Klandestin

Klandestin
Sebuah Rahasia Lagi


__ADS_3

Kami sama-sama terdiam di dalam


mobil. Aku yang duduk di belakang kemudian harus memfokuskan diriku pada jalan


di depan, meskipun sejak tadi pikiranku tidak tenang. Sedangkan Reinard juga


tak mengatakan satu kalimatpun sejak mobil kami meninggalkan basement hotel.


Kami mungkin memang sedang bermonolog dengan pikiran kami masing-masing


sekarang.


“Apa lukamu terasa sakit?”


tanyaku memecah keheningan. Sejaka awal aku sudah ingin menegobati luka-luka


itu agar tidak terjadi infeksi dan lebamnya semakin parah. Namun aku belum


melakukannya selain karena belum menemukan mini market, aku juga masih ingin


membiarkan Reinard menenangkan dirinya dulu.


“Sedikit.” Jawab Reinard dengan


suara rendah.


Aku menghela nafas pelan. Mataku


tiba-tiba melihat sebuah plakat minimarket beberapa meter di depan kami. Tanpa


meminta peretujuan Reinard, aku membelokkan mobilku ke pelataran minimarket


yang terlihat sepi. Melihat Reinard yang tak melayangkan protes, berarti


suamiku itu tak keberatan jika aku ingin berhenti sebentar untuk membeli minum dan


beberapa obat antiseptic untuk membersihkan lukanya.


“Tunggu sini ya, aku beli


betadine dulu.” Kataku sambil menaikkan hand rem. Ketika tanganku terulur untuk


membuka pintu mobil, tiba-tiba Reinard menarikku ke dalam pelukannya.


“Aku cinta sama kamu Jul…”


Reinard memelukku dengan erat.


Aku tidak menjawab. Meskipun


hatiku luar biasa bahagia, namun keadaan sekarang bukan waktunya untuk


termehek-mehek mendengar Reinard menyatakan perasaannya padaku untuk kesekian


kalinya ini.


“Aku turun dulu beli obat buat


luka kamu dulu ya?” kataku.


Reinard melepaskan pelukannya,


lalu membuka jas yang dipakainya.


“baju kamu terlalu terbuka Jul.”


ia membungkus tubuhku dengan jas yang tadi dipakainya. “Juga dingin.”


Aku tersenyum kecil. Pakaianku


memang sedikit terbuka sekarang, dan aku begitu menghargai perhatian Reinard


meskipun kondisinya sedikit kurang baik.


Bergegas aku turun dari mobil dan


masuk ke dalam minimarket. Kuambil kasa steril, betadine dan cottonbut, tak


lupa juga kuambil air mineral dan beberapa roti karena kami belum makan sama


sekali.


Ketika aku keluar dari pintu


minimarket, kulihat Reinard sudah ada di luar dan duduk di sebuah bangku di


depan minimarket ini.


“Ngapain kaluar keluar?” angin


malam menerpa wajahku. “Dingin Rei.”


Ia menoleh. “Aku butuh udara


segar.” Katanya.


Aku menghela nafas, lantas


menyusul dan duduk di sampingnya.


“Kalau begitu aku bersihkan


lukamu di sini.” Kataku sambil berusaha membuka tutup air mineral yang sekarang


aku pegang. Namun bagaimanapun kondisinya, aku tetap paling kesulitan melakukan


hal itu. Reinard yang bisa membaca maksudku, langsung mengambil alih air

__ADS_1


mineral itu dan membukanya dengan mudah.


“Terimakasih.” Ucapku menerima


botol yang sekarang tutupnya sudah mengendur itu.


Kutuangkan sedikit air diatas


kasa lalu aku gunakan untuk membersihkan beberapa luka di wajah Reinard.


Setelah itu aku baru mengeringkannya dan mengoleskan betadine tipis-tipis di


area luka tersebut. Beberapa kali aku melihat Reinard meringis, namun aku tidak


peduli. Bukankah semua ini adalah hasil yang didapatkannya sendiri?


“Rei….” Panggilku pelan sambil


mengoleskan betadine di lukanya.


“Hmm…..”


“Boleh aku tanya?”


Reinard tak menjawab, dan aku


bisa mengartikannya sebagai persetujuan.


“Apa kamu kenal sama Daniel?”


“Tidak.”


Aku menghentikan pekerjaanku


sesaat dan mataku beralih pandang pada matanya yang kini tengah menatap ke arah


lain. Aku menghela nafas sebentar sebelum akhirnya kembali menekuni sisa


luka-luka di wajah Reinard.


“Terus, kenapa kalian berkelahi?”


aku menyelesaikan pekerjaanku lalu menegakkan dudukku. Kini aku benar-benar


focus dengan Reinard.


Reinard belum menjawab. Sedetik


dua detik aku tidak melihatnya mulai membuka mulut.


“Rei!” panggilku dengan nada


suara agak tinggi. “Kalau kamu enggak kenal sama dia, kenapa pakek acara—“


Reinard sudah kembali memelukku


Lagi…lagi….kenapa dia selalu


memelukku setiap aku berusaha untuk bertanya dengan jelas apa yang terjadi


padanya?


“Jul….bisakah kita tidak


membahasnya sekarang?” tanyanya sambil mendekapku dengan erat. Seolah aku akan


lari jika ia tak melakukan itu.


Aku terdiam tanpa bicara. Kenapa


ia selalu membungkamku dengan sisi keromantisannya setiap kali aku ingin


mencercanya dengan banyak pertanyaan?


*****


Jika Reinard tidak mau memberiku


jawaban, setidaknya aku masih punya Daniel yang bisa aku paksa untuk membuka


mulut. Dilihat dari tipe-nya, Daniel adalah orang yang bisa membuka mulut


dengan mudah—tidak sepetrti Reinard.


Pagi ini, aku langsung


membelokkan mobilku ke parkiran kantornya bahkan sebelum aku masuk ke dalam


gedung kantorku sendiri. Aku ingin segera menuntaskan pertanyaan yang sejak


semalam menyiksa hatiku dan membuatku tidak bisa tidur nyenyak.


Untung saja, pria itu kini sudah


berada di dalam ruangannya ketika aku datang, meskipun aku lihat ia juga baru


saja menyampirkan jaket kulitnya dan menandakan bahwa ia juga baru tiba.


“Dan, kita perlu bicara!” kataku


to the point, mengabaikan kalimat—‘gimana keadaan lo semalem Dan?—ketika


melihat wajahnya yang kurang lebih sama babak belurnya dengan Reinard.


“Eh, tumben ada angin apa lo


datang ke kantor gue Jul? Pagi-pagi lagi. Biasanya meski gue paksa pun lo juga

__ADS_1


enggak bakalan mau.” Aku benci dengan sikap Daniel yang pura-pura tidak tahu


seperti itu. Padahal aku yakin sekali, ia lebih dari tahu maksud kedatanganku


kemari.


“Enggak usah pura-pura deh!” aku


melipat kedua tanganku di depan dada.


Daniel tersenyum dengan sudut


bibirnya. Bukannya menjawabku, ia justru mempersilakanku untuk duduk. “Duduk


dulu Jul. mau minuma apa?”


“Enggak!” tolakku tegas tanpa


bergeming. “Gue kesini enggak mau minta minum, karena di kantor gue juga banyak


air!”


Daniel terkekah, ia menyandarkan


tubuhnya di pinggiran meja lalu menatapku.


“Kenapa Jul? Apa lo enggak bisa


tidur semaleman?’


“Iya!”


“Terus kenapa lo kesini? Mau


minta dinina-bobo’in sama gue?”


“Enggak usah bercanda!” tukasku.


“Gue kesini mau tanya, ada masalah apa lo sama suami gue sampai kalian


mengacaukan pernikahan Dimas semalem?”


“Lah, kenapa lo tanya gue? Tanya


sono sama suami lo.”


Aku tidak menjawab.


Kalau suamiku mau memberi tahu,


tidak mungkin bukan sepagi ini aku menghilangkan ego dan berdiri di kantor lo


ini, bego! Batinku.


“Suami lo enggak mau kasih tau?”


Daniel tersenyum dengan sudut bibirnya lagi. Aku benci dengan senyumnya yang


seperti itu.


“Enggak.” Jawabku dengan suara


rendah. “makanya gue datang kemari.”


Daniel memasukkan kedua tangannya


ke dalam saku celananya lalu berjalan mendekatiku.


“Gue bakalan kasih tau lo Jul,


tapi tinggalin pria itu dan menikah sama gue. Gimana?”


“Lo gila!!” seruku tak


terkendali. Ya mana mungkin aku mau meninggalkan orang yang paling aku sayang


demi mendapatkan sebuah jawaban dari cowok begajulan macam Daniel ini. Lagipula


sejak kapan ia jadi pelit membuka rahasia seperti ini sih? Biasanya tanpa


diminta saja ia sudah membuka mulut, bahkan untuk hal-hal yang tidak berguna


sekalipun.


“Hal yang enggak bakalan gue


lakuin.” Aku berbalik, hendak pergi karena percuma berdiri di sini lama-lama.


Lagipula, aku pernah berjanji pada diriku sendiri bahwa Reinard berhak menyimpan


rahasianya sendiri. Nah, aku rasa sekarang aku hanya menghabiskan waktu demi


hal tidak berguna ini.


“Lo yakin kalau suami lo


bener-bener sayang sama lo?” pertanyaan Daniel yang tiba-tiba memaksaku


menghentikan langkah.


“Maksud lo?” aku tak menoleh,


namun keningku berkerut.


“Lo terlalu terburu-buru menikah


Jul, ketika lo sama sekali enggak mengenal siapa sebenarnya suami lo itu.”

__ADS_1


*****


__ADS_2