Klandestin

Klandestin
Waspada


__ADS_3

“Maksud kamu, Reinard sering


enggak masuk kerja gitu?” tanyaku dengan tatapan heran sekaligus tidak percaya.


Bagaimana mungkin, padahal setiap hari suamiku pasti berangkat pagi-pagi dari


rumah dengan stelan formal dan tas kerjanya. Mana mungkin ia sering tidak


masuk?


“Kalau enggak percaya ya udah.”


Wina berbalik, hendak meninggalkanku.


“Tunggu!” cegahku. Meskipun gadis


di depanku ini sulit dipercaya, namun aku benar-benar butuh dia sekarang.


“Jadi dalam satu bulan, ia bisa


enggak masuk kerja berapa kali?” tanyaku ketika Wina kembali menghadap padaku.


Gadis itu tampak berfikir. “Sering


sih….” Sahutnya kemudian. “Apalagi kalau udah dapet telepon. Meskipun ada rapat


penting, dokter Reinard pasti membatalkan rapat itu kemudian pergi.”


Aku tidak menyahut. Hatiku terlalu


sakit menerima fakta mengejutkan ini. Berarti telepon yang sering ia terima


setiap waktu itu bukanlah telepon dari rumah sakit seperti yang Reinard katakan.


Ada sesuatu yang disembunyikan pria itu padaku. LAGI.


Aku terlalu sulit menerima bahwa


suamiku memang seseorang yang punya beberapa rahasia besar di hidupnya.


“Tante…..enggak apa-apa?” Wina


mendekat kearahku, dan menatapku dengan prihatin. Kini gadis berkucir itu tidak


terlihat menyebalkan seperti tadi. Ia justru terlihat bersedih dengan kenyataan


yang baru aku terima.


Aku mengangkat dagu. Tidak ingin


terlalu berlarut-larut dalam pikiranku sendiri. Bagaimanapun juga, aku belum


tahu fakta yang terjadi di balik kebohongan Reinard. Mungkin saja ini masih


berhubungan dengan cerita masa lalunya sewaktu di panti asuhan.


“Kamu tahu enggak dia pergi


kemana kalau habis dapet telepon itu?” tanyaku kemudian dengan suara setenang


mungkin.


“Aku enggak yakin sih tante.”


Wina melipat kedua tangannya di depan dada. ia terlihat sungguh-sungguh dengan


ucapannya. “Tapi aku yakin kalau ia pasti meninggalkan rumah sakit setiap orang


dari balik telepon itu menghubunginya…..”


“Oh ya….” Wina seperti teringat


sesuatu. “Aku pernah tanya, dan dokter Reinard bilang kalau ada perlu di Bogor.”


“Bogor?” mataku membeliak. “Sejauh


itu?”


“Kayaknya sih iya.”


Aku mengigit bibirku dengan


khawatir. Pikiranku buntu. Harus darimana aku memulai penyelidikanku jika


semuanya terkesan ambigu. Aku tidak ingin langsung bertanya pada Reinard. Tidak


mungkin! ia pasti bisa mengelak. Satu-satunya jalan adalah aku harus melihatnya


dengan mata kepalaku sendiri untuk mengetahui fakta yang terjadi.


“Win….” Kataku kemudian.


Wina menatapku.


“Bisa bantu aku enggak?” tanyaku


kemudian. Aku yakin hanya Wina yang bisa membantuku. “Apa aja yang kamu minta,


aku kasih.” Tambahku.


Wina mengangguk. Ia tidak


menawarkan apapun. Mungkin karena ia juga terbawa perasaan melihatku yang


begitu menyedihkan.


“Kalau Reinard dapet telepon lagi


lalu meninggalkan rumah sakit, tolong kasih tau aku.”


“Oke tante.” Sahutnya kemudian.

__ADS_1


Aku menepuk lengannya pelan. “Terimakasih…”


gumamku lantas beranjak pergi.


“Tante!” panggil Wina ketika aku


belum pergi begitu jauh.


Aku menoleh.


“Semangat ya. Aku pasti bantu


tante!”


Dan aku hanya tersenyum.


*****


“Rei….aku tidur di rumah mama ya?”


pamitku siang itu di telepon.


“Kenapa?” suara Reinard terdengar


renyah.


“Kangen mama.”


“Yaudah, mau aku anter? Ini aku


udah mau pulang.”


“Enggak usah. Aku dari kantor


langsung aja.”


“Beneran?”


“Iya.”


“Yaudah, ati-ati ya. Salam buat


mama sama papa.”


“Oke.”


Aku menutup teleponku lalu


memasukkannya ke dalam tas.


Aku menghela nafas pelan, lalu


menyandarkan tubuhku di jog mobil. mataku fokus pada mobil Reinard yang


terparkir tak jauh dari tempatku menghentikan mobil. setelah dari rumah sakit


tadi, aku segera memancal gasku menuju kampus dimana Reinard hari ini mengajar.


Setelah menunggu sekitar tiga


puluh menit, aku melihat sosok itu keluar dari gedung fakultas kedokteran. Ia terlihat


sedang berbicara dengan seseorang dari balik telelpon.


Setelah menutup teleponnya, ia


segera masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraannya perlahan meninggalkan


parkiran. Aku juga segera menghidupkan mesin mobilku dan diam-diam membuntuti suamiku


dari belakang—sedikit agak jauh agar ia tidak menyadari keberadaanku.


Namun siang ini aku tak


mendapatkan apa-apa. Hatiku lega sekaligus kecewa ketika mobil Reinard membelok


ke dalam kompleks apartement kami. Karena hari ini aku sudah pamit akan


menginap di rumah mama, aku langsung melajukan kendaraanku tanpa mampir lebih


dulu di apartement.


*****


Aku tidak punya niat untuk pulang


ke rumah, tadi hanyalah alasanku pada Reinard agar ia tidak khawatir. Aku justru


memarkir kendaraanku di depan café milik Rangga. Entah kenapa, naluriku


menuntunku begitu saja ke tempat ini. Aku hanya perlu teman berbincang dan


Rangga sepertinya adalah orang yang tepat.


Seperti biasa, pria itu sibuk


melayani pelanggan ketika aku datang. Dan saat melihatku di depan pintu,


senyumnya mengembang.


“Mau espresso panas? Atau juice


tomat dingin?” godanya ketika aku sudah duduk di salah satu kursi yang masih


kosong. Suasana café begitu ramai dan aku tidak bisa memilih tempat duduk.


“Tidak. Aku butuh cafein sekarang,


tapi yang dingin.” Sahutku. “Bagaimana dengan espresso dingin?”


Pria itu tertawa. “Tiramisu?” ia

__ADS_1


mendekat padaku. “Gratis lho.”


“Akh, aku tidak mau menimbun


kalori. Kopi saja cukup untuk siang ini.” Sahutku.


“Siap!” Rangga beranjak dari


hadapanku.


Tak butuh waktu lama ia kembali


membawa espresso dingin dan meletakkannya di depanku.


“sesuai pesanan.” Katanya kemudian


duduk di seberangku. “Apakah gerangan yang membawa seorang wanita cantik


siang-siang datang sendirian ke café?” tanyanya kemudian.


Aku menopang dagu. “Hanya tidak


punya kerjaan.”


“Apa?” Rangga mengerutkan


dahinya. “Apa kamu resign dari kantormu sendiri?”


Aku memutar bola mata malas. “Maksudku


bukan begitu!” kataku. “Aku hanya malas ke kantor, malas pulang ke rumah dan


malas melakukan aktivitas apapun.”


“Jadi ke café-ku tidak malas?”


“Iyap! Aku merasa butuh asupan


cafein sehingga aku datang.”


Rangga manggut-manggut.


“Dimana suamimu?” tanyanya


kemudian. “Padahal aku ingin sekali berkenalan dengannya.”


Aku menanggapinya dengan tidak


antusias. “Dia sibuk.” Kataku sambil mengambil gelas kopiku lalu menyesapnya.


“Yaaah…aku pikir akan sangat


asyik jika ia bisa datang kesini dan mencoba beberapa menu andalanku.”


Aku memutar bola mata malas. Meskipun


sekarang kondisi tidak seperti ini pun, aku yakin jika Reinard tidak akan


pernah mau datang kemari. Apalagi bertemu Rangga. Suamiku adalah tipe pria


pencemburu kelas berat.


Dering telepon membuyarkan


konsentrasiku. Sebuah telepon dari nomor tidak dikenal.


“Halo…..”


“Halo tante…”


Aku tahu pemilik nomor ini. Pasti


Wina. Karena hanya gadis kurang ajar itu yang memanggilku dengan sebutan tante.


“Gimana Win?” aku melirik Rangga


yang tak begitu peduli dengan teleponku.


“Kayaknya dokter Reinard mau


pergi deh.”


“Masa?” aku bangkit dari


posisiku.


“Iya, ini ada di rumah sakit. Ambil


beberapa barang di laci meja kerjanya. Terus pergi.”


“Kamu yakin dia beneran mau ke


Bogor.”


“Aku coba ikutin deh kalau gitu


tante.”


“Beneran?”


“Iya. Nanti aku telepon aja dan


tante nyusul ya?”


“Oke…oke….aku tunggu.” Aku menutup


teleponku lantas bersiap pergi.


“Makasih kopinya ya Ngga!” aku


meletakkan selembaran uang seratusan ribu di meja lalu berlari meninggalkan

__ADS_1


Rangga sendirian.


__ADS_2