Klandestin

Klandestin
Seorang Teman Baru


__ADS_3

Aku memencet


tombol remote mobilku dan segera berjalan menuju ke dalam sebuah café yang


tidak terlalu jauh dari kantorku. Hari ini Reza mengajakku untuk makan siang


bareng sekalian ingin memperkenalkan sebuah café baru milik keponakannya.


Aku yang memang


pada dasarnya sedang tidak begitu sibuk, dan tidak ada rencana untuk makan


siang bersama Reinard—karena ia sibuk di rumah sakit semenjak telepon semalam,


akhirnya menerima permintaan Reza untuk datang apalagi ini tentang opening


sebuah tempat makan dan tentu saja aku bisa menikmati semua makanan dengan kata


‘gratis’.


“Waaaaak…..!” suara


Reza begitu familiar ketika kakiku baru saja melangkah masuk. Pria yang kini


mengenakan kaos coklat itu melambai ke arahku dengan senyum mengembang.


Aku membalas


lambaian itu, lalu mempercepat langkah menyusulnya.


“Gila, macet


banget tau!” gerutuku sambil meletakkan tas beserta kunci mobil di atas meja.


Ku susul dengan membuka blazer yang ku pakai dan kini hanya menyisakan sebuah


kemeja warna soft blue.


“Pantesan, lama.”


Reza memainkan juice tomat yang ada di depannya dengan sedotan.


Aku menarik


kursi di seberang pria itu lalu duduk di sana. Sejurus kemudian, ku edarkan


pandanganku ke sekeliling. Suasana cukup ramai, bahkan kursi-kursi hampir


penuh. Sebuah permulaan yang bagus untuk café yang baru saja buka. Di pintu


depan tadi, aku melihat beberapa rangkaian bunga yang berisikan tulisan selamat


atas dibukanya café ini.


“Gimana, lo suka


kan sama konsep cafenya?” tanya Reza kemudian.


Aku mengedikkan


bahu. Sudah kali ketiga ini aku melihat café dengan konsep skandinavia seperti


ini. Pertama, café yang berada di seberang apartemenku, kedua adalah café yang


beberapa hari lalu aku singgahi untuk membeli kopi dan yang ketiga ini. Mungkin


selera anak muda jaman sekarnag itu sama, apa yang lagi hits, itulah yang


mereka jadikan suatu ikon untuk bisnsis mereka. Padahal aku rasa, kita harus


punya taste sendiri untuk segala sesuatu, apalagi ini tentang tempat nongkrong.


Jangan pasaran deh, biar orang penasaran dan enggak bosen.


“Mana ponakan yang


lo bilang multitalenta itu?” aku mengedikkan dagu dan Reza malah tersenyum


lebar.


“Wait….” Reza


celingak-celinguk mencari-cari sosok keponakannya itu. “Eh itu dia…. Rangga!”


Aku memutar


kepalaku, mengikuti arah mata Reza. Kini mataku menangkap sosok pria bertubuh


tinggi tegap dengan rambut di cat cokelat muda yang sedang berjalan ke arah


kami. Pria itu tersenyum, dan langsung bilang ‘hai’ ketika sampai di depan


kami.


Aku mengerutkan


keningku. Sepertinya wajah pria ini tidak asing di ingatanku. Tapi dimana


ya….aku yakin aku pernah melihatnya.


“Lho, kamu…..”


suara Rangga memecah monolog di kepalaku.


“Lho, kalian


saling kenal?!” Reza melebarkan pupilnya.


Aku yang masih


berjuang keras memikirkan perjumpaan pertamaku dengan pria tinggi ini hanya


cengar-cengir. Ayolah….dimana aku pernah bertemu dengannya.


“Yang nemuin


dompet, waktu kamu beli kopi.” Pria di depanku ini seolah sedang memberiku clue


di tengah kebingunganku.


“Astaga!” aku


terlonjak. “Aku berusaha inget-inget, ternyata…itu kamu….”


Rangga tertawa.


“Jadi kamu temennya Reza?”


Aku mengangguk.


“Iya. Bukan Cuma


temen. Tapi udah kayak saudara.”


“Syukurlah…..ada


yang mau sahabatan sama makhluk satu ini.” Rangga tertawa sambil melirik Reza.


“Oh ya….kenalin….aku Rangga—‘


“Aku Julia.”


Sambarku cepat menerima uluran tangan Rangga. Kami tertawa, entah rasanya tiba-tiba


nyambung aja.

__ADS_1


“Eheem…..!”


suara deheman Reza berhasil membuat kami berdua menoleh bersamaan. “Sejak tadi


gue dikacangin!”


Kami kembali


tertawa. Rangga meminta aku dan Reza untuk menunggu sebelum akhirnya ia kembali


ke belakang, lalu muncul beberapa saat kemudian dengan waiters di belakangnya


sambil membawa baki penuh berisi makanan.


“Gue jadi enggak


enak lho, dikasih segini banyak makanan.” Reza senyam-senyum sambil memasukkan


seendok pasta ke dalam mulutnya. “Eem….enaaak…..”


Aku mengikuti


Reza, mengambil sesendok pasta lalu mencicipinya juga. Memang rasanya cukup


enak, meskipun tak seenak restoran-restoran yang khusus menyajikan pasta


sebagai menu utama, tapi aku bisa kasih pasta ini nilai delapan dari sepuluh.


Hebat bukan?


“Udah makan aja,


kalau lo datangnya besok. Udah beda ceritanya!” sahurt Rangga yang duduk di


antara kami. “Gue pasti udah nyuruh lo mbayar, penuh!”


Reza tak


terlihat ambil pusing, kini ia malah berganti memutar garpunya di piring


spaghetti, dan menampilkan ekspresi yang sama ketika makanan itu sudah meleleh


di mulutnya.


“Oh ya, café ini


buka langsung punya tiga cabang lho Jul.” kata Reza kemudian.


“Oh ya?” aku


menghentikan kunyahanku. “Dimana?”


“Di seberang


apartemen lo!” sahut Reza.


Aku menautkan


alis. Seberang apartementku? Apa jangan-jangan café yang aku datangi bersama pak


Anton waktu itu ya?


“Yang konsepnya


kayak gini juga itu?”tanyaku mengira-ngira.


Rangga


mengangguk.


“Dan jangan


bilang yang satunya itu café dimana aku beli kopi terus dompetku jatuh itu?”


mengangguk. “Tepat!”


“Astagaa….dunia


emang sempit ya?” aku menepuk keningku. Selain terkejut juga menertawakan penilaianku


tadi tentang konsep yang dipilih anak muda dalam menjalankan sebuah bisnis. Pantes


konsepnya sama, wong pemiliknya orang yang sama juga.


“Eh


tungu….tungu….kemarin lo bilang dapet apartement di deket café kan Ngga?” tanya


Reza kemudian. “Jangan bilang lo tinggal di apartement yang sama dengan Julia


yak?”


“Eh, iya?” aku


menoleh kea rah Rangga.


“Apartement


Garden City?!” pupil Rangga melebar.


Aku mengangguk.


“Ya elah….unit nomor berapa?”


“705.”


“Astaga! Aku


704.” Pekikku.


“Kita tetangga


dong?!”


“Iya


nich….enggak nyangka ya?” aku tergelak. Begitu juga Rangga dan Reza. “Kita bisa


jadi tetangga yang baik deh kalau gitu.”


“Bener-bener….”


“Udah ya wak,


kalian baik-baik jadi tetangga.”Reza menoleh pada Rangga. “Tapi lo ati-ati sama


suaminya Julia.” Reza menyesap minumannya.


Rangga menoleh


ke arahku.


“Udah punya


suami Jul?”


Aku mengangguk.


“Udah. Ini lagi program anak.” Sahutku enteng.


*****


Aku membuka


pintu rumah dan mendapati Reinard sudah mengenakan kaos santai dan duduk di

__ADS_1


depan televisi. Melihatku datang, ia menoleh. Mengabaikan film yang sejak tadi


dinikmatinya.


“Lho udah


pulang?” tanyaku sambil melepas sepatu.


“Iya, udah dari


tadi.” Ia berjalan menuju ke arahku dan memelukku.


“Ih… aku belum


mandi lho.” Aku berusaha melepaskan pelukannya. “Badan kamu wangi, aku msih


kecut.”


“Biarin!” sahut


Reinard cuek sambil menciumi pucuk kepalaku. “Mandi bareng gimana?”


Aku mendongak,


lalu tertawa. “Ah, genit!”


"Katanya


mau program anak?”


“Lah, nanti


kalau anak kita jadi mermaid gimana?” kelakarku. “Buatnya di kamar mandi sih? Sambil


main air.”


Reinard tertawa


pelan.


“Kenapa kamu


kelihatan seneng banget sore ini?” tanya Reinard kemudian tanpa melepaskan


pelukannya. Kami masih berpelukan di depan pintu, dengan tangannya


mengelus-elus kepalaku.


“Tadi cuma makan


siang sama Reza dan keponakannya.” Sahutku. “Eh tau nggak kalau keponakan Reza


punya café di bawah, terus tinggal di samping unit kita sayang.”


“Oh ya,cewek apa


cowok?” suara Reinard terdengar datar. Tidak antusias.


Aku tersenyum


kecil. Dia cemburu, aku merasakan itu.


“Cowok.”


“Oh…..”


“Hanya oh…..?”


aku melepaskan pelukannya.


“Terus mau


bilang apa?”


“Ya bilang


kalau—“ kalimatku terjeda karena bunyi ponsel di dalam saku blazerku memecah


suasana.


Nama Rosa berada


di layar ponselku sekarang. Aku tahu apa yang hendak dibicarakan gadis itu.


rencana menonton konser EXO di Singapura, dan sialnya aku sudah menyetujuinya


karena aku pikir hubunganku dengan Reinard belum akan membaik sampai sekarang.


Tapi, ketika aku sedang dalam masa harmonis bersama suamiku, keinginan untuk


mengantar Rosa jadi lenyap.


“Iya, kenapa


Ros?” sahutku malas.


“Jangan lupa.


Besok lusa! Aku tunggu di bandara!” suaranya bukan seperti kalimat permintaan,


namun sebuah ancaman. Memang semalam aku sempat menghubunginya untuk tidak usah


pergi saja, namun Rosa merajuk dan mengatakan aku seseorang yang tidak bisa


menepati janji.


Aku mendengus.


“Iya….iya…..” aku menutup teleponku dan kembali menyimpan ponselku ke dalam


tas.


“Rosa ada apa?”


tanya Reinard kemudian.


Aku belum


menyahut. Kulangkahkan kakiku gontai lalu mendudukkan diriku di sofa.


“Lusa dia


ngajakin aku ke Singapura yank….Lihat konser boyband favorit dia.” Sahutku.


Reinard duduk di


sampingku. “Ya bagus dong, berangkat sana gih. Kan udah janji. Sekalian nemenin


Rosa jalan-jalan.”


“Tapi aku enggak


mau ninggalin kamu.” Sungutku manja sambil memeluk lengannya. “Gimana program


hamilnya?”


Reinard


terkekah. Ia menarik tanganku, dan berbisik di samping telingaku.


“Makanya, ayok


sekarang….” Ia lantas mencium bibirku dengan lembut.


*****

__ADS_1


__ADS_2