Klandestin

Klandestin
Paris


__ADS_3

Sejak pertama


bertemu, aku sudah kagum dengan kecantikan Marina. Wanita yan berusia tujuh


tahun lebih tua dariku itu terlihat begitu anggun dan menawan meskipun sudah


memiliki anak. Apalagi tentang kepiawaiannya dalam mengolah berbagai makanan,


ia tidak hanya pintar namun lebih dari itu. Ketika aku hanya berfikir jika


sebutir telur hanya bisa digoreng, ia bahkan bisa menciptakan banyak kreasi


dari bahan makanan itu.


Wanita itu


begitu bahagia ketika melihat kemunculanku dan Reinard di bandara. Ia memelukku


dan Reinard bergantian kemudian melempar banyak pertanyaan pada Reinard yang


tentu saja berhubungan denganku ‘apakah Julia nyaman di pesawat?’ atau ‘apakah


Julia makan dengan baik di pesawat?’ dan banyak pertanyaan lagi yang tak bisa


kuingat.


“Kami cukup


tidur dan Julia cukup nyaman di pesawat.” Sahut Reinard mengambil alih


Lily—putri kecil Marina yang baru berusia tiga tahun dari tangan David, suami


Marina. Sedetik kemudian, kulihat Reinard sudah menciumi pipi tembam Lily


dengan penuh kasih sayang. Sepertinya Reinard memang bapak-able banget deh


kalau kayak begitu.


“Syukurlah….”


“Kalian tahu,


bahwa kakak kalian ini begitu resah sejak tadi menunggu kalian. Bahkan kami sudah


berada di sini lebih dari satu jam.” Papar David diiringi decakannya.


Aku dan Reinard


tertawa. “Tenang, kami tidak akan kesasar.” Reinard melempar lirikannya pada


Marina—bermaksud mengejek.


“Bukan itu


maksudku.” Sungut Marina kesal yang langsung mendapatkan rangkulan hangat dari


Reinard.“Aku cuma tidak ingin kalian yang menunggu kami. Kan kasihan kalau


jauh-jauh datang, capek terus masih menunggu jemputan.”


“Kan masih ada


taxi.” Cecar Reinard kemudian.


“Iya, kamu pikir


aku tega apa?!”


Dan perdebatan


itu berakhir ketika David mengatakan“Sudah, mari kita segera pulang karena aku


lapar.”


 Kami berjalan beriringan meninggalkan bandara.


Karena musim semi, kota paris begitu cantik. Bunga-bunga bermekaran dengan


indahnya dan sinar matahari yang begitu hangat menyebar ke segala penjuru kota.


Sungguh aku tidak akan menyesal datang ke kota ini dan meninggalkan setumpuk


pekerjaan dingin di meja kerjaku, karena semuanya terbayar lunas dengan apa


yang aku nikmati sekarang.


Seperti apa yang


dikuasainya, Marina benar-benar menjamu kami dengan hidangan yang super lezat.


Pantas saja, salah satu hotel terkenal di kota ini begitu menyayangi Marina dan


melarang wanita itu resign ketika ia menikah dan bahkan memiliki anak. Alhasil


David yang berprofesi sebagai seorang polisi pun menyerah dan memperbolehkan


Marina bekerja meskipun akhirnya harus sedikit mengorbankan waktunya untuk


menjaga Lily.


Reinard bilang


jika Marina adalah wanita mandiri. Ia sama sekali tidak terpengaruh dengan


kekayaan papa mereka di Jakarta. Bahkan wanita itu sama sekali tak memiliki


satupun asset dari keluarga Saputra atas namanya. Karena Marina berlasan,


ketika ia masih mampu mencari uang dari keringatnya sendiri, ia tak mau


mengambil apapun dari orangtuanya.


“Kalian


mengambil cuti berapa hari?” Tanya Marina padaku selepas kami makan malam. Kami


sibuk mencuci piring, sedangkan Reinard dan David terlihat duduk santai di


balkon depan sambil bermain-main bersama Lily.


“Mungkin sekitar


dua sampai tiga hari.” Jawabku menerima piring bersih dari tangan Marina lalu


mengeringkannya.


“Syukurlah….setidaknya


kalian bisa melakukan bulan madu di sini. Paris adalah kota penuh cinta Julia,


aku yakin kedatangan kalian kemari kali ini tidak sia-sia. Nikmati musim semi ini


bersama laki-laki yang kamu cintai.” Marina mengedik ke arah Reinard.


Aku tersenyum


samar. Sejujurnya andai bisa, aku ingin menikmati ini semua. Menjadikannya


bulan madu paling special, mengukir hubungan kami dengan sesuatu yang sangat


berkesan di Paris. Namun, aku tidak yakin. Dimanapun kami berada, aku dan


Reinard hanyalah orang asing yang hanya ditakdirkan untuk berbagi selimut


bersama, bukan berbagi cinta.


“Apakah kamu

__ADS_1


bahagia dengan pernikahan ini Jul?” suara Marina membuatku mengangkat dagu.


Wanita itu ternyata sedang menatapku, menjeda acara cuci piring kami.


“Ya….” Anggukku.


“Aku bahagia memiliki dia.” Aku tak sepenuhnya berbohong. Aku memang bahagia


bisa memiliki pria itu.


Marina menghela


nafas lega. Ia kembali mencuci gelas yang dipegangnya.


“Meskipun


Reinard begitu dingin dan terlihat kaku, percayalah dia adalah seseorang yang


hangat dan baik Jul. mungkin saat ini kalian memang sedang dalam tahap


menyesuaikan, tapi percayalah bahwa dia adalah orang yang benar-benar


menyayangimu.”


Aku tak


menyahut.


“Jaga dia ya.


Dia adikku satu-satunya yang paling aku sayangi.” Marina tergelak. “Aku masih


ingat ketika kami kecil, dan ketika orangtua kami hanya memikirkan pekerjaan


tanpa memikirkan anak-anak mereka, aku hidup hanya bersama Reinard. Kami


berbagi cerita bersama, bahkan kesepian bersama.”


Kali ini aku


tersenyum. Meskipun aku tidak tahu bagaimana Reinard menjalani masa kecilnya


dulu, namun aku bia membayangkan bahwa ia adalah pria tampan sejak kecil dan


tentu saja pintar.


“Jul….” panggil


Marina kemudian.


“Iya.”


“Aku bisa minta sesuatu


sama kamu?” Marina menyerahkan piring terakhir padaku.


“Apa?”


“Aku minta,


apapun yang terjadi dalam hubungan kalian, jangan pernah tinggalkan Reinard.


Dia mencintaimu Jul, meskipun tak pernah ia sampaikan perasaannya, namun aku bisa


melihat itu dari matanya.”


Aku terdiam.


Menunduk lebih tepatnya. Menatap kilatan piring yang memantulkan bayangan


wajahku dari sana.


Cinta?


Benarkah pria itu


******


Setelah acara


makan malam, dan perbincangan panjang di luar tadi bersama Marina dan David,


aku akhirnya bisa masuk ke dalam kamar untuk membereskan pakaian-pakaian dari


koper ke dalam lemari. Reinard sibuk bertelpon di loteng. Entah berbicara


dengan siapa, tapi aku yakin jika ia sibuk bertelepon dengan perawat dan


membahas tentang pasien-pasiennya.


Selesai


memasukkan pakaian kami ke dalam lemari, aku segera berganti baju tidur lalu


merebahkan diri. Perjalanan Indonesia-Paris yang memakan waktu berjam-jam


ditambah seharian ini aku belum istirahat membuat badanku sedikit demam. Untung


saja aku tidak mengalami jetlag, jadi lumayan kondisiku tidak terlalu buruk.


“Sudah mau


tidur?” tiba-tiba Reinard sudah berdiri di sisi kasur. Menarik selimut lalu


merebahkan badannya di sampingku.


Aku memiringkan


tubuhku agar berhadapan dengannya.


“Mungkin karena


capek, jadi badanku sedikit tidak enak.” Sahutku yang langsung membuat wajah


Reinard berubah.


“Kamu sakit


Jul?” buru-buru ia memegang keningku.


“Enggak, Cuma—“


“Akh, ini


demam.” Belum selesai aku menyelesaikan kalimatku, Reinard sudah bangun dari


tidurnya dan berjalan membuka pintu. “Tunggu sini, aku carikan obat dulu.”


Katanya sebelum akhirnya tubuhnya hilang di balik pintu.


Aku menghela


nafas, lalu menyandarkan tubuhku di badan kasur. Tak lama kemudian, pria yang


kini menggunakan piyama garis-garis itu sudah datang membawa segelas air putih


dan sebutir obat. Awalnya aku merasa tidak enak jika Marina atau David melihat


aku tidak enak badan, aku hanya tidak ingin mereka cemas. Namun aku bernafas


lega ketika Reinard datang sendirian tanpa diikuti kakak iparku.


“Tenang, David


dan Marina sudah tidur.” Reinard Seperti bisa membaca pikiranku. Ia mneyerahkan


sebutir obat dan air putih itu kepadaku yang akhirnya bisa aku minum sekali

__ADS_1


teguk. Selama aku minum obat, Reinard duduk di pinggiran kasur dengan mata yang


tak lepas dariku.


“Seharusnya kamu


tadi siang istirahat sebentar, tidak usah membantu Marina memasak.” Reinard


meletakkan gelas di atas nakas. “Kan jadi demam seperti ini.”


Aku tersenyum.


“Aku tidak apa-apa Rei.” Sahutku.


“Aku tidak mau


kamu sakit Julia.” Pria itu mengulurkan tangan lalu menyelipkan rambutku ke


belakang telinga dan dilanjutkan dengan mengelus pipiku.


Aku ingin


menganggap bahwa apa yang dilakukan Reinard padaku adalah hal biasa saja, namun


tentu saja jiwa wanitaku yang mudah baper kembali bergejolak. Aku benar-benar


tidak bisa diperlakukan semanis ini ketika aku tidak yakin dengan hubunganku bersamanya.


“Rei…bagaimana


kalau kita tidur?” aku menggeser tubuhku lalu menenggelamkan kepalaku di


bantal. Meskipun begitu, mataku masih mengekor tubuh Reinard yang berjalan


mengitari kasur lalu merebahkan diri di sampingku. Aroma tubuhnya yang khas


menguar di hidungku ketika sudah berada di sampingku. Aku mengigit bibir.


Sehebat apapun manusia dalam menahan dirinya, pasti tidak akan kuat jika setiap


hari disuguhi oleh pemandangan semacam ini.


“Katanya mau


tidur?” Reinard miring ke arahku.


Ada apa lagi


dengan orang ia. Ia seperti sengaja sedang menggodaku. Matanya yang tajam itu


seakan sedang menguliti seinci demi seinci tubuhku yang kini berselubung


selimut.


“Emm…..sepertinya


tiba-tiba aku jadi tidak mengantuk.” Sahutku.


Aku mendengar


Reinard tertawa kecil, namun aku tidak berani menoleh ke arahnya. Kini aku


hanya terlentang kaku layaknya robot dengana mata tertuju lurus ke


langit-langit.


“Oh ya….”


Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku perlu basa-basi untuk mengaburkan awkward


ini.


“Apa?”


Kini aku


memberanikan diri untuk menghadap ke arahnya.


“Beberapa hari


lalu kamu ke Bandung?” tiba-tiba aku teringat telepon Arian waktu itu. Sebagai


basa-basi, meskipun aku percaya jika Reinard memang tidak pergi ke Bandung.


“Bandung?” pria


itu mengerutkan keningnya.


“Iya, dua hari


lalu. Waktu kamu bilang mau ada operasi di rumah sakit. Arian telepon aku,


terus bilang kalau kayaknya ngelihat kamu di daerah Braga.” Aku menjeda


kalimatku karena tertawa. “Aneh-aneh aja ya. Padahal jelas-jelas kamu ada


operasi.”


Reinard tersenyum.


“Iya, kayaknya Arian cuma salah lihat orang.” Gumamnya sambil merapikan selimut


di tubuhku. “Em….ngomong-ngomong kamu enggak ngerasa pengap tidur kayak gitu


Jul?”


“Apa?” aku


menunduk, menatap tubuhku yang sudah mirip lemper karena selimut menutup tepat


sampai di leher.


Pengap


bangeeeet. Tau sendiri kalau aku tidak begitu suka pakai selimut.


“Engg….enggak


kok. Nyaman banget.” Cengirku. “He’em….banget.”


“Yakin Jul?”


Aku mengangguk.


“Yakin!”


“Oke. Aku juga


ikutan.” Tiba-tiba aja Reinard menarik ujung selimut lalu digunakannya juga


untuk menyelimuti tubuhnya.


“Asikan juga


kalau aku peluk kamu.” Serta merta dia langsung memelukku dan aku hanya bisa


menjerit kaget ketika tangannya sudah melingkar di perutku.


“Ssst…..aku mau


tidur.”bisiknya tepat di samping telingaku.


Jujur. Kali ini


aku tidak bisa berkutik.


******

__ADS_1


__ADS_2