Klandestin

Klandestin
Yang Pertama Untuk Kita


__ADS_3

“Julia….!”


Panggil Marina dari arah dapur.


Aku dan Reinard


yang sedang asyik bermain bersama Lily menoleh bersamaan.


“Kalian enggak


keluar?” Tanya Marina ketika sudah sampai di depan kami.”Cuaca cukup bagus


untuk kalian menghabiskan waktu di luar.”


Aku menoleh ke arah


jendela. Cuaca memang cukup bagus. Langit tampak biru dan berkilau. Sebenarnya


aku juga ingin keluar berjalan-jalan menikmati suasana sungai Seine atau ke


Ponts De Arts, memasang gembok cinta bersama Reinard di sana—itupun jika


suamiku mau.


“Em…..mungkin….”


aku tak menemukan jawaban yang pas untuk pertanyaan Marina. Karena sejak tadi


pagi, tak ada keluar dari bibir Reinard untuk mengajakku keluar mencari angin.


Pria itu sejak pagi sibuk dengan Lily dan menerima beberapa telepon seperti


biasanya.


“Sebentar lagi.


Aku berniat mengajak Julia untuk berjalan-jalan di luar.” Katanya tiba-tiba


tanpa mengalihkan pandangan dari lego yang sedang disusunnya bersama Lily.


Mendengar


kalimat itu dari mulutnya, otomatis aku menghela nafas lega. Setidaknya aku tidak


akan berdiam diri di apartment dan bosan sepanjang waktu. Bukankah tujuanku


kemari untuk liburan?


“Naaah….gitu


dong. Ngapain juga pengantin baru cuma di rumah aja.” Marina mengambil Lily ke


gendongannya. “Biar kalian bisa siap-siap, Lily akan aku ajak keluar.”


“Lho, kalian


tidak ikut kami?” aku menatap Marina yang sudah membalikkan badan.


Marina menoleh


dan tertawa. “Mana mungkin aku menganggu kalian.” Kekahnya. “Lagipula hari ini


aku harus datang ke rumah mama mertuaku. Ini ulangtahunnya.”


“Ooo….” Hanya


itu yang bisa keluar dari bibirku.


“So, nikmati


perjalanan kalian oke?”


Aku dan Reinard


mengangguk.


******


Reinard


membawaku berjalan menyusuri sungai Seine. Sore ini begitu cantik dan nyaman,


apalagi aku bisa membaginya bersama dengan seseorang yang aku cintai. Banyak


pasangan yang menghabiskan waktu di sini, mereka sekedar berjalan-jalan saja


sepertiku, bersepeda atau hanya duduk-duduk saja sambil bercerita.


“Kamu sering menghabiskan


waktu di Paris?” aku membuka percakapan. Karena sejak tadi kami hanya saling


diam meskipun berjalan beriringan.


“Tidak terlalu


sering sih, tapi aku sudah beberapa kali kemari.” Reinard menjawab tanpa


menoleh padaku.


“Bersama siapa?”


aku pasti akan cemburu hebat jika Reinard mengatakan kalau ia pernah


berjalan-jalan di sini bersama mantan pacarnya.


“Sendiri.”


Semilir angin memainkan ujung rambut Reinard yang lembut.


Akh, syukurlah.


Setidaknya aku adalah orang pertama yang diajaknya kemari.


“Emmm…..aku


boleh bertanya sesuatu?” tanyaku ragu-ragu. Awalnya ini adalah sebuah


pertanyaan yang sama sekali tidak penting, namun entah kenapa tiba-tiba saja


aku berkeinginan untuk mencari tahu.


“Apa Jul?”


“Kamu pernah


punya pacar?”


Reinard


menghentikan langkahnya, dan aku cukup terkejut dengan tindakan spontannya itu.


Raut wajahnya datar dan mengangguku. Perutku terasa mulas seketika


karena efek bersalah. Seharusnya mulutku tidak lancang dengan bertanya tentang


hal-hal semacam itu.


“Ma….af….”


desisku lirih. Namun sebelum aku kembali melanjutkan kalimatku, tiba-tiba pria


itu menghadap ke arahku dan mengecup bibirku.


Deg! Mataku


terbeliak, beriringan dengan degup jantungku yang meningkat drastic.

__ADS_1


Apa yang terjadi


sekarang? Apakah aku sedang bermimpi? Atau apakah Reinard sedang kerasukan roh


halus penunggu sungai Seine yang ternyata melihatku dan jatuh cinta padaku? Oh…aku


belum siap dengan ciuman spontan seperti ini.


Reinard


melepaskan ciumannya. Dan aku sedikit tidak terima. Bibir lembab dan halus beraroma


mint itu membuatku benar-benar kehilangan kendali sekarang. Aku ingin lagi, dan


lebih dari ini.


“Apa…..?” akh,


aku tidak bisa berkata-kata sekarang.


“Aku pernah


punya pacar Jul. tapi tidak usah khawatir, karena aku sekarang hidup denganmu.”


Pria itu tersenyum lalu menyelipkan anakan rambut ke belakang telingaku.


“Bagaimana kalau kita minum kopi di disitu?” ia menunjuk sebuah café yang tak


jauh dari kami.


“Aku ingin


menghabiskan sore ini dengan bersantai di sana.”Reinard berjalan meninggalkanku


yang masih mematung dengan pikiran keruh.


******


Ayolah Julia,


focus!


Apa yang kamu


pikirkan?


Anggap saja


ciuman itu wajar. Namanya laki-laki, mungkin tadi Reinard sedang dalam suasana


hati yang baik, atau karena ia cukup tergoda dengan warna lipstick meran maroon


yang kamu pakai? Hey…..lelaki mana yang bisa menolak bibir sensual seperti


itu?!


Akh! Meskipun


aku sedang berusaha untuk membuat segala sesuatunya dalam hal yang wajar, namun


aku tetap tidak bisa melupakan semuanya. Sebelum ciuman itu, mungkin aku sudah


cukup menerima dengan perasaan sepihak dari hatiku. Melihat suamiku yang tampan


dan luar biasa berkharisma membuatku bangga memilikinya meskipun tak perlu


menyentuhnya. Namun sore tadi, setelah dia menciumku. Merasakan bibir kenyalnya


yang dingin serta pagutannya yang begitu lembut, membuat hatiku bergejolak. Aku


menginginkannya. Bukan hanya statusnya di buku nikah, namun akau juga


menginginkan tubuhnya dan juga perasaannya.


Betapa sangat


Klik.


Pintu apartement


Marina terbuka, dan aku tak mendengar suasa apapun dari dalam apartement itu


selain detak jam dinding di sudut ruangan.


Wanita itu belum


pulang, dan hal ini cukup membuatku kembali kikuk di hadapan Reinard. Aku


berjalan perlahan, mengikuti Reinard yang berjalan dua langkah di depanku.


Diam-diam kulirik punggung belakangnya yang bidang lalu sukses membuatku


menahan nafas karena dadaku kembali bergejolak.


Waktu sudah


menunjukkan pukul delapan malam. Sepanjang sore tadi kami menghabiskan waktu di


café sambil meminum kopi. Mendengarkan alunan music yang dibawakan oleh seorang


penyanyi di sana. Namun meskipun begitu, aku tak cukup terhibur, pikiranku


tidak tenang, kontras sekali dengan Reinard yang memperlakukanku seperti


biasanya. Seolah ciuman di pinggir sungai seine tadi tidak pernah terjadi dalam


hidupnya.


Baru saja aku


meletakkan tasku di sofa, saat ponselku berbunyi. Nama Marina tertera di sana.


“Halo Julia…..”


suara lembut itu menggema di telingaku.


“Iya marina.”


Aku menatap Reinard yang sedang mengambil minum dari kulkas ketika menyebut


nama wanita itu. Dan Reinard balas menatapku. Sepertinya ia juga ingin tahu


kenapa Marina justru menelpon dan belum juga pulang.


“Apa kalian


sudah pulang?”


“Ya, kami baru


saja tiba.” Sahutku. “Tapi kenapa kalian belum sampai di rumah?”


Terdengar Marina


tertawa, dan aku justru merasa bingung.


“Sorru…sorry….aku


tadi lupa menelponmu. Bahwa kami tidak bisa pulang malam ini. Ibu mertuaku


meminta kami menginap.”


Seketika dadaku


kembali bergejolak. Kenapa semua ini terasa pas, ketika aku ingin ada banyak


orang di rumah, namun Marina justru sedang membuatku merasa terbelenggu dengan

__ADS_1


kesepian dan itu bersama Reinard. Selama ini hidup serumah hanya dengan


Reinard, baru kali ini aku merasa benar-benar tersiksa.


“Jadi kamu tidak


pulang?” aku melirik Reinard, dan pria itu berjalan ke arahku.


“Ya.” Sahut Marina


mantap. “Maafkan aku, dan anggap rumah sendiri okai?”


Aku hanya


menjawab ‘hmm’ dengan tidak antusias. Lantas tetelpon kami berakhir setelah


Marina berbisik nakal padaku. “malam ini adalah malam kalian.”


Aku mendengus


lalu meletakkan ponselku di atas meja.


“Marina tidak


pulang?” aku tidak menyadari jika ternyata Reinard sudah duduk di depanku.


Aku mengangguk


pelan. “Iya, ibu mertuanya memintanya untuk menginap.”


Reinard menaruh


gelas kosongnya di atas meja, sepertinya ia begitu tak peduli dengan kabar


dariku. Wajahnya datar-datar saja, sama sekali tak ada perubahan.


“Kalau begitu,


apa kamu ingin makan sesuatau?” tanyaku kemudian.


Reinard menggeleng.


“Tidak. Aku hanya


ingin mandi. Tolong siapkan pakaianku.” Ia berjalan menuju kamar mandi, sedang


aku kembali terbengong-bengong. Sejak kapan ia punya hobi baru, yaitu menyuruh


istrinya untuk menyiapkan pakaian?


*****


Aku


memilin-milin jemariku tidak tenang, berkali-kali mataku melirik kearah Reinard


yang duduk di depanku sedang asyik dengan ponselnya. Meskipun tadi aku berhasil


menghabiskan satu potong ice cream yang aku temukan di dalam kulkas Marina,


namun tetap saja gejolak di dadaku masih terasa sama.


Sesekali, mataku


beredar ke seluruh penjuru kamar. Aku rasa semalam kamar ini cukup lebar untuk


aku tempati bersama Reinard untuk tidur. Ada sofa di sudut ruangan, kasur


berukuran king size, lemari besar dan tentu saja kamar mandi di dalam kamar.


Tapi kenapa, kamar ini begitu menyesakkan sekarang. Seakan jika aku menarik


nafas saja, itu akan terdengar ke setiap sudut.


Aku tidak bisa


membiarkan hal gila ini. Aku harus keluar, mencari angin misalnya. Siapa tahu


ketika aku kembali, Reinard sudah tertidur dan aku bisa menarik nafas lega.


”Mau kemana


Jul?” Tanya Reinard ketika aku berjalan ke depan cermin. Hendak mengambil


dompet dan ponselku yang berada di sana.


“Mau keluar Rei.


Beli sesuatu.” Jawabku bohong.


Reinard


menatapku. Dari pantulan cermin, aku melihat matanya begitu tajam padaku.


Sedetik kemudian, pria itu beranjak dari sofanya dan berjalan ke arahku.


“Apa kamu tidak


ingin aku temani?” tanyanya ketika sampai di belakangku.


Aku memutar


badanku, dan kini posisi kami begitu pas. Tidak ada jengkal jarak kami, dan itu


membuatku menahan nafas karena gugup.


“Ti….tidak.


aku…aku bisa pergi sendiri.” Jawabku terbata.


“Apa kamu tahu


tempat—“ belum selesai Reinard dengan kalimatnya, aku berhasil mendorong


tubuhnya menjauh. Aku harus melakukannya, jika tidak aku bisa terkena


serangan jantung sekarang.


“Jul…” Reinard


menahan tanganku ketika aku baru saja mengayunkan langkah.


“Jangan pergi.”


Aku menoleh.


Baru kali ini aku melihat sorot mata Reinard yang berbeda dari biasanya. Sorot


mata menuntut dan, akh….entah apapun itu aku tidak mengerti.


“Apa?” tanyaku


lirih. Sangat lirih.


“Aku


meningingkanmu malam ini.”


Belum selesai


dengan monolog di kepalaku, tiba-tiba ia sudah menarik tanganku untuk mendekat


ke arahnya. Dan aku hanya terdiam pasrah, ketika bibirnya mulai mencium bibirku


dan melingkarkan tangannya di pinggangku dengan posesif.


*****

__ADS_1


__ADS_2