
“Lo terlalu terburu-buru menikah
Jul, ketika lo sama sekali enggak mengenal siapa sebenarnya suami lo itu.”
“Aaarrgh!” aku menggaruk kepalaku
yang tidak gatal itu dengan resah.
Seharian ini aku sama sekali
tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaan sehingga alhasil setumpuk pekerjaan
di mejaku sama sekali belum aku sentuh. Setiap aku hendak memulai pekerjaan,
selalu saja kalimat Daniel itu terngiang di telingaku dan membuatku tidak
nyaman.
Tanganku terulur, mengambil
cangkir kopi yang berada di sisi meja. Namun ketika bibir cangkir itu sudah
menyentuh bibirku, baru kusadari jika isinya sudah habis. Aku mendengus, ini
kopi ketigaku sampai siang ini dan cafein belum juga membuatku rileks.
“Rini!” panggilku pada asistenku
itu. Beberapa detik kemudian, dengan tergopoh Rini menghampiriku.
“Buatin kopi lagi.” Aku
mengacungkan cangkir kosong pada asistenku tersebut.
“Kopi lagi?” mata Rini melebar.
“Mbak, ini sudah gelas ke tiga loh. Kalau nanti malem enggak bisa tidur
gimana?”
Aku mendesis. Entah dengan kopi atau
tidak, sejak semalam aku memang tidak bisa tidur nyenyak.
“Buatin pokoknya.” Desakku dan
Rini menerima gelas itu dengan sedikit ragu-ragu.
“Mbak ada masalah apa sih? Dari
tadi pagi kayaknya enggak enak gitu auranya?”
Aku mengangkat dagu. Emang kelihatan
banget ya kalau aku penuh dengan dilemma sejak pagi? Sampai-sampai Rini bisa
membacanya?
“Akh, tidak begitu penting Rin.”
Dalihku. “Hanya badanku memang tidak enak sejak kemarin.”
“Jangan-jangan mbak hamil ya?”
Senyum Rini melebar. “Aseek….dapet ponakan baru.”
“Enggak lah!” elakku. “Aku sudah
haid dua minggu lalu, dan ini memang belum saatnya.”
Rini mendesah kecewa.
“Yaudah kalau gitu mbak.” Rini
berbalik arah, dan aku kembali untuk mencoba menekuni berkas-berkas di depanku
lagi.
“Oh ya mbak….” Sela Rini
tiba-tiba.
Aku kembali mengangkat dagu.
Wanita itu sudah berada di depan pintu dan kini menatap ke arahku.
“Klien kita dulu itu, bu Santi,
masuk rumah sakit. Apa mbak nggak pengen jenguk?”
“Ke Bogor?” aku mengeryitkan
kening.
Rini mengangguk. “Beliau pasti
seneng banget kalau kita jenguk mbak. Tapi….kalau mbak Julia mau sih.”
“Aku mau!” smabarku cepat.
__ADS_1
Sepertinya dengan melakukan perjalanan ke Bogor akan membuat pikiranku yang
kacau ini sedikit tenang. Lagipula, aku sedang malas berada di rumah sekarang.
“Pekerjaan?”
“Urus nanti deh!” sahutku.
“Berangkat kapan?”
“Setengah jam lagi ya mbak.
Nanggung pekerjaan saya kurang dikit.”
Aku mengangguk. “Yaudah cepet
selesai’in.”
“Beres bos!”
*****
Bogor memang selalu syahdu!
Itulah hal pertama yang aku
dapatkan ketika mobil yang dikemudikan Rini berhenti di parkiran rumah sakit.
Gerimis tipis turun, dan cukup
dingin.
Setelah bertanya pada resepsionis
kamar Ibu santi, aku dan Rini segera meluncur menuju lantai tiga. Sebuah kamar
VIP yang terkesan bersih.
Ibu Santi begitu terkejut melihat
kedatangan kami. Ia tidak sendirian, ada anaknya yang berusia sekitar duapuluh
tahunan menemani mereka. Iya, setelah peceraian dengan suaminya yang begitu
menguras tenaga karena permasalahan harta gono-gini, akhirnya Ibu Santi hanya
tinggal bersama dengan anak semata wayangnya ini. Namun ketika masalahnya
selesai, beliau justru sakit. Mungkin efek memendam perasaan dan juga lelah
fisik serta mental yang membuat tubuhnya tidak kuat dan meminta beristirahat.
sudah duduk di sebuah sofa panjang. Rini duduk di sebelahku, sedang Ibu Santi
duduk di sofa single depan kami. Awalnya aku memintanya untuk tinggal saja di
kasur, namun beliau bersikeras ingin duduk karena kondisinya sudah baik-baik
saja. Alhasil ia sekarang duduk dengan tiang infus di sampingnya.
“Sebenarnya kata dokter besok
saya sudah diperbolehkan pulang lho mbak Julia.” Wanita berusia limapuluh tahunan
itu tersenyum. “Malah mbak Jul sama mbak Rini repot-repot datang kemari.”
Aku tersenyum. “Akh tidak bu.
Lagipula, kapan kami bisa jalan-jalan ke Bogor untuk bertemu ibu kalau tidak
kami niati untuk datang sekarang.”
Ibu santi tersenyum.
“Ngomong-ngomong kenapa ibu
sekarang tinggal di Bogor?” Sela Rini setelah ia menyesap teh hangat yang tadi
sempat dibuatkan oleh putra Ibu Santi. Setelah membuat teh, laki-laki itu
keluar entah kemana. Mungkin merasa sungkan dengan kami dan memilih pergi.
“Saya dan anak saya memutuskan
untuk tinggal di sini sekarang mbak.”
Aku dan Rini saling pandang.
Ibu santi mendesah pelan. Pandangannya
menerawang jauh ke arah jendela, dimana gerimis tipis masih turun dan kini kian
rapat.
“Saya merasa lebih nyaman di sini
setelah bercerai mbak. Sungguh perceraian itu bukan suatu hal yang
membahagiakan, apalagi untuk kami yang menikah sudah lebih dari duapuluh tahun.
__ADS_1
Namun bagaimana lagi, saya tidak sanggup hidup dengan kebohongan sepanjang
waktu dengan dia.” Paparnya. “Di Jakarta, semua tempat adalah kenangan bagi
saya. Karena disanalah kami memulai perasaan, menikah, memulai semuanya dari
nol lantas kemudian bercerai. Anggap saya sedang lari dari kenyataan. Tidak
masalah. Yang penting saya merasa lebih tenang tinggal di sini.”
Aku dan Rini terdiam. Ada banyak
hal yang tiba-tiba menusuk-nusuk hatiku. Entahlah. Aku hanya merasaakan apa
yang dirasakan Ibu Sinta sekarang. Pernikahan yang sudah ia lalui lebih dari
duapuluh tahun jelas menyisakan sebuah kepedihan hebat baginya ketika bercerai
sekarang. Beliau pasti memilik banyak kenangan, yang tentu saja tak bisa ia
jelaskan bahkan tak akan ada yang bisa mengerti betapa berharganya kenangan
itu. Iya, aku tahu. Jika kita mulai terbiasa dengan pasangan kita, sekecil
apapun kenangan itu, jelas susah untuk melupakannya.
Kami banyak mengobrol sore ini,
ditemani oleh secangkir teh panas dan juga beberapa potong kue lapis. Sangat
mengasyikkan, bahkan aku sampai melupakan kekesalanku sejak semalam. Benar apa
yang aku pikirkan, jika berjalan-jalan adalah distraksi yang begitu
menyenangkan.
Sekitar pukul lima sore, aku dan
Rini pamit pulang. Kami berdua beriringan berjalan di lorong rumah sakit.
Suasana cukup ramai, mungkin karena sekarang adalah jam besuk.
“Mbak, minggir dulu.” Rini
tiba-tiba menarik lenganku karena ada bed yang di dorong oleh beberapa suster
yang tergopoh.
“Maaf permsi….” Kata salah seorang
suster tersebut ketika melewati aku dan Rini.
Aku sempat menoleh pada pasien
yang tengah di dorong tersebut. Kelihatan lemah dan juga pucat. Sedikit tidak
tega melihatnya, apalagi sepertinya ia masih begitu muda.
“Mbak, kok bengong?” Rini
menyenggol lenganku ketika pasien itu sudah lewat di depanku dan aku masih
mematung menatapnya sampai hilang di belokan lorong.
“Kasihan Rin.” Desisku.
“Mbak enggak tegaan gitu sih?”
Aku mengangguk, pikiranku masih
belum lepas dari pasien lemah tadi.
“Yok, cuss….nanti suami mbak
nungguin di rumah lho.”
Aku mengangguk. Baru teringat
jika siang tadi aku hanya menghubungi Reinard lewat pesan singkat, ia pasti
sangat khawatir padaku sekarang jika belum juga sampai di rumah.
Perjalanan Bogor—Jakarta begitu
lancar. Setelah menurunkan Rini di depan rumahnya, aku segera pulang ke
apartement. Aku yakin saat ini Reinard pasti sudah menungguku di rumah.
Namun ternyata, ketika aku
sampai. Rumah masih kosong dan dingin. Tak ada yang berubah, masih sama seperti
tadi pagi.
Lalu, aku kecewa…..
Karena ternyata suamiku belum ada
di rumah.
__ADS_1