
“Maksud kamu, Reinard sering
enggak masuk kerja gitu?” tanyaku dengan tatapan heran sekaligus tidak percaya.
Bagaimana mungkin, padahal setiap hari suamiku pasti berangkat pagi-pagi dari
rumah dengan stelan formal dan tas kerjanya. Mana mungkin ia sering tidak
masuk?
“Kalau enggak percaya ya udah.”
Wina berbalik, hendak meninggalkanku.
“Tunggu!” cegahku. Meskipun gadis
di depanku ini sulit dipercaya, namun aku benar-benar butuh dia sekarang.
“Jadi dalam satu bulan, ia bisa
enggak masuk kerja berapa kali?” tanyaku ketika Wina kembali menghadap padaku.
Gadis itu tampak berfikir. “Sering
sih….” Sahutnya kemudian. “Apalagi kalau udah dapet telepon. Meskipun ada rapat
penting, dokter Reinard pasti membatalkan rapat itu kemudian pergi.”
Aku tidak menyahut. Hatiku terlalu
sakit menerima fakta mengejutkan ini. Berarti telepon yang sering ia terima
setiap waktu itu bukanlah telepon dari rumah sakit seperti yang Reinard katakan.
Ada sesuatu yang disembunyikan pria itu padaku. LAGI.
Aku terlalu sulit menerima bahwa
suamiku memang seseorang yang punya beberapa rahasia besar di hidupnya.
“Tante…..enggak apa-apa?” Wina
mendekat kearahku, dan menatapku dengan prihatin. Kini gadis berkucir itu tidak
terlihat menyebalkan seperti tadi. Ia justru terlihat bersedih dengan kenyataan
yang baru aku terima.
Aku mengangkat dagu. Tidak ingin
terlalu berlarut-larut dalam pikiranku sendiri. Bagaimanapun juga, aku belum
tahu fakta yang terjadi di balik kebohongan Reinard. Mungkin saja ini masih
berhubungan dengan cerita masa lalunya sewaktu di panti asuhan.
“Kamu tahu enggak dia pergi
kemana kalau habis dapet telepon itu?” tanyaku kemudian dengan suara setenang
mungkin.
“Aku enggak yakin sih tante.”
Wina melipat kedua tangannya di depan dada. ia terlihat sungguh-sungguh dengan
ucapannya. “Tapi aku yakin kalau ia pasti meninggalkan rumah sakit setiap orang
dari balik telepon itu menghubunginya…..”
“Oh ya….” Wina seperti teringat
sesuatu. “Aku pernah tanya, dan dokter Reinard bilang kalau ada perlu di Bogor.”
“Bogor?” mataku membeliak. “Sejauh
itu?”
“Kayaknya sih iya.”
Aku mengigit bibirku dengan
khawatir. Pikiranku buntu. Harus darimana aku memulai penyelidikanku jika
semuanya terkesan ambigu. Aku tidak ingin langsung bertanya pada Reinard. Tidak
mungkin! ia pasti bisa mengelak. Satu-satunya jalan adalah aku harus melihatnya
dengan mata kepalaku sendiri untuk mengetahui fakta yang terjadi.
“Win….” Kataku kemudian.
Wina menatapku.
“Bisa bantu aku enggak?” tanyaku
kemudian. Aku yakin hanya Wina yang bisa membantuku. “Apa aja yang kamu minta,
aku kasih.” Tambahku.
Wina mengangguk. Ia tidak
menawarkan apapun. Mungkin karena ia juga terbawa perasaan melihatku yang
begitu menyedihkan.
“Kalau Reinard dapet telepon lagi
lalu meninggalkan rumah sakit, tolong kasih tau aku.”
“Oke tante.” Sahutnya kemudian.
__ADS_1
Aku menepuk lengannya pelan. “Terimakasih…”
gumamku lantas beranjak pergi.
“Tante!” panggil Wina ketika aku
belum pergi begitu jauh.
Aku menoleh.
“Semangat ya. Aku pasti bantu
tante!”
Dan aku hanya tersenyum.
*****
“Rei….aku tidur di rumah mama ya?”
pamitku siang itu di telepon.
“Kenapa?” suara Reinard terdengar
renyah.
“Kangen mama.”
“Yaudah, mau aku anter? Ini aku
udah mau pulang.”
“Enggak usah. Aku dari kantor
langsung aja.”
“Beneran?”
“Iya.”
“Yaudah, ati-ati ya. Salam buat
mama sama papa.”
“Oke.”
Aku menutup teleponku lalu
memasukkannya ke dalam tas.
Aku menghela nafas pelan, lalu
menyandarkan tubuhku di jog mobil. mataku fokus pada mobil Reinard yang
terparkir tak jauh dari tempatku menghentikan mobil. setelah dari rumah sakit
tadi, aku segera memancal gasku menuju kampus dimana Reinard hari ini mengajar.
Setelah menunggu sekitar tiga
puluh menit, aku melihat sosok itu keluar dari gedung fakultas kedokteran. Ia terlihat
sedang berbicara dengan seseorang dari balik telelpon.
Setelah menutup teleponnya, ia
segera masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraannya perlahan meninggalkan
parkiran. Aku juga segera menghidupkan mesin mobilku dan diam-diam membuntuti suamiku
dari belakang—sedikit agak jauh agar ia tidak menyadari keberadaanku.
Namun siang ini aku tak
mendapatkan apa-apa. Hatiku lega sekaligus kecewa ketika mobil Reinard membelok
ke dalam kompleks apartement kami. Karena hari ini aku sudah pamit akan
menginap di rumah mama, aku langsung melajukan kendaraanku tanpa mampir lebih
dulu di apartement.
*****
Aku tidak punya niat untuk pulang
ke rumah, tadi hanyalah alasanku pada Reinard agar ia tidak khawatir. Aku justru
memarkir kendaraanku di depan café milik Rangga. Entah kenapa, naluriku
menuntunku begitu saja ke tempat ini. Aku hanya perlu teman berbincang dan
Rangga sepertinya adalah orang yang tepat.
Seperti biasa, pria itu sibuk
melayani pelanggan ketika aku datang. Dan saat melihatku di depan pintu,
senyumnya mengembang.
“Mau espresso panas? Atau juice
tomat dingin?” godanya ketika aku sudah duduk di salah satu kursi yang masih
kosong. Suasana café begitu ramai dan aku tidak bisa memilih tempat duduk.
“Tidak. Aku butuh cafein sekarang,
tapi yang dingin.” Sahutku. “Bagaimana dengan espresso dingin?”
Pria itu tertawa. “Tiramisu?” ia
__ADS_1
mendekat padaku. “Gratis lho.”
“Akh, aku tidak mau menimbun
kalori. Kopi saja cukup untuk siang ini.” Sahutku.
“Siap!” Rangga beranjak dari
hadapanku.
Tak butuh waktu lama ia kembali
membawa espresso dingin dan meletakkannya di depanku.
“sesuai pesanan.” Katanya kemudian
duduk di seberangku. “Apakah gerangan yang membawa seorang wanita cantik
siang-siang datang sendirian ke café?” tanyanya kemudian.
Aku menopang dagu. “Hanya tidak
punya kerjaan.”
“Apa?” Rangga mengerutkan
dahinya. “Apa kamu resign dari kantormu sendiri?”
Aku memutar bola mata malas. “Maksudku
bukan begitu!” kataku. “Aku hanya malas ke kantor, malas pulang ke rumah dan
malas melakukan aktivitas apapun.”
“Jadi ke café-ku tidak malas?”
“Iyap! Aku merasa butuh asupan
cafein sehingga aku datang.”
Rangga manggut-manggut.
“Dimana suamimu?” tanyanya
kemudian. “Padahal aku ingin sekali berkenalan dengannya.”
Aku menanggapinya dengan tidak
antusias. “Dia sibuk.” Kataku sambil mengambil gelas kopiku lalu menyesapnya.
“Yaaah…aku pikir akan sangat
asyik jika ia bisa datang kesini dan mencoba beberapa menu andalanku.”
Aku memutar bola mata malas. Meskipun
sekarang kondisi tidak seperti ini pun, aku yakin jika Reinard tidak akan
pernah mau datang kemari. Apalagi bertemu Rangga. Suamiku adalah tipe pria
pencemburu kelas berat.
Dering telepon membuyarkan
konsentrasiku. Sebuah telepon dari nomor tidak dikenal.
“Halo…..”
“Halo tante…”
Aku tahu pemilik nomor ini. Pasti
Wina. Karena hanya gadis kurang ajar itu yang memanggilku dengan sebutan tante.
“Gimana Win?” aku melirik Rangga
yang tak begitu peduli dengan teleponku.
“Kayaknya dokter Reinard mau
pergi deh.”
“Masa?” aku bangkit dari
posisiku.
“Iya, ini ada di rumah sakit. Ambil
beberapa barang di laci meja kerjanya. Terus pergi.”
“Kamu yakin dia beneran mau ke
Bogor.”
“Aku coba ikutin deh kalau gitu
tante.”
“Beneran?”
“Iya. Nanti aku telepon aja dan
tante nyusul ya?”
“Oke…oke….aku tunggu.” Aku menutup
teleponku lantas bersiap pergi.
“Makasih kopinya ya Ngga!” aku
meletakkan selembaran uang seratusan ribu di meja lalu berlari meninggalkan
__ADS_1
Rangga sendirian.