
Aku memencet
tombol remote mobilku dan segera berjalan menuju ke dalam sebuah café yang
tidak terlalu jauh dari kantorku. Hari ini Reza mengajakku untuk makan siang
bareng sekalian ingin memperkenalkan sebuah café baru milik keponakannya.
Aku yang memang
pada dasarnya sedang tidak begitu sibuk, dan tidak ada rencana untuk makan
siang bersama Reinard—karena ia sibuk di rumah sakit semenjak telepon semalam,
akhirnya menerima permintaan Reza untuk datang apalagi ini tentang opening
sebuah tempat makan dan tentu saja aku bisa menikmati semua makanan dengan kata
‘gratis’.
“Waaaaak…..!” suara
Reza begitu familiar ketika kakiku baru saja melangkah masuk. Pria yang kini
mengenakan kaos coklat itu melambai ke arahku dengan senyum mengembang.
Aku membalas
lambaian itu, lalu mempercepat langkah menyusulnya.
“Gila, macet
banget tau!” gerutuku sambil meletakkan tas beserta kunci mobil di atas meja.
Ku susul dengan membuka blazer yang ku pakai dan kini hanya menyisakan sebuah
kemeja warna soft blue.
“Pantesan, lama.”
Reza memainkan juice tomat yang ada di depannya dengan sedotan.
Aku menarik
kursi di seberang pria itu lalu duduk di sana. Sejurus kemudian, ku edarkan
pandanganku ke sekeliling. Suasana cukup ramai, bahkan kursi-kursi hampir
penuh. Sebuah permulaan yang bagus untuk café yang baru saja buka. Di pintu
depan tadi, aku melihat beberapa rangkaian bunga yang berisikan tulisan selamat
atas dibukanya café ini.
“Gimana, lo suka
kan sama konsep cafenya?” tanya Reza kemudian.
Aku mengedikkan
bahu. Sudah kali ketiga ini aku melihat café dengan konsep skandinavia seperti
ini. Pertama, café yang berada di seberang apartemenku, kedua adalah café yang
beberapa hari lalu aku singgahi untuk membeli kopi dan yang ketiga ini. Mungkin
selera anak muda jaman sekarnag itu sama, apa yang lagi hits, itulah yang
mereka jadikan suatu ikon untuk bisnsis mereka. Padahal aku rasa, kita harus
punya taste sendiri untuk segala sesuatu, apalagi ini tentang tempat nongkrong.
Jangan pasaran deh, biar orang penasaran dan enggak bosen.
“Mana ponakan yang
lo bilang multitalenta itu?” aku mengedikkan dagu dan Reza malah tersenyum
lebar.
“Wait….” Reza
celingak-celinguk mencari-cari sosok keponakannya itu. “Eh itu dia…. Rangga!”
Aku memutar
kepalaku, mengikuti arah mata Reza. Kini mataku menangkap sosok pria bertubuh
tinggi tegap dengan rambut di cat cokelat muda yang sedang berjalan ke arah
kami. Pria itu tersenyum, dan langsung bilang ‘hai’ ketika sampai di depan
kami.
Aku mengerutkan
keningku. Sepertinya wajah pria ini tidak asing di ingatanku. Tapi dimana
ya….aku yakin aku pernah melihatnya.
“Lho, kamu…..”
suara Rangga memecah monolog di kepalaku.
“Lho, kalian
saling kenal?!” Reza melebarkan pupilnya.
Aku yang masih
berjuang keras memikirkan perjumpaan pertamaku dengan pria tinggi ini hanya
cengar-cengir. Ayolah….dimana aku pernah bertemu dengannya.
“Yang nemuin
dompet, waktu kamu beli kopi.” Pria di depanku ini seolah sedang memberiku clue
di tengah kebingunganku.
“Astaga!” aku
terlonjak. “Aku berusaha inget-inget, ternyata…itu kamu….”
Rangga tertawa.
“Jadi kamu temennya Reza?”
Aku mengangguk.
“Iya. Bukan Cuma
temen. Tapi udah kayak saudara.”
“Syukurlah…..ada
yang mau sahabatan sama makhluk satu ini.” Rangga tertawa sambil melirik Reza.
“Oh ya….kenalin….aku Rangga—‘
“Aku Julia.”
Sambarku cepat menerima uluran tangan Rangga. Kami tertawa, entah rasanya tiba-tiba
nyambung aja.
__ADS_1
“Eheem…..!”
suara deheman Reza berhasil membuat kami berdua menoleh bersamaan. “Sejak tadi
gue dikacangin!”
Kami kembali
tertawa. Rangga meminta aku dan Reza untuk menunggu sebelum akhirnya ia kembali
ke belakang, lalu muncul beberapa saat kemudian dengan waiters di belakangnya
sambil membawa baki penuh berisi makanan.
“Gue jadi enggak
enak lho, dikasih segini banyak makanan.” Reza senyam-senyum sambil memasukkan
seendok pasta ke dalam mulutnya. “Eem….enaaak…..”
Aku mengikuti
Reza, mengambil sesendok pasta lalu mencicipinya juga. Memang rasanya cukup
enak, meskipun tak seenak restoran-restoran yang khusus menyajikan pasta
sebagai menu utama, tapi aku bisa kasih pasta ini nilai delapan dari sepuluh.
Hebat bukan?
“Udah makan aja,
kalau lo datangnya besok. Udah beda ceritanya!” sahurt Rangga yang duduk di
antara kami. “Gue pasti udah nyuruh lo mbayar, penuh!”
Reza tak
terlihat ambil pusing, kini ia malah berganti memutar garpunya di piring
spaghetti, dan menampilkan ekspresi yang sama ketika makanan itu sudah meleleh
di mulutnya.
“Oh ya, café ini
buka langsung punya tiga cabang lho Jul.” kata Reza kemudian.
“Oh ya?” aku
menghentikan kunyahanku. “Dimana?”
“Di seberang
apartemen lo!” sahut Reza.
Aku menautkan
alis. Seberang apartementku? Apa jangan-jangan café yang aku datangi bersama pak
Anton waktu itu ya?
“Yang konsepnya
kayak gini juga itu?”tanyaku mengira-ngira.
Rangga
mengangguk.
“Dan jangan
bilang yang satunya itu café dimana aku beli kopi terus dompetku jatuh itu?”
mengangguk. “Tepat!”
“Astagaa….dunia
emang sempit ya?” aku menepuk keningku. Selain terkejut juga menertawakan penilaianku
tadi tentang konsep yang dipilih anak muda dalam menjalankan sebuah bisnis. Pantes
konsepnya sama, wong pemiliknya orang yang sama juga.
“Eh
tungu….tungu….kemarin lo bilang dapet apartement di deket café kan Ngga?” tanya
Reza kemudian. “Jangan bilang lo tinggal di apartement yang sama dengan Julia
yak?”
“Eh, iya?” aku
menoleh kea rah Rangga.
“Apartement
Garden City?!” pupil Rangga melebar.
Aku mengangguk.
“Ya elah….unit nomor berapa?”
“705.”
“Astaga! Aku
704.” Pekikku.
“Kita tetangga
dong?!”
“Iya
nich….enggak nyangka ya?” aku tergelak. Begitu juga Rangga dan Reza. “Kita bisa
jadi tetangga yang baik deh kalau gitu.”
“Bener-bener….”
“Udah ya wak,
kalian baik-baik jadi tetangga.”Reza menoleh pada Rangga. “Tapi lo ati-ati sama
suaminya Julia.” Reza menyesap minumannya.
Rangga menoleh
ke arahku.
“Udah punya
suami Jul?”
Aku mengangguk.
“Udah. Ini lagi program anak.” Sahutku enteng.
*****
Aku membuka
pintu rumah dan mendapati Reinard sudah mengenakan kaos santai dan duduk di
__ADS_1
depan televisi. Melihatku datang, ia menoleh. Mengabaikan film yang sejak tadi
dinikmatinya.
“Lho udah
pulang?” tanyaku sambil melepas sepatu.
“Iya, udah dari
tadi.” Ia berjalan menuju ke arahku dan memelukku.
“Ih… aku belum
mandi lho.” Aku berusaha melepaskan pelukannya. “Badan kamu wangi, aku msih
kecut.”
“Biarin!” sahut
Reinard cuek sambil menciumi pucuk kepalaku. “Mandi bareng gimana?”
Aku mendongak,
lalu tertawa. “Ah, genit!”
"Katanya
mau program anak?”
“Lah, nanti
kalau anak kita jadi mermaid gimana?” kelakarku. “Buatnya di kamar mandi sih? Sambil
main air.”
Reinard tertawa
pelan.
“Kenapa kamu
kelihatan seneng banget sore ini?” tanya Reinard kemudian tanpa melepaskan
pelukannya. Kami masih berpelukan di depan pintu, dengan tangannya
mengelus-elus kepalaku.
“Tadi cuma makan
siang sama Reza dan keponakannya.” Sahutku. “Eh tau nggak kalau keponakan Reza
punya café di bawah, terus tinggal di samping unit kita sayang.”
“Oh ya,cewek apa
cowok?” suara Reinard terdengar datar. Tidak antusias.
Aku tersenyum
kecil. Dia cemburu, aku merasakan itu.
“Cowok.”
“Oh…..”
“Hanya oh…..?”
aku melepaskan pelukannya.
“Terus mau
bilang apa?”
“Ya bilang
kalau—“ kalimatku terjeda karena bunyi ponsel di dalam saku blazerku memecah
suasana.
Nama Rosa berada
di layar ponselku sekarang. Aku tahu apa yang hendak dibicarakan gadis itu.
rencana menonton konser EXO di Singapura, dan sialnya aku sudah menyetujuinya
karena aku pikir hubunganku dengan Reinard belum akan membaik sampai sekarang.
Tapi, ketika aku sedang dalam masa harmonis bersama suamiku, keinginan untuk
mengantar Rosa jadi lenyap.
“Iya, kenapa
Ros?” sahutku malas.
“Jangan lupa.
Besok lusa! Aku tunggu di bandara!” suaranya bukan seperti kalimat permintaan,
namun sebuah ancaman. Memang semalam aku sempat menghubunginya untuk tidak usah
pergi saja, namun Rosa merajuk dan mengatakan aku seseorang yang tidak bisa
menepati janji.
Aku mendengus.
“Iya….iya…..” aku menutup teleponku dan kembali menyimpan ponselku ke dalam
tas.
“Rosa ada apa?”
tanya Reinard kemudian.
Aku belum
menyahut. Kulangkahkan kakiku gontai lalu mendudukkan diriku di sofa.
“Lusa dia
ngajakin aku ke Singapura yank….Lihat konser boyband favorit dia.” Sahutku.
Reinard duduk di
sampingku. “Ya bagus dong, berangkat sana gih. Kan udah janji. Sekalian nemenin
Rosa jalan-jalan.”
“Tapi aku enggak
mau ninggalin kamu.” Sungutku manja sambil memeluk lengannya. “Gimana program
hamilnya?”
Reinard
terkekah. Ia menarik tanganku, dan berbisik di samping telingaku.
“Makanya, ayok
sekarang….” Ia lantas mencium bibirku dengan lembut.
*****
__ADS_1