Klandestin

Klandestin
Distraksi yang Sempurna


__ADS_3

“Lo terlalu terburu-buru menikah


Jul, ketika lo sama sekali enggak mengenal siapa sebenarnya suami lo itu.”


“Aaarrgh!” aku menggaruk kepalaku


yang tidak gatal itu dengan resah.


Seharian ini aku sama sekali


tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaan sehingga alhasil setumpuk pekerjaan


di mejaku sama sekali belum aku sentuh. Setiap aku hendak memulai pekerjaan,


selalu saja kalimat Daniel itu terngiang di telingaku dan membuatku tidak


nyaman.


Tanganku terulur, mengambil


cangkir kopi yang berada di sisi meja. Namun ketika bibir cangkir itu sudah


menyentuh bibirku, baru kusadari jika isinya sudah habis. Aku mendengus, ini


kopi ketigaku sampai siang ini dan cafein belum juga membuatku rileks.


“Rini!” panggilku pada asistenku


itu. Beberapa detik kemudian, dengan tergopoh Rini menghampiriku.


“Buatin kopi lagi.” Aku


mengacungkan cangkir kosong pada asistenku tersebut.


“Kopi lagi?” mata Rini melebar.


“Mbak, ini sudah gelas ke tiga loh. Kalau nanti malem enggak bisa tidur


gimana?”


Aku mendesis. Entah dengan kopi atau


tidak, sejak semalam aku memang tidak bisa tidur nyenyak.


“Buatin pokoknya.” Desakku dan


Rini menerima gelas itu dengan sedikit ragu-ragu.


“Mbak ada masalah apa sih? Dari


tadi pagi kayaknya enggak enak gitu auranya?”


Aku mengangkat dagu. Emang kelihatan


banget ya kalau aku penuh dengan dilemma sejak pagi? Sampai-sampai Rini bisa


membacanya?


“Akh, tidak begitu penting Rin.”


Dalihku. “Hanya badanku memang tidak enak sejak kemarin.”


“Jangan-jangan mbak hamil ya?”


Senyum Rini melebar. “Aseek….dapet ponakan baru.”


“Enggak lah!” elakku. “Aku sudah


haid dua minggu lalu, dan ini memang belum saatnya.”


Rini mendesah kecewa.


“Yaudah kalau gitu mbak.” Rini


berbalik arah, dan aku kembali untuk mencoba menekuni berkas-berkas di depanku


lagi.


“Oh ya mbak….” Sela Rini


tiba-tiba.


Aku kembali mengangkat dagu.


Wanita itu sudah berada di depan pintu dan kini menatap ke arahku.


“Klien kita dulu itu, bu Santi,


masuk rumah sakit. Apa mbak nggak pengen jenguk?”


“Ke Bogor?” aku mengeryitkan


kening.


Rini mengangguk. “Beliau pasti


seneng banget kalau kita jenguk mbak. Tapi….kalau mbak Julia mau sih.”


“Aku mau!” smabarku cepat.

__ADS_1


Sepertinya dengan melakukan perjalanan ke Bogor akan membuat pikiranku yang


kacau ini sedikit tenang. Lagipula, aku sedang malas berada di rumah sekarang.


“Pekerjaan?”


“Urus nanti deh!” sahutku.


“Berangkat kapan?”


“Setengah jam lagi ya mbak.


Nanggung pekerjaan saya kurang dikit.”


Aku mengangguk. “Yaudah cepet


selesai’in.”


“Beres bos!”


*****


Bogor memang selalu syahdu!


Itulah hal pertama yang aku


dapatkan ketika mobil yang dikemudikan Rini berhenti di parkiran rumah sakit.


Gerimis tipis turun, dan cukup


dingin.


Setelah bertanya pada resepsionis


kamar Ibu santi, aku dan Rini segera meluncur menuju lantai tiga. Sebuah kamar


VIP yang terkesan bersih.


Ibu Santi begitu terkejut melihat


kedatangan kami. Ia tidak sendirian, ada anaknya yang berusia sekitar duapuluh


tahunan menemani mereka. Iya, setelah peceraian dengan suaminya yang begitu


menguras tenaga karena permasalahan harta gono-gini, akhirnya Ibu Santi hanya


tinggal bersama dengan anak semata wayangnya ini. Namun ketika masalahnya


selesai, beliau justru sakit. Mungkin efek memendam perasaan dan juga lelah


fisik serta mental yang membuat tubuhnya tidak kuat dan meminta beristirahat.


sudah duduk di sebuah sofa panjang. Rini duduk di sebelahku, sedang Ibu Santi


duduk di sofa single depan kami. Awalnya aku memintanya untuk tinggal saja di


kasur, namun beliau bersikeras ingin duduk karena kondisinya sudah baik-baik


saja. Alhasil ia sekarang duduk dengan tiang infus di sampingnya.


“Sebenarnya kata dokter besok


saya sudah diperbolehkan pulang lho mbak Julia.” Wanita berusia limapuluh tahunan


itu tersenyum. “Malah mbak Jul sama mbak Rini repot-repot datang kemari.”


Aku tersenyum. “Akh tidak bu.


Lagipula, kapan kami bisa jalan-jalan ke Bogor untuk bertemu ibu kalau tidak


kami niati untuk datang sekarang.”


Ibu santi tersenyum.


“Ngomong-ngomong kenapa ibu


sekarang tinggal di Bogor?” Sela Rini setelah ia menyesap teh hangat yang tadi


sempat dibuatkan oleh putra Ibu Santi. Setelah membuat teh, laki-laki itu


keluar entah kemana. Mungkin merasa sungkan dengan kami dan memilih pergi.


“Saya dan anak saya memutuskan


untuk tinggal di sini sekarang mbak.”


Aku dan Rini saling pandang.


Ibu santi mendesah pelan. Pandangannya


menerawang jauh ke arah jendela, dimana gerimis tipis masih turun dan kini kian


rapat.


“Saya merasa lebih nyaman di sini


setelah bercerai mbak. Sungguh perceraian itu bukan suatu hal yang


membahagiakan, apalagi untuk kami yang menikah sudah lebih dari duapuluh tahun.

__ADS_1


Namun bagaimana lagi, saya tidak sanggup hidup dengan kebohongan sepanjang


waktu dengan dia.” Paparnya. “Di Jakarta, semua tempat adalah kenangan bagi


saya. Karena disanalah kami memulai perasaan, menikah, memulai semuanya dari


nol lantas kemudian bercerai. Anggap saya sedang lari dari kenyataan. Tidak


masalah. Yang penting saya merasa lebih tenang tinggal di sini.”


Aku dan Rini terdiam. Ada banyak


hal yang tiba-tiba menusuk-nusuk hatiku. Entahlah. Aku hanya merasaakan apa


yang dirasakan Ibu Sinta sekarang. Pernikahan yang sudah ia lalui lebih dari


duapuluh tahun jelas menyisakan sebuah kepedihan hebat baginya ketika bercerai


sekarang. Beliau pasti memilik banyak kenangan, yang tentu saja tak bisa ia


jelaskan bahkan tak akan ada yang bisa mengerti betapa berharganya kenangan


itu. Iya, aku tahu. Jika kita mulai terbiasa dengan pasangan kita, sekecil


apapun kenangan itu, jelas susah untuk melupakannya.


Kami banyak mengobrol sore ini,


ditemani oleh secangkir teh panas dan juga beberapa potong kue lapis. Sangat


mengasyikkan, bahkan aku sampai melupakan kekesalanku sejak semalam. Benar apa


yang aku pikirkan, jika berjalan-jalan adalah distraksi yang begitu


menyenangkan.


Sekitar pukul lima sore, aku dan


Rini pamit pulang. Kami berdua beriringan berjalan di lorong rumah sakit.


Suasana cukup ramai, mungkin karena sekarang adalah jam besuk.


“Mbak, minggir dulu.” Rini


tiba-tiba menarik lenganku karena ada bed yang di dorong oleh beberapa suster


yang tergopoh.


“Maaf permsi….” Kata salah seorang


suster tersebut ketika melewati aku dan Rini.


Aku sempat menoleh pada pasien


yang tengah di dorong tersebut. Kelihatan lemah dan juga pucat. Sedikit tidak


tega melihatnya, apalagi sepertinya ia masih begitu muda.


“Mbak, kok bengong?” Rini


menyenggol lenganku ketika pasien itu sudah lewat di depanku dan aku masih


mematung menatapnya sampai hilang di belokan lorong.


“Kasihan Rin.” Desisku.


“Mbak enggak tegaan gitu sih?”


Aku mengangguk, pikiranku masih


belum lepas dari pasien lemah tadi.


“Yok, cuss….nanti suami mbak


nungguin di rumah lho.”


Aku mengangguk. Baru teringat


jika siang tadi aku hanya menghubungi Reinard lewat pesan singkat, ia pasti


sangat khawatir padaku sekarang jika belum juga sampai di rumah.


Perjalanan Bogor—Jakarta begitu


lancar. Setelah menurunkan Rini di depan rumahnya, aku segera pulang ke


apartement. Aku yakin saat ini Reinard pasti sudah menungguku di rumah.


Namun ternyata, ketika aku


sampai. Rumah masih kosong dan dingin. Tak ada yang berubah, masih sama seperti


tadi pagi.


Lalu, aku kecewa…..


Karena ternyata suamiku belum ada


di rumah.

__ADS_1


__ADS_2