedang mencerna alasanaku yang sangat rasional ini.


“Akh, mana ada


cerita harus mengurusi pasien ketika kalian baru saja menikah. Apa hanya dia


dokter di rumah sakitnya?” Reza masih terlihat tidak terima.


“Dokter ada


banyak. Tapi yang spesialis jantung hanya dia sendiri.” Aku mencoba membela


suamiku.


“Tapi bukannya


di sana ada residen dan lain sebagainya?”


Aku terdiam.


Memang ada.


Banyak. Bahkan aku rasa mereka bias konsultasi via telepon jika benar-benar


urgent. Tapi….


Akh sudahlah!


Merasa tidak terima dengan malam pertamaku yang ‘dianggurin’ benar-benar bukan


alasan yang tepat.


“Dia dokter


Reza! Emang lo yang bisa seenak jidat main cancel begitu aja pekerjaan lo kalau


ada kepetningan pribadi?” Sela Eli. “Dia punya sumpah yang dijaganya.”


Naaah…aku setuju


dengan apa yang Eli katakan.


Reza


membeliakkan mata, dengan berkacak pinggang dan ekspresi kesal berjalan ke arah


kami.


“Ye….gue juga


professional kali El. Kalau udah tanda tangan kontrak, gue juga enggak bakalan


main cancel begitu aja. Emang cari kerjaan kayak nyari daun di kebun apa?!”


sewotnya.


“Nah lo tau.


Begitu juga Reinard. Dia dokter—“


“Ya lihat


konteks mak! Apalagi malam pertama. Sekali seumur hidup. Sakral!”


“Ya tapi kan


ceritanya—“


“Uhaaah….udaaah…


Kalian kenapa sih, kalau ketemu hobinya debat terus!” Aku bangkit dari kursi


dengan kesal. Mereka berdua bukannya membuat perasaanku lebih baik, justru


membuatku semaki bimbang. Percuma aku meluangkan waktu jam makan siang untuk


datang ke rumah Eli dengan bermaksud ‘curhat’ kalau pada akhirnya Eli dan Reza


malah beradu argument seperti ini.


“Sepertinya gue


salah datang ke mari.” Aku menyelempangkan tasku, mengabaikan tatapan tak


mengerti kedua sahabatku. “Gue balik ke kantor.” Aku menatap Reza dan Eli


bergantian. “So terusin perdebatan kalian.”


“Lo mau pulang


sekarang Jul?” Suara Reza melunak. Aku tak menyahut. Kepalaku sudah cukup


pusing untuk tinggal di sini lebih lama lagi.


“Jul….!” panggil


Eli namun aku tetap tidak peduli. Terus saja mengayunkan langkahku keluar dari


pintu.


Berkali-kali aku


mendengar Eli dan Reza bergantian memanggilku, namun aku tidak peduli.


*****


“Oke. Bilang


pada klien kita, kalau besok sore salah satu dari kita akan ke sana.” Aku


menutup map hitam yang kubawa dan memberikannya pada Fitri—karyawanku.


Fitri hanya


mengangguk, lantas segera meninggalkan ruanganku. Dua hari cuti dan beban


kerjaku bertambah banyak. Bahkan ada beberapa klien yang harus aku reschedule


pertemuan karena pernikahanku kemarin.


Aku menghela


nafas, menatap tumpukan kertas di depanku dengan pandangan hampa. Di luar


jendela, semburat warna kuning keemasaan menghiasi langit. Hari sudah beranjak


sore, aku belum juga pulang. Bahkan aku lupa untuk makan siang tadi karena


cukup kesal dengan Eli dan Reza yang bukannya mencarikan solusi melainkan hanya


membuat hatiku terasa gamang.


“Mbak….ditungguin


di depan tuh.” Suara Rini dari balik pintu memaksaku menoleh.


“Ditunggu?” aku


benar-benar tidak tahu siapa sosok yang dimaksud Rini

__ADS_1


Rini mencebik.


“Idiiih…pura-pura lupa.” Ia bersidekap. “Kira-kira siapa sih pria yang rela


menunggu mbak Julia sekarang?”


Aku berfikir


sesaat. Tebakanku tertuju pada seseorang, tapi apa itu mungkin?


“Maksud kamu


Reinard? Suamiku?”


Rini tergelak.


“Emang suaminya


mbak Julia ada berapa?”


Aku tersenyum


lebar mendengar kalimat Rini. Sebuah kejutan ketika Reinard sudah menungguku di


lobi seperti sekarang.


“Oke, bilang


sama dia aku bakalan cepet turun.”


Segera kusambar


tasku setelah Rini beranjak dari balik pintu. Mengobok-obok isinya dan


mengambil sebuah lipstick lantas memberikan polesan di bibirku. Tak lupa juga


aku menyapukan sedikit bedak di pipiku agar wajahku terlihat lebih segar.


Setelah aku rasa cukup baik, segera aku meninggalkan meja. Mengabaikan semua


pekerjaan menumpuk di atas meja tanpa peduli.


Dengan cepat aku


menuruni tangga, dan ketika melihat bayangan suamiku di lobi, aku segera


berteriak memanggil namanya. Tidak peduli dengan mata karyawanku yang berada di


sekitar situ. Bodo amat, aku sedang jatuh cinta dan Reinard adalah suamiku. Aku


berhak melakukan apapun padanya, bahkan untuk hal seperti sekarang ini ketika


aku sudah berdiri di depannya.


Ya!


Memeluknya


dengan erat. Sebuah hal yang ternyata sangat menyenangkan sekaligus mendebarkan


ketika aku bisa mencium aromanya dari dekat dan merasakan dadanya yang turun


naik ketika bernafas. Toxic! Ini benar-benar toxic! Bahkan aku bisa melakukan


hal ini sepanjang hari tanpa bosan.


 “Kenapa?” tanyanya lembut.


Aku masih


menggeleng dipelukannya.


“Pekerjaanku


banyak.” Desisku.


Reinard tidak


menjawab, kini aku merasakan telapak tangannya menepuk-nepuk punggungku dengan


pelan. Oh Tuhan, demi apapun aku suka bagian-bagian takdir yang seperti ini.


“Kamu tidak


lembur?” tanyaku beberapa saaat. Perlahan, dengan sedikit berat aku melepaskan


pelukan. Bukan apa-apa, aku rasa sore ini aku sudah cukup mendapatkan banyak


“Hari ini tidak


ada operasi.” Sahutnya. “Kamu sudah makan?”


Aku menggeleng.


“Mau makan


sesuatu?”


Aku mengangguk.


“Bagaimana kalau


makan di luar?”


Aku kembali mengangguk.


“Makan apa?”


“Terserah kamu…”


“Sushi?”


“Maauuu….!!!”


“Oke. Kita


berangkat sekarang?” Reinard menatapku. Ujung matanya terangkat beriringan


dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


“Tentu!” kataku


lantas melingkarkan tanganku di lengannya.


Ia mengangguk,


dan kami berjalan beriringan meninggalkan kantor.


Selamat tinggal


pekerjaan! Selamat tinggal kertas-kertas yang menumpuk di meja! Untuk hari ini,


biarkan aku menghabiskan waktu bersama suamiku.


*****


Aku duduk di


sofa dengan tidak tenang. Berkali-kali mataku tertuju pada arah pintu kamar


mandi yang tertutup. Dari balik pintu itu aku mendengar gemericik air dari


shower. Jelas saja, di balik pintu itu Reinard tengah mandi. Setelah makan,


Reinard mengajakku untuk segera pulang tanpa mampir kemana-mana. Tentu saja hal


itu aku sambut dengan baik. Bagaimanapun, aku berharap malam ini semua akan


berjalan sesuai rencana.


Pintu kamar


mandi terbuka, dan suara gemericik air dari shower sudah tidak terdengar lagi.


Sosok Reinard dengan rambut basah tampak berdiri gagah meskipun hanya berbalut


handuk. Tanpa sadar aku menenggak salivaku, setiap kali Reinard muncul dengan


tampilan di depanku seperti itu membuat degup jantungku berdetak dua kali lebi


cepat. Aku takut terkena serangan jantung di usia muda jika terus-menerus


disuguhkan tampilan suamiku yang nafsu-able seperti itu.


“Aku kira sudah


tidur.” Katanya santai. Mengambil pakaian dari dalam lemari.


Aku menunduk,


masih terlalu canggung melihat suamiku berganti pkaian tepat di depan mataku

__ADS_1


seperti ini.


“Belum. Aku……..”


apa yang harus aku katakan sekarang? Bolehkah aku jujur padanya, jika aku


sedang menunggunya untuk malam pertama kami?


“Aku…..!” Reflek


aku berdiri, untung saja kini Reinard sudah berpakaian lengkap.


Ia menatapku


datar sambil menggosok rambutnya dengan handuk.


“Aku….” Akh,


kenapa susah sekali mengatakan ‘ayo melakukan itu malam ini.’


“Iya….?”


Pria di depanku


ini memang bodoh atau hanya pura-pura tidak tahu dengan kode-ku?


“Aku…..” Aku


menggigit bibir. “Karena tempat tidur kita cuma satu. Bagaimana kalau aku tidur


di sofa saja.”


Astaga Julia!


Apa yang sedang kamu katakan? Tidak bisakah kamu berkata jujur dengan apa yang


kamu inginkan?


Reinard tertawa,


ia lantas berjalan ke arahku.


“Kamu yakin?”


tanyanya ketika sampai di depanku.


“Aku….” Sejak


kapan aku punya semacam penyakit gagap? Perasaan aku tidak pernah se-tidak


percaya diri ini berbicara dengan siapapun, bahkan dengan klien atau rival yang


jauh lebih hebat daripada aku.


“Tidurlah di


tempat tidur.” Reinard mengedik ke arah tempat tidur.


Aku kembali


menelan saliva dengan susah payah.


“Lalu kamu?”


“Aku juga tidur


di sana. Sejujurnya aku tidak bisa tidur di tempat tidur sempit seperti di sofa.”


Jawab Reinard lalu naik ke atas kasur dengan santainya. “Kamu tidak keberatan


kan Jul?”


Aku menggeleng.


Tidak! Tentu saja


tidak! Aku akan sangat berbahagia menyambutmu di atas tempat tidur kita.


Aku mengikuti


Reinard dan perlahan naik ke atas kasur. Menarik selimut dengan pelan dan


merebahkan badanku di sampingnya.


Untuk beberapa


saat kami saling terdiam menatap langit-langit. Hanya ada suara nafs kami di


sana, dan itu sangat menganggu. Apakah yang harus aku lakukan sekarang? Apakah aku


harus memulainya terlebih dahulu? Tapi….aku kan wanita. Rasanya tidak begitu


pantas jika aku meminta terlebih dahulu untuk hal yang baru pertama kali ini


akan kami lakukan.


“Jul….” suara


Reinard mengaburkan monolog di kepalaku. “Sudah tidur?”


“Belum.”


“Aku mau


bicara.”


“Apa?” akau


menoleh.


Reinard terdiam


sesaat, kemudian menarik nafas pelan. Dia menatapku, namun dengan pandangan


yang sulit ku artikan.


“Mungkin kamu


sudah menunggu saat ini. Tapi, maafkan aku Jul. aku belum bisa memberikan


nafkah batin itu padamu sekarang.”


Aku melongo,


lalu mengerjap.


“Hah?” hanya


suara itu yang bisa keluar dari mulutku.


Tau apa yang aku


rasakan saat ini? Seperti ribuan peluru berderai menancap di dadaku, seperti


ujung tombak runcing yang mencabik-cabik hatiku. Semua terasa berbeda dari


beberpa menit lalu. Harapan dan keinginanku untuk menjadi istri yang sempurna


lenyap sektika. Semua terasa dingin, bahkan aku merasa asing berada di atas


kasur ini bersama Reinard.


Aku telah


ditolak. Oleh suamiku sendiri. Ketika biasanya wanita yang akan menolak dan mengatakan


tidak siap, kini justru aku yang mendapatkan kata-kata itu dan rasanya begitu


menyakitkan.


“Oh…tidak


masalah. Karena aku juga belum siap melakukannya sekarang.” Aku mencoba


tersenyum setelah berhasil menguasai hatiku.


Reinard tersenyum


lega, tangannya terulur kemudian mengelus pucuk kepalaku.


“Terimakasih.”


Aku mengangguk


lemas.


“Jadi, mari kita


tidur. Karena besok kita akan sangat sibuk.” Kataku lalu menggeser badanku


membelakanginya. Semenit kemudian, air mata berderai dari mataku.

__ADS_1


****


__ADS_2