
Kami sama-sama terdiam di dalam
mobil. Aku yang duduk di belakang kemudian harus memfokuskan diriku pada jalan
di depan, meskipun sejak tadi pikiranku tidak tenang. Sedangkan Reinard juga
tak mengatakan satu kalimatpun sejak mobil kami meninggalkan basement hotel.
Kami mungkin memang sedang bermonolog dengan pikiran kami masing-masing
sekarang.
“Apa lukamu terasa sakit?”
tanyaku memecah keheningan. Sejaka awal aku sudah ingin menegobati luka-luka
itu agar tidak terjadi infeksi dan lebamnya semakin parah. Namun aku belum
melakukannya selain karena belum menemukan mini market, aku juga masih ingin
membiarkan Reinard menenangkan dirinya dulu.
“Sedikit.” Jawab Reinard dengan
suara rendah.
Aku menghela nafas pelan. Mataku
tiba-tiba melihat sebuah plakat minimarket beberapa meter di depan kami. Tanpa
meminta peretujuan Reinard, aku membelokkan mobilku ke pelataran minimarket
yang terlihat sepi. Melihat Reinard yang tak melayangkan protes, berarti
suamiku itu tak keberatan jika aku ingin berhenti sebentar untuk membeli minum dan
beberapa obat antiseptic untuk membersihkan lukanya.
“Tunggu sini ya, aku beli
betadine dulu.” Kataku sambil menaikkan hand rem. Ketika tanganku terulur untuk
membuka pintu mobil, tiba-tiba Reinard menarikku ke dalam pelukannya.
“Aku cinta sama kamu Jul…”
Reinard memelukku dengan erat.
Aku tidak menjawab. Meskipun
hatiku luar biasa bahagia, namun keadaan sekarang bukan waktunya untuk
termehek-mehek mendengar Reinard menyatakan perasaannya padaku untuk kesekian
kalinya ini.
“Aku turun dulu beli obat buat
luka kamu dulu ya?” kataku.
Reinard melepaskan pelukannya,
lalu membuka jas yang dipakainya.
“baju kamu terlalu terbuka Jul.”
ia membungkus tubuhku dengan jas yang tadi dipakainya. “Juga dingin.”
Aku tersenyum kecil. Pakaianku
memang sedikit terbuka sekarang, dan aku begitu menghargai perhatian Reinard
meskipun kondisinya sedikit kurang baik.
Bergegas aku turun dari mobil dan
masuk ke dalam minimarket. Kuambil kasa steril, betadine dan cottonbut, tak
lupa juga kuambil air mineral dan beberapa roti karena kami belum makan sama
sekali.
Ketika aku keluar dari pintu
minimarket, kulihat Reinard sudah ada di luar dan duduk di sebuah bangku di
depan minimarket ini.
“Ngapain kaluar keluar?” angin
malam menerpa wajahku. “Dingin Rei.”
Ia menoleh. “Aku butuh udara
segar.” Katanya.
Aku menghela nafas, lantas
menyusul dan duduk di sampingnya.
“Kalau begitu aku bersihkan
lukamu di sini.” Kataku sambil berusaha membuka tutup air mineral yang sekarang
aku pegang. Namun bagaimanapun kondisinya, aku tetap paling kesulitan melakukan
hal itu. Reinard yang bisa membaca maksudku, langsung mengambil alih air
__ADS_1
mineral itu dan membukanya dengan mudah.
“Terimakasih.” Ucapku menerima
botol yang sekarang tutupnya sudah mengendur itu.
Kutuangkan sedikit air diatas
kasa lalu aku gunakan untuk membersihkan beberapa luka di wajah Reinard.
Setelah itu aku baru mengeringkannya dan mengoleskan betadine tipis-tipis di
area luka tersebut. Beberapa kali aku melihat Reinard meringis, namun aku tidak
peduli. Bukankah semua ini adalah hasil yang didapatkannya sendiri?
“Rei….” Panggilku pelan sambil
mengoleskan betadine di lukanya.
“Hmm…..”
“Boleh aku tanya?”
Reinard tak menjawab, dan aku
bisa mengartikannya sebagai persetujuan.
“Apa kamu kenal sama Daniel?”
“Tidak.”
Aku menghentikan pekerjaanku
sesaat dan mataku beralih pandang pada matanya yang kini tengah menatap ke arah
lain. Aku menghela nafas sebentar sebelum akhirnya kembali menekuni sisa
luka-luka di wajah Reinard.
“Terus, kenapa kalian berkelahi?”
aku menyelesaikan pekerjaanku lalu menegakkan dudukku. Kini aku benar-benar
focus dengan Reinard.
Reinard belum menjawab. Sedetik
dua detik aku tidak melihatnya mulai membuka mulut.
“Rei!” panggilku dengan nada
suara agak tinggi. “Kalau kamu enggak kenal sama dia, kenapa pakek acara—“
Reinard sudah kembali memelukku
Lagi…lagi….kenapa dia selalu
memelukku setiap aku berusaha untuk bertanya dengan jelas apa yang terjadi
padanya?
“Jul….bisakah kita tidak
membahasnya sekarang?” tanyanya sambil mendekapku dengan erat. Seolah aku akan
lari jika ia tak melakukan itu.
Aku terdiam tanpa bicara. Kenapa
ia selalu membungkamku dengan sisi keromantisannya setiap kali aku ingin
mencercanya dengan banyak pertanyaan?
*****
Jika Reinard tidak mau memberiku
jawaban, setidaknya aku masih punya Daniel yang bisa aku paksa untuk membuka
mulut. Dilihat dari tipe-nya, Daniel adalah orang yang bisa membuka mulut
dengan mudah—tidak sepetrti Reinard.
Pagi ini, aku langsung
membelokkan mobilku ke parkiran kantornya bahkan sebelum aku masuk ke dalam
gedung kantorku sendiri. Aku ingin segera menuntaskan pertanyaan yang sejak
semalam menyiksa hatiku dan membuatku tidak bisa tidur nyenyak.
Untung saja, pria itu kini sudah
berada di dalam ruangannya ketika aku datang, meskipun aku lihat ia juga baru
saja menyampirkan jaket kulitnya dan menandakan bahwa ia juga baru tiba.
“Dan, kita perlu bicara!” kataku
to the point, mengabaikan kalimat—‘gimana keadaan lo semalem Dan?—ketika
melihat wajahnya yang kurang lebih sama babak belurnya dengan Reinard.
“Eh, tumben ada angin apa lo
datang ke kantor gue Jul? Pagi-pagi lagi. Biasanya meski gue paksa pun lo juga
__ADS_1
enggak bakalan mau.” Aku benci dengan sikap Daniel yang pura-pura tidak tahu
seperti itu. Padahal aku yakin sekali, ia lebih dari tahu maksud kedatanganku
kemari.
“Enggak usah pura-pura deh!” aku
melipat kedua tanganku di depan dada.
Daniel tersenyum dengan sudut
bibirnya. Bukannya menjawabku, ia justru mempersilakanku untuk duduk. “Duduk
dulu Jul. mau minuma apa?”
“Enggak!” tolakku tegas tanpa
bergeming. “Gue kesini enggak mau minta minum, karena di kantor gue juga banyak
air!”
Daniel terkekah, ia menyandarkan
tubuhnya di pinggiran meja lalu menatapku.
“Kenapa Jul? Apa lo enggak bisa
tidur semaleman?’
“Iya!”
“Terus kenapa lo kesini? Mau
minta dinina-bobo’in sama gue?”
“Enggak usah bercanda!” tukasku.
“Gue kesini mau tanya, ada masalah apa lo sama suami gue sampai kalian
mengacaukan pernikahan Dimas semalem?”
“Lah, kenapa lo tanya gue? Tanya
sono sama suami lo.”
Aku tidak menjawab.
Kalau suamiku mau memberi tahu,
tidak mungkin bukan sepagi ini aku menghilangkan ego dan berdiri di kantor lo
ini, bego! Batinku.
“Suami lo enggak mau kasih tau?”
Daniel tersenyum dengan sudut bibirnya lagi. Aku benci dengan senyumnya yang
seperti itu.
“Enggak.” Jawabku dengan suara
rendah. “makanya gue datang kemari.”
Daniel memasukkan kedua tangannya
ke dalam saku celananya lalu berjalan mendekatiku.
“Gue bakalan kasih tau lo Jul,
tapi tinggalin pria itu dan menikah sama gue. Gimana?”
“Lo gila!!” seruku tak
terkendali. Ya mana mungkin aku mau meninggalkan orang yang paling aku sayang
demi mendapatkan sebuah jawaban dari cowok begajulan macam Daniel ini. Lagipula
sejak kapan ia jadi pelit membuka rahasia seperti ini sih? Biasanya tanpa
diminta saja ia sudah membuka mulut, bahkan untuk hal-hal yang tidak berguna
sekalipun.
“Hal yang enggak bakalan gue
lakuin.” Aku berbalik, hendak pergi karena percuma berdiri di sini lama-lama.
Lagipula, aku pernah berjanji pada diriku sendiri bahwa Reinard berhak menyimpan
rahasianya sendiri. Nah, aku rasa sekarang aku hanya menghabiskan waktu demi
hal tidak berguna ini.
“Lo yakin kalau suami lo
bener-bener sayang sama lo?” pertanyaan Daniel yang tiba-tiba memaksaku
menghentikan langkah.
“Maksud lo?” aku tak menoleh,
namun keningku berkerut.
“Lo terlalu terburu-buru menikah
Jul, ketika lo sama sekali enggak mengenal siapa sebenarnya suami lo itu.”
__ADS_1
*****